Rahasia Suami Lumpuhku

Rahasia Suami Lumpuhku
Rencana licik Damian


"Sebenarnya apa yang terjadi? Kenapa wajahmu terlihat begitu kesal?" tanya Damian dengan alis bertaut, begitu melihat ekspresi wajah putranya yang sama sekali terlihat tidak bersahabat.


"Aku muak, Pa. Aku sudah muak melihat sikap Tsania, sekarang aku tambah muak dengan sikap mama mertuaku yang banyak maunya itu," sahut Dimas dengan mata berkilat-kilat penuh amarah.


Damian mengernyitkan keningnya, masih merasa gagal paham dengan maksud putranya.


"Kalau bicara itu yang jelas. Papa memang tahu kalau kamu kesal dengan sikap Tsania yang tidak pernah menjadi istri yang baik bagimu, tapi sekarang masalahnya kenapa kamu bisa muak dengan mertuamu itu?" tanya pria paruh baya itu.


Dimas mengembuskan napasnya dengan sekali hentakan, berharap sesuatu yang sedang membebani pikirannya keluar bersamaan dengan embusan napasnya.


"Mama mertuaku memintaku untuk segera bergerak cepat menguasai perusahaan ini. Dia juga memintaku untuk mentransfer uang sebesar 200 juta padanya, dan kapanpun dia meminta uang, aku harus berikan. Kalau tidak, dia mengancam akan membongkar semua pada mama kalau sebenarnya aku dan Tsania berselingkuh dari Zora, Pa. Dia juga mengancam akan mempermalukanku, dengan menyebarkan perselingkuhanku dengan Bella. Selain itu yang paling parah, dia mengancam akan menyakiti Bella, dan membuat nama baik Bella hancur dengan menyebarkan kalau dia adalah pelakor. Aku tidak mau itu terjadi Pa. Aku tidak mau, Bella sampai kenapa-napa," papar Dimas, menjelaskan panjang lebar dan tanpa jeda


"Kamu juga kenapa sih harus selingkuh lagi? Apa hebatnya si Bella itu sampai kamu bisa mencintainya sedalam itu? Padahal jelas-jelas dia baru sebulan bekerja di sini, dan kalian belum lama bertemu. Kamu benar-benar cari penyakit sendiri, Dim," ujar Damian seraya berdecak, tidak habis pikir kenapa putranya begitu cepat bisa jatuh cinta pada wanita lain.


"Papa memang tidak mengatakan kalau papa ini baik, tapi dari dulu, papa tidak pernah punya niat untuk menghianati mamamu. Kenapa kamu tidak bisa seperti Papa?"


"Jelas beda lah ,Pah. Mama benar-benar contoh seorang istri dan ibu yang baik. Dia melakukan perannya sebagai seorang istri untuk Papa. Jadi, Papa merasa dihargai sebagai seorang suami. Sedangkan aku? Papa bisa lihat sendiri, statusku sudah menikah, tapi, aku sama saja seperti tidak memiliki seorang istri. Bagaimana aku bisa bertahan dengan istri seperti itu, Pa?"


Damian diam, tidak membantah karena memang yang dikatakan putranya itu benar adanya.


"Papa tahu apa yang kamu rasakan, Dim. Hanya saja, Papa Bingung kenapa kamu bisa sejatuh cinta itu pada wanita bernama Bella itu? Apa yang sudah dia kasih ke kamu? Apa kamu tidak takut kalau dia hanya mengincar uangmu? Apa juga karena dia sudah memberikan tubuhnya untukmu?" tukas Dimas dengan sudut alis yang sedikit naik ke atas, menyelidik.


Dimas menggelengkan kepalanya, membantah tuduhan sang papa.


"Tidak sama sekali, Pa. Bella tidak pernah mengincar uangku, karena sebenarnya dia tidak kekurangan uang. Dia juga tidak pernah menjual tubuhnya untuk mendekatiku. Dia benar-benar menjaganya ,Pa. Dan alasan aku bisa jatuh cinta padanya, itu tadi ... Dia perhatian, membuat aku merasa berharga menjadi seorang pria. Sikap Bella benar-benar tidak jauh beda dari Aozora, Pa," jelas Dimas dengan raut wajah berbinar.


"Zora?" Damian mengernyitkan keningnya.


"Jangan bilang kamu masih memikirkan Zora sampai sekarang, makanya kamu mudah terpikat dengan wanita yang sikapnya mirip Zora? Kalau iya, itu berarti kamu masih tetap dalam bayang-bayang wanita itu, Dim," ucap Damian.


"Papa kalau bicara jangan ngaco. Sekarang aku mencintai Bella. Aku sudah tidak memikirkan Zora lagi!" Dimas menyangkal pernyataan papanya itu dengan begitu yakin.


Damian berdecak dan menggeleng-gelengkan kepalanya. "Tapi yang Papa pikiran beda, Dim. Kamu masih memikirkan Zora, sampai kamu mencari sisi Zora pada wanita lain. Buktinya kamu bilang, kalau kamu mencintai Bella karena ada karakter Zora pada wanita itu,"


"Tidak! Aku tidak punya perasaan lagi pada Zora. Aku yakin kalau aku mencintai Bella bukan karena sikapnya mirip Zora, tapi aku memang mencintainya karena dia memang Bella, tidak ada kaitannya dengan Zora!" Dimas berbicara dengan tegas dan sangat yakin.


"Ahh, terserah kamu lah, Dimas! Papa juga tidak mau ambil pusing dengan drama percintaanmu. Sekarang, yang mau papa ingatkan, kalau kamu tidak mungkin bisa bercerai dengan Tsania di usia pernikahan kalian yang masih seumur jagung. Mamamu pasti tidak akan setuju, dan marah. Apalagi kalau mamamu tahu, kalau kamu selingkuh bukan hanya selingkuh dari Tsania tapi juga dari Zora. Lagian kalau kalian bercerai, Aozora akan tertawa puas. Apa itu yang kamu mau?"


Dimas menggelengkan kepalanya.


"Tapi, Papa juga tidak bisa melarangmu untuk tidak berhubungan dengan Bella, karena katamu kamu mencintainya. Tapi, saran Papa kamu jangan terlalu memperlihatkan hubunganmu dulu dengan Bella di publik. Kalian harus tetap tahu batasan," ucap Damian panjang lebar dan dengan wajah serius.


"Iya, Pa. Tapi, sekarang bagaimana dengan ancaman mama mertuaku yang tidak tahu diri itu?" raut wajah Dimas kembali terlihat frustasi.


Damian terdiam, dan terlihat berpikir keras.


"Aku juga bingung kenapa dia begitu berambisi, agar kamu bisa menguasai perusahaan ini. Apa tujuan dia sebenarnya? Apa ketika kita sudah berhasil menguasai perusahaan ini, dia akan meminta kamu untuk mengalihkan perusahaan ini atas nama Tsania? Kalau tidak dia akan mengancammu dengan ancaman yang sama?" Damian mulai menduga-duga.


"Papa benar juga. Aku yakin kalau wanita tidak tahu diri itu punya niat seperti itu. Tapi, tenang saja, tujuan dia itu tidak akan berhasil, Pa. Aku bisa pastikan itu! Yang penting sekarang, bagaimana cara kita untuk mendapatkan perusahaan ini. Apa Papa yakin kalau surat-surat berharga perusahaan ini dan semua aset Kak Arsen ada di tangan Zora?"tanya Dimas memastikan.


"Papa sebenarnya sih yakin tidak yakin. Karena tidak mungkin Arsen dengan mudah memberikan surat-surat itu ke tangan Aozora. Aozora juga tidak mungkin kan, tahu tanggal jadian Arsen dan Hanum. Kalau tanggal lahir, mungkin boleh dia tanya tapi kalau soal tanggal jadian, sangat tidak mungkin, karena biasanya orang yang tahu tentang tanggal-tanggal penting seperti itu adalah orang yang bersangkutan," Damian menjelaskan pemikirannya.


"Papa benar! Mungkin saja saat itu, begitu Kak Arsen sadar dari komanya, dia langsung memeriksa surat-surat penting itu, dan lupa mengembalikan ke dalam brankas," ucap Dimas, dengan sangat yakin.


"Ya, Papa setuju dengan pemikiranmu," Damian mengangguk-anggukkan kepalanya.


"Jadi, sekarang bagaimana, Pa? Bagaimana cara kita bisa menguasai perusahaan ini?"


"Kalau untuk ini, sepertinya sekarang sudah saatnya kita memunculkan Hanum kembali. Kita kembali memanfaatkan dia.". Damian berbicara seraya menyunggingkan senyum liciknya.


"Apa Papa yakin ini akan berhasil? Papa tahu sendiri, kalau penyebab kak Arsen celaka karena Kak Hanum yang tiba-tiba meninggalkannya tanpa sebab. Takutnya Kak Arsen sekarang membenci, Hanum dan justru sudah mencintai Zora. Papa tahu sendiri kan, sangat mudah untuk jatuh cinta pada Zora," Dimas menyampaikan keraguannya.


"Kamu tenang saja. Papa sudah memikirkan caranya, agar Arsen merasa Kasihan pada Hanum dan justru tidak akan tega pada wanita itu. Dan kita bisa meminta Hanum untuk mengatakan kalau sebenarnya dia meninggalkan Arsen karena paksaan dari keluarga Zora yang memang dari awal sudah menginginkan Aozora bisa menikah dengan Arsenio," papar Damian masih dengan senyum liciknya.


Tbc