Rahasia Suami Lumpuhku

Rahasia Suami Lumpuhku
Akan kembali ke kantor


 Arsen dan Aozora kini sudah kembali lagi ke kediaman Arsen setelah melihat jelas Dona dan Aditya keluar dari rumah peninggalan mamanya. Wajah wanita itu terlihat ditekuk, karena merasa kesal dengan Arsen yang tidak mengizinkannya untuk menginap di rumah tempat dia dibesarkan itu, dengan alasan rumah itu belum cukup aman untuk Aozora.


"Kenapa dengan wajahmu? jangan tunjukkan wajah seperti itu padaku!" nada bicara Arsen terdengar sangat dingin.


"Jadi aku harus bagaimana? Apa aku harus tetap tersenyum di saat kamu tidak menginginkanku untuk menginap satu malam saja di rumah itu? Padahal kamu tahu jelas kalau aku sangat merindukan rumah itu,"


Arsen menghela napasnya, berusaha menahan diri agar tidak marah dengan sikap keras kepalanya sang istri.


"Aku bukan tidak mengizinkanmu, Ra. Tapi kondisinya sekarang belum kondusif. Tunggu sampai kondusif dulu aku akan mengizinkanmu. Mama tirimu itu pasti masih akan berusaha mencari cara untuk mencelakaimu. Mereka pasti masih mengincar harta peninggalan mama Sekar," terang Arsen yang kali ini nada suaranya terdengar lembut.


"Mama Sekar?" Aozora mengernyitkan keningnya, merasa sedikit aneh dengan suaminya yang memanggil mama pada mamanya.


"Iya kenapa? Bukannya nama mamamu, Sekar? Dia itu ibu mertuaku kan? Jadi, bagaimanapun aku harus memanggilnya mama juga," ucap Arsen, membuat hati Aozora terasa hangat saat mendengarnya.


"Sudahlah, sekarang yang jelas kamu dengarkan ucapanku! Kalau masalah menginap di rumah kamu itu, besok pulang dari kantor aku akan menjemputmu dan kita akan menginap di sana," lanjut Arsen lagi.


"Serius, Mas? tanya Aozora memastikan dengan mata berbinar-binar.


Arsen tidak menjawab, namun dia menganggukkan kepala, mengiyakan.


"Ahhh, terima kasih, Mas!" saking bahagianya, Aozora tanpa sadar menghambur memeluk Arsen.


"Ehem, ehem!" Arsen berdeham disertai dengan jantung yang tiba-tiba berdetak kencang.


Aozora yang mendengar suara deheman sang suami, seketika tersadar. Dia pun melepaskan pelukannya dan merasa kikuk. Wajah wanita itu juga sekarang tampak memerah bak kepiting rebus saking malunya..


 Arsen tersenyum tipis, bahkan hampir tidak terlihat, melihat sikap istrinya yang menurutnya terlihat menggemaskan di saat malu seperti ini.


Keheningan seketika tercipta di antara dua orang itu. Mereka berdua tiba-tiba merasa canggung, khususnya Aozora akibat insiden Aozora yang tanpa sengaja memeluk erat sang suami.


"Emm, Mas tadi aku dengar kalau kamu akan jemput aku setelah pulang kantor. Apa kamu besok berencana akan ke kantor?" tanya Aozora, menghentikan keheningan yang sempat tercipta.


"Iya, besok aku akan ke kantor. Sudah saatnya aku ke kantor lagi, kan? sudah cukup lama aku tidak menginjakkan kakiku di sana, aku benar-benar merindukan suasana ruanganku," Aozora mengangguk-anggukkan kepalanya, karena menurutnya yang dikatakan suaminya itu sudah benar.


"Mas, kalau begitu aku boleh juga kan ke perusahaan mama mulai besok?"


"Tidak boleh!" tanpa berpikir, Arsen langsung menjawab dengan cepat.


"Kenapa, Mas? Sekarang pimpinan di perusahaan mama sudah tidak ada lagi. Jadi, menurutmu siapa yang akan mengelola perusahaan? Perusahaan Mama bisa bangkrut kalau gitu." Aozora sebenarnya sudah kesal, namun dia berusaha untuk tetap berbicara dengan lembut.


"Untuk masalah itu, tenang saja, aku sudah memikirkannya. Kamu bisa memberikan pada Samudra untuk mengelolanya sementara," sahut Arsen.


"Samudra?" Aozora memicingkan matanya.


"Kamu kenal Kak samudra, Mas?" sambung Aozora, menyebutkan nama pria yang merupakan orang yang selalu melindunginya bersama salah satu rekannya dan selalu dia panggil Kakak.


"Iya, aku mengenalnya. Dia orang yang sangat bisa dipercaya dan sangat berkompeten. Dia sebenarnya lulusan S2 management bisnis dan sudah pernah menjadi direktur di cabang perusahaanku. Jadi, kamu tidak boleh meragukannya," terang Arsen panjang lebar.


Arsen seketika terdiam, merutuki dirinya sendiri. "Sial! Aku membongkar rahasiaku sendiri," batin Arsen.


"Mas, kenapa diam? Itu kamu kan?" Aozora mengulang pertanyaannya.


"Iya itu aku. Emangnya, menurutmu siapa?" mau tidak mau akhirnya Arsen pun membenarkan dugaan istrinya.


"Kenapa kamu melakukannya?"


"Kenapa kamu harus bertanya seperti itu? Harusnya kamu mengucapkan terima kasih!" Arsen mulai kesal.


"Ya, terima kasih, Mas!" Aozora mengerucutkan bibirnya.


"Tapi, tunggu dulu!" mata Aozora tiba-tiba membesar, karena teringat sesuatu.


"Saat itu aku pernah hampir celaka dan diselamatkan kak Samudra dan rekannya. Tapi, saat itu kan kamu masih koma? Kenapa kamu bisa memerintahkan mereka padahal kamu masih koma?" alis Aozora bertaut, memperlihatkan wajah bingungnya.


Tenggorokan Arsen seketika tercekat, mendengar pertanyaan istrinya yang tidak pernah dia sangka-sangka. "Haish, aku lupa kalau dia itu orangnya kritis," batin Arsen.


"Mas kenapa kamu diam? Jawab dong!"


"Kami bisa tidak untuk tidak mengurusi hal tidak penting seperti itu? tadi kita membicarakan Samudra yang besok aku sarankan untuk memimpin sementara perusahaan mamamu, jangan merembes kemana-mana. Bagaimana? Kamu setuju nggak?" Arsen dengan cepat mulai mengalihkan pembicaraan.


"Emm, tapi, Mas ...."


"Kenapa? Kamu meragukannya? Kamu tenang saja, dia bukan orang licik yang mempunyai maksud untuk menguasai perusahaan yang memang bukan haknya. Aku berani jamin kalau dia tidak akan melakukan hal licik seperti yang dilakukan mama tirimu itu. Kalau itu terjadi, aku berjanji semua perusahaanku aku serahkan padamu," ucap Arsen dengan tegas dan tanpa keraguan sedikitpun.


"Mas, sepercaya itu kamu ke Kak Samudra? aku bukan masalah perusahaanmu kamu kasih ke aku, karena aku juga tidak menginginkannya. Aku hanya mau perusahaan mamaku, karena itu peninggalannya, itu saja!"


"Aku tahu, Zora! Tapi kali ini percaya padaku. Ini semua demi kebaikanmu. Kamu jangan pernah berpikir kalau aku mencampuri management perusahaan mama Sekar karena aku punya maksud tertentu untuk menguasai perusahaan itu, karena milikku sudah lebih dari cukup. Seperti yang aku katakan tadi, aku berani jamin kalau Samudra orang yang tepat untuk saat ini," ucapan dan ekspresi Arsen terlihat begitu meyakinkan.


Aozora terdiam untuk beberapa saat, memikirkan ucapan Arsen. Dia memang tidak tahu, apa yang membuat suaminya itu berat membiarkannya untuk keluar rumah, tapi entah kenapa Aozora merasa kalau yang dilakukan oleh Arsen demi kebaikannya. Lagian, dia juga merasa kalau Samudra pria yang direkomendasikan suaminya itu tidaklah buruk. Dan selama ini, walaupun belum terlalu lama mengenal pria itu, Aozora merasa seperti mempunyai ikatan secara emosional dengan pria bernama Samudra itu.


"Baiklah, Mas. Aku setuju dan aku percaya padamu," pungkas Aozora akhirnya.


"Baiklah, besok sebelum ke perusahaanku, aku akan pergi bersamamu dan Samudra ke perusahaan mama Sekar. Bagaimanapun kamu harus memperkenalkan pada semuanya pemimpin baru di perusahaan itu. Nanti, aku sendiri yang akan menghubungi Samudra untuk membicarakan hal ini," pungkas Arsen.


"Emm, aku mau mandi dulu ya, Mas!" Aozora berdiri dari tempat dia duduk. Sewaktu dia hendak melangkah, tanpa sengaja kakinya tersandung kaki meja.


Ketika dia hendak terjatuh, dengan sigap Arsen menarik tangannya, agar tidak terjatuh. Namun naas, Aozora justru terjatuh persis ke atas dadanya. Mata keduanya sontak saling terkunci.


Mata Arsen kini mulai turun dan berhenti tepat di bibir berwarna baby pink milik sang istri. Bagaikan memiliki magnet, bibir Arsen kini sudah mendarat di bibir Aozora.


Tbc


Mohon di like, komen dan kasih rate dong, guys. Kalau mau kasih Vote dan hadiah juga boleh. Karena sistem Noveltoon sekarang lebih sulit dari yang dulu. Murni dari dukungan pembaca. Kalau tidak kita tidak dapat apa-apa 🙏