Pendekar Pedang Somplak

Pendekar Pedang Somplak
Desa Hantu Perawan


Derap langkah kaki sang singa terdengar bagaikan suara gendang yang dipukul pelan namun berirama syahdu, bertalu-talu menyamarkan keheningan malam. Semilir angin berembus cukup kencang di tengah rimbunan semak-semak liar yang menari-nari bagai sekumpulan penari. 


Dari kejauhan terlihat remang-remang cahaya dari sebuah rumah yang tak nampak tertutup kabut. Suasana di sekitarnya terlihat begitu sunyi dan lengang. Hanya desiran angin malam yang terasa begitu dingin dan mencekam.


“Kak Ucup, itu desaku.” Tunjuk Jane ke arah cahaya yang samar terlihat dari kejauhan.


Ucup menyipitkan mata memindai area desa yang ditunjuk oleh Jane, namun tidak ada kehidupan yang ditemukan oleh Ucup.


“Aku tidak merasakan adanya kehidupan di sana. Apa yang terjadi dengan desamu?” sahut Ucup setelah memindainya.


“Apakah mereka semua mati?” Jane mulai merasa cemas. Ia kembali teringat ketika keluarganya terbunuh oleh orang-orang sekte kegelapan.


“Ti-tidak!” racau Jane begitu kalut membayangkan kemungkinan buruk yang terjadi di desanya.


“Tenang saja, kita akan memeriksanya segera,” kata Ucup menenangkannya.


Bing Shi yang memahami kecemasan sang gadis lalu mempercepat langkah ke desa yang dituju. Beberapa langkah berikutnya, mereka pun tiba di gerbang desa tanpa nama. Ucup kemudian turun dari punggung Bing Shi diikuti oleh kedua gadis. Pandangannya tertuju ke arah gerbang yang terbuat dari logam dengan corak random yang terukir memenuhi palang gerbang.


“Desa apa ini, Jane?” tanya Ucup ingin mengetahuinya.


“Hantu Perawan, Kak,” sahut Jane.


Ucup tersenyum kecut mendengarnya, lalu mengalihkan pandangan ke sebuah rumah kayu yang cukup besar sejauh dua puluh tombak di hadapannya. Rumah yang begitu hening dan menyeramkan. Ucup melangkahkan kaki menghampirinya.


“Ini kediaman keluarga Peter,” kata Jane memberi tahu.


Ucup mengangguk dan langsung mendorong pintu yang tertutup rapat.


Krak!


Seketika, Ucup terbelalak melihat lima mayat yang terkapar sejajar di balik pintu. Tubuh mereka membiru namun tidak ada luka yang terlihat di sekujur tubuh kelimanya. Diperhatikannya dengan seksama kelima tubuh yang terkapar itu. Yang berada di posisi paling kiri merupakan seorang pria paruh baya berperut buncit yang hanya memakai celana pendek sepaha. Di sampingnya merupakan seorang wanita yang usianya tidak jauh dari pria tadi. Disinyalir merupakan istrinya. Tiga orang lainnya yaitu seorang pemuda berusia 20-an tahun berpakaian lengkap; seorang gadis remaja berusia sekitar 17 tahun; dan satu lagi seorang anak lelaki berusia di bawah sepuluh tahun. Ketiganya berpakaian lengkap dan terkesan rapi. Terlihat seperti mau menghadiri suatu acara.


Akan tetapi, setelah diamati, tidak ada jejak perkelahian di sekitar rumah. Tidak ada setetes darah pun yang memercik di sekitar lantai maupun dinding rumah. Ucup bingung, Berlian bingung, dan Bing Shi pun bingung. Semuanya bingung. Begitu juga dengan Jane yang tercenung meratap pilu keluarga Peter yang dikenalinya.


Ucup berjongkok di depan tubuh anak kecil yang berada paling dekat dengan pintu. Dipandangnya tubuh sang anak dengan begitu serius dan teliti. Ucup semakin heran dan bergumam, “Tidak ada tanda-tanda penganiayaan, tidak ada luka, bahkan tidak ada nyawanya. Siapa yang membunuh kalian dan bagaimana kalian terbunuh?”


Ucup kemudian berdiri melangkahkan kaki memeriksa setiap penjuru rumah. 


“Tidak ada yang hilang dari rumah ini selain hilangnya nyawa dari para penghuninya,” gumam Ucup setelah memastikan tidak ada indikasi pencurian di setiap ruangan yang diperiksanya.


“Ayo kita periksa rumah lainnya!” seru Ucup.


Di rumah kedua yang berjarak sepuluh tombak dari rumah keluarga Peter. Ucup kembali mendorong pintu untuk melihat kondisi di dalamnya. Hening, tidak ada tubuh yang terlihat di ruang tengah. Ia kemudian berjalan memasuki sebuah kamar yang tertutup rapat.


Krak!


Kembali Ucup dibuat terbelalak melihat dua mayat tanpa sehelai kain tengah melakukan hubungan badan di atas dipan kayu. Sang pria sedang menindih tubuh wanitanya. Meskipun tubuh keduanya masih bertautan, namun tidak bergerak. Ucup pun tidak berharap keduanya tiba-tiba melanjutkan adegannya. Ia kemudian berbalik dan langsung menutup kembali pintu kamar. Berlian dan Jane tampak heran melihatnya.


“Ada apa, Kak?” tanya Berlian.


“Mereka sepasang suami istri yang baru menikah, Dilan dan Lena,” sambung Jane memberi tahu.


“Bukannya Dilan itu pasangannya Milea?” tanya Ucup dengan tatapan serius.


“Hah!” Jane mengerutkan dahi mendengarnya.


Di luar rumah, pandangan Ucup tertuju ke arah jauh di depannya. Ia melihat ada satu tubuh yang terkapar di tengah jalan setapak. Matanya menyipit memastikan kebenaran dari apa yang dilihatnya. Setelah memastikannya, Ucup pun berlari cepat mendekatinya. Benar saja, ia menemukan mayat lagi, membelalak lagi, bingung lagi, bergumam lagi.


Kali ini yang ditemukannya adalah mayat seorang wanita muda, cantik, putih, sintal, namun diam saja, mirip patung manekin.


Seorang wanita yang mati dalam keadaan mata melotot dan mulut menganga, namun tetap saja cantik meski tak bernyawa. Dari kondisinya, si wanita mati dalam ketakutan yang sangat mengerikan. Entah apa yang dilihatnya. Ditanya pun tidak mungkin menjawab.


Tiba-tiba saja Berlian datang lalu menutupi mayat wanita itu dengan selembar kain.


“Kasian ya, Kak. Mana masih muda dan cantik,” celetuk Berlian menatap iba.


Ucup tidak menanggapinya, ia hanya memberikan pandangan sayu dan seketika beralih menatap langit malam. Selepas itu, ia mengedarkan pandangannya ke sekeliling. Gelap, berkabut, dan mencekam.


Pelan-pelan langkah kakinya terayun mendekati sebuah rumah kayu yang telah usang. Bola matanya terus mengamati keadaan sekitarnya. Suasana sunyi senyap menyelimuti seluruh desa. Terasa lengang dan nyaris tanpa suara. Hanya desir angin yang terdengar lembut menerpa indra pendengarannya. Sebentar diamatinya rumah kayu lusuh di depannya, lalu kembali mengamati sekitarnya. Sama saja, sunyi dan mencekam.


Langkahnya terus berlanjut dari satu rumah ke rumah lainnya. Satu per satu diamatinya hingga sampai ke ujung desa yang menyisakan sebuah rumah yang memiliki pencahayaan di dalamnya. 


Belum sempat Ucup membukanya, dari arah belakangnya, Jane berlari dan mendobrak pintu dengan keras. Terdengar jerit histeris yang memecahkan keheningan malam. Jane bersimpuh di depan kedua orang tuanya yang tergeletak tak bernyawa dalam kondisi yang mengenaskan. Kepala terpenggal, tubuh penuh luka sayatan, dan usus yang terburai keluar dari dalam perut. Tragis dan begitu bengis. 


Tak lama setelah itu, Jane tergeletak pingsan. Ucup memangkunya dan membawanya ke sebuah kamar lalu membaringkannya pada dipan kayu.


“Sementara waktu, kita tinggal di sini sampai pagi tiba,” kata Ucup kepada Berlian yang berdiri di dekatnya.


Berlian mengangguk seraya tersenyum lembut. 


“Kak, apa tidak sebaiknya kita menguburkan semua jasad penduduk?” Berlian menyarankan.


“Tidak sekarang! Masih ada hari esok,” kata Ucup sambil menggeleng pelan.


“Istirahatlah …! Temani Jane!” imbuhnya lalu pergi meninggalkan Berlian di dalam kamar.


Ucup duduk di undakan tangga, ditemani Bing Shi dan ketiga monster imut yang berlarian ke sana-kemari. Ucup sedikit terhibur oleh ketiga monsternya.


“Yang Mulia, seumur hidupku, aku tidak pernah melihat kematian aneh seperti di desa ini. Apakah ini semua ulah dari bangsa Iblis?” tanya Bing Shi menduga.


“Kemungkinan besar ada keterlibatan dari bangsa Iblis, tapi tidak secara langsung mereka yang melakukannya,” jawab Ucup.


“Maksud Yang Mulia?” 


“Pertama kali aku menjalankan misi, aku singgah di kampung Cerita Hati. Semua penduduknya mati oleh bangsa Iblis, namun kondisinya jauh berbeda dengan kematian warga desa Hantu Perawan. Penduduk di sana mati dengan tenang seperti tidurnya orang-orang hidup. Sementara di sini, semuanya mati dalam kondisi sebaliknya. Penuh ketakutan yang tergambar di raut wajah mereka.”