Rahasia Suami Lumpuhku

Rahasia Suami Lumpuhku
Aku mau menginap di sini


Hanum berjalan dengan gontai masuk ke dalam ruangannya. Seperti biasa, dia akan selalu mendapatkan tatapan sinis dari dua rekan kerjanya.


"Wah, kenapa dengan wajahmu? Yang terjadi di ruangan Pak Arsen tidak sesuai dengan yang kamu pikirkan ya?" ledek salah satu dari wanita itu.


Hanum memilih tidak menanggapi. Wanita itu justru terlihat merapikan semua barang-barang yang ada di atas mejanya lalu memasukkan semua barang miliknya ke dalam tasnya.


"Hei, kenapa kamu merapikan mejamu? Kamu mau kemana?" dua wanita tadi mulai terlihat bingung.


Hanum, tetap memilih tidak menanggapi. Dia tetap diam sampai apa yang dia lakukan selesai. Kemudian, wanita itu mengembuskan napas dengan berat, lalu menatap ke arah dua rekannya yang dia tahu tidak menyukainya. Wanita itu berusaha untuk tersenyum ke arah dua wanita itu.


"Aku pamit pergi ya. Mulai sekarang, aku tidak bekerja di sini lagi. Maaf, kalau selama ini aku ada berbuat salah. Permisi!" Hanum, berbalik dan langsung beranjak pergi, tanpa menunggu jawaban dari dua wanita itu.


Sementara dua wanita itu bergeming dia seribu bahasa dan saling silang pandang.


"Dia tidak mungkin dipecat kan?"


"Tidak tahu. Kalau iya, apa kita sudah terlalu kejam padanya?Bagaimanapun kalau kita tidak mengadu, dia pasti tidak akan mendapatkan masalah seperti ini," raut wajah kedua wanita itu kini terlihat mulai merasa tidak enak.


Sementara Hanum tetap melanjutkan langkahnya dengan tatapan kosong. Bayangan ucapan Arsen yang memintanya untuk berhenti dari perusahaannya kembali berkelebat di kepalanya.


Flashback


"Untuk kali ini aku minta maaf padamu, Hanum. Aku tidak bisa mempekerjakan kamu lagi di perusahaanku. Dengan sangat beda hati, aku memintamu untuk ke bagian keuangan dan minta sisa gaji dan pesangon kamu," ucap Arsen dengan tegas tanpa menatap ke arah Hanum yang masih terduduk di lantai.


Hanun sontak berdiri. Wanita itu benar-benar kaget mendengar ucapan Arsen barusan.


"Sen, aku janji tidak akan menggangu hubungan kamu dan Aozora lagi. Tapi, aku mohon agar kamu tidak memecatku. Aku sudah keluar dari perusahaan tempatku bekerja yang lama, dan mereka sudah punya penggantiku. Kalau kamu memecatku, itu berarti aku tidak aka. punya pekerjaan lagi. Bagaimana aku bisa memenuhi kebutuhan hidup keluargaku, Sen?" mohon Hanum dengan air mata yang semakin deras mengalir.


"Maaf sekali lagi, Num. Kali ini aku tidak bisa membantumu. Karena aku tidak mau nanti akan terjadi kesalahpahaman lagi. Berdasarkan pengalaman yang kamu punya, aku yakin kalau kamu nantinya akan mudah mendapatkan pekerjaan baru, pungkas Arsen, tegas tak terbantahkan.


Flashback end


.


.


.


"Arsen kamu mau kemana lagi?" tanya Niko, ketika dirinya berpapasan dengan Arsen, tepat ketika sahabatnya itu keluar dari dalam ruangannya dan dirinya baru saja hendak masuk.


"Aku mau pulang. Aku mau cari Zora! Kamu tolong urus semua urusan kantor hari ini ya!" Arsen menepuk-nepuk pundak Niko, kemudian langsung melangkah pergi tanpa menunggu jawaban dari Niko.


"Hei, Sen, tunggu dulu!" cegah Niko, dengan sedikit berlari ke arah Arsen.


"Ada apa lagi?" tanya Arsen, tidak sabar.


"Aku mau tanya, kenapa dengan Hanum? Kenapa tadi matanya sembab dan wajahnya kusut ketika keluar dari ruanganmu?" sudut alis Niko naik ke atas, menyelidik.


"Kapan-kapan saja aku jelaskan! Intinya dia sudah tidak akan bekerja di sini lagi. Udah ya, aku buru-buru," dengan sedikit berlari, Arsen kembali beranjak pergi.


"Hei, aku belum selesai bicara!" teriak Niko, Namun Arsen tidak memberikan respon sama sekali.


"Sialan! main kabur Saja. Padahal aku masih mau tanya, si Bella kemana? Sudah empat hari gadis gila itu tidak masuk bekerja. Buat pengajuan cuti juga nggak. Jangan mentang-mentang ini perusahaan kakak sepupunya, dia jadi semena-mena dan tidak mematuhi aturan," Niko berjalan sembari menggerutu dalam hati.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Sementara itu, Aozora yang merasakan hatinya tidak nyaman, seperti biasa langsung pergi mengunjungi makam mama dan kakak laki-lakinya. Wanita itu merasa akan bisa tenang kalau sudah mencurahkan segala isi hati dan semua yang mengganjal di dalam hatinya.


Setelah puas mencurahkan segala isi hatinya, wanita itu pun meninggalkan makam dengan perasaan yang sedikit lega.


"Aku sekarang kemana ya? Apa aku pulang ke rumah saja? Tapi, kalau aku pulang, aku enggan untuk melihat wajah Mas Arsen," batin Aozora seraya masuk ke dalam mobilnya.


"Ah, aku tahu. Sebaiknya aku ke apartemen saja. Bella pasti ada di sana dengan Tsania," pungkas Aozora seraya menjalankan mobilnya menuju apartemennya yang dihuni oleh Tsania.


Tanpa dia sadari, selepas dia pegang, mobil yang dikemudikan oleh Arsen muncul dan menepi. Kemudian, dengan sedikit berlari, menuju makam mama mertuanya. Karena menurut laporan anak buahnya tadi, Aozora datang ke makam ini.


"Tapi, sepertinya dia memang baru ke sini," Arsen melihat taburan bunga yang masih baru dan tanah serta nisan yang basah.


Pria itu pun merogoh sakunya, dan mengeluarkan ponselnya.


"Dimana Nona Aozora? Kenapa tidak ada di makam?" tanya Arsen tanpa basa-basi.


"Maaf, Tuan. Nona Aozora tadi memang ada di makam,"


"Sekarang di mana? Dia tidak ada di sini. Kalian aku bayar untuk mengawasi istriku, tapi kenapa kalian bisa tidak tahu kalau istriku sudah meninggalkan makam?" bentak Arsen dengan suara meninggi.


"Ma-maaf, Tuan, karena kami sudah lalai, untuk memantau Nona Aozora," suara anak buah Arsen di ujung sana terdengar bergetar, takut.


"Sudahlah, tidak ada gunanya juga kalau aku marah-marah. Sekarang, kalian semua lacak lagi GPS, melihat kemana istriku pergi. Kabari aku begitu kalian tahu posisinya di mana. Paham kalian!"


"Paham, Tuan!" panggilan akhirnya dipungkiri oleh Arsen, begitu mendengar kesiapan anak buahnya itu.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Aozora menekan bel apartemennya, dan menunggu ada yang membukakan pintu untuknya.


Sebenarnya bisa saja dia masuk dengan menekan pin, tapi dia tidak melakukannya, karena merasa kurang sopan. Wanita itu merasa kalau Tsania juga pasti ada privasi.


"Lho, Kak kenapa ke sini?" tanya Bella begitu pintu dia buka.


"Kenapa? Aku tidak bisa datang ke sini?" sahut Aozora dengan ketus.


Bella sontak mengernyitkan keningnya, bingung dengan sikap Aozora yang menurutnya tidak seperti biasa.


"Bukan seperti itu, Kak. Aku cuma tanya aja. Lagian kenapa Kakak jadi ketus begini sih? Apa Kakak punya masalah?" cecar Bella.


"Emm, kamu belum menyuruhku masuk, tapi kamu sudah menginterogasiku. Kamu kurang kerjaan ya?" Aozora mengerucutkan bibirnya.


"Astaga, maaf, maaf! Ayo masuk, Kak!" Bella memberikan jalan seraya nyengir kuda.


"Lho, ada Kak Zora ternyata. Ayo duduk, Kak!" tiba-tiba Tsania muncul dan memeluk Aozora lebih dulu.


"Aku mau menginap di sini malam ini," celetuk Aozora tiba-tiba, membuat Bella dan Tsania mengernyitkan kening, bingung.


"Tapi, kenapa Kak? Apa kakak ada masalah dengan Kak Arsen?" selidik Bella.


"Iya, Kakakmu itu memang selalu punya masalah. Dia terlalu banyak menyimpan rahasia. Aku kesal, dan tidak Meu bertemu dengannya sekarang!" sahut Aozora tidak bisa menahan lagi rasa kesalnya.


"Rahasia apa,Kak?" tanya Tsania penasaran.


"Banyak. Salah satunya, dia punya wanita yang sudah dicintainya dari kecil. Dan kata Hanum, Mas Arsen masih mencarinya sampaikan sekarang. Benar-benar menyebalkan!" bibir Aozora semakin maju ke depan.


"Oh, ini semua gara-gara wanita ular itu. sepertinya dia benar-benar ingin merasakan mulutnya aku cabein," Bella mengomel dalam hati.


"Emm, tapi Kak, gadis yang dicintai Kak Arsen dari kecil itu kan ...." Bella tiba-tiba terdiam.


"Tidak, tidak boleh. Kalau aku mengatakan kebenarannya pada Kak Zora, Kak Arsen pasti akan marah, karena dia pasti ingin mengungkapkannnya sendiri," batin Bella, mengurungkan niatnya untuk mengungkapkan kebenarannya pada Aozora.


"Kenapa kamu diam, Bel? Kenapa dengan gadis masa kecil yang dicintai mas Arsen itu? Apa kamu tahu cerita tentang gadis itu?" cecar Aozora, dengan alis bertaut, curiga.


"Tidak, Kak! Maksudku ... Gadis kecil itu kan belum tentu masih sendiri dan belum tentu juga mencintai Kak Arsen. Kakak tidak perlu takut lah. Aku yakin, kalau Kak Arsen sudah mencintai, kakak," ujar Bella, mencoba menenangkan Aozora.


"Aku tidak yakin Mas Arsen mencintaiku, karena dia sama sekali tidak pernah mengatakannya padaku. Intinya sekarang, aku lagi malas bertemu Mas Arsen. Aku mau menginap di sini. Awas kalau kalian memberitahu ke mas Arsen, kalau aku ada di sini. Aku akan marah dan tidak mau mengenal kalian berdua!" ancam Aozora.


Bella mengembuskan napasnya, lalu menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal sama sekali.


Sementara itu, Arsen langsung menuju apartemen Aozora, karena dirinya sudah mendapatkan informasi dari anak buahnya kalau istrinya itu ada di apartemen itu.


Tbc