
"Anak kita baik-baik saja. Sekarang sedang di ruangan NICU dan di dalam inkubator. Karena anak kita lahir prematur jadi harus ditaruh di inkubator sebabnya, anak kita butuh waktu tambahan untuk mematangkan organ miliknya. Selain itu, dikarenakan anak kita juga tidak memiliki lemak tambahan yang membantu menghangatkan tubuh secara alami," terang Arsen, dengan lugas seperti yang dijelaskan oleh dokter sebelumnya padanya.
"Aku memang ibu yang tidak becus, sampai anakku harus lahir tidak tepat pada waktunya," Aozora mulai menangis, menyalahkan dirinya sendiri.
"Sttt, stttt, kamu tidak boleh bicara seperti itu. Kami ibu yang hebat. Hal yang terjadi bukan karena keinginanmu. Mungkin anak kita saja yang sudah tidak sabar untuk segera bertemu dengan kita," Arsen membelai kepala Aozora, lalu menyeka air mata istrinya itu.
"Benarkah aku ibu yang hebat dan baik, Mas?" tanya Aozora memastikan. Arsen tersenyum dan menganggukkan kepalanya.
"M-Mas, Papaku di mana? Papa di mana, Mas?" Aozora tiba-tiba histeris kembali sembari mengedarkan pandangannya.
"Papa di ...." Arsen mengedarkan pandangannya untuk mencari keberadaan Samudra.
"Di mana Samudra?" tanya Arsen, begitu tidak melihat keberadaan kakak iparnya itu.
Semua yang berada di ruangan itu, menggelengkan kepala, pertanda kalau tidak ada tahu kemana pria itu. Karena fokus mereka semua pada Aozora, membuat mereka tidak tahu saat Samudra keluar dari ruangan itu.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Setelah mendapatkan sedikit perawatan, Aditya berjalan dengan langkah lunglai untuk keluar dari rumah sakit. Pria paruh baya itu terlihat lemas dan pucat. Namun, bibirnya menyunggingkan senyum, Karena merasa bahagia sudah berasa berguna sebagai seorang papa.
"Semoga kamu bahagia, Nak!" gumam Aditya sembari tetap mengayunkan kakinya.
"Papa!" Aditya tiba-tiba menghentikan ayunan kakinya, begitu mendengar suara seorang pria yang sedang memanggil dengan sebutan Papa. Entah untuk siapa sebutan itu Aditya tidak tahu. Namun, entah kenapa, Aditya tetap memutar kepala untuk melihat siapa pemilik suara.
Mata Aditya membesar, pria itu mematung, begitu mengetahui siapa sosok pria yang memanggil papa barusan. Sosok itu tidak lain adalah Samudera.
Aditya yang masih merasa ragu kalau putranya itu sedang memanggilnya, memutar kepalanya samping, dan kebelakang untuk memastikan tidak ada siapapun di tempat itu.
"Ka-kamu memanggilku, Papa?" tanya Aditya memastikan, dengan suara yang bergetar.
Samudra tersenyum kalem, dan menganggukkan kepalanya. Mata pria tampan itu kini sudah terlihat berembun, siap untuk menumpahkan cairan berwarna bening dari matanya.
"A-apa ini benar-benar nyata? Ini tidak mimpi kan? Kamu benar-benar memanggilku, Papa?" ulang Aditya, memastikan. Sumpah demi apapun, kalau ini hanya mimpi, Aditya tidak ingin untuk bangun dari tidurnya.
"Ini nyata, Pa. Papa tidak bermimpi!" Samudra kini sudah berdiri tepat di depan Aditya.
Air mata Aditya sontak menetes dan tanpa basa-basi langsung memeluk putranya yang sudah 27 tahun tidak dia tahu di mana keberadaannya.
"Terima kasih, Nak. Terima kasih sudah mau memanggilku, Papa! Maafkan kesalahan dan kebodohan Papa selama ini. Walau, Papa tahu pasti sangat sulit untukmu dan adikmu Zora," ucap Aditya di sela-sela isak tangisnya.
"Sudahlah,Pa. Jangan ingat lagi yang sudah berlalu. Sama sekali tidak ada gunanya. Semakin diingat, itu akan membuat kebencian di hati kita semakin membesar. Sekarang, Papa tolong ikut aku untuk menemui Aozora," ucap Samudra, tanpa menanggalkan senyum di bibirnya.
Aditya sontak melepaskan pelukannya dan tiba-tiba melangkah mundur.
"Tidak, Nak. Papa tidak mau kalau kehadiran Papa nanti justru membuat hati adik kamu itu terguncang. Dia baru saja melahirkan, jadi dia butuh ketenangan," tolak Aditya dengan lembut.
"T-tunggu dulu! Kamu tidak memberitahukan kalau donor darah itu dari aku kan?"tanya Aditya penuh selidik. Sumpah, dia tidak ingin kalau putrinya itu memanggilnya, utuk memaksa agar dokter mengambil lagi darahnya agar bisa dikembalikan pada Aditya.
"Papa tenang saja. Semua yang papa tidak akan terjadi. Percaya padaku, Pah" bujuk Samudra lagi.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Hai, Zora maaf Kakak tadi keluar sebentar tanpa izin kalian dulu. Kakak ada keperluan mendadak," ucap Samudra saat sudah masuk ke dalam ruangan Aozora.
"Kakak jahat, bukannya menghampiriku saat aku siuman, kakak malah pergi. Apa Kakak tidak sayang sama sekali padaku," protes Aozora yang di pipinya masih tersisa air mata.
"Apa Kakak mau perginya meninggalkanku juga, kaya Papa?" Air mata yang tadi sudah hampir mengering kini kembali mengalir membasahi pipi putih wanita itu.
"Kakak tidak akan mungkin meninggalkanmu. Papa juga. Aku pergi keluar untuk membawakan seseorang yang kamu cari. Lihat siapa yang Kakak bawa!" Samudra membuka pintu yang sebelumnya sempat dia tutup.
Mulut Aozora melebar begitu melihat sosok yang berdiri di ambang pintu.
"Pa-Papa!" desisnya, dengan air mata yang semakin deras keluar.
"Ka-kamu sudah mau memanggilku Papa, Nak? Papa tidak salah dengar kan?" ucap Aditya yang tanpa memedulikan kondisi tubuhnya yang lemas, langsung menghambur ke tempat di mana Aozora terbaring.
"Pa-Papa, jangan tinggalkan Zora lagi. Maaf, sudah membuat Papa sedih karena sikap Zora yang tidak mau memaafkan Papa!" ucap Zora, membuat tangis Aditya semakin luruh.
"Ti-tidak. Kamu tidak boleh minta maaf. Papa yang harusnya minta maaf. Kesalahan Papa memang sangat besar dan papa cukup tahu diri kalau kamu sulit untuk memaafkan Papa!" ucap Aditya seraya memeluk putrinya itu.
Untuk pertama kalinya, Aozora membalas pelukan Papanya. Pelukan yang selama ini sangat ingin dia rasakan.
"Ternyata seperti ini rasanya dipeluk sama Papa. Terima kasih sudah mau memelukku, Pa!" ucap Aozora, membuat hati Aditya mencelos semakin merasa bersalah.
"Ya, Tuhan. Ternyata selama ini kamu haus akan pelukan Papa. Maafkan Papa Nak. Papa sebenarnya juga ingin sekali memelukmu, tapi Papa diancam mama tirimu, jika aku baik padamu, dia akan melukaimu. Papa tidak mau itu terjadi, Nak!" ucap Aditya seraya berkali-kali mengecup puncak kepala putrinya itu.
Suasana di ruangan itu sontak berubah haru. Berisi tangis bahagia dan ayah dan anak itu. Bahkan orang-orang yang berada di ruangan itu ikut menetes air mata.
Samudra mengayun kakinya melangkah menghampiri papa dan adiknya lalu ikut bergabung, berpelukan dengan keduanya.
"Apa aku pantas bergabung dengan kalian bertiga? Sepertinya tidak pantas ya?" terdengar suara serak Tsania yang menatap haru ke arah papa dan kedua kakaknya. Sepertinya wanita itu cukup tahu diri untuk tidak datang menghampiri ke tiganya mengingat semua kekacauan yang terjadi, akibat dari perbuatan wanita yang sudah melahirkannya.
Ketiga orang yang sedang berpelukan itu sontak menatap Tsania dan tersenyum ke arah wanita yang masih duduk di kursi roda itu.
"Sini, Nak!" panggil Aditya dengan lembut.
tbc
Haish, ternyata belum bisa tamat 😭😭