Rahasia Suami Lumpuhku

Rahasia Suami Lumpuhku
Aku akan menghapus bekasnya


"Lho kalian berdua mau kemana?" tanya Amber dengan alis bertaut. Kebetulan wanita itu berpapasan dengan anak dan menantunya di anak tangga saat wanita paruh baya itu hendak naik menuju kamarnya.


"Kami lapar, Ma, jadi kami mau makan," sahut Arsen.


"Hah, lapar? bukannya kalian berdua tadi sudah makan di luar?" Amber terlihat kebingungan.


"Siapa yang makan di luar, Ma? Kami tadi hanya ke rumah peninggalan almarhum mama Sekar untuk memastikan mama tirinya Aozora tidak membawa satu pun barang peninggalan ibu mertuaku. Setelah itu kami langsung pulang,"terang Arsen.


"Astaga, Mama kirain karena kamu baru sembuh, kalian mau merayakannya dengan makan di luar. Makanya Mama tadi meminta Bibi untuk memasak makan malam untuk mereka saja, karena kebetulan juga mama tadi memesan makanan dari luar," tutur Amber.


Arsen dan Aozora sontak saling silang pandang dengan tatapan yang berbeda makna.


Arsen menatap dengan tatapan bersalah, sedangkan Aozora dengan tatapan kesal.


"Jadi, kalian berdua benaran belum makan?" tanya Amber memastikan.


Aozora tidak menjawab, namun kepalanya mengangguk mengiyakan.


"Astaga, kalau begitu kamu pesan saja inimakanan dari online, Sen,"


"Tidak usah, Ma. Aku yang masak saja," ucap Arsen, membuat mata Aozora menatap kaget ke arah pria itu.


"Kelamaan, Nak! keburu kelaparan istrimu," ucap Amber.


"Gak akan lama kok. Kamu sabar kan menunggu?" Arsen menatap Aozora meminta dukungan.


"Emangnya kamu bisa masak, Mas?" bukannya menjawab, Aozora malah bertanya balik.


"Kamu meragukanku? Aku tidak akan bilang mau memasak, kalau aku tidak bisa. Ayo turun, aku akan masakin kamu, sebagai balasan yang tadi," Arsen meraih tangan Aozora dan mengayunkan kaki hendak menuruni anak tangga.


"Eh, balasan untuk apa yang kamu maksud? Emangnya apa yang sudah dilakukan Aozora sampai kamu ingin membalasnya?" ucapan Arsen benar-benar menggelitik rasa ingin tahu Amber.


Wajah Aozora sontak berubah pucat, berbanding terbalik dengan Arsen yang justru tersenyum lebar.


Arsen menatap Aozora seakan meminta izin apakah dia boleh memberi tahu yang sebenarnya pada mamanya, sementara Aozora yang mengerti makna tatapan itu langsung menggeleng-gelengkan kepala dengan raut wajah memohon.


"Kenapa kalian berdua diam? Apa Mama tidak boleh tahu ya?" ya udah deh, kalau tidak boleh tahu, mama juga tidak akan memaksa. Kalian berdua turun saja! Mama mau ke kamar. Mama sudah mengantuk soalnya," ucap Amber seraya kembali menaiki anak tangga.


"Syukurlah!" bisik Aozora pada dirinya sendiri. Dia begitu yakin kalau Arsen memenuhi permintaannya.


"Kalau mama penasaran, tadi kami lagi proses produksi cucu untuk Mama," celetuk Arsen membuat mata Aozora membesar.


"Aku tarik lagi ucapan syukurku. Dasar suami edan!" umpat Aozora, seraya menatap sengit ke arah Arsen.


"Apa? Serius?" Amber terlihat begitu bahagia.


Arsen tersenyum seraya menganggukkan kepalanya, mengiyakan.


Amber yang tadinya sudah hampir tiba di lantai atas kembali turun untuk memeluk Aozora.


"Akhirnya. Terima kasih ya, Sayang. Mama senang, bukan karena terlalu berharap akan kehadiran cucu, karena itu hal mutlak Tuhan untuk memberikannya. Mama hanya bahagia, merasa kalau sekarang kamu benar-benar sudah menjadi menantu Mama. Kalau kemarin-kemarin berasa masih ada yang kurang," tutur. Amber dengan wajah berbinar bahagia.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Arsen kini terlihat fokus berkutat dengan bahan-bahan masakan yang hendak dia masak untuk sendiri. Melihat hal itu, Aozora merasa kalau ketampanan suaminya itu semakin bertambah. Ia tidak pernah menyangka kalau suaminya itu bisa memasak, dan itu terlihat jelas saat suaminya itu tidak sedikitpun merasa kaku saat menyiapkan semua bahan yang hendak dia masak.


"Jangan menatapku seperti itu! Aku tahu kalau aku ini memang tampan," celetuk Arsen, tanpa melihat ke arah Aozora.


"Cih, kamu terlalu percaya diri!" Aozora sontak mengerucutkan bibirnya.


"Bukan terlalu percaya diri, tapi memang itu lah kenyataannya. Kamu tidak bisa menyangkalnya!" Arsen berbicara masih dengan posisi serius pada hal yang sedang dia lakukan.


"Terserah!" pungkas Aozora akhirnya memilih untuk tidak terlalu menanggapi lagi.


Wangi dan penampilan masakan Arsen benar-benar sangat menggugah selera Aozora. Sebenarnya dia sudah tidak sabar untuk mencicipi masakan suami, tapi dia tetap berpura-pura untuk tidak terlihat kalau dia sangat menginginkannya.


"Ayo dimakan! jangan dilihatin saja. Tenang saja, rasanya sangat enak tidak kalah dengan masakanmu," ucap Arsen, merasa kesal melihat ekspresi Aozora yang terkesan tidak selera melihat masakannya.


"Ya udah, aku makan! aku harap memang enak seperti yang kamu katakan," ucap Aozora dengan kesan seperti terpaksa.


Saat suapan pertama, mata Aozora membesar, karena tidak menyangka kalau masakan Arsen benar-benar enak.


"Bagaimana? Enak kan?" tanya Arsen.


"Emm, biasa saja!" sahut Aozora, berbohong.


"What, Makanan seenak ini kamu bilang biasa saja? Kamu benar-benar tidak tahu terima kasih!" Arsen terlihat begitu kesal.


"Iya, iya enak. Terima kasih ya!" pungkas Aozora akhirnya.


"Nah gitu dong!" Arsen kembali tersenyum.


 Untuk beberapa saat, mereka berdua pun akhirnya diam, fokus dengan dengan makanan mereka masing-masing.


"Mas, sebenarnya aku masih penasaran ... dari mana kamu bisa tahu kalau aku yang membersihkan tubuhmu sewaktu kamu masih koma?"


Makanan yang ada di mulut Arsen sontak menyembur mendengar pertanyaan sang isteri. Dia kira kalau wanita itu sudah lupa, tapi ternyata pemikirannya salah. Dia lupa kalau wanitanya itu tidak akan pernah tenang kalau rasa penasarannya belum terjawab.


"Kita lagi makan, dilarang berbicara saat makan!" Arsen masih berusaha untuk menghindar.


"Tapi, aku mau tahu sekarang juga, Mas! Kalau nanti lupa lagi!" Aozora bersikukuh untuk tahu.


"Emangnya ada dalam kamus kamu, lupa hal-hal seperti ini?" ledek Arsen.


"Jangan alihkan pembicaraan, Mas!" Aozora mengerucutkan bibirnya.


"Aku tahu dari Daren. Aku tanya dia siapa yang membersihkan tubuhku, sewaktu aku masih koma. Aku takut kalau dia yang membersihkanku dan aku jijik membayangkannya," Akhirnya, Arsen menemukan jawaban yang masuk akal. Masalah nanti Aozora akan menanyakan kebenaran pada sahabatnya itu, itu urusan nanti. Yang penting, dia aman untuk saat ini.


Aozora mengangguk-anggukkan kepalanya, percaya dengan apa yang diucapkan oleh suaminya itu.


"Bagaimana saat itu? Apa saat itu kamu berbuat sesuatu pada milkkku itu? Apa kamu memanfaatkan kondisiku?" Arsen mengerlingkan matanya, menggoda.


"Enak saja kalau menuduh! Kamu bisa lihat sendiri kan kalau tadi aku masih tersegel,". Aozora melemparkan tatapan tajamnya.


Arsen sontak terkekeh, melihat ekspresi istrinya.


"Iya, iya aku tahu. Aku berterima kasih kamu menjaganya untukku. Tapi, kamu tidak bisa menjaga pipimu dari ciuman laki-laki," Rahang Arsen kembali mengeras. "Sudah berapa laki-laki yang mencium pipimu?"


"Sepertinya sudah banyak dan aku tidak tahu siapa saja mereka. Soalnya aku gak ingat sama sekali. Karena saat itu aku masih bayi dan balita. Kan saat itu aku belum bisa menolak!" Aozora balik menggoda suaminya.


"Kalau begitu, nanti aku akan mencium pipimu sebanyak-banyaknya untuk menghapus semua bekas ciuman orang-orang itu. Siapkan saja dirimu!" Arsen tersenyum, misterius.


Dilraba Dilmurat as Aozora




Yang-yang as Arsen




tbc