Rahasia Suami Lumpuhku

Rahasia Suami Lumpuhku
Ini semua rencanaku


"Tu-tunggu! Saat pernikahan Dimas? Bukannya saat itu kamu masih koma?" tanya Damian, dengan suara bergetar.


Senyum Smirk Arsen kembali muncul di sudut bibir pria tampan itu. Senyumnya terlihat cukup membuat Dimas dan Damian, merasa was-was.


"Aku sama sekali tidak koma. Aku koma hanya dua minggu, selebihnya aku hanya pura-pura,"


Lagi-lagi Damian menarik keningnya ke atas dan rahang bawahnya ke bawah. Seketika bayangan dirinya yang mendatangi kediaman pria itu saat pria itu masih koma, berkelebat di pikirannya.


"Ja-jadi kamu ...."


"Iya, Paman. Aku tahu semuanya," sela Arsen dengan cepat, tahu apa yang dipikirkan oleh adik dari papanya itu sekarang.


"Aku tahu Paman pernah datang ke kamarku dan mengacak-acak kamarku. Aku juga mendengar ucapan Paman yang mengutukku agar aku cepat mati. Pokoknya aku tahu semuanya," lanjut Arsen.


"Brengsek! Jangan bilang kalau__"


"Iya, dokumen-dokumen berisi invoice, yang Paman ambil dari brankas di kamarku saat itu, itu adalah ulahku. Aku sudah tahu apa rencana Paman. Anak buah yang Paman minta untuk mengawasi pergerakan mamaku, yang memberitahukan semua apa yang akan paman lakukan."


Flashback


"Tuan, Pak Damian tadi menghubungiku. Dia ingin aku melaporkan apakah mama Tuan sudah pergi atau tidak?" saat Arsen dan Daren sedang berbicara, tiba-tiba anak buah Arsen datang melapor.


"Mau apa dia ke sini? Apa kamu tahu?" Arsen menautkan kedua alisnya dengan tajam.


"Dia tidak memberitahukan secara spesifik tujuannya, Tuan. Tapi aku sengaja tidak memutuskan panggilan dan aku mendengar apa yang Tuan Damian dan Tuan Dimas bicarakan. Yang aku tangkap dari pembicaraan mereka, dia ingin ke sini untuk mencoba mengambil dokumen-dokumen penting perusahaan dan aset-aset anda," anak buah Arsen itu memberikan laporan secara detail.


"Emm, baiklah. Terima kasih untuk laporannya. Kamu boleh pergi sekarang!"


Pria anak buah palsu Damian itu menganggukkan kepala lalu sedikit membungkuk, sebelum akhirnya beranjak pergi.


"Jadi apa rencanamu sekarang?" tanya Daren setelah pria tadi benar-benar pergi.


Arsen tersenyum misterius dan mendorong kursi rodanya ke arah brankas. "Kita ikuti dulu permainannya. Aku benar-benar ingin bermain-main sekarang. Kalau aku langsung menangkap basah, kurang seru permainannya," Senyum licik Arsen kini berganti senyum usil.


"Ren, tolong ambilkan invoice-invoice tidak berguna yang ada di laci itu!" Daren langsung berjalan ke arah yang ditunjuk oleh Arsen, kemudian kembali melangkah ke arah Arsen setelah menemukan apa yang diminta oleh sahabatnya itu.


"Nih. Apa yang mau kamu lakukan dengan invoice-invoice itu?" Daren mengernyitkan keningnya dengan bingung.


"Kamu diam saja dan lihat!" Arsen kemudian membuka brankasnya dengan kode yang sebenarnya sama sekali tidak ada hubungannya dengan Hanum. Setelah itu, dia mengeluarkan surat-surat penting dari dalam map dan menggantinya dengan invoice-invoice tadi. Tidak cukup dengan itu, ia lalu mengganti pin brankas, yang dia sengaja ada hubungannya dengan Hanum. Karena dia merasa kalau menggunakan angka yang ada hubungannya dengan keluarga, akan terlalu mudah untuk Damian. Arsen juga sudah bisa berpikir kalau pamannya itu, pasti akan berpikir kalau pin brankas itu ada hubungannya dengan Hanum, karena setahu mereka kalau dia sangat mencintai wanita itu.


"Sudah selesai! mari kita nikmati permainan ini!" seru Arsen dengan senyum lebar seakan menemukan permainan baru dan seru.


"Kamu benar-benar tidak berubah, Sen. Hanya kami yang dekat denganmu, tahu kalau kamu sebenarnya suka usil," Daren berdecak seraya menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Ayo, kita keluar sekarang! bawa aku ke kamar mama. Aku ingin menyimpan dokumen asli ini dulu di sana, sebelum kita terapi," ucap Arsen yang langsung diiyakan oleh Daren.


"Tunggu dulu!" tiba-tiba Arsen berseru kembali.


"Ada apa lagi?" Daren mengernyitkan keningnya.


"Aku belum memasang kamera. Kan kurang seru permainannya, kalau kita tidak menonton apa yang Paman Damian lakukan nanti di sini," mata Arsen berotasi, usil.


Flashback end


"Jadi, kamu sudah tahu dari awal? Benar-benar brengsek kamu, Arsen! beraninya kamu mempermainkanku?" napas Damian terlihat memburu.


"Kamu benar-benar sialan, Arsen!" Dimas ikut buka suara.


"Eits, kamu juga terkena permainanku, Dimas. Kamu mau tahu permainan apa?" Arsenal tersenyum smirk.


"Permainan apa maksudmu?" tanya Dimas. "Kamu jangan macam-macam ya!" wajah Dimas terlihat memerah.


"Tunggu, tidak lama lagi kamu akan tahu!" sahut Arsen.


"Bella, kamu masuk!" Dimas sontak terkejut mendengar Arsen memanggil nama wanita yang dia cintai dan sangat dia rindukan karena sudah hampir empat hari tidak ada kabar dari wanita itu.


"Hai, Dimas!" Bella muncul dengan senyum dan tatapan yang Dimas tahu bukan tatapan cinta seperti yang dilihatnya selama ini.


"Sayang, Kamu kemana saja? Aku sangat merindukanmu!" Dimas menghambur ingin memeluk Bella.


"Eits, berhenti di situ! Jangan peluk-peluk aku!" Bella memekik seraya mengangkat tangannya, untuk menghentikan pergerakan Dimas.


"Sayang, ini maksudnya apa? Dan apa hubunganmu dengan Arsen?" jantung Dimas berdetak tidak karuan. Ada rasa was-was yang timbul di hatinya.


"Dia itu sepupuku, putri dari Om ku yang tinggal di Amerika," bukan Bella yang menjawab melainkan Arsen.


Mata Dimas dan Damian sontak membesar, terkesiap kaget mendengar kenyataan yang baru saja mereka dengar.


"Aku juga sengaja memintanya pulang ke Indonesia dan mendekatimu, agar aku bisa tahu rencana-rencana busukmu di perusahaan Dimas. Kamu kira dia benar-benar mencintaimu? Jangan mimpi kamu!" sambung Arsen lagi.


"Tidak! Itu tidak benar. Iya kan, Sayang? bilang apa yang dikatakan Arsen itu bohong!" desak Dimas, berharap Bella mengiyakan ucapannya, walaupun harapan pria itu tipis saat melihat senyum wanita yang sekarang dia cintai itu.


"Sayangnya, itu benar Dimas. Dan asal kamu tahu, aku juga diminta oleh Kak Aozora untuk mendekatimu dan begitu kamu mencintaiku, aku akan menghempaskan kamu, sehingga kamu bisa merasakan, sakitnya dikhianati,"


Daren tersungkur ke belakang, begitu mendengar ucapan Bella. "Ka-kamu benar keterlaluan, Bella. Padahal, aku benar-benar sudah sangat mencintaimu," ucap Dimas, menahan tangis.


"Sudah dramanya? Sekarang aku mau mengatakan yang membuat kalian semakin shock," Arsen kembali buka suara.


"Apa kalian berdua tahu, Kenapa aku membuat perayaan ulang tahun di rumahku sendiri, bukan di hotel seperti biasa? Itu karena aku tahu kalau kalian pasti akan punya rencana busuk. Aku sudah benar-benar muak dan ingin segera menghentikannya. Ternyata dugaanku benar. Kalian memang sudah membuat rencana. Oh ya, aku mau kasih tahu, kalau anak buah yang kamu minta untuk merusak CCTV itu, sama sekali tidak melakukan perintahmu. Dan lagi, yang ini kalian beruntung pasti juga akan kaget," ujar Arsenio, misterius.


"Hanum, masuk!" titah Arsen dengan suara dingin dan tatapan mata yang tajam tetap tidak berpindah dari dua pria di depannya itu.


Damian dan Dimas sontak menoleh ke arah pintu dan kaget melihat kehadiran Hanum.


"I-ini maksudnya apa?" tanya Dimas gugup.


"Kalian tidak berpikir ya, kenapa Hanum dengan mudah dan cepat menemukan dokumen-dokumen itu? Itu karena aku sudah tahu. Aku memang sengaja meletakkannya di laci, agar dia dengan mudah menemukannya. Kalau tidak, tidak mungkin aku sebodoh itu meletakkan dokumen-dokumen yang sangat penting, di tempat yang bisa dengan mudah dijangkau oleh orang," sudut bibir Arsenio melengkung membentuk senyuman sinis setelah menyelesaikan ucapannya.


"Brengsek! Kamu benar-benar licik Arsen!"


tbc