
Setelah mengatakannya, Onah menampilkan senyuman yang menggoda seraya membusungkan dadanya sehingga Tetua Sein Dat sulit untuk menolaknya.
Sementara itu, Tetua Sein Ang dan juga Bo Dong tampak begitu geram melihat perilaku Onah yang mudah berpaling dari keduanya.
“Aku menginginkanmu menjadi istriku bukan menjadi pelayanku. Kemarilah!” kata Sein Dat menjulurkan tangan.
Onah menyambutnya dengan senyumannya yang menggoda. Tetua Sein Dat langsung merangkulnya, lalu membawanya masuk ke dalam markas sekte sambil meraba bongkahan indah milik Onah yang membuat Sein Ang dan Bo Dong terbakar amarah. Namun apa daya, Tetua Sein Dat merupakan salah satu tetua yang sangat dihormati di Sekte Serigala Iblis. Keduanya hanya bisa mengikuti Tetua Sein Dat dan Onah yang berjalan di depannya dengan amarah yang terbungkam.
Di dalam ruang utama sekte sangat ramai oleh kehadiran seluruh anggota sekte yang telah kembali dari perjalanan misi maupun dari cabang-cabang perwakilan sekte di seluruh wilayah Benua Matahari.
"Calon jenazah," gumam Ucup.
Begitu Tetua Sein Dat melangkah ke barisan terdepan, semua mata tertuju ke arah gadis cantik yang berjalan di sampingnya. Onah yang sadar menjadi pusat perhatian, melancarkan aksinya dengan membusungkan dada besarnya dan berjalan lenggak-lenggok menggoyangkan pinggulnya, mirip seperti bebek yang berjalan.
Aksinya itu berhasil membuat semua mata pria tergoda ingin memilikinya, namun reaksi berbeda ditunjukkan oleh para wanita anggota sekte yang mendengus sinis melihat tingkah sang gadis. Andai saja tidak ada para iblis yang berbaris di hadapan mereka semua, tentunya suasana akan menjadi ricuh.
“Seleramu sangat bagus, Tetua Sein Dat, namun alangkah baiknya jika gadis itu dikorbankan kepada kami. Tentu, kami akan langsung menjadikanmu sebagai ketua sekte yang baru,” ujar seorang iblis pemilik mata besar dan berwarna merah pekat menawarkannya.
Gamang juga hati Sein Dat memikirkan tawaran yang tidak akan datang dua kali itu. Menjadi ketua sekte merupakan jabatan tertinggi yang tidak mungkin bisa ditolak oleh siapa pun. Ia pun tidak ingin berpikir panjang untuk menuruti permintaan para iblis.
“Gadis sepertinya masih bisa hamba cari lagi. Jika memang Yang Mulia menginginkannya, aku tidak mungkin bisa menolaknya.” Sein Dat kemudian membawa Onah ke hadapan para iblis.
“Tunggu!” pekik lantang Sein Ang menahannya.
“Gadis itu adalah istriku yang direbut paksa oleh Tetua Sein Dat. Aku tidak akan menerimanya menjadi ketua sekte, karena hak itu merupakan milikku,” tegas Sein Ang dengan lantang.
Wuzz!
Salah seorang iblis menarik Tetua Sein Ang dengan paksa.
“Betulkah apa yang dikatakannya, Tetua Sein Dat?” tanya si iblis bermata merah.
“Ha-ha! Yang Mulia bisa menanyakan langsung kepadanya.” Sein Dat melirik ke arah Onah yang berdiri di depannya.
Semua mata langsung tertuju pada si cantik Onah.
“Ma … maafkan hamba, Yang Mulia. Hamba belum menjadi istri siapa pun. Namun hamba memilih untuk menjadi istri dari Tetua Sein Dat,” kata Onah seadanya.
Pandangan mata langsung beralih ke arah Tetua Sein Ang yang begitu gugup dan menggigil tubuhnya.
“Tetua Sein Dat, habisi dia!” titah si iblis mata merah.
“Dengan senang hati, Yang Mulia.”
Selesai mengatakannya, Tetua Sein Dat langsung menebas tubuh Sein Ang dengan sekali ayunan pedang. Mengerikan! Tubuh Sein Ang terbelah lima dalam sekali tebasan. Semua mata berbinar melihat kematian Sein Ang, dan hal itu pun membuat semua anggota sekte meyakini bahwa Tetua Sein Dat memang layak menjadi seorang ketua sekte yang baru.
Begitu pun dengan para iblis yang tidak harus mencari kandidat lain untuk mencari ketua sekte yang baru. Dengan demikian, Tetua Sein Dat dinobatkan secara langsung oleh para iblis menjadi ketua sekte. Tidak ada satu pun anggota sekte yang menolaknya. Akan tetapi, sebelum perayaan dilangsungkan, para iblis kembali ke modus serius meminta lebih dari seratus korban untuk dibawa ke alam iblis.
“Yang Mulia, berikan hamba waktu tiga hari untuk mendapatkannya. Apabila dalam waktu tersebut, hamba tidak memenuhi janji, Yang Mulia bisa mengambil nyawa hamba dan semua bawahan hamba di divisi rahasia,” ujar Sein Dat.
“Ha-ha! Kau memang pintar bernegosiasi. Biasanya kami tidak menerima itu, namun karena kau baru saja menjabat menjadi ketua sekte, maka kami akan menuruti keinginanmu untuk memberikan waktu sebagai hadiah untukmu,” balas seorang iblis berkuping kelelawar.
“Terima kasih atas kebijaksanaan dari Yang Mulia,” timpal Sein Dat dengan membungkuk.
Setelah mendapatkan keputusan, acara perayaan pun dilaksanakan oleh semua anggota sekte bersama rombongan para iblis di tempat yang sama.
Darah dan daging hewan mentah menjadi sajian spesial semua orang yang merayakannya. Sementara itu, Onah berada di tengah-tengah para iblis yang memintanya untuk melayani mereka semua dengan menuangkan anggur darah.
“Brother Xiao, apa kamu punya ide untukku?” tanya Ucup di sela melayani para iblis.
“Bukankah sudah kamu rencanakan, Lord Ucup?” tanya balik Pangeran Xiao Li Dan.
“Aku lupa,” jawab Ucup singkat.
“Habisi saja semuanya!” kata Pangeran Xiao Li Dan tidak mau ambil pusing.
“Itu tidak menyenangkan. Sudahlah, biar aku memikirkannya sendiri.”
Ucup kembali fokus menjadi Onah yang cantik jelita. Ia memperhatikan para iblis yang terbahak-bahak menikmati pesta darah. Dalam benaknya ia terus memikirkan rencana yang epik untuk menghabisi mereka semua. Namun, tiba-tiba saja terjadi keributan di antara anggota sekte yang terlihat sedang mengepung seseorang. Anehnya, para iblis seolah tidak peduli dengan keributan yang terjadi. Mereka terus saja minum sambil tertawa.
“Yang Mulia, aku ingin melihatnya,” kata Onah tanpa menunggu jawaban, ia berlari menghampiri keributan.
Terlihat olehnya, Bo Dong tertawa keras setelah berhasil memenggal kepala Ketua Sekte. Tak lama berselang, keanehan terjadi. Tubuh Ketua Sekte yang tak berkepala kembali bangkit lalu mengambil kepalanya yang tergeletak dan memasangnya kembali.
“Brother Xiao, mengapa bisa begitu?” tanya Ucup begitu antusias ingin mengetahuinya.
“Cultivator jalur iblis. Seperti itulah mereka yang menembus ranah Immortal Bintang Perak,” jawab Pangeran Xiao Li Dan menjelaskan.
“Ya, bahkan cultivator dewa merupakan buruannya.”
“Aku jadi ingin mengujinya. Bukannya mereka akan hancur dengan Api Ilahi?”
“Untukmu tidak perlu, karena energi semesta bisa menghancurkan mereka dengan mudah. Lepaskan saja segel energimu untuk menghancurkannya!”
“Di mana serunya, Brother? Aku tidak mau seperti itu, aku akan coba memaksimalkan kemampuan si somplak.”
“Ya, itu lebih baik,” kata Pangeran Xiao Li Dan, “tapi kamu harus membangunkannya.”
Ucup menggaruk-garuk kepalanya memikirkan cara untuk menarik pedangnya. Memasuki alam jiwa untuk meminta Xue Xie membangunkannya tentu tidak mungkin karena harus meninggalkan lokasi. Ucup mengedarkan mata mengamati setiap anggota sekte yang sedang berseru melihat kekejaman Ketua Sekte yang mempermainkan Bo Dong.
Pandangannya berhenti pada sekelompok wanita yang disinyalir merupakan satu divisi dalam naungan sekte.
“Mereka bisa aku manfaatkan untuk menarik pedang,” gumam Ucup lalu mendekatinya.
“Hei, lihat! Ada tumbal iblis yang mendekati kita,” kata seorang wanita menyerukan.
Semua wanita langsung melirik Onah dengan pandangan yang sinis. Mereka iri melihat kecantikan Onah yang menjadi pusat perhatian para lelaki.
Dua wanita langsung menarik Onah ke tengah-tengah kelompoknya.
“Ketua, sepertinya gadis ini mencari mati, kita harus membuatnya menderita sebelum dibawa para iblis,” cetus wanita bergaun hitam yang lumayan cantik.
“Tak perlu,” tegas wanita beralis tebal seperti ulat daun pisang, “biarkan saja dia jadi mainan para iblis.”
Wanita yang dipanggil ketua itu menarik baju Onah dan mendekatkan wajah Onah tepat di hadapannya.
“Katakan, apa tujuanmu menghampiri kami?” tanya sang ketua menatapnya dengan tajam.
“Aku mau mengejek kalian semua pemilik bukit kecil, ha-ha-ha!” Onah terpingkal-pingkal.
“Kurang ajar!” geram sang ketua.
Plak!
“Tamparanmu cukup kuat juga, tapi itu tak akan membuat bukitmu besar. Ha-ha!”
Plak! Plak!
Kembali Onah mendapatkan tamparan keras dari sang ketua.
“Gadis bodoh! Untuk apa mempunyai dada besar jika hanya akan menjadi tumbal para iblis?”
“Setidaknya aku akan mati dengan bahagia karena memiliki dada montok. Kalian? Ah, sudahlah! Siapa yang mau melirik kalian?”
“Ketua, kita habisi saja gadis bodoh ini!” kata seorang wanita yang dari tadi menahan kesal.
Sang ketua menyeringai sinis menatap Onah dengan begitu lekat. Ia kemudian mengalihkan pandangan ke arah anggotanya.
“Mei Lin, kemari!” ucapnya.
“Saya, Ketua,” sahut sang wanita yang terlihat masih muda menghampirinya.
“Tunjukkan milikmu!” imbuh si ketua.
“Ba … baik, Ketua,” ucap Mei Lin begitu gugup.
Beberapa wanita lainnya langsung membentuk barikade melingkar untuk melindunginya dari pandangan para lelaki. Setelah cukup aman, Mei Lin langsung menyingkap gaun atasnya, menunjukkan keindahan miliknya yang terpampang di depan Onah.
Kedua mata Onah melebar melihatnya, dan ia berkata, “Sempurna!”
“Ha-ha-ha! Kau sudah melihatnya sendiri, bagaimana bentuk indah sesungguhnya tanpa harus besar seperti punyamu. Enyahlah, sebelum kami menyiksamu!” ujar sang ketua merasa puas bisa membuat malu si gadis.
Onah tersenyum lalu menarik pedang dari adik monsternya yang memberontak. Semua wanita yang melihatnya terkejut tidak bisa berkata-kata.
Slash!
Dengan cepat, Onah membabat habis semua wanita di sekelilingnya, menyisakan seorang wanita yang dibiarkannya hidup. Wanita itu tak lain adalah Mei Lin yang telah menunjukkan keindahan miliknya.
“Hei, lihat di sana!” teriak seseorang menunjuk ke arah Onah dan Mei Lin.
Semua anggota sekte langsung mengalihkan pandangan ke arah Onah. Mereka semua terbelalak melihat para wanita dari satu divisi tergeletak tak bernyawa.