Pendekar Pedang Somplak

Pendekar Pedang Somplak
Mutiara Inti Jiwa


Ucup sedikit kewalahan mengimbangi permainan sang dewi yang begitu mendominasi, terus berputar menelusuri dinding rahang, hingga membelit dan meliuk-liuk seperti ular yang menari di dalam sangkar. 


Hebatnya lagi, durasi permainan berlangsung cukup lama. Permainan yang tak pernah Ucup duga bisa sehebat yang diperagakan oleh sang dewi. Hingga beberapa saat kemudian, pagutan keduanya terlepas, menyisakan kebangkitan sang monster yang semakin liar berontak dari balik kain.


Sayangnya, tidak sekalipun sang dewi ingin meliriknya. Tatapannya masih tertuju ke wajah Ucup yang merona namun sedikit pucat setelah mendapatkan serangan liar dari sang dewi. Ucup terpaku, mulutnya begitu pegal, rahangnya nyaris kram, dan lidahnya seakan kaku.


“Sejak pergi meninggalkanmu di lembah bunga, aku begitu tersiksa mengingat bayanganmu. Kamu telah meruntuhkan idealisme yang aku pertahankan selama ini. Sebagai seorang pilar semesta, aku tak kuasa menahan hasrat yang selalu menyiksaku,” ujar sang dewi sambil membelai wajah Ucup dengan begitu lembut.


Ucup tampak kesulitan untuk berbicara, ia terus menggerakkan rahangnya agar kembali rileks setelah peraduan yang membuatnya harus mengakui ketangguhan sang dewi.


“Permainan bibirmu sangat mengagumkan. Kita harus mengulanginya lagi. Apa aku harus bertanggung jawab dengan menikahimu, Nona?” tanya Ucup setelah meredakan kekakuan otot rahangnya.


Dewi Nura menggeleng pelan dan berkata, “Aku tidak ingin kehilangan posisiku sebagai salah satu elemen dari pilar semesta. Biarlah ini menjadi yang pertama dan terakhir untuk kita.”


“Lalu bagaimana dengan adikku ini?” Ucup menunduk melihat iba pada adiknya.


Dewi Nura tersenyum, namun lagi-lagi ia menghindari pandangannya dari sesuatu yang akan membahayakan dirinya. Bukan bahaya seperti gadis iblis yang hancur terkena muntahan sang monster, namun ia takut hal itu membuatnya candu dan harus rela kehilangan posisinya sebagai bagian dari pilar semesta.


“Aku sangat menginginkannya, tapi aku tidak bisa melakukannya. Kamu harus memahami diriku,” ujar sang dewi lalu mendaratkan sebuah kecupan di pipi Ucup.


“Apa yang dapat dimaknai dari posisimu sebagai bagian dari pilar semesta? Sementara sekeping jiwamu larut dalam lengang, tercekik sepi, berselimut kepiluan.”


“Cukup! Jangan menyiksaku dengan kata-katamu itu.” Air mata tumpah dengan sendirinya membasahi wajah sang dewi.


“Aku paham.” Ucup menggenggam wajah sang dewi lalu kedua jempolnya bergerak menyapu air mata yang mengalir membasahi wajah cantik sang dewi. 


“Peluk aku!” pinta sang dewi.


Ucup tersenyum simpul menatapnya tanpa menuruti keinginan sang dewi.


“Kenapa? Kamu tidak ingin memelukku?” 


“Bukan, bukan aku tidak ingin memelukmu. Aku bahkan sangat menginginkannya, namun jika pelukan hanya membuatmu semakin rindu dan menangisinya, untuk apa aku lakukan? Hal itu hanya akan membuatmu semakin tersiksa dalam kesendirian.”


“Lalu, apa yang akan kamu lakukan untukku?”


 


“Bukan aku, tapi kamu. Pandanglah aku dengan lekat, tafsirkan menurut hatimu apa yang ada di dalamnya? Kuharap dengan begitu, kamu akan selalu mengingatku dengan tersenyum, bukan dengan tetesan air mata yang membasahi pipimu yang halus dan glowing ini.”


“Kau, kau membuatku bahagia.” Dewi Nura langsung memeluk Ucup dengan begitu erat.


Cukup lama keduanya berpelukan, hingga enggan untuk saling melepaskan. Namun apa boleh buat, pada akhirnya tangan yang melingkar erat harus terlepas jua.


Meski berat, sang dewi membawa Ucup kembali ke kapal. Ditatapnya Ucup dengan begitu lekat dan penuh arti. Sang dewi tersenyum lalu menghilang dari pandangan Ucup. Ucup menatap langit dengan seringainya yang dingin.


“Ilmu ‘Seni Memikat Wanita’ sangat efektif digunakan. Bahkan, aku berhasil menaklukkan seorang dewi tercantik di jagat raya. Terima kasih, Guru, telah menjadikanku buaya unyu-unyu,” gumam Ucup sambil cengengesan.


“Lord Ucup, yang tadi itu apakah kamu hanya bercanda?” tanya Pangeran Xiao Li Dan sedikit kecewa.


“Tidak, aku sungguh serius. Bukankah dalam mengamalkan suatu ilmu tidak boleh bercanda?” kata Ucup membalasnya.


“Ya, selama kamu mau  bertanggung jawab atas semuanya … dan kuharap kamu tidak menggunakannya untuk mempermainkan hati wanita, Lord Ucup.”


“Aku siap bertanggung jawab, selama dia mau menerima konsekuensinya jika harus dimadu olehku.”


Pangeran Xiao Li Dan tidak lagi menanggapinya dan Ucup pun merasa dirinya seolah telah memenangkan pertarungan sengit.


Di belakangnya, Berlian dan Xue Xie datang menghampirinya tanpa menaruh curiga melihat sikap sang dewi yang tidak biasanya.


“Kak Ucup, mengapa sang dewi langsung pergi begitu saja?” tanya Berlian ingin tahu.


"Biarkan saja,” jawab Ucup lalu merangkul bahu kedua adiknya dan membawanya ke dalam.


“Sebentar lagi kita akan sampai di daratan, tapi aku ingin kalian berdua tetap berada di kapal sampai aku kembali dari Istana Samudera,” kata Ucup memintanya.


“Hanya sebentar,” balas Ucup seraya mengelus lembut rambut Berlian.


Sementara itu,  Xue Xie hanya bisa mengangguk dan tersenyum lembut mengiyakan permintaan Ucup. Seketika, Ucup menghilang dari pandangan Xue Xie.


Tiba-tiba saja, Ucup sudah berada di Istana Samudera lalu bergegas melangkahkan kaki memasuki aula istana.


Begitu Ucup memasukinya, tidak ada seorang pun yang berada di aula istana. Ucup mengedarkan pandangannya ke berbagai arah lalu terdiam menatap Lang You dan Pangeran Rendria Xian sedang asyik berbincang di taman istana tak jauh dari aula. Tak ingin mengganggu keduanya, Ucup mengalihkan pandangannya ke arah yang lain.


Tak lama kemudian, seorang pejabat istana memasuki aula, lalu mendekatinya dan berkata, “Salam hormat, Yang Mulia Semesta.”


“Hormat juga, Tuan Ikan,” balas Ucup, “di mana Raja dan Ratu? Bisakah Tuan memanggilnya? Ada hal penting yang harus aku sampaikan.”


“Baik, Yang Mulia. Mohon ditunggu sebentar!” sahut sang pejabat yang langsung berbalik pergi meninggalkannya.


"Tunggu sebentar, Tuan Ikan!" kata Ucup menahannya.


Pejabat itu menghentikan langkahnya lalu berbalik seraya membungkukkan badan.


"Katakan saja, Yang Mulia Semesta!" ucapnya.


"Aku hanya penasaran, kau ini jenis ikan apa? Ikan kembung atau ikan peda?" tanya Ucup sambil memikirkannya.


"Maaf, Yang Mulia, hamba tidak memahaminya," balas si pejabat.


"Lupakan saja," timpal Ucup lalu melambaikan punggung tangannya.


Beberapa saat kemudian, Raja Orx Xian, Ratu Xandria Luang, Pangeran Rendrian Xian, Putri Sophina Xian, Lang You, dan para pejabat istana berkumpul di aula, tak lama setelahnya, Xanti ikut bergabung.


"Karena kalian semua sudah berkumpul di sini, aku tidak akan berbasa-basi lagi," kata Ucup lalu di telapak tangannya keluar mutiara inti jiwa berwarna putih yang memancarkan cahaya kebiruan.


"Yang kalian lihat ini bukanlah lampu taman ataupun lampu jalan raya. Ini adalah Mutiara Inti Jiwa yang akan menjaga kestabilan lautan ... Raja Samudera, terimalah Mutiara Inti Jiwa ini! Di masa depan, mungkin siklus akan berulang," imbuh Ucup menyodorkannya.


Raja Orx Xian berlutut menerima Mutiara Inti Jiwa yang membuat semua orang di istana mengikutinya berlutut secara serentak.


"Terima kasih, Lord Ucup. Kami akan menjaganya sampai ke lintas generasi berikutnya," Ujar Raja Orx Xian dengan mata berkaca.


"Baiklah, aku pamit sekarang. Kalian tidak perlu mengantarku," ucap Ucup.


"Tu-tunggu, Lord Ucup! Izinkan aku ikut bersamamu!" Putri Sophiana Xian berlutut memohon.


"Maafkan aku, Nona. Aku tidak bisa membawamu," sahut Ucup dengan tegas.


Putri Sophiana menangis tersedu dan berucap, "A- aku mencintaimu, Lord Ucup. Kembalilah ke sini, aku akan menunggumu seumur hidupku. Aku tidak akan menikah dengan siapa pun selain denganmu." Semakin deras air matanya mengalir.


"Terima kasih kau mencintaiku, tapi cinta tidak harus memiliki. Berhentilah bersikap seolah aku satu-satunya pria di alam ini! Jangan menutup hatimu untuk yang lain, percayalah aku akan selalu ada bersamamu. Dekaplah hatimu, siapa pun pria yang menikahimu, dia adalah perwakilan diriku," ujar Ucup dengan tatapan lembut.


Putri Shopiana Xian akhirnya luluh dengan kata-kata dan tatapan lembut Ucup. Ucup kemudian menarik tangan puteri sophiana, merangkul pinggangnya lalu mengusap air mata yang membasahi pipi sang putri.


Setelah itu, Ucup menoleh ke arah Lang You dan bertanya, "Nona You, apakah kamu masih ingin ikut denganku?"


"Maafkan aku! Aku tidak jadi ikut denganmu. Aku tidak mau berada dalam bayang-bayang Kak Li Dan," sahutnya dengan yakin dan tangannya semakin erat menggenggam tangan Pangeran Rendria Xian.


Melihatnya, Ucup mengalihkan pandangan ke arah Pangeran Rendria Xian dan berkata, "Pangeran Gurame, aku titipkan Nona You kepadamu. Jaga dan bahagiakan dia untukku. Jangan pernah kau menyakitinya, atau aku akan menjadikanmu ikan goreng sambal matah!"


"Ba-baik, Lord Ucup, aku berjanji akan menjaga, membahagiakan, dan tidak akan pernah menyakitinya" balas Pangeran Rendria x


Xian tanpa ragu.


Ucup mengangguk dan memutar mata melihat semua orang kerajaan.


"Baik kalau begitu, aku harus secepatnya kembali ke permukaan sebelum aku berpikir untuk menjadikan kalian ikan kaleng. See you next time, papayo," kata Ucup lalu menghilang dari pandangan penghuni kerajaan.