Rahasia Suami Lumpuhku

Rahasia Suami Lumpuhku
Ini tidak bisa dibiarkan


Waktu berlalu begitu cepat. Tidak terasa sudah hampir dua bulan lamanya, semenjak Hanum diterima bekerja di Perusahaan Arsen. Namun, usahanya untuk mendekati Arsen selalu gagal, padahal dia sudah sempat senang karena sudah satu bulan ini Aozora tidak menjadi sekretaris Arsen lagi. Entah apa alasannya, dia pun tidak tahu. Dan kenapa dia selalu tidak menemukatn ruangan Arsen selalu kosong, setiap kali dia ingin menemui pria itu di jam istirahat, Hanum pun bingung dengan hal itu.


 "Hanum, kenapa sih kamu selalu gagal mendekati Arsen? Aku benar-benar capek menunggu tahu nggak!" bentak Dimas. Posisi Hanum sekarang tepatnya berada di dalam ruangan pria itu.


"Aku juga sudah berusaha, Dim. Tapi selalu saja gagal. Entah kenapa, dia selalu tidak ada di ruangannya, ketika aku ingin menemuinya. Kamu kan tahu sendiri kalau tidak mungkin aku menemuinya ke rumahnya," ucap Hanum, ketus. Dia benar-benar kesal dengan ketidak sabaran pria di depannya itu. Menurutnya pria itu terlalu banyak menuntut tidak peduli bagaimana Sulitnya untuk bisa mendekati Ardan.


"Alahhh, bilang saja kalau kamu sudah kalah saing dengan Aozora. Dia tidak mau berurusan lagi denganmu karena rasa cintanya sudah jatuh pada Zora? Ternyata pesonamu hanya sebatas itu. Aku menyesal mengajakmu kerja sama. Benar-benar tidak berguna!" umpat Dimas dengan sarkas.


"Jaga mulut kamu ya, Dim. Jangan buat kesabaranku habis. Selama ini aku selalu kamu maki-maki, aku diam saja karena ini semua demi papaku. Tapi, Kamu benar-benar tidak punya hati menghinaku terus-terusan. Harapanku untuk hidup bersama Arsen kamu hancurkan! Semuanya hancur gara kamu dan papamu itu. Kalian berdua ingin menguasai harta yang bukan milik kalian, benar-benar tidak punya malu!" tutur Hanum panjang lebar tanpa jeda dan dengan napas yang memburu saking emosinya.


"Oh, sekarang kamu mulai berani ya? Sepertinya kamu benar-benar mau papa kamu di penjara. Baiklah, kalau begitu. Siap-siap saja kamu mendengar papamu ditangkap polisi, kecuali semua uang yang sudah dia korupsi, bisa kamu kembalikan sekarang juga!" Seperti biasa Dimas selalu mengeluarkan ancamannya yang itu-itu saja, untuk membuat Hanum menurut padanya.


"Dimas, stop deh selalu mengancam dengan ancaman yang itu-itu saja! Itu tidak akan membuat kamu terlihat cerdas atau baik. Justru kamu semakin memperlihatkan kamu itu manusia yang dikaruniai hati tapi tidak memfungsikannya dengan baik,"


Dimas mengepalkan tangannya dengan kencang. Rahangnya mengeras, matanya juga memerah, mendengar ucapan Hanum.


Pria itupun berdiri dari kursinya dan berjalan menghampiri Hanum yang sekarang posisinya sedang takut. Hal itu terlihat dari cara wanita itu menelan ludahnya sendiri yang kesusahan.


"Kamu benar-benar ingin cari mati sepertinya ya?" Dimas mencengkram kuat dagu Hanum, hingga membuat wanita itu meringis kesakitan.


"Sa-sakit, Dim!" rintih Hanum.


"Makanya jangan macam-macam! Aku akan melakukan lebih dari ini kalau kamu macam-macam. Pokoknya aku nggak mau tahu, aku kasih kamu waktu Seminggu. Kamu harus bisa mendekati Arsen bagaimanapun caranya.Kalau cara baik tidak bisa, kamu harus menggunakan cara licik!" pungkas Dimas, tegas tak terbantahkan.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Sementara itu di ruangan Arsen Tampak seorang wanita yang tidak lain adalah Bella sedang merengek-rengek seraya menggelayut di lengan Arsen. Siapa lagi wanita itu kalau bukan Bella.


"Bella, lepaskan tanganmu! Kamu sadar nggak sih kalau kamu ini berat?" Arsen berusaha menyingkirkan tangan Bella dari lengannya.


"Aku tidak mau sampai aku diizinkan untuk pulang sebentar ke Amerika. Aku kangen mama dan papa, Kak," rengek Bella dengan bibir yang mengerucut.


"Tidak bisa! Kalau membatu itu harus total, tidak boleh setengah-setengah seperti ini." tolak Arsen dengan tegas membuat bibir Bella semakin mengerucut.


"Ihh, Kak Arsen mah jahat. Kan sebentar saja pulangnya. Hanya seminggu saja, setelah itu aku janji akan langsung pulang, Pleaseeee!" Bella mengangkat dua jarinya dengan mata yang mengerjab-erjab.


"Aku bilang tidak boleh ya tidak boleh. Jangan membantah!" Arsen semakin berbicara tegas.


"Ihh, Kakak jahat!" Bella menghentak-hentakkan kakinya saking kesalnya.


"Bukan jahat, Bella! masalahnya kamu masih baru di sini. Jadi, kalau kamu pulang ke Amerika, yang ada para pekerja lain akan bertanya-tanya dan curiga kenapa kamu bisa mendapatkan izin untuk tidak masuk kerjaan sedang kan yang lain tidak bolen sesuka hati untuk ambil cuti," tutur Arsen panjang lebar dan tanpa jeda.


"Tapi__"


"Ada apa, Zora?" tanya Arsen to the point.


"Mas kenapa tadi kamu tidak membangunkanku dan langsung berangkat ke kantor?" terdengar suara Aozora dengan nada kesal dari ujung telepon.


"Maaf! Aku lihat kamu sangat nyenyak tidurnya. Jadi, aku sungkan untuk membangunkanmu. Aku pikir juga, mungkin karena kamu kecapean tadi malam," sahut Arsen, dengan sudut bibir tersenyum penuh makna.


"Ihh apa-apaan sih? Ini semua gara-gara kamu yang membuat aku kecapean," bisa dipastikan, walau Aozora tidak ada di depan Arsen sekarang, pria itu sangat yakin kalau pipi istrinya itu pasti sudah memerah, tersipu malu.


"Mas, kata Mama tadi kamu berangkat ke kantor tidak sarapan sama sekali. Sekarang, aku mau ke sana membawakan sarapan untukmu ya," Aozora kembali bersuara.


"Tidak usah, Zora! Aku akan meminta Niko untuk membelikan sarapan untukku," tolak Arsen dengan cepat. Walaupun belakangan ini, tidak ada yang berniat mencelakai sang istri, tapi pria itu sama sekali tidak bisa tenang membiarkan Aozora Keluar tanp dirina


"Aku nggak mau tahu. Aku sudah di jalan!"


"Kenapa sih kamu ini? Sebelum berangkat, gak ngomong dulu ke aku?kamu berangkat dengan siapa? Nggak sendiri kan?" cecar Arsen. Terlihat jelas kalau pria itu sudah tidak merasa tenang sekarang.


"Aku tidak sendiri aku diantar supir," sahut Aozora.


"Baiklah, kamu hati-hati!" akhirnya panggilan pun terputus.


"Lho, kamu masin di sini? Kenapa belum keluar?" Arsen menatap Bella dengan tatapan tajam.


"Ih, emangnya kenapa? Aku cuma mau melihat bagaimana pria dingin seperti Kakak, bisa bicara dengan sangat lembut pada seorang wanita," ejek Bella.


"Kamu bisa diam nggak? Sekarang kamu keluar dari sini. Nanti akan ada curiga kalau melihat kamu keluar dari ruanganku. Sana pergi!" usir Arsen.


"Ihh, dasar menyebalkan!" Bella berbalik lalu berjalan keluar seraya menghentakkan kakinya.


"Di saat membuka pintu, di saat bersamaan Niko juga hendak masuk. Alhasil tanpa bisa dihindari kepala Bella seketika membentur dada pria itu. Karena memang kebetulan tinggi Bella hanya sebatas dada asisten pribadi Arsen itu.


"Haish, kalau mau masuk bilang-bilang dong!" protes Bella seraya mengelus-elus jidatnya.


"Kamu yang tidak hati-hati, jadi jangan salahkan aku! Awas, minggir kamu!" Niko mendorong sedikit tubuh Bella, lalu berjalan masuk.


"Cih, dasar laki-laki menyebalkan! Untung kamu tampan, kan sayang muka tampannya kalau aku bejek-bejek!" sungut Bella, membuat sudut bibir Niko melengkung membentuk senyum.


Bella menutup pintu ruangan Arsen dan berbalik hendak beranjak pergi. Tanpa dia sadari, Hanum yang berjalan setelah keluar dari ruangan Dimas, melihat Bella keluar dari ruangan pria yang dia cintai.


"Hah? Bella keluar dengan ruangan Arsen? Apa yang dia lakukan di sana? Jangan bilang, kalau dia juga berniat hendak menggoda Arsen? Benar-benar wanita murahan! Dia sepertinya tidak puas kalau hanya menggoda Dimas saja. Ini tidak bisa dibiarkan!" Hanum menggerutu, seraya melangkah menghampiri Bella.


Tbc