Rahasia Suami Lumpuhku

Rahasia Suami Lumpuhku
Sisi lain Arsen


Sepasang suami-isteri yang baru saja merasakan sensasi baru dalam sebuah hubungan resmi kini sudah tampak segar karena sudah selesai mandi. Tentu saja mereka mandi berdua dan bisa dipastikan kalau itu terjadi karena si Tuan pemaksa tidak ingin dibantah.


Pasangan itu kini sama-sama duduk menyender di sandaran ranjang, dan sama sekali tidak ada percakapan dia antara keduanya. Suasana benar-benar terasa canggung, dan tepatnya, Aozora yang merasa canggung.


"Ada yang mau kamu katakan, katakan saja! Jangan melirik-lirik tidak jelas!" celetuk Arsen, yang sebenarnya bisa melihat dari ekor matanya kalau sang istri dari tadi melirik. Dan dia yakin kalau sudah begitu, ada sesuatu yang hendak dikatakan oleh wanita itu.


"Ih, siapa yang melirikmu? Gak jelas!" Aozora mengerucutkan bibirnya.


"Sekali lagi kamu buat bibirmu seperti itu, aku tidak akan segan-segan untuk memakanmu lagi!" Aozora sontak membenarkan posisi bibirnya ke bentuk semula, tidak mau hal yang baru saja mereka lakukan terjadi lagi. Karena rasa lelah yang tadi saja belum sepenuhnya reda. Bagaimana tidak, suaminya itu bagaikan singa kelaparan saat menggaulinya. Bahkan di kamar mandi saja, pria itu tetap melakukannya.


"Kenapa? Kamu takut ya?" Arsen kini menoleh ke arah Aozora seraya mengerlingkan matanya.


"Ih, bisa tidak berhenti membicarakan hal itu? Benar-benar menyebalkan!" tanpa sadar Aozora kembali mengerucutkan bibirnya. Wajah wanita itu juga tampak memerah menahan malu.


Cup


Arsen tiba-tiba mengecup bibir Aozora, membuat bola mata wanita itu membesar.


"Mas, kenapa sih suka sekali main sosor?" protes Aozora.


"Kan sudah aku bilang, jangan buat bibirmu seperti itu kalau tidak mau aku makan!" sahut Arsen dengan santai, disertai dengan senyum smirknya. "Atau kamu masih mau kita melakukannya sekarang? kalau aku sih, mau-mau saja, karena aku masih kuat melakukannya," bisik Arsen seraya mengerlingkan matanya, menggoda sang istri.


"Apaan sih? Dasar me*sum!" Aozora mendorong tubuh Arsen, dan memasang wajah kesal.


Bukannya takut, Arsen justru tertawa keras melihat ekspresi wajah Aozora yang menurutnya lucu. Sementara Aozora tercengang, karena baru kali ini dia melihat pria itu tertawa lepas. Dari yang dia dengar dari mama mertuanya, Daren dan Niko, suaminya itu paling sulit untuk tertawa di depan orang kalau dia belum dekat dan nyaman dengan orang itu.


"Apa ini? Dia bisa tertawa selepas itu, apa itu berarti dia sudah merasa nyaman denganku?" ucap Aozora sangat pelan, lebih tepatnya ia berbicara pada dirinya sendiri, karena yang bisa mendengar apa yang dia katakan tadi hanyalah hatinya.


"Kamu jangan berpura-pura tidak mau deh! Mulut saja menolak. Buktinya kamu sangat menikmatinya tadi. Aku tadi mendengar suaramu yang__"


"Massss!" Aozora dengan cepat memotong ucapan Arsen dengan menutup mulut pria itu menggunakan telapak tangannya. Semburat merah di pipinya benar-benar sudah tidak bisa dia sembunyikan lagi, saking malunya.


Lagi-lagi Arsen tidak bisa menahan tawanya, apalagi melihat wajah cemberut Aozora.


"Bisa diam gak sih, Mas? Kalau nggak diam, aku tidak akan mau bicara denganmu lagi!" ancam Aozora yang sudah tidak tahu lagi bagaimana caranya membuat pria gila di depannya itu, berhenti tertawa.


Benar saja, mendengar ancaman Aozora, tawa Arsen langsung berhenti tiba-tiba bahkan sisa tawanya juga tidak ada.


Aozora meraih ponselnya dan langsung berpura-pura fokus pada apa yang terlihat di layar. Padahal sebenarnya kalau wanita itu masih bingung dengan apa yang baru saja terjadi di antara dia dan Arsen. Kalau dilihat-lihat, mereka berdua layaknya seperti suami istri yang saling mencintai, tapi ternyata yang Aozora rasakan masih abu-abu. Aozora tidak bisa memungkiri kalau dirinya masih dihantui bayangan kalau suaminya itu masih mencintai Hanum, wanita yang dia tahu memiliki hubungan dengan Arsen selama 7 tahun, dan ia yakin sangat dicintai oleh suaminya itu. Ingin sekali dia bertanya bagaimana perasaan pria itu sekarang. Namun, dirinya takut kecewa mendengar Jawa pria itu.


Krukk krukkk


Hal yang benar-benar tidak diinginkan oleh Aozora akhirnya benar-benar terjadi. Perut laparnya mungkin sudah tidak bisa lagi diajak kompromi, makanya memilih untuk bernyanyi meminta untuk segera diisi.


"Suara apa itu? Apa itu suara perutmu?" tanya Arsen yang langsung mendekatkan telinganya ke perut wanita itu.


"Kamu lapar ya?" Arsen kembali bertanya.


"Menurutmu?" sahut Aozora, ketus.


"Kalau menurutku, ya kamu lapar," sahut Arsen, polos.


"Itu kamu sudah tahu, kenapa masih bertanya? Atau kamu mau tanya, 'kenapa aku bisa lapar' iya? Kamu pasti sudah tahu jawabannya, kalau kita sudah melewatkan makan malam tadi," nada bicara Aozora terdengar semakin ketus.


Tawa Arsen kembali pecah, mendengar ucapan Aozora. "Iya, Iya maaf. Kamu pasti sangat lapar sekarang, apalagi tadi tenaga kamu banyak keluar saat__"


"Mas bisa berhenti membicarakan hal itu nggak! Sekarang aku lapar!" Aozora dengan cepat menyela ucapan suaminya karena kalau diladeni, akan semakin panjang ceritanya dan bisa-bisa suaminya itu akan kembali memakannya.


"Iya, iya maaf deh. Ya udah, ayo kita ke bawah ,Kita makan sekarang!" Arsen beringsut turun dari ranjang, lalu mengulurkan tangannya untuk membantu Aozora turun.


"Ta-tapi, aku malu ke bawah, Mas. Mama pasti masih di bawah dan dia pasti akan bertanya kenapa kita bisa melewatkan makan malam. Kita mau jawab apa coba?" Aozora terlihat ragu, sampai-sampai dia tidak menerima uluran tangan sang suami.


"Lah, gampang saja jawabnya. Kita jawab saja lagi proses memproduksi cucu untuknya, kan gampang!"sahut Arsen santai tanpa beban.


Aozora sontak meraih bantal dan melemparkannya tepat ke wajah Arsen. Dia benar-benar tidak menyangka kalau pria tidak banyak bicara seperti suaminya itu bisa berbicara seperti itu.


"Kamu benar-benar menyebalkan!" umpat Aozora, menatap kesal pada sang suami.


"Apaan sih? Kan yang aku katakan tadi benar. Masa harus berbohong sih. Lagian, mama pasti maklum," sahut Arsen berusaha menahan tawa. "Dan satu lagi, dia pasti senang," imbuh Arsen yang kali ini dia ucapkan melalui bisikan tepat di telinga Aozora.


Bulu-bulu di tubuh Aozora sontak meremang karena bisikan Arsen disertai dengan embusan yang memang disengaja pria itu.


"Tangan kamu merinding, kamu naf*su lagi ya?" goda Arsen, seraya tersenyum smirk.


"Massssss!" Aozora benar-benar sudah tidak bisa menahan malunya lagi. Hal yang bisa dia lakukan sekarang hanya berteriak ke arah suaminya.


Tawa Arsen pun kembali pecah. "Sudah, sudah. Ayo kita ke bawah sekarang. Aku juga sudah lapar! Tidak perlu malu ke Mama karena yang kamu lakukan bukanlah dosa," Arsen meraih tangan Aozora, dan membantu wanita itu berdiri.


"Issss," desis Aozora, ketika merasakan sakit di bagian pangkal pahanya.


"Kenapa?" tanya Arsen panik.


"Tidak apa-apa! Hanya sedikit sakit," sahut Aozora.


Tbc


Jangan lupa untuk tetap like, komen, vote dan kasih rate ya guys. Kasih hadiah jua sangat aku tunggu, terima kasih 🙏🥰🥰