Rahasia Suami Lumpuhku

Rahasia Suami Lumpuhku
Permulaan karma


"Pa, kenapa tidak ada uang ya yang masuk ke rekeningku bulan ini? Padahal dua hari yang lalu seharusnya sudah masuk kan?" Dona bertanya dengan wajah kusut.


"Masa sih? Aditya mengernyitkan keningnya.


"Iya, Pa. Masa aku bohong sih? Nih lihat, saldo aku tinggal segini saja," Dona menunjukkan akun bank di handphonenya.


Aditya lagi-lagi mengernyitkan keningnya. Jujur, dia juga bingung kenapa istrinya itu tidak mendapatkan transferan dari perusahaan. Padahal, setiap bulan istrinya itu pasti dapat jatah bulanan dari perusahaan.


"Aku juga nggak tahu, Ma. Nanti aku akan coba tanyakan ke bagian keuangan," sahut Aditya, sembari mengencangkan dasinya.


"Perusahaan tidak ada masalah kan?" Dona mengernyitkan keningnya.


"Tidak ada kok. Semuanya baik-baik saja. Bahkan sudah sangat stabil. Kamu tenang saja, nanti setelah sampai di kantor, aku akan langsung menanyakan ini ke bagian keuangan. Aku berangkat dulu ya, Ma!" Aditya meraih tas kerjanya dan berlalu pergi. Sementara Dona mengekor dari belakang.


Baru saja kaki Aditya dan Dona menapak di lantai bawah, dari arah pintu masuk, tampak muncul Tsania yang wajahnya Tidak kalah kusut dari Dona.


"Tsania, pagi sekali kamu datang ke sini, Nak? Apa kamu ada masalah?" Dona bertanya seraya menghampiri putrinya itu.


"Iya, ini belum jam 8 kamu sudah ada di sini. Biasanya jam segini kamu masih molor," Aditiya buka suara yang dalam ucapannya terselip sebuah sindiran.


"Apaan sih, Pa!" bibir Tsania mengerucut ke depan.


"Apa kamu diceramahi lagi sama mertuamu itu, masalah tugas seorang istri?" tukas Dona lagi.


"Nggak sih, Ma. Cuma aku lagi kesal saja, Kak Dimas tidak pulang tadi malam. Alasannya lembur. Tapi lembur tidak mungkin sampai tidak pulang kan?" ucap Tsania dengan wajah yang semakin kusut.


Mendengar ucapan putrinya, Aditya mengembuskan napas dengan sekali hentakan dan cukup keras. "Jadi suamimu tidak pulang tadi malam dengan alasan lembur?" tanyanya, memastikan.


Tsania menganggukkan kepalanya dengan wajah yang dibuat semelas mungkin. Ia yakin kalau papanya itu sekarang pasti marah, dan akan melabrak Dimas, karena tidak terima putri kesayangannya diperlakukan semena-mena.


"Dimas tidak pulang dan kamu malah datang ke sini? Kamu masih punya pikiran nggak sih, Nia?"


Mata Tsania membesar sempurna terkesiap kaget melihat respon papanya yang benar-benar di luar prediksinya. Bukan hanya Tsania, Dona juga tidak kalah kagetnya dengan respon yang ditunjukkan oleh suaminya barusan.


"Papa kenapa membentakku sih?" alis Tsania bertaut tajam.


"Kamu sadar kan dengan sikapmu tadi, Pa?" Dona menimpali pertanyaan Tsania putrinya.


"Aku sadar dan sangat sadar. Tsania kamu itu sudah jadi seorang istri. Setiap kamu ada masalah, kamu selalu datang ke sini dan mengadu. Apa begitu sikap menjadi seorang istri. Kapan kamu bisa dewasa, hah? Dimas, katamu lembur sampai tidak pulang, dia pasti lelah. Harusnya sekarang kamu ke kantor, dan bawa yang dia perlukan. Seperti pakaian ganti dan sarapan. Dan kamu juga kasih dia dukungan. Bukannya datang ke sini dan asik mengadu, meminta dukungan!" ucap Aditya panjang lebar, tanpa jeda. Kemudian pria itu menoleh ke arah Dona, istrinya.


"Dan kamu juga, stop selalu membelanya! Kalau kamu terus membelanya, dia tidak akan pernah bisa menjadi dewasa! bagaimana dia bisa disayang sama mama mertuanya, seperti Zora dulu, kalau sikapnya masih kekanak-kanakan seperti ini?" sambung pria itu, membuat Dona terdiam. Ya, semenjak Aditya memperlihatkan kemarahannya dulu, Dona sudah tidak punya cukup keberanian lagi untuk membantah suaminya itu.


"Papa jahat! Aku ini anakmu, Pa! Harusnya Papa membelaku. Dan kenapa Papa selalu bawa-bawa nama Kak Zora? Papa sama saja seperti Kak Dimas yang selalu membanding-bandingkan aku dengan perempuan sombong itu. Yang ngatain, aku tidak bisa masaklah kaya Kak Zora. Aku yang tahunya hanya shopping dan malas-malasan lah, tidak seperti Kak Zora. Capek tahu, Pa. Aku ya aku, Kak Zora ya Kak Zora. Jangan samakan aku dengannya!" suara Tsania meninggi dengan mata yang berkilat-kilat penuh amarah.


Aditya berdecak, kemudian menggeleng-gelengkan kepalanya, tidak habis pikir dengan sikap keras kepala putrinya itu.


"Papa mau menyumpahi pernikahanku? Tega sekali sih Papa! Aku datang ke sini bukanya mendapat dukungan, malah membuat kepalaku semakin pusing. Mana sampai sekarang uang bagianku dari perusahaan belum masuk ke rekening lagi,"


Dona yang dari tadi diam saja, sontak menoleh ke arah putrinya dengan mata yang membesar. "Jadi, kamu juga belum mendapatkan transferan?" tanya Dona memastikan.


"Belum,Ma. Apa Mama juga sama?" Dona menganggukkan kepala, mengiyakan.


"Kenapa bisa begitu ya? Padahal aku sudah sangat ingin belanja. Kak Dimas juga belum kasih uang ke aku,"


Aditya kembali berdecak seraya menggeleng-gelengkan kepala, melihat ibu dan anak yang sekarang malah sibuk memikirkan uang, dan lupa akan masalah sebelumnya. "Dasar. Baru saja tadi marah-marah karena suami tidak pulang. Sekarang malah memikirkan uang!" umpat Aditya, yang akhirnya lebih memilih untuk beranjak pergi.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Tsania akhirnya memutuskan kali ini untuk mendengar ucapan papanya tadi. Ia terlihat mengemudikan mobilnya, menuju perusahaan milik Arsenio, tempat suaminya bekerja. Di kursi sampingnya, tampak ada bungkusan yang ternyata makanan yang sempat dia beli tadi.


Namun, belum benar-benar tiba di gedung perusahaan, Ia melihat mobil yang menurutnya tidak asing. Tsania sampai mengucek-ngucek matanya untuk memastikan, apa penglihatannya benar atau tidak. "Ya, itu benar mobil Kak Dimas. Tapi, kenapa dia berhenti di situ? Kantornya kan tidak jauh lagi?" Tsania membatin, penasaran.


Mata Wanita itu kini membesar sempurna, melihat seorang wanita cantik keluar dari mobil milik suaminya. Bibir wanita itu penuh dengan senyuman, lalu melambaikan tangan, seiring bergeraknya mobil milik suaminya itu.


"Bukannya wanita itu karyawan di kantin Kak Dimas? Jangan bilang kalau Kak Dimas selingkuh dengan wanita itu," Tsania mencengkram kemudi dengan sangat kencang. Mata Wanita itu juga tampak berapi-api, penuh amarah.


"Dasar pelakor sialan! Awas kamu!" Tsania melajukan mobilnya dan langsung berhenti tepat di samping wanita yang sekarang memilih untuk berjalan ke kantor. Mungkin, dia memang sengaja turun di tempat yang tidak jauh dari kantor, agar tidak ada yang melihat dia keluar dari mobil Dimas dan untuk menghindari pertanyaan karyawan-karyawan lain.


Wanita yang tadi keluar dari mobil Dimas itu sontak memegang dadanya, saking kagetnya begitu melihat ada mobil yang berhenti mendadak di depannya. Ia semakin kaget dan pucat begitu melihat siapa yang keluar dari dalam mobil itu.


"M-Mba Tsania?" gumamnya


"Kenapa? Kamu kaget? Kenapa kamu keluar dari mobil suamiku hah? Kamu mau menggoda suamiku ya?" tanpa basa-basi, Tsania langsung meluapkan amarahnya.


"Mba salah lihat!" wanita bernama Bella itu berusaha bersikap biasa saja, dan terlihat cuek, hingga membuat hati Tsania semakin panas.


"Hei, kamu kira mataku buta, hah? Aku bisa lihat jelas, kalau kamu keluar dari mobil suamiku," napas Tsania terlihat memburu.


"Oh, ya udahlah. Berhubung Mba Tsania juga sudah melihatnya, aku pun tidak mau berbohong lagi. Iya, tadi aku keluar dari mobil Mas Dimas dan aku juga mau mengakui kalau aku ini kekasihnya," Bella terlihat tersenyum, meledek.


"Apa? Dasar pelakor sialan!" pekik Tsania.


"Pelakor kok teriak pelakor. Mba punya kaca nggak? Kalau punya, ngaca dulu gih! Udah ya, aku pergi dulu.". Bella mengayun kakinya melangkah meninggalkan Tsania. Namun, belum beberapa langkah, wanita itu menghentikan langkahnya dan berbalik, menoleh ke arah Tsania.


"Oh ya, Mba, Kalau mau marah, marah saja sama Mas Dimas. Aku mau lihat, dia membela Mba atau aku? Tapi, aku yakin dia akan lebih membelaku sih, karena dia sangat mencintaiku. Ingat, Mba ini karmamu dan ini belum seberapa!" pungkas Bella, seraya melanjutkan langkahnya lagi.


Tbc