
Sementara itu di lain tempat, tepatnya di kediaman Dimas tampak pria itu turun dari mobilnya. Wajah pria itu terlihat kusut, kata pakaian yang belum tersentuh setrika.
Saat dia masuk ke dalam rumah, Dimas langsung disambut mamanya yang ternyata sedang menunggunya dari tadi.
"Akhirnya kamu pulang juga, Nak!" sambut Meta, dengan senyum di bibirnya.
"Iya, Ma. Kalau Mama tidak memaksaku untuk pulang, aku benar-benar malas pulang. Mending aku tidur di kantor," sahut Dimas, masih dengan raut wajah kesalnya.
Ya, Dimas awalnya memang berencana untuk tidak pulang lagi, dan berencana menginap di apartemen yang sengaja dia sewa, dekat dengan apartemen Bella. Namun, karena mamanya memaksanya untuk pulang, dia pun tidak bisa membantah wanita yang sudah melahirkannya ke dunia ini.
"Tidak boleh seperti itu, Nak. Bagaimanapun kami sudah punya istri. Seburuk apapun dia, kamu harus tetap ingat untuk pulang. Dengan kamu menghindarinya, kamu tidak akan bisa menyelesaikan masalah, justru akan menambah masalah," tutur Meta dengan diplomatis.
"Aku tahu, Ma. Tapi, aku sudah capek di kantor, masa harus capek lagi melihat kelakuannya yang sama sekali tidak pernah melakukan tugasnya sebagai seorang istri? Aku merasa tidak dihargai sebagai suami, Ma. Jadi, daripada aku ribut, lebih baik aku menghindar," ucap Dimas.
Sudut bibir Meta, sontak melengkung membentuk sebuah senyuman. Wanita itu mengelus-elus punggung putranya itu, karena dia bisa mengerti apa yang dirasakan putranya itu sekarang.
"Kamu yang sabar ya! Mama yakin kalau lambat laun Tsania pasti akan berubah. Buktinya tadi dia sudah mau belajar memasak. Walaupun akhirnya dia kecewa karena kamu tidak pulang untuk makan malam,"
Dimas memicingkan matanya, seperti tidak percaya dengan apa yang baru saja dia dengar dari mamanya itu.
"Dia belajar memasak?" Meta menganggukkan kepalanya, mengiyakan.
Sudut bibir Dimas sontak melengkung membentuk senyuman sinis. "Apa Mama mencicipi masakannya?" tanya Dimas lagi.
Meta tidak menjawab, namun wanita paruh baya itu menggelengkan kepalanya. "Bukannya Mama tidak mau, tapi mama pikir kalau Tsania ingin kamu yang pertama kali mencicipi masakannya," terang Meta.
"Aku malas mencicipinya, Ma. Karena aku yakin masakannya pasti tidak layak untuk dimakan," Senyum di sudut bibir pria itu kini berubah dari sinis menjadi senyum menghina.
"Hush, kamu tidak boleh seperti itu! Setidaknya hargai usaha yang sudah dia lakukan. Sekarang, sebaiknya kamu ke atas dan ajak dia makan bersama. Soalnya tadi dia belum makan malam. Mama mau ke kamar dulu, soalnya mama mengantuk!" Meta melangkahkan kakinya, beranjak pergi setelah Dimas putranya menganggukkan kepalanya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Sayang, akhirnya kamu pulang juga?" Tsania langsung turun dari atas ranjang dan dengan wajah berbinar menghambur untuk memeluk Dimas yang baru saja masuk ke dalam kamar.
"Tidak usah peluk-peluk! Aku lagi capek!" cetus Dimas langsung menolak begitu Tsania sudah hampir dekat dengannya.
Tsania sontak berhenti dan memasang wajah memelas. "Kenapa seperti itu, Sayang? Bukannya kalau lagi capek, dipeluk sama istri capeknya langsung hilang ya?" Tsania mengerucutkan bibirnya, berpura-pura ngambek berharap suaminya itu membujuknya.
Namun, alih-alih membujuk, Dimas malah berdecih dan menatap Tsania dengan tatapan jijik.
"Apa kamu kira aku bernaf*su melihatmu memakai seperti itu? Yang ada aku jijik dan mengingatkan kebodohanku dulu yang bisa-bisanya tergoda dengan wanita menjijikkan sepertimu!" ucapan Dimas terdengar sangat sarkas dan benar-benar sangat menyakitkan.
"Sabar, sabar Tsania! Jangan terpancing! Ingat, apa yang terjadi sekarang. Hidup kamu sekarang tergantung pada Dimas. Kamu tidak mau kan hidup miskin?" Tsania berusaha menenangkan dirinya sendiri.
"Sayang, jangan bicara seperti itu! Jangan setelah apa yang kamu lakukan padaku, kamu mengatakan aku menjijikkan. Padahal saat itu kamu sangat menikmatinya. Apa sekarang tubuh Bella lebih nikmat dibandingkan tubuhku?"
"Diam kamu! Jangan pernah sebut nama Bella dengan mulut busukmu itu! Bella tidak seperti kamu. Dia tidak pernah sekalipun menggodaku dengan tubuhnya. Paham kamu!" Dimas mencengkram dagu Tsania dengan kencang. Pria itu terlihat begitu murka. Bahkan matanya terlihat memerah pertanda kalau amarah pria itu sudah sampai ke ubun-ubun.
"Sa-Sayang, sakit! Ma-maaf, aku tidak akan mengatakan seperti itu lagi!" ucap Tsania di sela-sela rasa sakitnya.
Dimas kemudian melepaskan tangannya dari dagu Tsania dan menghempaskan tubuhnya ke atas ranjang. Sementara Tsania kini sudah menangis sesunggukan.
"Aku ini kenapa sih? Apa aku memang terlalu kejam pada Tsania? Padahal jelas-jelas, aku yang memilih selingkuh dengannya dan menikahinya. Harusnya, aku bisa menerima konsekuensi kalau dia tidak akan seperti Zora kan?" bisik Dimas pada dirinya sendiri. Kalau boleh jujur, ada rasa bersalah yang timbul di hatinya saat ini, apalagi mendengar Isak tangis istrinya itu.
"Tidak boleh ini. Aku tidak boleh simpati lagi padanya. Walaupun dia tidak bisa seperti Zora, seharusnya dia menghormatiku sebagai suami. Aku tidak boleh terpengaruh dengan tangisannya!" Dimas bermonolog seraya bergerak duduk.
"Hei kamu jangan menangis di sini! Aku benar-benar capek sekarang. Mendengar kamu menangis aku semakin capek. Aku benar-benar menyesal pulang kalau begini. Apa kamu mau aku pergi lagi, hah!" bentak Dimas.
Tsania sontak terdiam dan menggeleng-gelengkan kepalanya. "Tidak, Sayang. Kamu di sini saja, jangan pergi kemana-mana. Aku kesepian karena seminggu ini kamu tidak pulang," sahut Tsania dengan cepat. Sepertinya dia benar-benar tidak mau suaminya itu pergi lagi.
"Oh ya, Sayang. Tadi, aku sudah belajar masak. Aku menunggumu untuk makan malam denganku, makanya aku belum makan. Kita makan sama-sama yuk! Nanti aku panaskan makanannya dan kamu coba Cicipi. Mulai hari ini aku akan berusaha menjadi istri yang baik, Mas," ucap Tsania seraya tersenyum manis.
Dimas tercenung mendengar kalimat demi kalimat yang terlontar dari mulut Tsania. Hatinya sedikit tergugah. Namun, itu hanya berlangsung sebentar karena tiba-tiba dia ingat akan sesuatu.
"Tidak perlu sok mau berubah, Tsania. Aku yakin kamu melakukan ini karena tidak mau hidup miskin dengan orang tuamu kan? Jangan pikir aku tidak tahu, kalau perusahaan dan semua aset-aset sudah kembali atas nama Zora. Kalian sudah tidak punya apa-apa lagi," Dimas tersenyum sinis ke arah Tsania.
Wajah Tsania seketika berubah pucat, tidak menyangka kalau Dimas ternyata sudah tahu.
"Kamu bingung kenapa aku bisa tahu? tentu saja dari mama kamu yang mata duitan itu. Dia ternyata sudah diusir dari rumah yang selama ini kalian tempati, dan dengan lancangnya mamamu memintaku untuk menyewakan rumah atau apartemen mewah. Kalau aku tidak mau, lagi-lagi mama kamu mengancam akan mempermalukan Bella. Kalau bukan karena ancamannya itu, aku tidak akan Sudi memenuhi permintaannya. Kalian benar-benar benalu, tahu nggak!" tutur Dimas dengan raut wajah menghina.
"Sampai segitunya kamu melindungi wanita itu, Mas. Apa kamu memang benar-benar sudah mencintainya? Dan apakah aku sudah tidak punya tempat lagi di hatimu?" suara Tsania terdengar sangat lirih.
"Aku rasa kamu sudah tahu jawabannya. Bella sekarang adalah wanita yang sangat aku cintai. Walaupun pertemuan kami baru sebentar, tapi dia sudah berhasil membuatku benar-benar jatuh cinta padanya. Kamu jangan berharap apa-apa lagi padaku. Oh ya, tentang kamu yang belajar masak tadi, aku tidak akan memakannya karena tadi aku sudah makan masakan Bella yang super enak. Kamu makan sendiri saja masakan kamu itu!" pungkas Dimas seraya melangkah ke kamar mandi.
"Terserah kamu mau mengatakan apa, Mas. Aku tidak peduli. Kamu boleh mencintai wanita itu sekarang, tapi aku akan tetap mempertahankan pernikahan kita. Aku tidak akan pernah mau bercerai denganmu.Biar saja dia akan tetap menjadi seorang wanita simpanan seumur hidupnya!" ucap Tsania dengan sangat tegas.
Tbc