Pendekar Pedang Somplak

Pendekar Pedang Somplak
Kota Tiankong


Si pria mata satu menggeram kasar tak tahan mendengar pembalikan fakta yang dilontarkan Ucup. Ia kemudian berkata, “Cun Guk, kita harus membungkamnya dengan kematian!”


Dewa Tampan menggeleng pelan dan berkata, “Dia benar, Comcom.”


“Ha-ha! Akhirnya kau mengaku juga. Sekarang bersiaplah menerima kematianmu, Buaya Sawah!” kata Ucup tegas, namun diselingi dengan kekehan pelan.


“Kau, apa yang kau tertawakan?” tegur Comcom tak senang melihatnya.


“Nama kalian lucu dan menggemaskan.” Ucup kembali tertawa dan semakin keras.


“Pemuda busuk! Kurang ajar kau!” desis Comcom bertambah emosi.


Setelah berkata demikian, Comcom menghentakkan kakinya ke tanah. Gerakannya ringan, namun di luar dugaan, tanah yang dihentaknya bergetar keras.


“Besar juga kekuatanmu, Oncom Bereum. Sebesar perutmu yang buncit itu.” Ucup kembali tertawa dengan keras.


Pupil mata kedua dewa palsu itu membesar, dan napas mereka pun memburu. Ucup mengangkat alisnya, dan tiba-tiba dia bergerak maju dengan cepat. Ini adalah kali pertama sejak pertempuran dimulai, Ucup mengambil inisiatif menyerang musuh.


Sinar biru melintas seperti kilatan cahaya, dan seketika, Cun Guk dan Comcom nanap melihat bayangan seseorang sudah berada di depan mereka. Mereka segera melompat mundur ke sisi kanan dan kiri, dan dua pedang mereka bersama-sama mengayun dengan gerakan diagonal, berusaha melakukan serangan darurat. Namun, serangan mereka hanya mengenai udara kosong, seolah-olah mereka hanya menyerang bayangan semata. 


Sebelum mereka bahkan sempat menarik pedang atau bergerak untuk serangan berikutnya, Comcom tiba-tiba mengejang, suaranya terdengar keras seperti suara sapi yang tengah disembelih, dan darah segar memuntahkan dari mulutnya. Ia pun tersungkur tak berdaya lalu mati dengan mulut menganga.


Jantung Cun Guk terasa membeku saat mendengar teriakan Comcom yang meregang nyawa. Tanpa memperhatikan temannya, Cun Guk dengan cepat melancarkan serangan, menyodok dengan tangannya dan diikuti oleh tendangan beruntun dari kedua kakinya.


Namun sayangnya, dengan gerakan yang aneh, Ucup tiba-tiba menangkap kedua kakinya. Bersamaan dengan itu, Ucup menghancurkan dantian si pria besar hingga membuat Dewa Tampan itu kehilangan kultivasinya. Seakan-akan seperti seorang atlet lempar lembing, Ucup memutar tubuh Cun Guk sekali putaran dan kemudian melemparkan tubuhnya sekuat tenaga.


Wuzz!


Dengan tenang, Ucup menyaksikan adegan mengerikan itu. Seketika, Cun Guk meronta-ronta di udara. Berkali-kali ia mengalirkan energi spiritualnya untuk bisa terbang, namun ia terus gagal. Sekejap kemudian, ia tersadar melihat dantiannya telah hancur. Hancur juga harapannya. Ia kemudian berusaha untuk membebaskan diri dari gaya dorongan keras yang akan merenggut nyawanya. Namun, usahanya sia-sia. Ketika tangan dan kakinya mencak-mencak di udara, itulah saat dirinya membuat penyesalan dan dendamnya menjadi abadi. 


Bugh! Krak!


Punggungnya dengan keras menabrak tebing bukit, dan dampak benturan itu membuat tubuhnya melompat balik ke arah yang berlawanan hingga kembali ke arah Ucup dalam jarak tujuh kaki.


Setelah sejenak diam, Ucup dengan perlahan mendekati Cun Guk yang sekarang tidak lagi berdaya menanti ajalnya tiba. Wajah Cun Guk tampak lucu dan aneh, dengan kerutan-kerutan di kulitnya yang menyerupai telur dadar sehingga tak lagi tampak seperti wajah manusia. Mulutnya terbuka lebar, dan dua gigi taringnya menonjol keluar. Alisnya yang jarang-jarang bergerak mengikuti napas yang tersisa dan begitu berat diembuskannya. Wajahnya dipenuhi darah, dan seluruh tubuhnya bersimbah darah. Bola matanya hampir keluar dari tempatnya dan menatap Ucup dengan pandangan yang hampir terpencar.


Dengan tenang, Ucup menatapnya dan berkata lembut, "Turut berduka cita, Tuan Tampan. Semoga Tuan tidak tenang di alam sana! Amin."


Mata Cun Guk alias Dewa Tampan terbalik dan memucat. Ia menggerutu serak di kerongkongannya dan dengan susah payah ia membuka mulutnya lalu berkata, “Bi … biadab!”


“Terima kasih pujiannya, Tuan,” timpal Ucup lalu menjentikkan jarinya melebur tubuh Cun Guk.


“Ayo kita ke kota!” ajak Ucup yang langsung menaiki punggung Bing Shi, diikuti oleh kedua gadis di belakangnya.


Langit kembali cerah setelah pertarungan berakhir dan kini di bawah terik matahari yang semakin menyengat, Bing Shi mulai mempercepat langkah menelusuri jalan setapak di bawah kaki bukit yang tandus.


“Jane, berapa lama lagi kita akan sampai di kota?” tanya Ucup, pandangannya terus tertuju pada dinding bukit yang menjadi saksi kematian musuh-musuhnya.


“Setelah melewati bukit, kita akan melihatnya. Mungkin sekitar beberapa ratus langkah lagi kita akan sampai,” sahut Jane memperkirakan.


Anggup-anggip Ucup mengetahuinya. Ia kemudian melingkarkan kedua tangannya di dada seraya tersenyum lebar menikmati keindahan alam di sekitarnya. Namun, begitu melewati bukit, Ucup melengak dengan kedua mata yang mencelang. Dari kejauhan terhampar kota kuno yang terselimuti kabut tebal dengan suasana yang terlihat begitu mencekam. Gambaran tentang kota yang dipenuhi keramaian dan memiliki bangunan-bangunan indah nan memesona langsung pupus seketika.


“Jane, kota apa ini?” kembali sebuah tanya terlontar dari bibir Ucup.


“Tiankong,” sahut Jane.


Langkah demi langkah terus terayun hingga mendekati sebuah gerbang batu yang rusak dan retak. Bing Shi meneruskan langkah memasukinya. Langkahnya pelan menyusuri jalanan kota yang dikelilingi oleh bangunan-bangunan kuno yang terlihat terlantar dan sunyi. Udara terasa kental dengan keheningan, hanya dipecah oleh suara angin berbisik yang menerpa dinding batu bangunan.


Tidak ada lagi keceriaan dari wajah Ucup, Berlian, dan Jane begitu memasukinya. Meski tidak menampakkan ketakutan, aura mistis kota menyergap ketiganya dengan atmosfer yang mencekam, seolah-olah ketiganya berjalan memasuki dunia yang berbeda. Suara langkah kaki Bing Shi yang menapaki jalanan berbatu membuat gema di seluruh kota, dan itu terasa seperti pesan yang tak terjawab dari masa lalu yang terkubur dalam dinding kota.


Kabut tebal yang mengitari bangunan-bangunan bersejarah memunculkan bayangan-bayangan yang tampak bergerak di sudut-sudut gelap, menambahkan lapisan kebingungan dalam suasana yang sudah begitu tegang.


Setiap hela napas terasa seperti menguliti lapisan sejarah yang terlupakan dan membiarkan rahasia yang tak terpecahkan mengejar ketiganya dalam setiap sudut kota. Seiring langkah lebih dalam memasuki kota, perasaan mereka semakin mendalam, seolah-olah mereka telah memasuki dunia yang hidup berdampingan dengan misteri dan kesunyian yang tak berujung.


“Aku merasakan banyak kehidupan di kota ini, namun aku tidak melihat ada yang keluar dari balik bangunan. Apakah kamu tahu apa yang terjadi di kota ini?” tanya Ucup kepada Jane, namun Jane hanya menggelengkan kepala tidak mengetahuinya. Ucup kemudian mengajukan pertanyaan yang sama kepada Pangeran Xiao Li Dan melalui alam jiwanya.


Maka, Pangeran Xiao Li Dan menjawab, “Aku belum bisa mengatakan apa pun soal ini, namun kamu akan menemukan jawabannya ketika memasuki salah satu bangunan. Cobalah cari penginapan di sekitar sini!”


Ucup mengangguk lalu memindai setiap bangunan yang dilewatinya. Kembali Ucup dibuat panar melihat isi setiap bangunan yang begitu riuh dengan banyaknya orang yang menempati.


“Manusia macam apa kalian ini? Di siang hari begini tidak ada satu pun dari kalian yang menyambut matahari …. Apakah kalian vampir yang takut terkena sinar matahari?” jengah Ucup dalam hati.


Ucup terus memindai setiap bangunan, dan ia pun menemukan bangunan yang memiliki banyak kamar di lantai atasnya. Setelahnya, ia meminta Bing Shi berhenti di sebuah bangunan kuno cukup besar yang ditunjuknya.


“Kita akan beristirahat di sini,” kata Ucup setelah turun dari punggung Bing Shi.


“Apa Kakak yakin? Suasana kota ini begitu menyeramkan.” Berlian terus memperhatikan bangunan di sekitarnya.


Ucup menyeringai dingin menanggapinya. Ia lalu berkata, “Kalau kamu pernah menonton Twilight, kamu akan terpesona melihat wajah-wajah pucat penghisap darah.”