Rahasia Suami Lumpuhku

Rahasia Suami Lumpuhku
membujuk Aozora


"Aku mau istirahat dulu, ya?" Aozora berdiri dan berjalan masuk ke kamar yang ditempati Bella.


Sementara Bella dan Tsania hanya bisa saling silang pandang dan sama-sama menghela napas, lalu sama-sama terbahak.


"Kak Aozora lucu juga kalau lagi kesal," ucap Bella di sela-sela tawanya.


"Baru kali ini aku lihat dia kesal tapi lucu. Kalau dulu, begitu dia terlihat kesal, aku ingin langsung menghindar," Tsania bergidik, ngeri.


"Emm, bukannya dulu, kalau Kak Zora marah, kamu ajak dia adu mulut?" Bella mengernyitkan keningnya, menyelidik.


Tsania sontak tertawa kembali, membuat kerutan di kening Bella semakin bertambah.


"Saat itu aku hanya berpura-pura berani saja. Padahal, dalam hatiku, aku sudah ingin menghilang dari depannya," kali ini dua wanita yang pernah jadi rival itu, tertawa bersama.


Tawa mereka seketika terhenti, begitu mendengar suara bel pintu berbunyi.


"Kayanya ada orang yang datang. Siapa ya?" tanya Tsania.


"Apa kamu pikir aku juga tahu?" tanya Bella, balik.


"Nggak," Tsania menggelengkan kepalanya.


"Nah, itu kamu tahu jawabannya. Jadi, kamu tanya aku buat apa?"


Tsania mendengkus, lalu mengerucutkan bibirnya. "Biar ada basa-basi. Sana kamu buka pintunya!"titahnya.


"Kenapa bukan kamu yang buka pintunya?" Bella malah makin menyandarkan tubuhnya di sandaran sofa.


"Aku lagi hamil, Bel. Kepalaku pusing kalau melangkah ke sana," Tsania memberikan alasan sembari memijat-mijat keningnya, untuk mendukung kebenaran kalimatnya tadi.


"Ihh, alasan saja. Iya deh, aku yang buka!" Bella akhirnya berdiri dan melangkah menuju pintu.


Begitu sampai di pintu, Bella mengintip lebih dulu. Mata wanita itu sontak membesar begitu melihat wajah Arsen kakak sepupunya tepat di depan pintu.


"Nia, ada Kak Arsen di depan. Bagaimana ini?"tanya Bella, panik.


"Hah? Kak Arsen?" Tsania sontak berdiri dan melangkah menghampiri Bella. Wanita itu pun ikut-ikutan mengintip.


"Iya, ada Kak Arsen. Dia pasti mencari Kak Aozora, ke sini. Bagaimana? Kita buka saja ya?" ucap Tsania, meminta pendapat.


"Hei, bukannya tadi kamu bilang kalau kamu pusing? Kenapa sekarang __"


"Sttttt, nanti saja protesnya. Kita buka pintunya dulu!" Tsania dengan cepat meletakkan jari telunjuknya ke mulut Bella.


"Nanti kita pura-pura tidak tahu di mana Kak Aozora," imbuhnya.


Tsania pun kemudian membuka pintu dan langsung memasang senyuman termanis, demikian juga dengan Bella.


"Eh, ada Kak Arsen. Ada urusan apa Kakak ke sini?" tanya Tsania basa-basi.


Bukannya menjawab, Arsen malah menatap Tsania dan Bella bergantian.


"Kenapa kalian berdua di pintu? Apakah harus dua orang yang buka pintu?" tanya Arsen dengan alis bertaut.


"Emm, ta-tadi kami __"


"Mana Aozora?" belum sempat Bella menyelesaikan kalimatnya, Arsen sudah buka suara lagi seraya mengedarkan pandangannya ke segala sudut ruangan untuk mencari keberadaan sang istri.


"Kak Aozora? Kenapa mencari Kak Zora ke sini, Kak? Kak Aozora tidak ada di sini. Iya kan Bel?" Tsania meminta pendapat Bella.


"I-iya, Kak. Kak Zora tidak ada di sini. Dari tadi hanya kami berdua kok di sini," timpal Bella, membenarkan.


"Sudahlah tidak perlu berbohong! Jelas-jelas mobilku tadi parkir di samping mobil Aozora. Lagian mobilnya itu ada GPS, jadi aku bisa melacak kemana dia pergi. Sekarang dia ada di mana?"


Bella dan Tsania saling pandang dan sama-sama menggaruk-garuk kepala mereka yang tidak gatal sama sekali.


"Lho, kenapa diam? Di mana Aozora?" tanya Arsen lagi.


Bella sedikit berjinjit dan mendekatkan mulutnya ke telinga kakak sepupunya.


"Kak Zora ada di kamar Kak. Dia lagi ngambek," bisik wanita itu.


Di lain sisi Aozora yang baru saja memejamkan matanya, tidak mendengar sama sekali ada seseorang yang membuka pintu. Dia baru tersadar ketika ada sebuah tangan yang memeluknya dari belakang.


"Hei, siapa kamu? Pergi sana!" Wanita itu sontak terduduk saking kagetnya dan memukul Arsen menggunakan bantal.


"Ini aku, Ra!" pekik Arsen menangkis pukulan Aozora dengan tangannya.


Aozora seketika berhenti memukul, lalu mengernyitkan keningnya.


"Tunggu! Suara tadi kan suara Mas Arsen," batin Aozora.


"M-Mas Arsen? Kenapa kamu bisa di sini?" tanya Aozora dengan tatapan tajam.


"Aku mau jemput istriku, emangnya salah ya?" ucap Arsen seraya mengusap-usap kepalanya.


"Ihh, ini pasti Bella yang kasih tahu aku di sini. Benar-benar tidak bisa dipercaya," Aozora menggerutu dalam hati.


"Aku tahu kamu di sini dari GPS yang aku taruh di mobilmu. Ayo pulang!" suara Arsen terdengar sangat lembut.


"Aku mau di sini dulu. Kamu tidak perlu jemput aku!" Aozora merengut seraya bergerak memunggungi Arsen.


Sudut bibir Arsen tersenyum, melihat tingkah istrinya yang menurutnya menggemaskan. Pria itu kemudian meletakkan dagunya di pundak sang istri.


"Kamu kenapa, Ra? Kamu lagi marah ya? Kalau iya, kamu marah kenapa?" tanya Arsen pura-pura tidak tahu.


"Siapa yang lagi marah? Aku tidak marah," Aozora menggerakkan pundaknya, mencoba untuk menyingkirkan dagu Arsen.


Namun, dagu Arsen sama sekali tidak berpindah dari pundak Aozora. Justru sekarang pria itu berkali-kali mengecup pundak Aozora, dengan tangan yang sudah memeluk istrinya dari belakang.


"Masa sih, gak marah? Tapi yang aku lihat kalau kamu ini lagi kesal. Kamu bahkan sampai menonaktifkan ponselmu. Jadi aku nggak bisa menghubungimu," Arsen berhenti berbicara dan kembali mengecup pundak Aozora.


"Tadi, aku ke kantor untuk menjemputmu, karena kata mama kamu ke sana untuk mengantarkan sarapan. Tapi, aku sampai di sana kamu sudah tidak ada. Makanya aku mencarimu," Arsen menjelaskan, tanpa menunggu Aozora memintanya.


"Siapa yang tanya? Sudah ah, aku mau istirahat. Kamu pulang sendiri aja. Aku mau di sini, dengan Bella dan Tsania," nada bicara Aozora terdengar sangat ketus.


Arsen menarik napas dalam-dalam dan mengembuskannya kembali ke udara, mencoba untuk tetap bersabar menghadapi sikap istrinya yang dia tahu sangat keras kepala.


"Zora, kita pulang sekarang! Aku tahu kalau kamu lagi kesal dengan perkataan Hanum. Aku membantunya karena kasihan bukan karena aku masih mencintainya. Oh ya, asal kamu tahu, aku juga sama sekali tidak pernah mencintainya,"


Hanum terkesiap kaget mendengar pengakuan Arsen. Saking kagetnya wanita itu berbalik, menghadap Arsen. Namun, tiba-tiba bibir wanita itu mengerucut begitu mengingat lagi ucapan terakhir Hanum.


"Iyalah, kamu tidak mencintai Hanum atau wanita manapun. Karena kamu mencintai perempuan di masa kecilmu, yang sampai sekarang kamu cari, iya kan?" jujur, Aozora tidak bisa membohongi diri m, kalau hatinya terasa sakit saat mengucapkan ucapannya barusan.


Arsen kembali tersenyum dan meraih tangan Aozora. Ia lalu menggenggam tangan wanita itu dengan erat, lalu menatap manik mata Aozora dalam-dalam. Sumpah demi apapun, mendapat tatapan seperti itu, membuat jantung Aozora berisik di dalam sana.


"Iya, aku mengakui, kalau aku memang mencintai perempuan di masa kecilku sampai sekarang. Tapi, aku sudah berhenti mencarinya, karena aku sudah menemukannya,"


Jantung Aozora seakan berhenti berdetak, begitu mendengar ucapan Arsen. Dirinya seakan sesak bernapas, tidak bisa membayangkan kalau pria di depannya itu, akan meninggalkannya demi wanita di masa kecilnya itu.


"Kamu tidak mau bertanya siapa wanita itu, hem?"


"Untuk apa?" suara Aozora, terdengar lirih.


"Kamu harus tahu. Karena wanita itu sekarang ada di sini,"


Aozora sontak menarik sudut alisnya ke atas dan rahang bawahnya ke bawah, kaget mendengar ucapan Arsen. Wanita itu tanpa sadar mendorong tubuh suaminya itu.


"Kamu membawanya ke sini untuk apa? Kamu mau pamer dengan mengenalkannya padaku?" mata Aozora berkilat-kilat, marah.


Arsen bangun kembali dan beranjak turun lalu menghampiri Aozora. "Aku tidak membawanya ke sini. Justru aku datang ke sini untuk menjemputnya. Dia lagi kesal sekarang dan tidak mau pulang," ucap Arsen, berpura-pura memasang wajah sendu.


"Di-dia tidak mau pulang? Ini maksudnya apa? Dari tadi kamu mengajakku pulang, dan aku yang tidak mau pulang. Maksudnya, wanita itu__"


"Ya, wanita itu kamu, Rara!" untuk pertama kalinya, Arsen memanggil nama Aozora dengan nama panggilan wanita itu ketika masih anak-anak. Panggilan yang sering dipakai oleh almarhum mamanya.


Tbc


Maaf, kalau telat up. Seharian ini perutku tidak enak. Aku bolak-balik kamar mandi 😭