
"Wih, si calon pelakor udah kembali nih! kamus dari mana aja sih? Jangan mentang-mentang kamu mantan pacarnya pak Arsen kamu jadi seenaknya ya?" baru saja Hanum masuk ke dalam ruangan tempat dia biasa bekerja, dia sudah langsung mendapat sambutan sindiran pedas dari dua rekan kerjanya.
"Apaan sih? Tadi aku hanya ada kepentingan sedikit, makanya baru datang ke ruangan ini," sahut Hanum seraya mendaratkan tubuhnya duduk di kursinya.
"Cih, sok orang penting! Bilang saja kamu tadi mau mendatangi Pak Arsen lagi? Kamu tidak ada bosan-bosannya ya, mau mendekati Pak Arsen? Aku benar-benar muak melihatnya sumpah,"ucap salah satu dari dua wanita itu.
"Tahu tuh. Benar-benar gak ada harga diri!" timpal yang satu lagi.
Hanum mengeram. Saking kesalnya, ia membanting sebuah map ke atas meja dengan sangat keras. Kemudian, wanita itu berdiri dari tempat duduknya dan menatap tajam ke arah dua rekan kerjanya itu. Kedua wanita itu sontak kaget, Kade tidak menyangka kalau Hanum akan bisa semarah itu.
"Mulut kalian berdua sepertinya ingin dicabein ya? Kalau ngomongin tidak pernah dipikirkan apa yang mendengarnya sakit hati atau tidak. Lagian kalian ini tidak tahu apa-apa, jadi stop mengatakan hal jelek tentangku!" bentak Hanum dengan napas memburu.
"Kami akan berhenti, kalau kamu juga berhenti berusaha mendekati Pak Arsen, karena dia sudah beristri!" ucap wanita yang memiliki rambut sebahu.
"Kenapa sih kalian berdua sampai segitunya membela Aozora? Apa yang sudah dia berikan pada kalian? Apa hanya karena dia masih memberikan kesempatan untuk kalian tetap bekerja di sini? Padahal dulu kalian sangat baik padaku, kalau aku datang ke kantor ini. Tapi kenapa sekarang sikap kalian itu beda?" tukas Hanum dengan sudut bibir tersebut sinis.
"Dulu dan sekarang tentu saja beda. Kalau dulu kamu itu kekasih Pak Arsen, tapi sekarang kamu itu hanyalah mantan. Kami membela Aozora bukan karena kami cari muka, dikarenakan dia istri pemilik perusahaan, tapi kami mendukung wanita yang merupakan istri sah. Dan kami sangat benci dengan yang namanya pelakor. Terlebih lagi, kami tahu kalau mbak Aozora itu wanita baik dan dia menikah dengan Pak Arsen bukan hasil merebut," sahut wanita berambut sebahu itu lagi.
"Tapi, kalian tahu sendiri kan kalau aku dan Arsen itu sudah lama menjalin hubungan? tentu saja sulit bagiku untuk bisa menerima kenyataan,"
"Sebenarnya tidak sulit kalau kamu mencoba untuk ikhlas. Lagian, kami dengar-dengar bukannya kamu ya yang meninggalkan Pan Arsen? Tapi, kenapa sekarang kamu seakan yang jadi korban di sini?" kali ini yang buk suara adalah rekan wanita berambut sebahu itu.
"Arghhh, kalian diam saja deh! Yang jelas kalian berdua tidak tahu apa-apa! urus saja urusan kalian berdua, jangan campuri urusanku!" pungkas Hanum seraya kembali duduk di kursinya.
"Tidak bisa! Selama kamu tetap berusaha untuk mendekati Pak Arsen lagi, kami akan tetap mencampuri urusanmu. Karena kami membenci yang namanya pelakor dan kami juga tidak mau mbak Aozora sedih," pungkas perempuan berambut sebahu tegas.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Ini sudah dua bulan, Tsania? Bagaimana perkembangan hubunganmu dengan pria bernama Samudra itu? Kenapa sampai sekarang kamu belum berhasil mendapatkan kembali surat-surat kepemilikan perusahaan dan aset lainnya? Kamu becus gak sih melakukan apa yang mama minta?" ternyata yang menghubungi wanita itu adalah Dona, mamanya.
"Maaf, Ma. Tidak semudah itu untuk bisa mengambil alih surat-surat kepemilikan perusahaan itu. Aku tidak mungkin langsung meminta pada kak Samudra, yang ada dia pasti akan curiga. Pelan-pelan aja y inia, Ma!" seperti yang disarankan oleh Samudra, Tsania memang mengatakan kalau dia berhasil merayu pria itu, agar mamanya itu tidak terus-menerus mendesak dan mengancamnya.
"Alahhh, bilang saja kamu tidak becus. Masa melakukan hal kecil sepercaya itu saja butuh waktu lama. Kamu memang benar-benar tidak bisa diandalkan Tsania!"
"Mama? Ini bukan hal kecil. Bagaimana mungkin mama bisa menganggap ini hal kecil? kalau kecil, kenapa bukan mama saja yang melakukannya. Aku capek, selalu mama peralat untuk kepentingan mama sendiri!" suara Tsania mulai meninggi. Wanita itu benar-benar sudah tidak bisa menahan rasa kesalnya lagi pada keegoisan mamanya.
"Oh, berani sekali kamu membentak, Mama, hah? Kamu mengira mama tidak akan berani untuk menyebarkan photo-photo dan video asusila kamu dan Dimas? Kamu bisa tahu kan apa akibatnya kalau itu semua tersebar? Selain kalian berdua malu, kalian juga akan di penjara Karena kasus por*nografi. Apa itu yang kamu mau?" lagi-lagi Dona melayangkan jurus pamungkasnya yang dia yakini akan membuat putrinya itu menuruti kemauannya.
Tsania memejamkan matanya untuk beberapa saat, kemudian menarik napas dalam-dalam lalu mengembuskannya kembali ke udara dengan sekali hentakan.
"Sekarang, aku tidak peduli lagi, Ma. Mama lakukan saja apa yang mama mau. Mama mau menyebar photo-photo dan video itu, aku tidak peduli. Aku sudah siap menerima resikonya. Dan kalaupun aku nanti akan dipenjarakan karena itu, menurutku itu lebih baik, daripada aku terus-terusan hidup di bawah ancaman seorang wanita yang menyebut dirinya seorang mama," Tsania berhenti sejenak untuk mengambil jeda.
"Oh, jadi kamu memang sudah siap untuk malu kan? Ingat, kalau mama sebarin bukan hanya kamu yang malu, tapi juga Suamimu yang tidak ada gunanya Itu!" maki Dona.
"Sebarkan saja, Ma, aku sudah siap. Tapi, mama juga harus siap dengan konsekuensinya. Mama juga harus siap kehilangan sumber uang mama. Karena yang dipenjara pastinya bukan hanya aku saja, tapi juga Kak Dimas. Mama bisa bayangkan kan apa yang akan terjadi kalau Kak Dimas dipenjara? Mama akan jadi gelandangan," tutur Tsania membuat wanita di ujung sanak terdiam untuk beberapa saat. Namun, diamnya dia hanya bertahan untuk sepersekian detik. Detik berikutnya, terdengar suara decihan dari mulut wanita paruh baya di ujung sana.
"Oh, sekarang kamu mau menakut-nakuti mama ya? Kamu kira mama akan takut? Mama masih punya uang. Barang-barang mahal mama juga masih banyak. Aku bisa menjual itu semua untuk mendapatkan banyak uang," ucap Dona dengan sangat angkuhnya.
"Sampai berapa lama uang yang mama miliki sekarang bisa bertahan? Uang itu akan habis cepat atau lambat. Tapi, sekarang terserah mama saja deh. Intinya mama mau sebarkan photo-photo dan video itu, aku sudah tidak peduli karena aku sudah capek diperalat mamaku sendiri. Sekarang lakukan saja sesuka hati mama. Teleponnya aku matikan ya, Ma!" tanpa menunggu jawaban dari wanita paruh baya di ujung sana, Tsani langsung memutuskan panggilan begitu saja. Dia yakin kalau mamanya pasti mengumpat dan memakinya sekarang.
Tbc