Pendekar Pedang Somplak

Pendekar Pedang Somplak
Keberuntungan


“Tekanan energi iblis membuat tubuhku bereaksi dengan langsung menghisapnya lalu mengonversikannya menjadi kekuatan yang berpusat pada inti energi kegelapan …, dan kau terus menerus menyerangku dengan energi pedang yang mengakibatkan energi kegelapan di tubuhku semakin mempercepat proses evolusi. Sekarang setelah aku berhasil membentuknya, aku hanya harus menemukan sang pemilik kegelapan untuk menstabilkannya,” beber Ucup menjelaskan.


“Energi kegelapan?” gumam Jenderal Jieru memikirkannya.


“Gawat! Kalau sampai ramalan itu benar, maka pemuda ini akan menundukkan semua iblis,” pikirnya menambahkan.


Jenderal Jieru menatap Ucup dengan serius. Raut wajahnya menggambarkan sedikit kegundahan untuk segera kembali ke alam iblis.


“Pergilah dan katakan kepada pemimpinmu untuk menarik semua iblis yang berada di alam fana ini!” kata Ucup mengusirnya.


“Baiklah, terima kasih …. Semoga takdir kembali mempertemukan kita, dan aku pastikan akan membalas kekalahan ini,” sahut Jenderal Jieru yang langsung menghilang dari pandangan Ucup.


Setelah itu, Ucup mendongakkan wajahnya menatap ribuan iblis yang membeku. Semua iblis dalam posisi tak berdaya karena energi iblis yang menjadi penopang kekuatan para iblis telah habis terkuras dan menjadi bahan pembentuk inti energi kegelapan di dalam tubuh Ucup.


“Sepertinya perjalanan misiku akan lebih mudah setelah aku tahu bagaimana menangani para iblis.” Ucup kemudian mengibaskan tangannya mengirim lesatan energi yang langsung menghancurkan tubuh beku para iblis. 


"Tidak semudah itu, Lord Ucup. Bangsa iblis terkenal dengan kelicikannya. Kamu tidak boleh melupakan hal itu," ujar Pangeran Xiao Li Dan mengingatkannya.


"Iya, aku tahu itu," sahut Ucup mengamini.


"Tahu dari mana?" tanya Pangeran, cepat.


"Sumedang," jawab Ucup singkat.


"Lagi-lagi bicara aneh," keluh sang pangeran.


Langit kembali cerah, matahari tampak condong di ufuk barat. Ucup teringat kembali tujuannya pergi ke Lembah Kematian, mencari keberadaan Ratu Kegelapan dalam misi untuk menghapus energi sihir di seluruh wilayah Alexandria. Ia kemudian melanjutkan perjalanannya ke arah yang ditunjukan oleh mendiang Siluman Ular.


“Lord Ucup, kalau memang orang yang dicari merupakan pemilik kegelapan, maka kamu harus berusaha untuk mengambil hatinya dan menjadikannya istrimu,” ujar Pangeran Xiao Li Dan mengingatkannya.


“Tenang saja, Brother. Justru aku takut dia yang akan mengejarku mati-matian. Kamu tentu tahu alasannya,” sahut Ucup begitu percaya diri.


“Ya, karena kamu adalah bajingan tengik yang bahkan seorang siluman pun kamu nikmati juga,” sindir Pangeran.


“Dan kamu melihatnya seperti menonton film dewasa. Hanya bisa melihat tanpa bisa merasakannya. Kasihan!” Ucup balas menyindirnya.


Senja merambat pelan di langit, seperti seorang pelukis abstrak yang dengan lembut menyapukan warna-warna kuning dan merah melintasi kanvas langit. Cahaya senja itu seperti tangan hangat yang membelai perkebunan yang dilalui sang pemuda, menyapa bunga-bunga yang perlahan menutup kelopak mereka untuk beristirahat.


Di bukit yang menantang, pohon-pohon besar menari dalam bayangan lembut, sementara angin senja merayap lembut seperti penari dalam malam yang memesona. Suasana senja menghidupkan elemen-elemen alam, seolah-olah alam semesta itu sendiri merayakan kehadiran Ucup yang menapakkan kakinya selangkah demi selangkah di hamparan tanah perkebunan.


“Aku suka senja,” gumamnya lirih.


“Lord Ucup, apa kamu tidak jenuh berjalan sendiri?” tanya Pangeran Xiao Li Dan sedikit menyindir.


“Tidak,” sahut Ucup dengan yakin.


Di bawah senja yang memeluk perkebunan dengan hangatnya, hati Ucup seperti terpikat oleh pesona matahari terbenam. Ia merasa dirinya adalah bagian dari alam semesta yang tenang dan indah ini, seolah-olah ia adalah sehelai daun yang terbawa oleh angin, sebuah kelopak bunga yang terbuka dalam sinar senja. Ketenangan dalam hatinya seiring dengan langit yang merayap ke peraduan malam, membuatnya merasa ada kedamaian yang lama ia cari.


Senja telah hilang berganti malam ketika sang pemuda tiba di kaki bukit. Ia berdiam diri dengan kepala terdongak menatap puncak bukit yang menjulang tinggi di depannya. Tampak ia memikirkan arah yang akan ditempuhnya.


Setelah mengamatinya sejenak, Ucup memutuskan untuk mendaki bukit. Dari kaki bukit, Ucup melangkahkan kaki merintis jalan bebatuan yang ditumbuhi semak belukar hingga ke lereng bukit terus berlanjut sampai kedua kakinya berhenti melangkah di area landai.


"Indahnya alam ini," puji Ucup begitu kagum melihat area perbukitan di sekitarnya.


Ucup merebahkan badannya di tanah kering dengan kedua tangan yang dijadikannya penopang kepala. Tak lama kemudian, ia pun tertidur.


Pagi masih remang-remang ketika kedua mata Ucup terbuka. Matahari masih malu-malu untuk menampakkan dirinya di balik perbukitan. 


"Alam di sini sangat indah, namun satu yang kubenci, "racau Ucup, "tidak ada kopi yang bisa kuminum di pagi hari. Begitu pun dengan gorengan dan nasi uduk bertoping sambal kacang, bawang goreng, dan kerupuk yang tidak pernah kutemui. Menyebalkan!"


Ucup terus meracau sambil melangkahkan kaki menuruni bukit yang lumayan curam. Begitu sampai di kaki bukit, terdengar sayup-sayup suara renyah dari para gadis yang membuat mulut Ucup terkatup rapat, keningnya berkerut, dan pendengarannya ditajamkan.


"Ini suara cewek," gumam Ucup, matanya berbinar, dan wajahnya begitu ceria. Tak nampak lagi wajah lesu merindukan kopi dan kawan-kawannya.


Ucup mempercepat ayunan langkahnya lalu menyelinap di balik rimbunnya rumput liar dan batang pohon yang dijadikannya tempat bersembunyi.


"Wah, banyak cewek, Brother!" seru Ucup begitu senang mendengar suara jenaka dari para gadis yang bersenandung dan bercanda ria, mandi di sungai.


Terlihat olehnya empat gadis cantik yang sedang bermain air di aliran sungai yang jernih dikelilingi bebatuan. Beruntungnya, tidak ada satu pun dari keempat gadis itu yang memakai busana, semuanya polos memperlihatkan kemolekan tubuh yang putih berkilau tersorot cahaya matahari pagi.


"Aku harus meralat kata-kataku. Biarpun tidak kutemukan kopi dan teman-temannya, aku bahagia berada di alam ini, he-he." Ucup bersembunyi di balik pohon besar, tubuhnya tertutupi rumput liar, dan hanya menampakkan kepalanya saja. Itu pun masih sukar diketahui oleh keempat gadis jika saja ada salah seorang gadis yang sengaja memperhatikan ke arah Ucup berada.


Satu per satu diperhatikan Ucup dengan begitu detail seperti sedang menilai bintang film dewasa. 


Gadis berambut pirang yang selalu mengibaskan rambutnya yang basah itu memiliki wajah tirus dan tubuh yang ramping. Usianya sekitar 17 tahun, perabotannya bernilai 7/10. Lumayan untuk gadis yang baru mekar.  


Gadis kedua di sebelahnya berusia sekitar 20 tahun. Memiliki rambut hitam nan lebat, wajahnya mirip dengan Lisa Blackcurrant, perabotannya bernilai 8/10. Cukup di genggaman tangan Ucup.


Dan dua gadis lainnya yang saling berhadapan terlihat seperti gadis kembar. Wajahnya sangat cantik dengan rambut yang terikat ekor kuda. Perabotannya bernilai 9/10 karena bentuknya yang indah dan memanjakan mata Ucup.


"Lord Ucup, apa tidak ada hal lain yang bermanfaat untukmu daripada mengintip mereka mandi?" tegur Pangeran Xiao Li Dan tidak menyukainya.


"Kau ini seperti bukan pria saja," ketus Ucup merasa terganggu mendengar suara Pangeran.


"Tinggalkan mereka atau aku tidak akan membantumu lagi!" 


Ucup mendengus sinis lalu keluar dari persembunyiannya. Namun, begitu Ucup keluar dari persembunyiannya, salah seorang gadis melihatnya dengan mata membola.


"Haa! Lihat di sana ada pria mesum!" teriak salah seorang gadis menunjuk ke arah Ucup berada.


Sontak saja teriakannya membuat ketiga gadis lainnya terperanjat malu dan secepatnya mereka semua mengenakan pakaian. Ucup sendiri hanya tersenyum kecut tanpa memedulikannya, ia berjalan santai seolah tidak terjadi sesuatu.


"Hei, berhenti!" pekik lantang seorang gadis berlari mengejar Ucup.


Tiba-tiba saja keempat gadis itu sudah berdiri di belakang Ucup dengan ujung pedang yang mengarah ke leher sang pemuda. Namun begitu Ucup membalikkan badan, keempat pedang terjatuh serentak. Wajah keempat gadis bersemu merah tercenung menatap ketampanan yang takpernah mereka temui sebelumnya.