Rahasia Suami Lumpuhku

Rahasia Suami Lumpuhku
Provokasi Hanum


"Hei, wanita gatal! ngapain kamu keluar dari ruangan Arsen?" Begitu sudah tepat di depan Bella, Hanum langsung melabrak gadis bertubuh mungil itu.


Untuk beberapa saat, Bella tersentak kaget. Namun, detik berikutnya Bella langsung berhasil menguasai diri. Ia pun melemparkan senyum manis pada Hanum.


"Maaf, Mbak Hanum urusan kamu apa ya?" tanya Bella tanpa menanggalkan senyumnya.


"Ya itu urusan aku lah. Kamu pasti tahu sendiri siapa aku kan? Aku ini ..."


"Mantan," sambar Bella dengan cepat, membuat Hanum terdiam.


"Iya, aku memang hanya mantan. Tapi, asal kamu tahu, aku ini adalah mantan terindah Arsen dan aku yakin kalau cepat atau lambat dia pasti akan kembali lagi padaku. Saat ini dia hanya marah saja. Kalau amarahnya sudah reda, dia pasti akan memaafkanku dan aku yakin kalau dia akan meninggalkan istri penebus hutang itu demi aku," ucap Hanum dengan memasang wajah yang sangat meyakinkan.


Tawa Bella seketika pecah untuk beberapa saat, hingga menimbulkan kerutan bingung di raut wajah Hanum. Setelah puas dengan tertawa, sudut bibir Bella kini naik sedikit ke atas membentuk senyum sinis.


"Kamu yakin, kalau kamu mantan terindah? Kok aku gak yakin ya? kamu pikir aku nggak tahu alasan pak Arsen menerima kamu dulu sebagai pacarnya? Yang aku tahu bukan karena cinta, tapi karena kasihan," bisik Bella tepat di telinga Hanum dengan penuh penekanan pada kata 'kasihan'.


Mata Hanum membesar dengan sempurna, tidak menduga kalau gadis yang dia anggap murahan itu, tahu yang sebenarnya.


"Kenapa diam? Kamu kaget ya, kenapa aku bisa tahu?" lagi-lagi Bella memperlihatkan sebuah smirk mengejeknya.


"Sialan! Bagaimana dia bisa tahu ya? Atau jangan-jangan dia juga menginginkan Arsen dari dulu. Dan dia sengaja masuk ke perusahaan ini agar bisa lebih mudah mendekati Arsen?" isi kepala Hanum mulai berisik. Sibuk menduga-duga, hal yang belum tentu kebenarannya.


"Hei, apa yang kamu pikirkan? Kamu pasti berpikir hal jelek tentangku kan?" Bella memicingkan matanya, menatap Hanum dengan tatapan menyelidik.


"Ada apa ini?" tiba-tiba terdengar suara seorang wanita yang sangat familiar di telinga dua wanita itu.


Hanum dan Bella secara bersamaan, tanpa komando dari siapapun langsung menoleh ke arah suara. Tampak tidak jauh dari tempat mereka berdiri, ada Aozora yang sedang menenteng sebuah rantang di tangannya.


"Kenapa kalian berdua berdiri di sini?" karena tidak mendapatkan jawaban Aozora memicingkan matanya, menatap kedua wanita itu dengan tatapan curiga. Lebih tepatnya, tatapan paling curiga mengarah ke arah Hanum, wanita yang dia tahu pernah menjalin hubungan dengan suaminya.


Sudut bibir Hanum seketika tertarik sedikit ke atas, membentuk senyuman misterius. Karena ia merasa punya alasan untuk membuat Aozora salah paham dengan Bella dan Arsen.


"Kami tidak sedang ngapa-ngapain, Bu Zora. Kami tadi hanya berpapasan. Lalu, sebagai sesama karyawan di sini, kami saling menyapa. Itu saja!" sahut Bella dengan sopan.


"Cih, dasar wanita pembohong!" tiba-tiba Hanum berdecih lalu mengumpat sembari melirik sinis ke arah Bella.


Aozora mengernyitkan keningnya, menatap penuh tanya ke arah Hanum. Karena dia merasa tergelitik dengan respon wanita itu dengan jawaban yang diberikan oleh Bella tadi.


"Kamu apaan sih? Siapa yang pembohong? Kamu lagi ngomongin diri sendiri ya?" Bella mulai kesal sehingga gadis itu meninggikan nada suaranya


"Kamu merasa ya? Kan memang benar yang aku katakan tadi kalau kamu itu pembohong. Sejak kapan kita saling sapa?" Hanum tersenyum sinis ke arah Bella. Kemudian ia mengalihkan tatapannya ke arah Aozora.


"Aozora aku tahu kalau kita sama-sama menginginkan Arsen. Tapi, asal kamu tahu, ternyata bukan hanya kita berdua saja. Tapi, sepertinya wanita yang sok polos ini juga menginginkan Arsen. Aku lihat sendiri, tadi dia keluar dari ruangan Arsen," tutur Hanum, menjelaskan panjang lebar tanpa jeda dan penuh provokasi.


Aozora sontak menatap Bella. Tampak Bella melambai-lambaikan tangan, memberikan isyarat kalau yang dikatakan Hanum barusan sama sekali tidak benar.


"Maling mana mau ngaku! Kalau ngaku, penjara akan penuh kan?" sindir Hanum


"Kamu ya ... mulutmu sepertinya butuh di robek, biar gak ngomong seenaknya. Mau aku robek?" Bella mulai emosi. Sebenarnya dia ingin sekali mengakui siapa dia sebenarnya, tapi untungnya pemikiran itu masih bisa dia singkirkan karena kalau dia keceplosan, bisa wanita bernama Hanum itu mengungkapkan identitasnya pada Dimas. Selain itu dia juga tidak ingin, membuat Aozora tahu karena dia sudah diwanti-wanti lebih dulu oleh Arsen, kalau pria itu yang akan memberitahukan sendiri pada sang istri.


"Kan yang aku katakan tadi benar. Salahnya di mana? Kamu itu tadi masuk ke ruangan Arsen, untuk menggodanya kan?" sindir Hanum.


"Rasain kamu, Bella. Kamu pasti akan tersingkir dari sini. Dan sainganku akan berkurang. Masalah Dimas akan marah kalau kamu dipecat, itu urusan belakang. Dan sepertinya Dimas tidak akan marah, justru akan berterima kasih padaku karena sudah membongkar watak sebenarnya wanita sok polos ini," bisik Hanum pada dirinya sendiri. Senyum di bibir wanita itu memperlihatkan kepuasan sendiri.


"Aku sama sekali tidak menggodanya, wanita sialan! Bagaimana aku bisa menggoda ...." Bella menggantung ucapannya karena tiba-tiba tersadar kalau dia hampir keceplosan.


"Kenapa diam? Ayo lanjutkan! menggoda?" desak Hanum dengan sudut bibir yang semakin terangkat ke atas.


"Kamu bisa tidak untuk tidak memprovokasi? intinya, aku tidak menggoda Pak Arsen. Terserah kamu mau percaya atau tidak!" Bella akhirnya meninggikan suaranya.


"Sudahlah, aku tidak tahu siapa di antara kalian yang bisa aku percaya. Sekarang sebaiknya kalian pergi bekerja!" akhirnya Aozora buka suara.


"What? jangan bilang kamu tidak peduli kalau ada wanita yang mau menggoda suamimu?" Hanum menautkan alisnya dengan tajam.


"Aku peduli dan sangat peduli. Tapi, bagaimana aku bisa percaya dengan ucapanmu, sedangkan kamu sendiri juga seorang wanita yang masih ingin mendekati suamiku? Bisa saja kan kamu sengaja memfitnah seseorang, supaya aku ribut dengan Mas Arsen?"


"Tapi yang aku katakan tadi benar Zora. Aku tidak berbohong!" tegas Hanum.


"Sudahlah! Kamu bisa pergi sekarang. Untuk urusan benar tidaknya biar aku yang urus!" Aozora berbicara tidak kalah tegas.


"Sial! Harusnya kamu percaya padaku. Lihat saja nanti, kamu akan menyesal karena tidak percaya padaku!" pungkas Hanum seraya beranjak pergi.


Setelah memastikan Hanum sudah tidak terlihat lagi, Aozora menoleh ke arah Bella.


"Bel, sebenarnya aku tidak mau menuduhmu. Tapi apa yang diucapkan Hanum tadi cukup meyakinkan dan sulit aku tepis. Aku menerimamu dulu bekerja di sini dengan syarat mau menggoda Dimas agar adik saya Tsania bisa merasakan sakitnya dikhianati. Dan aku juga memintamu, membuat Dimas benar-benar mencintaimu, sampai-sampai aku mengajarimu seperti aku, jadi ketika kamu meninggalkannya dia merasakan sakit yang amat sangat karena ditinggal orang yang dia cintai. Tapi, kenapa sekarang kamu berniat menggoda suamiku juga?" tanya Aozora dengan penuh selidik.


Bella mengembuskan napasnya dengan cukup keras dan sekali hentakan.


"Aku tidak menggoda kak Arsen, Kak Zora!"


"Kak? Kamu memanggil Mas Arsen dengan sebutan Kak?" tanya Aozora, bingung.


"Untuk lebih tahu jelasnya, kita masuk ke ruangan Kak Arsen deh. Biarkan Kak Arsen yang menjelaskan!" Bella berbalik dan melangkah menuju ruangan Arsen yang jaraknya tidak terlalu jauh dari tempat mereka berdiri.


Tbc


Lah kok jadi Aozora yang meminta Bella menggoda Dimas? Bukannya Arsen ya? 🤔🤔🤔