Pendekar Pedang Somplak

Pendekar Pedang Somplak
Akhir Sekte


“Tak perlu terkejut melihat kematian mereka yang hanya sampah seperti kalian. Ayolah kita bertarung!” kata Onah dengan sorot mata merendahkan.


Mendengar perkataan Onah yang terkesan mengejek, semua anggota sekte langsung menarik berbagai senjata dan bersiap untuk menyerang. 


“Biar aku saja yang menghabisi gadis ini,” kata Ketua Sein Dat langsung mengalihkan pandangannya ke arah para iblis yang mulai tertarik melihat sang gadis yang begitu angkuh.


“Yang Mulia, izinkan aku membunuhnya! Setelahnya, aku akan mencari gadis lain yang lebih cantik darinya,” ujar Ketua Sein Dat menjura.


“Habisi!” sahut iblis bermata merah memintanya.


“Terima kasih, Yang ….”


Dugh!


Belum selesai ucapannya, Onah telah lebih dulu menendangnya dengan keras hingga membuat Ketua Sein Dat terpelanting jauh membentur dinding dan memuntahkan seteguk darah.


“Si ….”


Dugh!


Kembali ia harus terpelanting jauh setelah dadanya terkena tendangan keras yang dilayangkan Onah untuk kedua kalinya. Kali ini, Ketua Sein Dat terlihat begitu memilukan dengan dada yang menciut ke dalam, dan ia pun tergeletak tak berdaya menunggu ajalnya tiba.


Krak!


Desis tertahan dari mulut Sein Dat terdengar memilukan setelah kepalanya diremukkan kaki Onah. Hal itu tampak membuat sang ketua sekte berada di ujung kematiannya.


“Kukira dirimu hebat, namun seorang sampah akan tetap menjadi sampah. Sungguhpun begitu, sebagai seorang ketua sekte, aku akan menghormatimu dengan pedangku. Selamat tinggal, Ketua,” kata Onah lalu menghunuskan ujung pedang ke leher Sein Dat hingga menembus ke lantai.


Melihat sang ketua tewas terhunus pedang membuat kemarahan anggota sekte memuncak. Mereka berkelebat menyerang sang gadis dengan brutal. Onah menyeringai dingin dan seketika ia memutar tubuhnya menangkis berbagai senjata yang mengarah padanya.  Pertarungan sengit pun berjalan begitu seru. 


Onah mendominasi jalannya pertarungan, meskipun ia dalam kondisi terkepung, tidak ada satu pun dari serangan anggota sekte yang mampu mengenainya. Bahkan, dari sekian banyaknya anggota sekte yang mengepung, tidak ada satu pun dari mereka yang bebas melancarkan serangan. Hal demikian itu wajar adanya, karena Onah terlatih menebas satu titik dengan ribuan pola gerakan. 


Gerakan langkah Onah sangat eksplosif dan begitu mematikan, hingga terlalu sulit bagi mereka untuk mencari celah dalam melakukan serangan balik.


“Gadis ini sangat sulit ditembus, kita tidak bisa menyerangnya secara bersamaan. Bentuk formasi!” kata seorang pria langsung mundur beberapa langkah diikuti oleh yang lainnya membentuk sebuah formasi melingkar.


Akan tetapi, formasi yang terbentuk berasal dari satu kelompok divisi sekte yang menyebabkan tergerusnya pertahanan kelompok lainnya yang terus bertahan mengadang serangan Onah. Lambat laun, satu per satu dari anggota sekte yang mengadangnya tewas terkena serangan masif dan sangat intens dari sang gadis.


Kini, Onah berdiri di tengah tumpukan mayat anggota sekte yang baru saja ia habisi. Beberapa anggota sekte lainnya yang berada dalam formasi mulai ragu untuk menyerangnya. 


Begitu pun dengan para iblis mulai panik melihat kemampuan sang gadis di luar perkiraan sebelumnya. 


“Siapa gadis ini? Bagaimana bisa dirinya yang bukan seorang cultivator menghabisi banyak nyawa para cultivator beranah tinggi? Gadis ini tidak sesederhana yang kita pikirkan,” gumam seorang iblis bertelinga kelelawar.


Iblis lainnya mengangguk setuju dengan ucapannya. 


“Kita harus segera membunuhnya untuk menyelamatkan anggota sekte yang tersisa,” sambung iblis bermata merah.


Wuzz!


Duar!


Lesatan cepat bola api yang dilemparkan para iblis berhasil mengenai tubuh si gadis yang langsung terpelanting dengan tubuh terbakar.


“Lord Ucup, jangan memaksakan diri menyegel energi semesta. Lepaskan dan tunjukkan kepada para iblis!” ujar Pangeran Xiao Li Dan memintanya.


Onah berdiri dengan tubuh yang dikelilingi api yang berkobar. Ia menatap dingin para iblis yang begitu puas menyerangnya.


“Baiklah, Brother. Aku tidak akan segan-segan membalasnya,” kata Ucup langsung melepaskan segel energi semesta.


Wuzz!


Aura penguasa dari seorang Ucup menyeruak di markas sekte, membuat  semua anggota sekte yang tersiksa mati seketika. Sedangkan para iblis masih bisa menahannya walau mereka semua harus bertekuk lutut  dengan tubuh yang bergetar. Tidak ada suara  dari para iblis yang menahan tekanan dari gelombang aura yang terpancar dari tubuh Ucup. 


Baru dua langkah kaki Ucup digerakkan ke depan, tubuh para iblis langsung meledak seketika. Ucup yang melihatnya sedikit heran.


“Brother, kenapa tubuh mereka meledak? Aku kan belum bertarung dengannya,” tanya Ucup sedikit kesal.


“Itu karena mereka lemah,” jawab Pangeran Xiao Li Dan.


“Tuh, kan, di mana serunya kalau aku langsung membunuh mereka hanya dengan memancarkan auraku?” kesal Ucup yang masih ingin melanjutkan pertarungan.


“Tujuan misimu bukan untuk membantai, Lord Ucup,” balas Pangeran Xiao Li Dan mengingatkannya kembali.


“Terserah, tapi aku ingin pertarungan,” timpal Ucup masih kesal.


Setelahnya, Ucup pergi meninggalkan markas Sekte Serigala iblis dengan perasaan yang masih dongkol. Ucup berjalan sambil mengayunkan pedang membelah udara di setiap langkahnya.


Berada di luar markas, ratusan serigala merendahkan tubuh seraya menundukkan kepala melihat kehadirannya. Kening Ucup mengkerut melihat kawanan serigala yang bersikap hormat kepadanya. Sejenak, Ucup memahaminya dengan mengingat kembali pertemuannya dengan Long An. Aura penguasa yang terpancar dari tubuhnya akan membuat para beast monster yang merasakannya tunduk pada dirinya.


“Bangunlah!” pinta Ucup.


Semua serigala berdiri menuruti perintahnya. Ucup kemudian mengedarkan pandangannya melihat dengan seksama kawanan serigala di sekitarnya.


“Kau yang berbulu perak!” Ucup menunjuk ke arah serigala yang berada di barisan paling belakang.


Serigala berbulu perak itu berjalan menghampirinya dengan sorot mata menunggu perintah berikutnya. 


“Aku lagi malas berjalan, …, bawa aku ke Kota Luyan!” kata Ucup langsung menaiki punggung serigala berbulu perak.


Serigala berbulu perak tampak begitu senang menerima perintah, ia berlari cepat membawa Ucup ke arah Kota Luyan. Menyusuri sepanjang Hutan Serigala, Ucup memindai area sekelilingnya memastikan tidak ada anggota sekte yang selamat dari pembantaiannya.


Sampai di wilayah Kekaisaran Xiao, Ucup teringat dengan wajahnya yang masih cantik. Ia  kemudian meminta serigala perak untuk mencarikan sungai ataupun danau untuk dirinya membersihkan diri. Sang serigala langsung mengantarkannya ke sungai yang diketahuinya.


Beberapa waktu kemudian, Ucup sampai di sungai yang diameternya cukup luas dengan aliran air yang sangat deras. Melihatnya, Ucup begitu gembira. Ia melepas semua pakaiannya, lalu melompat dari punggung serigala, menceburkan diri ke sungai.


Byur!


“Ah, ini menyegarkan!” kata Ucup menikmati dinginnya air sungai.


Lagi enak-enaknya Ucup mandi di sungai, tiba-tiba saja langit yang cerah berubah warna menjadi semerah darah. Ucup memperhatikan keberadaan lima makhluk bertubuh aneh yang terbang berputar-putar di atasnya. Tubuh kelima makhluk itu seperti terbuat dari logam, bentuknya menyerupai tubuh iblis yang memiliki ekor dan tanduk, namun setelah diperhatikan dengan teliti, mereka terlihat seperti beast monster yang memiliki moncong dan taring yang keluar dari mulutnya.


“Brother, mengapa tubuh kelima orang itu seperti perpaduan beast monster dengan tubuh iblis?” tanya Ucup.


“Dalam pengetahuan hukum semesta tidak ada makhluk seperti itu yang mendiami tiga alam. Sembunyikan energimu! Kita harus mewaspadainya,” jawab Pangeran Xiao Li Dan.


Ucup kembali menyegel energinya lalu dengan elemen air, ia bersatu dengan sungai. Kelima makhluk aneh itu melayang turun ke sungai dan berdiri di atas bebatuan.


Mereka saling berbicara dengan bahasa yang tidak dimengerti oleh Ucup dan juga Pangeran Xiao Li Dan. Ucup terus mengamati kelimanya yang terlihat sedang mencari sesuatu.


“Kukira hanya di film fantasi saja adanya makhluk luar angkasa, ternyata di alam ini pun ada makhluk seperti itu,” pikir Ucup mengaitkannya dengan film yang pernah ditontonnya.


“Lord Ucup, jangan bereaksi apa pun! Kekuatan mereka tidak dapat diprediksi,” ujar Pangeran Xiao Li Dan kembali mengingatkannya.


“Tenang saja, aku tahu itu. Aku hanya khawatir mereka akan membunuh serigala,” balas Ucup.


Benar saja apa yang dikhawatirkan Ucup. Seorang makhluk aneh berbadan gelap dengan kulit logam menarik tubuh serigala perak lalu menghancurkannya.


“Sialan, mereka membunuhnya!” kata Ucup begitu kesal melihatnya.


“Brother, bagaimana kalau aku mengujinya?” tanya Ucup, “kita tidak akan pernah tahu siapa mereka kalau hanya melihatnya saja.”


“Baiklah, tapi kamu harus secepatnya melarikan diri ketika terdesak,” balas Pangeran Xiao Li Dan, “dan satu lagi, pakai pakaianmu dulu!”