Rahasia Suami Lumpuhku

Rahasia Suami Lumpuhku
Sulit dipahami


Arsen terkesiap kaget, sampai tidak sempat menghindari, ketika mendapat pelukan Hanum yang tiba-tiba.


Sementara itu, Aozora yang dari jarak yang tidak jauh ketika melihat adegan itu, merasa sesak, seakan ada batu besar yang sedang menghimpit hatinya.


Mata wanita itu seketika berkaca-kaca, berusaha menahan tangis.


"Sepertinya Mas Arsen masih sangat mencintai Hanum. Aku sebaiknya pergi dari sini, karena aku tidak bisa jamin akan kuat melihat kemesraan mereka," batin Aozora seraya berdiri dari tempat dia duduk.


Kemudian, wanita itu mulai mengayunkan kakinya, beranjak meninggalkan tempat itu.


"Kenapa kali ini rasanya jauh lebih sakit melihat mas Arsen dipeluk Hanum, dibandingkan sewaktu Dimas menghianatiku dengan Tsania ya? Apa itu berarti kalau aku sudah jatuh cinta pada mad Arsen?" Aozora membatin dan tanpa menyadari ada cairan bening yang menetes membasahi pipinya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Hanum,lepaskan tanganmu! Aku tidak ingin membuat istriku salah paham," ucap Arsen, masih tetap dengan nada yang dingin.


"Aku tidak mau! Aku ingin tetap memelukmu seperti ini, Sayang. Aku sangat merindukanmu!" Hanum semakin mengeratkan pelukannya.


Arsen menggeram, kemudian dengan menggunakan tenaganya, pria itu melepaskan tangan Hanum dari pinggangnya dengan kasar.


"Stop panggil aku sayang, karena kita sudah tidak punya hubungan apa-apa lag!" Arsen mulai meninggikan suaranya.


"Tapi, aku masih mencintaimu, Sen. Aku menyesal sudah memutuskanmu saat itu. Aku mau kita kembali lagi seperti dulu, Sen," air mata Hanum mulai merembes keluar membasahi pipinya l.


"Kita, seperti dulu apa yang kamu maksud? Bukannya kamu tahu alasan kenapa kita bisa menjalin hubungan saat itu? Aku menerimamu, karena aku kasihan. Kamu terus-terusan memohon agar aku memberikan kamu kesempatan untuk bisa membuatku jatuh cinta padamu. Tapi, maaf, kesempatanmu sudah habis, karena ternyata aku tetap tidak bisa mencintaimu," tutur Arsen panjang lebar.


Hanum kembali terisak-isak, seraya menggeleng-gelengkan kepalanya, tidak percaya.


"7 tahun, Sen ... 7 tahun aku berusaha membuatmu cinta padaku. Apa semua yang kulakukan dan kesetiaanku tidak ada harganya bagimu? Jadi apa artinya perlakuanmu selama 1 tahun terkahir kemarin? Kamu begitu baik dan mulai perhatian padaku,"


Arsen menghela napasnya dengan sekali hentakan, kemudian memasukkan ke dua tangannya dalam saku celananya.


"Aku tahu selama 6 tahun kamu selalu berusaha membuatku jatuh cinta padamu. Kamu selalu baik dan memberikan aku perhatian. Makanya aku memutuskan untuk mulai belajar mencintaimu. Itulah alasannya selama satu tahun terakhir ini, aku berusaha untuk memperlakukanmu seperti layaknya seorang kekasih. Tapi, ternyata aku belum sepenuhnya bisa mencintaimu, Makanya aku belum menikahimu. Dan ketika kamu meminta putus, aku tidak merasakan ada sakit sedikitpun, justru aku merasa lega karena tidak berlama-lama hidup dalam kepalsuan yang akan menyakitimu." terang Arsen panjang lebar.


"Bohong! Aku yakin kalau kamu pasti mencintaiku. Kamu saat itu pasti sangat sakit hati sampai tidak konsentrasi bawa mobil. Kenapa coba kamu bisa seperti itu kalau bukan karena patah hati?" Hanum bicara dengan sangat yakin.


Arsen tersenyum smirk, lalu menggeleng-gelengkan kepalanya. "Kenapa sih kamu bisa se naif itu, Num? Kamu tahu jelas kalau penyebab kecelakaan itu karena rem mobilku blong, bukan karena patah hati,"


Hanum kembali menggeleng-gelengkan kepalanya, dengan air mata yang semakin deras keluar dari matanya. Dia tidak menyangka kalau pemikirannya selama ini, yang begitu yakin kalau dia sudah berhasil membuat Arsen jatuh cinta padanya, ternyata salah.


"Itu karena aku tidak punya alasan untuk berbuat tidak baik padamu. Kamu baik padaku, jadi tidak mungkin aku balas jahat. Aku juga melakukannya untuk menolongmu dari ejekan para teman-temanmu yang selalu merendahkanmu. Jadi, aku berpura-pura di depan mereka seakan aku benar-benar mencintaimu. Kamu juga tahu kalau mereka tidak pernah merendahkanmu lagi kan?" Arsen berhenti sejenak untuk mengambil jeda, sekaligus untuk menghirup oksigen, guna mengisi paru-parunya yang sudah mulai minim oksigen.


"Teman-temanmu itu benar-benar yakin kalau aku memang sangat mencintaimu. Bukan hanya teman-temanmu yang sangat yakin, bahkan mamaku, Daren, Niko dan keluarga besarku juga sangat yakin." Arsen kembali berhenti berbicara sejenak.


"Maaf bila pengakuanku yang satu ini juga akan menyakitimu. Tapi aku hanya ingin, kamu tidak berharap lebih lagi padaku. Aku kemarin koma hanya 2 minggu bukan sebulan. Dua minggu an aku berpura-pura koma, dan mengatakan pada mama, Daren dan Niko, kalau aku akan bangun, bila kamu datang. Sebenarnya itu hanya alasanku saja, agar alasan itu terdengar logis, kenapa aku harus berpura-pura. Saat itu aku belum bisa terima dengan kondisiku yang lumpuh dan aku tidak mau mamaku memintaku untuk keluar rumah," lanjut Arsen, lagi.


Hanum kembali menggeleng-gelengkan kepalanya. Kenyataan yang baru dia dengar benar-benar sangat menyakitkan.


"Aku benar-benar tidak percaya, Sen. Sikap kamu selama ini ternyata palsu,"


"Sikapku tidak palsu, karena aku memang tulus baik padamu. Tapi, aku mengakui kalau perasaanku yang palsu. Dan kamu juga tahu alasannya kenapa. Maaf kalau membuatmu sakit hati. Kenyataan memang sakit, Num. Tapi lebih sakit lagi kalau kamu terus menerus hidup dalam pikiran yang ternyata tidak sesuai dengan ekspektasimu. Sekarang, aku harap kamu cari kebahagiaan kamu sendiri. Dan buka hatimu untuk pria lain! Aku pamit!" Arsen berbalik dan melangkah pergi.


"Apa kamu mencintai istrimu?" Langkah Arsen kembali terhenti, mendengar pernyataan Hanum.


"Atau sikap baikmu padanya juga sama halnya seperti sikapmu padaku? Karena aku tahu jelas kalau kamu sulit jatuh cinta karena__"


"Kamu tidak perlu tahu bagaimana perasaanku pada istriku. Tapi yang jelas, apa yang aku rasakan padamu, sangat berbeda dengan apa yang aku rasakan pada istriku," dengan cepat Arsen menyela ucapan Hanum.


Hanum tersenyum miris, merasa kasihan pada dirinya sendiri.


"Dari jawabanmu, aku sudah bisa menyimpulkan kalau kamu sudah jatuh cinta padanya, Sen. Sedih ya jadi aku? Aku sudah 7 tahun berusaha membuatmu jatuh cinta padaku, tapi tidak bisa. Sedangkan dia... dia masih hitungan bulan, tapi sudah bisa membuatmu jatuh cinta padanya. Apa sih yang ada padanya yang tidak ada padaku? Kenapa bisa secepat itu kamu jatuh hati padanya?"air mata yang tadinya sudah sempat mengering kini kembali menetes.


Arsen memilih untuk tidak menjawab. Pria itu malah berbalik dan melangkah pergi meninggalkan Hanum.


Mata pria itu tiba-tiba membesar, ketika tidak melihat keberadaan Aozora di tempat yang dia minta istrinya itu untuk menunggu.


"Sial, kemana dia? Beraninya dia tidak menungguku!" umpat Arsen dengan sedikit berlari.


Hanum, berdiri terpaku diam seribu bahasa menatap kepergian Arsen dengan tatapan nanar.


"Tapi, kenapa sandi brankas dia, menggunakan hal yang berhubungan denganku? Bukannya itu berarti kalau itu karena dia mencintaiku? tapi tadi dia mengatakan kalau dia tidak pernah mencintaiku. Ini sebenarnya ada apa sih? Kenapa sih, kamu selalu sulit untuk bisa dipahami, Arsen?" batin Hanum.


Tbc


Arsen, Arsen, banyak sekali rahasiamu. Pusing authornya 😁😁😁