
Waktu berlalu begitu cepat. Tidak terasa sudah hampir dua bulan Aozora menjadi istri Arsenio Reymond Pratama. Dua minggu yang lalu pernikahan mereka sudah diresmikan secara agama, bukan hanya secara hukum saja. Dan Aozora tahunya itu atas permintaan Amber mama mertuanya, bukan permintaan Arsenio. Namun, walaupun begitu pernikahan mereka belum dipublikasikan ke umum. Yang tahu hanya keluarga dan para karyawan.
"Mas, apa kakimu belum bisa juga digunakan untuk berjalan?" tanya Aozora.
"Kenapa? Apa kamu sudah capek dan muak melihat kondisi kakiku yang tidak sembuh-sembuh?" Arsen bertanya balik dengan nada dingin.
"Bukan seperti itu, Mas. Kenapa sih kamu selalu salah paham. Aku bertanya seperti itu untuk memikirkan apa kita belum maksimal melakukan terapinya? Dan aku juga ingin mencari tahu, ada apa hal yang harus kita perbaiki dalam proses terapinya, itu saja kok!" jelas Aozora dengan sabar. Wanita itu makin ke sini sudah mulai tahu watak Arsen, sehingga dia sudah bisa lebih sabar menghadapi mood suaminya yang suka tiba-tiba berubah.
Seperti biasa, Arsen hanya diam dan kembali bersikap biasa, seakan tidak terjadi apapun. Seperti biasa juga, pria itu tidak minta maaf atas salah pahamnya.
Aozora yang sudah terbiasa dengan sikap suaminya, hanya bisa menghela napas seraya menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Mas, besok aku bisa kembali ke kantor kan?" tanya Aozora setelah mereka dia untuk beberapa saat.
"Tidak boleh!" sahut Arsen dengan tegas.
Ya, sudah dua minggu Arsen melarang Aozora pergi bekerja. Entah apa alasan pria itu melarangnya, Aozora pun tidak tahu. Yang jelas larangan itu tercetus dari mulut Arsen, ketika dua minggu lalu, dia terjatuh karena disenggol oleh motor yang sengaja melaju dengan kencang. Untungnya saat itu, dia sempat menghindar, walaupun dia terjatuh dan menyebabkan kakinya keseleo.
"Tapi, bagaimana dengan perusahaan, Mas? Mas juga tahu sendiri kan, kalau aku harus tetap memantau perusahaan mamaku." lagi-lagi Aozora menyampaikan protesnya, yang selalu tidak pernah ditanggapi oleh suaminya itu.
Arsen yang tadinya fokus ke layar ponselnya, tiba-tiba mengangkat wajahnya dan menatap Aozora dengan tatapan dingin. Tatapan itu, tentu saja membuat Aozora bergidik, karena merasa aura di ruangan itu menjadi sangat dingin.
"Iya, iya. Aku tidak akan pergi ke kantor," pungkas Aozora, akhirnya. Dia paham benar maksud tatapan Arsen yang berarti tidak ingin dibantah.
"Bagus! Untuk urusan perusahaan, ada Niko yang mengurusnya. Untuk urusan perusahaan mamamu, kamu tenang saja, aku juga meminta Niko untuk tetap memantaunya. Aku yakin, kamu juga pasti sudah tahu kalau Niko juga sudah menempatkan orang yang kompeten di sana," nada bicara Arsen kini sudah berubah biasa, setelah mendengar Aozora yang kembali menuruti kemauannya dengan tidak keras kepala untuk tetap pergi ke kantor.
"Lagian, kenapa kamu masih membiarkan mereka merasa kalau seolah-olah perusahaan itu masih milik mereka? apa kamu tidak mau, langsung mengusir mereka dari perusahaan itu?" lanjut Arsen.
Bibir Aozora melengkung, membentuk sebuah senyuman, senyum yang selama dua bulan ini, sulit untuk dipahami oleh Arsen.
"Itu karena aku masih ada sedikit rasa kasihan pada mereka. Karena dengan begitu aku ungkapkan semuanya, mereka akan benar-benar tidak punya apa-apa. Baik itu tempat tinggal dan penghasilan. Tapi, tenang saja, tentu saja itu tidak akan berlangsung lama, karena sebentar lagi, mungkin tinggal menunggu beberapa hari lagi, mereka baru akan merasakan kebingungan dengan apa yang terjadi. Jadi biarkan mereka menikmati hidup mewah untuk beberapa hari ini. Biarkan juga mereka berpikir kalau semuanya baik-baik saja, dikarenakan perusahaan sudah mulai stabil," terang Aozora, ambigu.
"Maksud kamu apa?" Arsenio mengernyitkan keningnya, bingung.
"Nanti, Mas akan tahu sendiri. Sekarang sudah larut, sebaiknya kita tidur saja!" Aozora menarik selimut, kemudian merebahkan tubuhnya. Berbaring, membelakangi Arsen
"Selamat datang siksaan!" gumam Arsenio.
"Heh, Mas bilang apa tadi?" Aozora berbalik, karena mendengar Arsen berbicara, tapi sialnya dia kurang mendengar apa yang baru saja keluar dari mulut suaminya itu.
"Aku tidak bilang apa-apa! Tidurlah!" dengan cepat Arsen menyahut, sembari merebahkan tubuhnya, sengaja menghindar menjawab pertanyaan Aozora.
"Tadi sepertinya aku mendengar kata siksaan? siksaan apa yang dia maksud?" batin Aozora dengan kening berkerut.
Sementara itu, Arsen yang berbaring dengan posisi memunggungi Aozora, mengembuskan napas lega. "Untung dia tidak dengar. Tapi, apa dia tidak merasa tersiksa ya, dua bulan tidur seranjang denganku, tapi tidak melakukan apa-apa? Apa hanya aku saja yang tersiksa?" Arsenio masih tetap membatin, walaupun kedua matanya sudah terpejam.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Ini sudah jam 11 malam, Sayang. Kenapa kamu belum juga pulang?" suara Tsania, meninggi.
"Aku lembur. Kamu bisa ngertiin aku nggak sih?" suara Dimas dari ujung sana juga terdengar tinggi.
"Lembur saja alasanmu. Kamu benaran lembur nggak sih? masa sudah sebulan ini kamu lembur terus. Kan tidak mungkin. Kamu sadar nggak sih, kalau akhir -akhir ini hubungan kita flat-flat saja? Atau jangan-jangan kamu selingkuh ya?" tukas Tsania, menyelidik.
"Ini nih yang buat aku semakin kesal. Tuduhanmu benar-benar tidak berdasar! Terserah kamu mau percaya atau tidak, aku tidak peduli. Aku tutup teleponnya dan kamu tidur saja, tidak perlu menunggu aku pulang! aku mungkin tidak pulang malam ini! Dan jangan ganggu aku dengan menelponku berkali-kali, paham kamu!" belum sempat Tsania kembali bersuara, tiba-tiba panggilannya sudah diputuskan secara sepihak oleh Dimas suaminya.
Tsania mencoba menghubungi kembali, namun ternyata nomor suaminya itu sudah tidak bisa dihubungi lagi. Sepertinya Dimas menonaktifkan ponselnya.
"Argh, dasar Kak Dimas brengsek!" Tsania melemparkan ponselnya ke atas ranjang dengan kasar.
"Kenapa ya, feelingku mengatakan kalau dia itu selingkuh?" Tsania mulai over thinking.
"Tidak, tidak mungkin dia selingkuh! Aku harus tetap berpikir positif. Mungkin benar kalau dia itu memang lembur," Tsania membatin, mencoba menenangkan dirinya sendiri.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Sementara itu di tempat lain, tepatnya di sebuah apartemen, tampak Dimas meletakkan ponselnya dengan kasar setelah lebih dulu menonaktifkan ponselnya untuk menghindari panggilan Tsania. Wajah pria itu tampak ditekuk setelah selalu berbicara dengan Tsania tadi di telepon.
"Kamu kenapa marah-marah sih, Sayang?" terdengar suara manja seorang wanita dengan tangan yang memeluk Dimas dari belakang.
"Biasa, Sayang." Sahut Dimas, tersenyum.
"Istri kamu yang tidak berguna itu ya?"
Dimas menganggukkan kepalanya, membenarkan.
"Dia memintaku untuk pulang, tapi seperti biasa aku bilang kalau aku lembur. Aku malas pulang, karena sudah muak dengannya yang tidak bisa menjadi istri yang baik. Bahkan niat untuk belajar jadi istri yang baik juga tidak mau. Mending aku di sini saja, hidupku jadi tenang dan bisa melihat wajahmu," ucap Dimas yang dibarengi dengan kata-kata manis.
"Ahh, kamu bisa saja, Sayang. Aku jadi tersanjung. Padahal kamu di sini juga, kita tidak ngapa-ngapain kan?" ucap wanita itu masih dengan nada manja.
"Kalau boleh jujur, aku ingin sekali menyentuhmu, Bella. Tapi, aku menghormati prinsipmu yang tidak mau melakukan seperti itu. Aku tidak akan pernah memaksamu, Sayang," ucap Dimas dengan lembut
"Terima kasih, Sayang. Aku harap kamu jangan khilaf ya!"
Dimas tersenyum dan menganggukkan kepalanya. "Iya, aku pasti bisa menahan diri, Sayang. Karena dulu aku pernah bertahan tidak menyentuh mantan kekasihku, padahal kami sudah sangat lama bersama. Jadi, aku yakin kalau aku juga pasti bisa melakukannya untukmu," ucap Dimas, dengan ekspresi meyakinkan
Tbc