
"Ha-Hanum!" gumam Arsen yang bisa didengar jelas oleh Aozora.
Aozora pun sontak menatap ke arah wanita yang baru saja dipanggil suaminya dengan nama yang selama ini selalu membuat hatinya tidak tenang.
"Jadi dia Hanum? pantas mas Arsen cinta mati padanya, ternyata dia secantik ini," batin Aozora.
"A-Arsen?" suara Hanum terdengar sangat lirih. Wanita itu juga menatap Arsen dengan tatapan penuh kerinduan.
"Arsen, aku merindukanmu!"ucap Hanum lagi, dengan tangan terentang hendak memeluk pria itu.
Arsenio sontak menjauhkan tubuhnya, sehingga Hanum hanya merangkul angin. Tiba-tiba pria itu meraih tangan Aozora dan menggenggam tangan wanita itu dengan erat, seakan memberitahukan kalau sekarang dia sudah punya wanita lain. Aozora ingin menarik tangannya, namun Arsen menahan dengan semakin mengeratkan genggamannya.
Mata Hanum tentu saja langsung menatap ke arah tautan tangan Arsen. Sumpah demi apapun, dia merasa sakit melihat tangan yang kini sudah menggenggam tangan wanita lain.
"Untuk apa kamu di sini?" tanya Arsen dengan nada dingin.
"A-aku di sini hanya ingin lewat saja," sahut Hanum. "Dia?" Hanum menunjuk ke arah Aozora.
"Oh, ini istriku! sahut Arsen dengan tegas, tanpa ada keraguan.
Hanum terdiam seribu bahasa. Tampak jelas mata wanita itu mulai berkaca-kaca.
"Dia istrimu?" ulangnya memastikan.
"Iya!" sekali lagi Arsen mengiyakan dengan sangat tegas.
"Seperti yang kamu katakan tadi, kalau kamu hanya lewat, aku dan istriku juga sepertinya mau pulang. Ayo!" Arsen menarik tangan Aozora seraya melangkahkan kakinya.
"Arsen! tunggu!" Arsen yang baru melangkah beberapa langkah sontak berhenti, mendengar teriakan Hanum yang memanggil namanya.
"Ada apa? Tanya Arsen, tanpa menoleh dan masih tetap dengan nada dingin.
Hanum mengayun kakinya, melangkah menghampiri Arsen dan Aozora.
"Kenapa kamu langsung pergi? Apa karena kamu masih sakit hati padaku dan sekarang membenciku? Apa kamu sama sekali tidak merindukanku? Atau kamu bersikap dingin sepihak ini, karena wanita ini ada di sini?" tanya Hanum dengan beruntun.
"Kamu jangan sok tahu, karena apapun yang kamu pikirkan itu tidak ada yang benar," sahut Arsen dengan ekspresi wajah datar.
"Oh, berarti kamu tidak sakit hati lagi padaku," ucap Hanum, seraya menyunggingkan senyum termanisnya.
"Ya, karena memang aku merasa apa yang sudah kamu lakukan padaku tidak ada artinya sama sekali padaku. Jadi, buat apa aku sakit hati?" senyum yang tadi menghiasi bibir Hanum, seketika menyurut mendengar ucapan pedas Arsen.
Ayo!" Arsen kembali menarik tangan Aozora untuk segera berlalu dari tempat itu.
"Zora!"
Kini gantian Zora yang berhenti melangkah dan berbalik menoleh ke arah Hanum.
"Kamu tahu namaku?" tanya Aozora seraya mengernyitkan keningnya.
"Tentu saja aku tahu. Bagaimana mungkin aku tidak tahu, wanita yang sekarang menjadi istri pria yang aku cintai. Wanita licik yang memanfaatkan Kondisi Arsen yang koma, agar bisa menikah dengannya," Hanum menatap sinis dan jijik ke arah Aozora
"Jaga bicaramu! Aku tidak pernah memanfaatkan kondisi Arsen sama sekali. Kalau kamu tidak tahu apa-apa, lebih baik kamu diam!" Aozora terlihat mulai marah.
"Siapa bilang aku tidak tahu apa-apa? Aku tahu semuanya!" setelah berbicara dengan Aozora Hanum mengalihkan tatapannya ke arah Arsen yang alisnya kini bertaut tajam.
"Ya, Sen. Kenapa saat itu, aku memutuskan hubungan kita tanpa alasan, itu karena aku diancam sama keluarga Zora. Mereka mengancam akan menghabisi papaku, kalau aku tidak meninggalkankanmu. Tujuan mereka hanya satu, mereka ingin menikahkanmu dengan Zora, dengan memanfaatkan kondisimu yang koma," tutur Hanum, panjang lebar seraya memasang wajah memelas, untuk semakin membuat Pria yang masih dicintainya itu, percaya pada ucapannya.
"Kenapa? Kamu tidak percaya dengan ucapanku. Yang pastinya itu adalah kenyataan yang sebenarnya. Keluargamu itu sangat licik dan aku yakin, kalau kamu juga tidak menyangka begitu,"Hanum berbicara dengan nada yang sangat meyakinkan.
"Tapi__"
"Zora, kamu tinggalkan kami berdua di sini dulu. Kamu tunggu aku di sana!" Arsen memotong ucapan Aozora, seraya menunjuk ke arah sebuah bangku terbuat dari kayu yang jaraknya lumayan jauh dari tempat mereka berdiri.
"Mas, kenapa __"
"Zora!" Arsen kembali memotong ucapan Aozora seraya menatap wanita itu dengan tatapan tajam.
Aozora kemudian menghela napasnya dan berlalu pergi tanpa mengucapkan sepatah kata pun.
"Kalaupun benar papaku yang mengancam dia, itukan tidak ada kaitannya denganku. Tapi, apa Mas Arsen nanti akan percaya dan membenciku?" batin Aozora seraya sesekali menoleh ke arah Arsen yang sekarang juga sedang menatapnya. Sementara, di samping pria itu tampak Hanum melemparkan senyum sinis, seakan sedang mengejeknya.
"Sen, aku tahu kalau kamu pasti akan percaya padaku. Dan aku yakin kalau kamu tidak semudah itu mencintai istrimu itu," ucap Hanum dengan penuh percaya diri.
"Kamu salah, Hanum!" ucap Arsen seraya mengalihkan tatapannya ke arah Hanum setelah memastikan Aozora sudah duduk di kursi yang dia tunjuk.
"Maksud kamu?" Hanum mengernyitkan keningnya.
"Kamu sepertinya lupa siapa aku, Num. Aku tahu kalau sebenarnya kamu sedang berbohong," sahut Arsen seraya tersenyum sinis.
"A-aku tidak bohong, Sen. Raut wajah Hanum kini berubah pucat.
"Kamu masih mau berbohong ya? Kalau mau berbohong, seharusnya kamu cari alasan yang masuk akal," ucapan Arsen terdengar ambigu.
"A-aku benar-benar tidak mengerti apa yang kamu maksud, Sen,"
Arsen berdecih kemudian tersenyum smirk.
"Jelas-jelas aku koma karena kecelakaan dan di saat aku kecelakaan, itu adalah hari yang sama kamu memutuskan hubungan denganku. Tapi, bagaimana mungkin kamu mengatakan kalau keluarga Aozora mengancammu untuk meninggalkanku karena ingin memanfaatkan kondisiku yang koma. Saat itu aku belum koma kan? Apa mereka sudah bisa memprediksi kalau aku akan koma, akibat kecelakaan? Kalau aku mati saat itu bagaimana?" Arsen mencondongkan tubuhnya saat berbicara pada Hanum. Aura pria itu terlihat sangat menakutkan sekarang.
Tenggorokan Hanum tercekat, sulit untuk menelan ludahnya sendiri. Wajahnya juga sekarang terlihat sangat pucat.
"Ma-maksudku? Saat itu, mereka memang menginginkan kematianmu, agar hutang mereka lunas. Tapi, karena kamu koma, mereka akhirnya merubah rencana, dengan memanfaatkan kondisimu itu, dengan meminta pada Tante Amber agar menikahkan Aozora denganmu. Karena mereka yakin kalau mamamu tidak akan menolak, mengingat kondisimu yang divonis akan lumpuh," terang Hanum dengan suara bergetar.
Sudut bibir Arsenio kembali naik ke atas membentuk senyuman sinis.
"Wah, wah hebat juga kamu cari alasan. Bisa berubah secepat itu. Tapi yang aku dengar dari mama, bukan keluarga Zora yang meminta agar aku dinikahkan dengan Zora. Justru mamaku lah yang meminta ke keluarga Zora. Bagaimana kamu menjelaskan hal ini?"
Wajah Hanum semakin pucat seperti tidak dialiri darah sama sekali.
"Haish, kenapa aku bisa terjebak dengan alasan yang aku buat sendiri sih? Sekarang aku harus jawab apa?" batin Hanum.
"Kamu tidak bisa jawab ya? Baiklah kalau kamu tidak bisa jawab aku tidak masalah sama sekali. Karena apapun itu, juga tidak akan bisa mengubah kenyataan kalau Aozora sekarang istriku." ucap Arsen.
"Tapi, Sen __"
"Tunggu, aku beli selesai bicara!" potong Arsen dengan cepat.
"Oke, sekarang, kita anggap saja alasan yang kamu katakan tadi benar, tapi sekalipun itu benar ... Ingat aku bilang sekalipun itu benar ya, bukan berarti aku percaya denganmu. Sekalipun itu benar, Aozora tidak ada kaitannya dengan itu semua. Itu berarti dia juga korban. Jadi, aku tidak akan membencinya dan juga tidak bisa meninggalkannya." Arsen diam sejenak untuk mengambil jeda.
"Kamu mengatakan kalau kamu memutuskan untuk meninggalkanku karena di bawah ancaman kan? Kamu bilang kamu melakukannya demi papamu, tapi secara tidak langsung kamu sudah siap mengorbankan nyawaku. Kamu juga pasti tahu kalau mobilku disabotase kan? Dan kamu juga pasti tahu, hal paling buruk yang akan terjadi, jika aku kecelakaan karena kondisi mobil itu. Apalagi kalau bukan mati. Itu berarti kamu sudah siap, kalau aku akan mati saat itu. Jadi, sekarang aku harap, kamu bisa menganggapku sudah mati. Boleh kan? Maaf sekali lagi, Aku pamit!" sambung Arsen seraya berbalik, hendak beranjak pergi. Namun belum juga dia melangkah, Hanum tiba-tiba memeluk pria itu dari belakang. Dan hal itu tidak lepas dari pandangan Aozora.
tbc