
Setelah bidan itu pergi, Amber ingin menghampiri Dona, tapi dia mengurungkan niatnya, karena dia kembali mendengar wanita bernama Dona itu, berbicara dengan seseorang di telepon.
"Iya, Ma. Aku sudah tidak sabar melihat kehancuran Sekar mendengar putranya meninggal. Kak Aditya juga nantinya pasti akan menyalahkan Sekar. Di saat sedang sedih seperti itu, aku akan kembali datang dan memberikan perhatian pada Kak Aditya. Kak Aditya pasti akan kembali mencintaiku, karena aku tahu kalau dia sangat mencintaiku dan tidak pernah mencintai Sekar," ucap Dona pada lawan bicaranya yang ternyata ibu dari wanita itu.
Dona berhenti bicara, sepertinya yang sekarang berbicara adalah lawan bicara wanita itu. Entah apa yang dikatakan wanita di ujung sana, Amber sama sekali tidak bisa dengar.
"Tentu saja, Ma. Aku pasti akan mendapatkan Kak Aditya lagi. Makanya aku benar-benar bertekad menyingkirkan anak mereka. Karena aku tidak mau, Kak Aditya semakin terikat dengan Sekar karena hadirnya anak itu. Jadi, sebelum itu terjadi, aku harus menyingkirkannya dengan cepat. Pokoknya semua yang menjadi penghalang aku bisa bersama dengan kak Aditya, akan aku singkirkan," ucap Dona lagi, yang dibarengi dengan tawa dan raut wajah bengis.
Singkat cerita, akhirnya rencana Dona sepertinya berjalan dengan lancar. Terlihat bidan bernama Desi itu membawa seorang bayi dan menyerahkan pada Dona.
Amber semakin penasaran. Wanita itu menyerahkan lebih dulu baby Arsen ke tangan sang baby sitter dan meminta wanita itu untuk membawa anaknya pulang lebih dulu. Kemudian, Amber memutuskan mengikuti kemana Dona akan membawa bayi laki-laki yang merupakan anak dari Sekar sahabatnya itu.
Amber melihat mobil yang membawa Dona berhenti di depan sebuah panti asuhan. Amber terus mengawasi sampai wanita itu kembali keluar. Tampak Dona berjalan keluar tanpa membawa bayi itu lagi. Berarti wanita itu sudah meninggalkan putra Sekar di panti itu.
Setelah mobil yang membawa Dona, hilang dari pandangannya, Amber pun dengan cepat masuk ke dalam panti asuhan.
Amber harus rela membayar uang yang banyak, berpura-pura untuk mengadopsi demi bisa mendapatkan bayinya Sekar.
Saat ada di tangannya, terlihat kalau wajah bayi itu sangat pucat, pertanda kalau kondisinya masih belum terlalu baik. Amber pun dengan cepat membawa bayi itu, ke rumah sakit yang berbeda dengan tempat dia dilahirkan.
Setelah itu, ia pun menghubungi kakak laki-lakinya yang bernama Ardian. Kakaknya itu kebetulan tinggal di Amerika dan menikah dengan seorang wanita berkebangsaan Amerika bernama Belisa.
"Kak, kamu dan kakak ipar kan belum punya anak, apa kalian mau merawat seorang bayi? Katanya, kalau ikhlas merawat seorang anak, bisa jadi mendatangkan rejeki, membuat kakak ipar cepat hamil," ucap Amber.
"Kamu dapat bayi dari mana?" tanya sang kakak.
Akhirnya Amber menceritakan semua yang terjadi tanpa menambahi dan tanpa mengurangi sedikitpun.
"Kenapa kamu tidak langsung membongkar semuanya dan mengatakan kalau sebenarnya anak sahabatmu itu masih hidup? Bukannya kakak dan kakak iparmu tidak mau merawat bayi itu, tapi bagaimanapun masih ada ibunya yang lebih berhak. Kasihan dia. Dia pasti bersedih nantinya," ucap sang kakak.
"Tadinya aku berniat seperti itu, Kak. Tapi, aku berpikir ulang. Karena aku yakin, wanita itu pasti tidak akan pernah tinggal diam. Dia pasti akan berniat untuk mencelakai bayi itu lagi kalau tahu rencananya gagal. Jadi, menurutku, hidup bayi itu, dalam bahaya kalau bersama Sekar. Biarlah untuk saat ini kita merahasiakannya. Tapi, aku akan tetap memantau kondisi Sekar. Kalau dia kesedihannya sampai berlarut-larut karena kehilangan anaknya, aku janji akan berterus terang. Tapi, kalau hanya sementara saja atau tidak sampai membuatnya depresi, lebih baik kita merahasiakannya demi keselamatan anak itu," tutur Amber panjang lebar, tanpa jeda.
"Untuk apa kamu takut anak itu sampai kenapa-napa? Kamu kan bisa melaporkan wanita itu ke polisi. Jadi dia akan hidup di penjara dan bayi itu akan aman," bisa dipastikan alis Ardian pasti bertaut di ujung sana.
"Masalahnya, dia dan suami Sekar itu sepertinya saling mencintai. Aku takut wanita itu akan mempengaruhi suami Sekar, sehingga dia membebaskan wanita itu. Memang tidak bisa dipastikan akan terjadi, tapi tetap saja, kita harus tetap memikirkan kemungkinan -kemungkinan yang akan terjadi sampai kemungkinan terburuknya kan, Kak?" ucap Amber lagi.
"Sepertinya yang kamu katakan itu benar. Kita harus memikirkan kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi, sampai kemungkinan terkecil sedikitpun. Lagian dari ceritamu, sepertinya wanita itu dan mamanya itu sama-sama orang licik. Kasihan bayi itu kalau sampai kenapa-napa. Baiklah, untuk sementara kamu rawat dulu dia, sampai memungkinkan untuk bisa dibawa naik pesawat. Setelah itu, aku dan kakak iparmu akan datang menjemputnya. Tapi, kamu percaya kan kami bisa merawatnya dengan baik?" tanya kakak laki-laki Amber, memastikan.
"Kalau aku tidak yakin, tidak mungkin aku menyerahkan pada kalian. Aku tahu, kalau Kak Belisa sangat menginginkan seorang anak, dan dia juga suka pada anak-anak," ucap Amber, yakin dengan kakak iparnya yang merupakan wanita berkebangsaan Amerika itu.
"Baiklah, kalau kamu memang percaya. Aku yakin kalau Belisa akan senang mendengar kabar ini. Bisa-bisa besok dia sudah berada di Indonesia dan merawat anak itu sendiri di sana sampai nantinya bisa dibawa ke sini," ucap Ardian sembari tertawa renyah.
Amber jug ikut tertawa, karena wanita itu juga sudah bisa menduga kalau kakak iparnya itu pasti tidak akan sabar dan cepat-cepat akan datang ke Indonesia.
Panggilan mereka akhirnya terputus. Amber akhirnya memutuskan untuk pulang, dan meninggalkan bayinya Sekar untuk sementara di rumah sakit, karena seperti dugaannya, bayi itu masih memerlukan perawatan intensif.
"Nak, Tante tahu kalau mama kamu belum sempat memberikan kamu nama. Sekarang Tante mau kasih kamu nama, Samudra. Karena Samudra itu adalah lautan yang sangat luas. Terlihat tenang dari tapi tidak ada yang bisa melihat ada apa di dalamnya yang tentu saja bisa menghanyutkan. Samudra juga melambangkan pesona dan karisma. Maaf, untuk sementara kamu harus Tante pisahkan dulu dengan mamamu, dan ini semua demi keselamatanmu. Kamu tenang saja, kamu akan tetap mendapatkan kasih sayang orang tua nantinya," ucap Amber, sembari menatap bayi yang baru saja dia beri nama Samudra itu.
"Untuk sementara kamu di sini dulu ya, Sayang. Tante pulang dulu. Tapi, tenang saja, Tante akan ke sini lagi besok. Mudah-mudahan besok kamu sudah bisa dibawa pulang," ucap Amber lagi.
Sementara itu, bayi yang ada di dalam sana menggeliat dan tiba-tiba tersenyum dengan mata terpejam seakan mengerti ucapan yang baru saja dikatakan Amber.
Flashback end
"Seperti itu lah ceritanya," ucap Amber sembari mengembuskan napasnya setelah selesai bercerita panjang lebar.
"Kalau Pak Aditya kurang percaya, aku juga sudah melakukan test DNA antara anda dengan Samudra. Pak Aditya bisa melihat hasilnya di sini," Arsen kembali buka suara dan memberikan isyarat pada Niko agar memberikan hasil test DNA antara Aditya dan Samudera.
Niko menganggukkan kepalanya, lalu melangkah menghampiri Aditya. Lalu dia menyerahkan sebuah amplop yang berisi hasil test DNA.
Tangan Aditya bergetar saat menerima amplop berwarna putih itu dari tangan Niko.
Setelah amplop sudah berada di tangannya, dengan jantung yang sudah berdetak tidak beraturan dan tangan yang masih gemetar, Aditya pun membuka amplop itu lalu mengeluarkan isinya.
Mata pria paruh baya itu sontak membesar sempurna, lalu berubah berkilauan menahan air mata, setelah membaca hasil test yang 99,99 persen positif sebagai anak kandungnya.
Tbc