
"Apaan sih, aku tetap mau masuk!" pekik seorang wanita seraya membuka pintu,dan memaksa untuk masuk.
"Maaf, Pak Samudra! Wanita ini sudah aku larang untuk masuk, tapi dia tetap maksa," ucap Dinda dengan mimik wajah yang sedikit takut.
Samudra menghela napasnya, menatap kesal ke arah wanita yang baru saja datang.
"Sudah, tidak apa-apa, Dinda. Biarkan saja dia masuk! Kamu boleh keluar lagi!" titah Samudra, sama sekali tidak marah pada sang sekretaris.
"Baik, Pak!" sahut Dinda seraya sedikit membungkukkan badannya.
"Tuh kan aku sudah bilang tidak apa-apa! Kamu ngeyel sih," wanita cantik yang baru saja masuk itu menjulurkan lidahnya ke arah Dinda.
"Bella, yang sopan!" tegur Samudra dengan mata yang mendelik.
Ya, wanita yang baru saja datang itu adalah Bella, yang merupakan selingkuhan dari Dimas.
"Iya, Maaf!" Bella mengerucutkan bibirnya.
"Minta maafnya bukan ke aku, tapi ke Dinda!" tegas Samudra.
Bella kemudian berbalik, menoleh ke arah sekretaris Samudra.
"Maaf ya, Mbak Dinda!" ucap Bella.
"Tidak apa-apa, Mbak! Kalau begitu saya keluar dulu, Pak Samudra, Mbak Bella!" Dinda membungkukkan tubuhnya, kemudian berbalik, keluar dari ruangan Samudra.
"Kenapa sih Kakak, membela dia tadi? dia dari tadi melarangku untuk masuk, Kak!" ucap Bella masih dengan bibir yang mengerucut.
"Dia hanya melakukan tugasnya, Bella. Lagian dia juga tidak tahu siapa kamu. Jadi, sudah sepantasnya dia melarang kamu masuk sebelum dia bertanya lebih dulu padaku. Ini ...aku yakin, tadi kamu pasti main asal nyelonong saja kan?" tukas Samudra, membuat wanita cantik bernama Bella itu terkekeh.
"Kamu ngapain datang ke sini? apa Arsen tahu kamu keluar dari kantor dan datang ke sini?" alis Samudra tertarik sedikit ke atas menatap Bella dengan tatapan menyelidik.
Bella nyengir seraya menggeleng-gelengkan kepalanya. "Kak Arsen tidak tahu sama sekali, Kak. Aku datang ke sini karena aku ingin melihat kakak duduk di kursi pimpinan. Aku dari tadi membayangkan kalau kakak pasti terlihat semakin tampan,"tutur Bella.
Samudra berdecak seraya menggeleng-gelengkan kepalanya
"Kamu ya, benar-benar tidak berubah dari dulu, suka buat orang khawatir. Selalu menghilang tanpa izin sama sekali," cetus Samudra
"Kamu diam dulu ya! biar aku hubungi Arsen dulu, untuk kasih tahu kalau kamu ada di sini," Samudra meraih ponselnya, bersiap hendak menghubungi Arsen.
"Jangan, Kak! Kak Aozora sekarang ada bersama Kak Arsen." cegah Bella dengan cepat. "Nanti dia bisa bingung kenapa Kakak bisa kenal denganku," imbuhnya.
Samudra sontak mengurungkan niatnya dan kembali meletakkan ponselnya ke atas meja.
"Ya udah, aku kirim pesan saja padanya," Samudra meraih kembali ponselnya dan untuk beberapa saat terlihat mulai mengetik.
"Sen, Bella ada di sini bersamaku. Kamu jangan kecarian ya. Dia aman bersamaku di sini!" ~ Samudara
Di saat pria itu sudah selesai mengirimkan pesannya, Samudra kembali mengalihkan tatapannya dari layar handphone ke arah wajah Bella, yang kini menatapnya dengan tatapan curiga.
"Kenapa kamu menatapku seperti itu?" Samudra memicingkan matanya
"Emm, tadi di luar sebelum aku turun dari mobil, aku melihat Tsania. Dia keluar dari gedung ini. Apa dia datang menemuimu? Dan kalau iya ...apa yang dia lakukan di sini? Dia tidak macam-macam kan?" cecar Tsania dengan beruntun.
Bella sontak berdecih seraya menarik sudut bibirnya ke atas.
"Iya aku tahu kamu. Saking tahunya, aku sampai ragu apa kamu ini laki-laki normal atau tidak. Karena kamu sulit sekali dekat dengan wanita.
"Kamu bisa diam nggak? Tentu saja aku normal. Aku hanya belum menemukan wanita yang cocok saja," Samudra dengan kesal melakukan pembelaan diri.
"Sekarang kamu yang aku ragukan? Bagaimana hubunganmu dengan pria brengsek itu? Kamu dan dia tidak macam-macam kan? Dia tidak melakukan apapun padamu?" kini gantian Samudra yang mencecar Bella. Di raut wajah pria itu kini terlukis rasa khawatir.
"Kakak tenang Saja. Adikmu ini, masih bisa jaga diri. Dimas tidak berani macam-macam denganku, karena takut aku tinggal. Sepertinya dia benar-benar sudah jatuh dalam pesonaku," sahut Bella.
"Syukurlah! Kalau tidak, aku tidak tahu lagi apa yang nanti papa dan mama lakukan padaku, kalau tahu putri kesayangannya ini kenapa-napa. Bisa-bisa aku dipecat jadi anak," Samudra mengembuskan napas lega.
"Tapi, Kakak benar-benar tidak tergoda dengan Tsania kan?" sepertinya Bella belum sepenuhnya percaya dengan Samudra.
"Iya iyalah. Kamu tahu sendiri kan dia siapa? Bagaimanapun kelakuannya, dia itu tetap sama seperti __"
"Oh iya ya, aku lupa, Kak. Tapi mana tahu kan, Kakak Khilaf," Bella nyengir, menampilkan deretan giginya yang rata.
"Ah, sudahlah! Kamu jangan berpikir yang macam-macam! Oh ya, tadi malam Papa menghubungiku, untuk menanyakanmu. Katanya kamu tidak bisa dihubungi. Kamu kemana aja sih?" sambung Samudera.
"Ketika Papa menghubungiku aku sudah tidur, Kak.Aku tidak dengar sama sekali bunyi ponselku,"
Samudra mengembuskan napas lega. "Baguslah! Soalnya Kakak juga tadi malam bilang ke Papa kalau kamu sudah tidur dan aku tidak mau membangunkanmu. Untung Papa percaya saja. Kalau tadinya Papa tetap memaksa untuk membangunkanmu, bisa-bisa papa marah, tahu kalau kita tidak tinggal bersama. Papa pasti bilang, 'Kamu ya ... tidak becus jaga adikmu," Samudra berbicara seraya meniru cara papanya bicara.
Bella sontak tertawa lepas, membayangkan wajah pria paruh baya yang merupakan cinta pertamanya. Pria yang pertama kali dia lihat ketika pertama kali dilahirkan di dunia ini.
"Emm, aku kangen Papa dan mama. Aku balik saja ya, Kak ke Amerika," dari yang tadinya tertawa, kini Bella mulai memasang tampang sedih.
"Sudahlah, jangan banyak drama! Tidak heran kalau Arsen memintamu untuk bersandiwara," cetus Samudra.
"Kakak ihh ... Aku tidak lagi bersandiwara! Aku memang kangen mama dan papa, Kak!" Bella mengerucutkan bibirnya.
"Iya, iya aku percaya deh," sahut Samudera.
"Sekarang, sebaiknya kamu kembali ke sana. Nanti si pria brengsek, tukang selingkuh itu ngereog kalau tidak bisa menemukanmu di kantor," lanjut Samudra lagi.
Bella terkekeh, membayangkan wajah Dimas yang sekarang pasti sedang kesal. Apalagi dari tadi dia sengaja mematikan ponselnya agar tidak bisa dihubungi.
"Oh ya, Kak. Mantan Kak Arsen itu aku dengar mulai besok akan bekerja di perusahaan, Kak Arsen,"
"Apa! Arsen bagaimana sih? Kenapa di harus menerima wanita itu lagi? Dia apa tidak tahu kalau wanita itu bisa berubah jadi ancaman untuk hubungannya dengan Aozora?" raut wajah Samudra terlihat memerah. Napasnya memburu pertanda pria itu sangat kesal.
"Sudahlah, Kak. Kamu tidak perlu khawatir kan ada aku di sana. Aku akan terus mengawasi si Hanum-Hanum itu, supaya tidak mendekati Kak Arsen lagi. Lagian Kakak tahu kan bagaimana Kak Arsen? Dia tidak mungkin tergoda dengan Hanum." Ucap Bella dengan tegas.
Tbc
Hmm ada apa lagi ini? Apa hubungan Arsen dengan Bella dan Samudra?
Tbc