
"Arsen, kamu benar-benar memenjarakan paman dan adik sepupumu itu, Nak?" tanya Amber memastikan.
Arsen mengangguk-anggukkan kepalanya dengan lemah. "Aku tahu, Ma kalau mereka memang keluarga kita dan jadi aib kalau mereka dipenjara apalagi dipenjara oleh orang yang masih punya hubungan darah, tapi bagaimanapun mereka harus dikasih efek jera, Ma, sahut Arsen.
Amber mengembuskan napasnya dan mengangguk-anggukkan kepalanya, karena yang dikatakan putranya itu memang benar adanya.
"Istriku mana, Ma?" tanya Arsen seraya mengedarkan pandangannya ke segala penjuru untuk mencari keberadaan sang istri.
"Seperti biasa, Zora ke kantormu untuk mengantarkan sarapan. Dia tadi melihatmu buru-buru pergi, makanya dia berinisiatif ke sana Ternyata kamu malah pulang ke rumah. Kamu nggak mengabari istrimu dulu atau bagaimana?"
Arsen berdecak dan menggusak rambutnya.
"Saking lelahnya, aku jadi lupa kasih tahu dia kalau setelah urusanku selesai, akan langsung pulang istirahat. Kalau begitu aku mau ke kantor dulu ya, Ma, buat jemput dia," Arsen berdiri dari tempat duduknya dan hendak beranjak pergi.
"Nak, kamu istirahat saja! kamu bilang kalau kamu lelah kan? Biar supir saja yang jemput, Zora!" cegah Amber.
"Tidak perlu, Ma. Biar aku jemput istriku sendiri. Aku pergi ya, Ma!" Arsen mengayunkan kakinya, beranjak pergi setelah mamanya mengiyakan.
Baru saja Arsen hendak keluar dari pintu, tiba-tiba di depannya muncul Meta, istri dari Damian, pamannya.
"Tante, Meta?" gumam Arsen.
"Bagaimana bisa kamu begitu tega memenjarakan paman dan sepupumu sendiri, Sen? Tante benar-benar tidak menyangka," cecar Meta, tanpa basa-basi lagi.
Arsen mengembuskan napas dengan cukup panjang dan berat. Pria itu sudah menduga sebelumnya kalau istri dari pamannya itu pasti akan menemuinya. Namun, dirinya sudah mempersiapkan diri untuk bisa menghadapi wanita di depannya itu.
"Maaf, Tante. Aku tahu kalau Tante pasti berpikir aku sosok yang sangat tega. Tapi, apa yang dilakukan oleh Paman dan Dimas sudah tidak bisa aku tolerir lagi," Jawab Arsen.
"Emangnya, apa yang sudah pamanmu dan Dimas lakukan? Mereka tetap melakukan pekerjaan mereka dengan baikkan?" alis mata Meta terlihat bertaut, Bingung. Sepertinya wanita paruh baya itu selama ini tidak tahu apa yang sudah diperbuat oleh suami dan anaknya.
"Ada, Sen? Katanya mau jemput Zora Kenapa masih di sini?" terdengar suara Amber yang muncul dari dalam.
"Lho, Meta ... Kamu kenapa ke sini?" tanya Amber yang sedikit kaget melihat kehadiran adik iparnya itu.
"Aku datang, hanya ingin meminta penjelasan dari Arsen, Mbak. Kenapa dia begitu tega, memenjarakan paman dan sepupunya sendiri?" Meta menatap ke arah Arsen dengan tatapan yang sangat tajam.
"Biar aku yang menjelaskan! Arsen kamu pergi aja, Nak. Jemput istrimu! Dan kalau ada waktu, kamu ajak istrimu itu jalan-jalan sekalian," titah Amber dengan suara lembut.
Arsen menganggukkan kepalanya, seraya melemparkan senyum ke wanita yang sudah melahirkannya itu.
"Terima kasih ya, Ma!" Arsen kemudian menoleh ke arah Meta. "Maaf ya, Tante. Aku mau pamit jemput istriku dulu!" pamit Arsen dengan sopan.
"Tapi, Sen, kamu belum jelasin ke Tante!" teriak Meta.
"Sudah, sudah! Biar aku yang jelasin ke kamu," Amber dengan lembut meraih pundak Meta, lalu mengajak wanita itu untuk masuk ke dalam rumah.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Saat keluar dari dalam lift, wanita itu tiba-tiba berpapasan dengan Hanum yang kebetulan baru juga sampai dan ingin naik ke lantai atas.
"Wah, ada Aozora nih! Kamu tidak menemukan suamimu ya? Arsen langsung pulang tadi, setelah urusan kami selesai," ucap Hanum, yang secara sengaja hendak memberitahukan kalau dirinya tadi bersama dengan Arsen.
"Setelah urusan kalian selesai? Maksudnya?" mata Aozora memicing, curiga.
"Eh, kamu tidak dikasihtahu Arsen ya, kalau hari ini dia ada urusan dan ada kaitannya denganku?" Hanum tersenyum, bangga.
"Emm, kenapa ya Arsen tidak terbuka padamu? sepertinya dia belum sepenuhnya menganggap kamu seorang istri," lanjut Hanum lagi, merasa semakin di atas awan melihat Aozora yang terdiam.
"Oh, sudah bicaranya? kalau sudah, aku mau pergi dulu! Bisa kasih aku jalan?" Aozora menyingkirkan sedikit tubuh Hanum ke samping, lalu ia pun melangkahkan kakinya. Wanita itu berusaha untuk tetap bersikap biasa saja, padahal ada rasa sakit yang dia rasakan ketika mendengar ucapan mantan kekasih dari suaminya itu.
"Hei, kenapa kamu buru-buru mau pergi? Kamu tidak kuat ya mendengar ucapanku tadi?" Aozora yang baru saja melangkah lima langkah, seketika menyurutkan langkahnya, begitu mendengar ucapan Hanum yang seakan sedang meledeknya.
"Asal kamu tahu ya, Zora. Walaupun Arsen sudah menikah denganmu, tapi dia masih tetap peduli denganku. Kamu tahu kan kenapa? Karena kami sudah lama bersama. Tujuh tahun bukan waktu sebentar dan tidak mungkin langsung tergantikan dengan mudahnya dengan orang yang bahkan masih hitungan bulan bertemu," Hanum kembali menghampiri Aozora dengan senyum sinisnya.
"Tujuan kamu mengatakan ini padaku apa? apa kamu menginginkan aku akan sakit hati dan menangis? Maaf, kalau itu tujuan kamu, kamu tidak akan berhasil, karena apa? Karena buktinya, yang kata kamu hanya hitungan bulan itu lah yang sekarang menjadi istrinya. Nona Hanum yang cantik, aku cuma mau mengatakan, jangan bangga dengan hubungan yang lama, karena selama apapun kalian punya hubungan, belum tentu kalian akan bersatu. Dan jangan juga meremehkan hubungan yang masih hitungan bulan, karena bisa saja, hitungan bulan itu akan berubah menjadi tahun bahkan sampai seumur hidup," tutur Aozora dengan tersenyum elegan.
"Dan jangan salah juga, bisa saja seorang pria yang sudah beristri akan kembali padamu masa lalunya, karena hatinya tidak bisa berbohong kalau dia masih mencintai masa lalunya. Asal kamu tahu, Arsen mengatakan kalau aku ini adalah Mataharinya, yang selalu menyinari hatinya," entah keberanian yang datang dari mana, Hanum dengan sengaja melebihkan-lebihkan.
Aozora lagi-lagi tersenyum smirk. Dia mendekat ke arah Hanum dan mengibaskan-ngibaskan tangannya di bahu Hanum seakan sedang menyingkirkan debu yang menempel di bahu wanita itu.
"Dengar, justru karena kamu mataharinya lah, makanya kamu tidak bisa menemani malamnya. Matahari muncul hanya di siang hari. Di mana kadang-kadang orang tidak suka karena terlalu panas menyengat, yang bisa membakar kulit. Bahkan mata akan terasa sakit kalau menatap matahari secara langsung. Beda denganku ... Aku ini bulan bagi Arsen. Aku muncul di malam hari dan menerangi gelap. Makanya aku menemani malamnya, dan selalu ada di sisinya. Dia bisa menikmati indahnya bulan setiap malam. Dan bahkan dia bisa memeluk bulan, karena tidak sepanas matahari," dengan elegannya, Aozora membalas analogi yang dipakai oleh Hanum.
Hanum menggeram merasa kesal dengan balasan Aozora. Ia tidak menyangka, kalau wanita di depannya itu tidak bisa dia provokasi. Padahal, di bayangannya tadi, dia sudah mengira kalau istri dari Arsen itu akan menangis dan berlari pergi.
"Aozora sombong sekali kamu. Aku yakin, walaupun sekarang kamu menemani malamnya, dia pasti tidak pernah menyentuhmu kan? Kasihan sekali kamu!" Hanum menyeringai sinis.
Aozora menghela napas dengan sekali hentakan dan menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Justru aku yang kasihan padamu, Nona Hanum. Kamu terlalu percaya diri dengan pemikiranmu sendiri yang belum tetap kebenarannya. Buktinya, aku sudah memberikan semuanya pada Arsen. Dia sudah berkali-kali menyentuhku. Mungkin kalau aku bisikkan ke kamu berapa kalinya, aku takut kamu akan bunuh diri saking shocknya," Aozora tersenyum meledek.
"Ti-tidak mungkin! Kamu bohong kan? Aku tahu karakter Arsen. Dia tidak akan menyentuh wanita yang sama sekali tidak dia cintai,". Hanum menggeleng-gelengkan kepalanya, tidak percaya.
"Buktinya dia sudah menyentuhku, dan bahkan berulang kali. Itu berarti dia sudah mencintaiku kan?" lagi-lagi Aozora tersenyum meledek.
"Jangan mimpi ketinggian, Zora. Bisa saja sekarang dia menyentuhmu karena status kamu yang hanya istrinya saja. Tapi kalau masalah cinta ... Aku yakin dia tidak mencintaimu sama sekali. Karena aku tahu jelas, rasa cintanya sudah habis untuk gadis masa kecilnya. Sampai sekarang, dia bahkan masih mencari gadis itu. Dan aku yakin, setelah dia menemukannya, dia pasti akan mencampakkanmu juga. Permisi!" pungkas Hanum, panjang lebar, kemudian langsung beranjak pergi setelah selesai dengan ucapannya.
Sementara itu, Aozora terdiam mematung, menatap kepergian Hanum, dengan perasaan yang campur aduk.
"Gadis kecil? Arsen punya gadis kecil yang dia cari selama ini? Apa karena itu, dia sama sekali tidak pernah mengatakan kalau dia cinta padaku? Apa benar yang dikatakan Hanum tadi, Kalau Arsen sama sekali tidak pernah mencintaiku? Dia menyentuhku bukan karena cinta tapi karena merasa sayang, tidak memanfaatkan statusku yang sebagai istrinya?" Aozora membatin seraya melangkah dengan langkah gontai.
Tbc