
Setelah itu, Ucup bersama belasan bule duduk berbincang di tepian danau sambil menunggu mentari terbit dari ufuk timur. Tak lupa juga ia memanggil Feng Ying untuk turun bersama Berlian. Sementara itu ketiga monster kecil sudah berada di pangkuannya.
Dari perbincangan bersama para bule, Ucup menjadi tahu dirinya kini berada di benua yang dulunya hanya ditempati oleh beasts monster; yakni Benua Intibumi, namun sekarang berganti nama menjadi Benua Alexandria, alih-alih menamakannya dengan nama Kalandiva yang sebelumnya menjadi ratu para beasts monster yang menguasai benua ini. Hal itu didasari dari kebencian bangsa iblis setelah mengetahui sang ratu merupakan kaki tangan Kaisar Langit.
Beberapa tahun setelah perang usai, banyak orang dari berbagai wilayah di alam fana yang bermigrasi ke benua Alexandria untuk memulai kehidupan baru.
Kondisi alam yang dipenuhi energi spiritual murni dan aura mistis membuat orang-orang yang tinggal di Benua Alexandria mengalami perubahan fisik yang signifikan. Adapun nama-nama penghuninya yang terkesan seperti bule di Bumi merupakan percampuran dari berbagai ras di seluruh alam fana.
Uniknya di benua ini tidak seperti di Benua Matahari yang menjadi tempat perburuan bangsa iblis. Di sini, para iblis tidak menyerap energi spiritual para cultivator, mereka melakukan penyebaran sihir sebagai upaya untuk menguasai penghuninya. Bisa terlihat dari terbentuknya sekte-sekte kegelapan yang menjadi kaki-tangan bangsa iblis. Meskipun demikian, tidak semua penghuninya mau tunduk menjadi budak bangsa iblis, sebagian dari mereka terus berjuang melawan tirani bangsa iblis walaupun banyak korban terus berjatuhan di setiap waktunya.
Ucup semakin menguatkan tekad untuk memberantas semua sekte kegelapan dari benua yang ditempatinya kini.
Tak terasa, mentari pagi menampakkan diri dengan sempurna di ufuk timur. Para bule bersiap untuk kembali pulang ke rumahnya masing-masing.
“Saudara Ucup, terima kasih atas kesediaannya membantu kami,” kata Cullen Edward mewakili yang lainnya.
“Tidak masalah, Paman. Semoga kita dapat berjumpa kembali,” sahut Ucup lalu bersalaman dan berlanjut dengan yang lainnya.
Selepas kepergian para bule, Ucup masih berdiri bersama Berlian menatap lurus ke arah danau. Wajahnya tampak begitu dingin tanpa ekspresi. Berlian yang terus memperhatikannya merasa heran.
“Apa yang Kakak pikirkan?” tanya Berlian memecah hening.
“Aku rindu minum kopi,” kata Ucup mengungkapkan isi hati.
“Oh,” sahut Berlian, singkat.
“Ayo kita lanjutkan petualangan kita!”
“Ayo, Kak!”
Ucup mengangguk lalu menoleh ke arah Feng Ying dan berkata, “Kita akan pergi ke utara. Kamu pergilah dahulu dan tunggu kami di kota terdekat.”
“Baik, Lord Ucup, tapi apakah tidak sebaiknya kita pergi bersama? Waktu tempuh ke kota terdekat di utara bisa memakan waktu cukup lama,” ujar Feng Ying.
“Tidak masalah. Aku harus memastikan kondisi alam yang kulewati tidak mengalami kerusakan, karena itu tugasku di sini,” jelas Ucup.
“Maafkan aku, aku melupakan itu,” timpal Feng Ying merasa malu.
“Pergilah!” pinta Ucup.
Feng Ying mengangguk lalu mengepakkan kedua sayapnya dan beranjak terbang ke cakrawala. Sementara Ucup, Berlian, dan ketiga monster kecil mulai berjalan ke arah utara. Perjalanan pun begitu sangat menyenangkan. Berlian tampak begitu bahagia, ia terus berlarian di sepanjang ilalang setinggi dada yang dipenuhi bunga-bunga liar. Sesekali ia menangkap kupu-kupu yang hinggap di ujung ilalang, namun tak sekalipun ia berhasil menangkapnya.
Tanpa terasa, hari demi hari terus berlalu. Waktu seperti tak pernah singgah di mana pun. Semuanya berlalu begitu saja. Suatu ketika, Berlian yang berlarian mengejar kupu-kupu tiba-tiba saja menghentikan langkahnya. Ia menatap ke arah hutan yang dipenuhi pohon-pohon raksasa yang menjulang ke langit.
“Adik Lian, ada apa?” tanya Ucup yang mempercepat langkah mendekatinya.
“Pohon-pohon besar itu sangat menyeramkan.” Tunjuk Berlian ke arah hutan.
“Apa kamu takut?” Ucup mengangkat dagu Berlian dan menatapnya dengan lekat.
Berlian menggeleng pelan seraya tersenyum. Sorot matanya begitu teduh membalas tatapan sang pemuda yang nampak begitu mengkhawatirkannya. Tiba-tiba saja sebuah kecupan mendarat mulus di pipi Ucup. Berlian pun kembali berlarian di antara ilalang ke arah hutan di depannya.
Ucup terus memperhatikannya, seorang gadis yang kini ia anggap sebagai istrinya itu berlarian dengan riang. Rambutnya beriap dan sesekali berjingkat-jingkat ketika ia melihat seekor kupu-kupu yang hinggap di dedaunan.
“Di dalam sana banyak hewan yang bisa kita temukan. Apa kamu sudah tidak ingin mencicipi masakanku?” kata Ucup mencoba mengalihkan perhatian sang gadis.
Berlian langsung menoleh dengan tatapan yang berbinar. Ucup tersenyum lalu menarik tangannya dan membawanya memasuki hutan.
Senja semakin mengambang dalam dan nampak akan dijemput malam. Semilir angin berembus lirih di antara pepohonan, makin lama makin terasa dinginnya menusuk tulang. Keduanya bersama tiga monster kecil terus melangkah membuat rintisan jalan menelusuri tiap jengkal yang dipenuhi rambatan akar pohon yang melintang.
Makin jauh ke dalam hutan, makin gelap suasananya. Ucup membuat dua buah bola api yang mengiringinya berjalan di tengah kegelapan.
“Kak Ucup, sudah lama kita berjalan, mengapa pagi belum juga tiba?” tanya Berlian.
Ucup menengadah memperhatikan langit di atasnya, namun rimbunnya pepohonan dan tebalnya kabut membuat sinar sang surya tak mampu menembusnya.
“Tak perlu dihiraukan, biarkan saja alam bekerja dengan semestinya!” ujarnya.
Ucup menggenggam jemari tangan Berlian, kembali membawanya melanjutkan perjalanan menyusuri hutan yang kegelapannya tak pernah pudar.
“Lord Ucup, 500 tombak di arah depan ada seseorang yang berlarian kemari. Tampaknya ia sedang dikejar oleh dua kuda di belakangnya,” kata Pangeran Xiao Li Dan yang baru terdengar kembali suaranya.
“Terima kasih informasinya, Brother Xiao,” sahut Ucup merasa senang.
“Adik Lian, sebentar lagi kita akan bertemu musuh. Aku ingin kamu yang menghadapinya,” kata Ucup tiba-tiba.
Berlian mengerutkan kening mendengarnya. Ia memicingkan mata melirik Ucup dengan heran dan berkata, “Mengapa harus aku?”
Ucup hanya tersenyum saja tanpa menjawabnya. Tak lama kemudian, terdengar jeritan histeris dari seorang gadis yang menggema di seluruh hutan, namun suaranya langsung menghilang tertelan sunyi.
“Sepertinya ia tertangkap,” gumam Ucup, “ayo, kita harus menolongnya!”
Ucup dan Berlian berkelebat ke arah suara. Hanya beberapa hela napas, keduanya sudah sampai tak jauh dari keberadaan tiga orang yang menaiki kuda. Di salah satu kuda yang ditunggangi pria brewok, terdapat tubuh seorang gadis yang tergeletak pingsan di depannya.
“Kak, mengapa tidak langsung menampakkan diri di depan mereka?” Berlian tampak tidak sabar untuk segera menolong sang gadis.
“Aku memiliki ide,” kata Ucup yang menjentikkan jari ke arah tiga kuda.
Tiba-tiba saja ketiga kuda tidak dapat bergerak dari tempatnya.
“Brengsek! Mengapa begini?” maki si pria brewok.
Kembali si pria brewok menyentakkan tali kekang kudanya. Namun, kudanya tak bergerak sedikit pun. Dengan begitu kesalnya, si pria brewok langsung melompat dari punggung kuda.
“Bajingan mana yang berani mati mengerjaiku?” dengus si brewok lantang, kemarahannya sudah berada di ubun-ubun kepalanya.
Begitu mendengar kegeraman si brewok, dua pria lainnya langsung bergegas turun dari kuda. Pandangan ketiganya tajam, mencoba menembus pekatnya kegelapan hutan yang berkabut.
“Bajingan! Keluar kau!” pekik lantang si brewok begitu kesal.
Pria brewok ini tersentak menyadari kudanya tertotok oleh seseorang, sehingga tidak bisa bergerak. Di sisi lain, Ucup melirik Berlian dan memintanya untuk menghadapi ketiga pria itu. Tanpa berpikir lagi, Berlian langsung berkelebat menampakkan diri di depan ketiga pria yang langsung terpana melihat kecantikannya. Tampak ketiga pria itu sama kakunya dengan kuda mereka yang tertotok.
“Ada apa teriak-teriak? Sudah tua bukannya duduk di bale bambu sambil selonjoran, malah teriak di tengah hutan,” ejek Berlian.