
Setelah kepergian dayang istana, Putri Sophiana Xian langsung bergegas mengganti pakaian dan merias diri.
Di aula istana, Ratu Sandria Luang bersama dengan Pangeran Rendria Xian dan beberapa pejabat istana lainnya, berdiri menyambut kedatangan Raja dan kedua tamunya. Namun ketika semua orang menyambut ketiganya dengan begitu hangat, Pangeran Rendria Xian justru terdiam melihat sosok cantik seorang gadis yang berdiri di samping Ucup.
“Mengapa aku tidak pernah melihatnya ketika berkunjung ke Kota Krantis? Kalau saja aku mengetahui ada kecantikan yang begitu sempurna di sana, tentunya aku akan lebih sering berkunjung,” gumamnya dengan sorot mata yang tak lepas dari kecantikan Lang You.
Tak lama kemudian, Putri Sophiana Xian memasuki aula dengan penampilan dan langkahnya yang anggun. Semua orang di aula tercengang melihat keanggunan sang putri yang berpenampilan sangat berbeda dari biasanya.
Raja Orx Xian bersama istrinya Ratu Sandria Luang mengetahui maksud dari penampilan berbeda yang ditunjukkan oleh sang putri. Keduanya tersenyum penuh arti.
Sementara Putri Sophiana Xian yang menyadari tatapan kagum dari semua orang langsung menundukkan wajahnya karena malu. Ia berjalan cepat ke arah kedua orang tuanya. Akan tetapi, ia kurang berhati-hati dalam melangkah. Ketika berada di dekat Ucup, sang putri sekilas menolehnya tanpa memperhatikan langkah kaki yang terlalu cepat. Alhasil, kakinya tersandung sendiri lalu terjatuh. Ucup yang berada di dekatnya dengan spontan langsung menangkap tubuh Putri Sophiana Xian.
Wajah keduanya hampir bersentuhan, dengan tatapan yang terkunci. Sang putri begitu pucat, jantungnya berdetak kencang hingga terdengar jelas di telinga Ucup. Begitu pun dengan napas sang putri yang memburu tidak beraturan. Ucup dapat merasakan embusan hangat menerpa wajahnya.
Semua orang yang melihatnya tersenyum senang, kecuali Lang You yang begitu gelisah melihat adegan romantis dari keduanya. Kesal melihatnya, Lang You melangkah pergi meninggalkan aula istana. Ia duduk di kursi taman istana dengan hati yang terbakar cemburu.
Begitu pun dengan Putri Sophiana Xian yang berlari kembali ke kamarnya. Perasaannya terbalik dengan Lang You, sang putri begitu bahagia mengingat kembali sang pemuda tampan yang mendekapnya.
Tak lama berselang, Pangeran Rendria Xian keluar menyusul Lang You ke taman istana, menjadikan suasana di aula istana menjadi canggung.
“Raja dan Ratu, tidak ada lagi yang dapat aku lakukan di sini. Terima kasih atas semuanya. Aku undur diri!” pamit Ucup.
“Tunggu, Lord Ucup! Tak bisakah untuk tinggal beberapa hari lagi di istana?” Raja Orx Xian berusaha menahannya.
“Kami semua belum menyambutmu dengan baik,” sambung Ratu Sandria Luang ikut menahannya, namun pandangannya malah tertuju ke bawah Ucup.
Ucup menggelengkan kepala dan berkata, “Aku meninggalkan adik-adikku di kapal selama beberapa hari ini. Maafkan aku, Raja, Ratu!”
Raja Orx Xian dan istrinya tampak begitu kecewa mendengarnya. Meskipun demikian, keduanya tidak bisa lagi untuk terus menahannya.
“Yang Mulia, izinkah hamba mengantar Yang Mulia kembali ke permukaan!” pinta Xanti.
“Tidak perlu,” kata Ucup menolaknya.
Ucup kemudian menggerakkan kedua tangannya, ia menggunakan hukum ruang untuk kembali ke kapal.
“Berlian, Susi!” panggil Ucup begitu menapaki lantai kapal.
Ucup mengerutkan kening tidak merasakan kehadiran keduanya. Ia kemudian mendongak menatap langit. Terlihat Long An tengah melesat turun menghampirinya. Begitu dekat, kedua gadis melompat dari punggung Long An dan langsung meluruh memeluk Ucup.
“Kakak jahat!” kesal Berlian sambil menarik rambut Ucup.
“Maafkan aku, terlalu lama meninggalkan kalian,” kata Ucup lalu memeluk erat keduanya.
Suasana alam tampak begitu bersahabat, pelayaran pun kembali dilanjutkan. Dari atas kapal, Ucup disuguhkan dengan keindahan yang memukau dari lautan yang tak berujung. Air laut yang biru kehijauan membentang sejauh mata memandang, dan sinar matahari yang berkilauan memantulkan cahaya gemerlap di permukaannya.
Ombak-ombak yang perlahan bergelombang membawa perasaan kedamaian, menciptakan pemandangan yang begitu memukau. Keindahan lautan ini adalah bukti betapa luasnya alam semesta dan betapa kecilnya manusia dalam kerumitannya, dan Ucup merasa terkagum-kagum oleh keajaiban alam yang dia lihat.
Berhari-hari terus terlewati tanpa adanya rintangan yang berarti. Hingga tak terasa, pelayaran akan mencapai batas akhirnya di sebuah pulau yang kini mulai nampak.
“Kak Ucup, lihat di sana ada pulau!” teriak Berlian terus menunjuk ke arah depannya.
Ucup hanya tersenyum membalasnya. Dalam pikirannya, ia terus mengingat hal yang mengganjal di hatinya. Xue Xie yang berada di dekatnya terus memperhatikan perubahan raut wajah Ucup. Penasaran dengan apa yang menjadi beban pikiran pemuda yang disayanginya.
“Kak Ucup, ada apa?’ tanya Xue Xie ingin tahu.
Belum sampai kapal menepi di tepian pantai, suasana alam tiba-tiba berubah drastis. Angin laut yang semula sejuk dan menenangkan berubah menjadi angin yang mencekam dan membuat tubuh menggigil.
Langit yang cerah berubah mendung dan mendalam, sementara ombak-ombak laut mulai menggeliat dengan ganas. Di tengah ketegangan alam ini, sosok misterius dan anggun muncul dengan tiba-tiba di langit.
Ucup dan kedua adiknya langsung siaga mewaspadai kehadiran sosok yang membuat alam begitu mencekam.
Wuzz!
Tiba-tiba saja sosok itu sudah berada di depan ketiganya, menampilkan senyuman yang begitu menenangkan jiwa. Alam pun kembali kondusif.
“Guru,” gumam Ucup mengenalinya.
Sosok yang muncul adalah gurunya, Dewi Nura yang nampak begitu anggun dan memesona.
“Bocah Tampan, mengapa kau membuka segel semesta?” tegur sang dewi.
“Aku sengaja melepasnya untuk membalas beast hiu yang berani menelanku ke dalam perutnya,” kilah Ucup tanpa merasa bersalah.
Dewi Nura mendengus lirih mendengarnya, lalu melangkah mendekati Ucup dengan tatapannya yang sedingin es.
“Nona-Nona, aku pinjam Ucup sebentar,” kata Dewi Nura yang langsung menghilang dari kapal bersama Ucup.
Ucup dan Dewi Nura kini berada di sebuah taman bunga yang begitu elok.
“Selamat datang di alam jiwaku, Tampan,” ucap Dewi Nura.
“Terima kasih, Guru. Keindahan alam jiwa ini sama indahnya dengan pemiliknya,” balas Ucup mengagumi tempat yang dipijaknya.
“Jangan coba-coba merayuku …. Ada sesuatu yang akan kuberikan kepadamu.”
Ucup mengerutkan kening sambil mengusap dagunya.Ia pun berkata, “Aku tidak merayumu, Guru. Namun Guru selalu menyebutku tampan, Bukankah itu artinya Guru sedang menggodaku?”
“Kau!” kesal Dewi Nura lalu mengeluarkan sebuah bola energi berwarna putih yang memancarkan cahaya kebiruan.
“Ini adalah inti jiwa yang harus kauberikan kepada Raja Orx Xian. Tanpa adanya inti jiwa, samudera akan mengalami goncangan keras yang mengakibatkan bencana besar di semesta alam,” imbuh sang dewi langsung menjulurkannya ke hadapan Ucup.
“Baik, Guru. Aku akan kembali ke Istana Samudera untuk menyerahkannya,” balas Ucup seraya mengambilnya dan memasukkannya ke alam jiwa miliknya.
Senyum indah merekah dari bibir tipis nan merah Dewi Nura, memancarkan aura dewi dan kecantikan yang sempurna. Keduanya saling memandang dengan sorot mata yang penuh makna, sebagai dua jiwa yang terhubung oleh takdir.
“Guru,” lirih Ucup.
“Panggil saja namaku,” balas sang dewi.
“I-iya, Guru … ma-maksudku, Nona, eh, Nura. Ya ampun!” Ucup tampak begitu gugup dibuatnya.
Dewi Nura menatap Ucup dengan sorot mata yang penuh arti dan hasrat yang menggebu. Tanpa kata-kata, sang dewi tiba-tiba melangkah mendekati Ucup dan memeluknya dengan penuh kasih sayang. Pelukannya terasa hangat dan lembut, seolah-olah memancarkan ketenangan dan kehangatan.
Kemudian, dengan gerakan yang penuh kelembutan, Dewi Nura mengecup Ucup lembut di bibirnya. Kecupan yang berlanjut menjadi ciuman itu seperti sebuah janji yang tak terucapkan, dan Ucup merasakan getaran energi yang kuat melewati dirinya saat bibir mereka bertemu, saling memagut.
Momen pertemuan yang intens antara dua jiwa yang saling terikat oleh takdir, dan Ucup merasa dirinya hanyut dalam keajaiban yang diciptakan oleh sang dewi.