
Belasan bule termenung di pinggir danau dengan keputusasaan menatap lirih ke arah mayat-mayat yang masih terapung di tengah danau. Melihat semua itu membuat Ucup tidak bisa tinggal diam. Ia kemudian meliuk-liukan kedua tangannya membentuk pusaran energi dari elemen angin lalu mengibaskannya ke tengah danau.
Wuzz!
Angin bertiup kencang membentuk pusaran besar yang mulai menggelinding di atas permukaan air danau yang seketika menjadi riuh dan bergelombang, menciptakan ombak-ombak yang memantul ke segala arah. Namun, mayat-mayat yang berada di tengah danau seperti tidak tersentuh oleh gelombang energi yang mengenainya, bahkan posisinya pun tidak mengalami perubahan.
“Aneh, mengapa bisa begitu?” Ucup kembali dibuat tak percaya melihatnya.
Lagi-lagi, Danau Darah menunjukkan sisi misteriusnya setelah sebelumnya mampu membuat mata semesta tidak bisa menemukan apa pun di kedalamannya. Ucup mulai frustasi dibuatnya. Ia hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala dengan mimik wajah yang kebingungan.
“Aku harus melompat memasukinya untuk tahu apa yang membuat danau itu begitu aneh dan membingungkan,” imbuhnya memutuskan.
“Kak, berhati-hatilah!” kata Berlian mengingatkan.
Ucup mengangguk dan berkata, “Kamu tunggu di sini!”
Berlian tersenyum mengiyakan. Ucup kemudian melompat dari punggung Feng Ying.
Byur!
Ucup merentangkan dirinya dengan hati-hati ke dalam gelapnya danau yang semakin dalam. Cahaya pucat bulan berkilauan di dalam air, menciptakan siluet-siluet yang misterius dan menakutkan di bawah permukaan, seolah-olah dunia itu telah memasuki lapisan lain yang penuh misteri dan kegelapan.
Ketika Ucup mencapai kedalaman yang lebih dalam, dia mendadak menyaksikan pemandangan yang mengejutkan. Ribuan arwah yang bergentayangan melayang di dalam air, wajah-wajah mereka memancarkan kemarahan dan kebencian, mengisi sekelilingnya dengan aura yang mencekam. Matanya yang kosong menatap Ucup dengan rasa dendam yang dalam, seolah-olah mereka membawa beban perasaan yang tak terlupakan. Suasana di dalam air semakin mencekam, dan tekanan spiritual yang tak terelakkan itu terasa seperti beban yang berat di pundak Ucup.
Dalam kegelapan yang penuh tekanan ini, Ucup merasa seperti berada di tengah-tengah pertemuan yang tidak terlihat dengan alam gaib. Dia tahu bahwa dia harus berani dan berhati-hati, karena arwah-arwah ini mungkin menyimpan rahasia yang dapat membantu misinya, atau malah menjadi ancaman serius.
“Lord Ucup, mungkin saja danau ini merupakan ilusi sihir. Waspadalah!” kata Pangeran Xiao Li Dan ikut mengamatinya.
Ucup berusaha menjaga ketenangan di dalam air danau yang gelap, meskipun ribuan arwah gentayangan mengitari dirinya seperti ingin menelannya hidup-hidup.
Namun, tiba-tiba saja, di tengah keramaian arwah-arwah itu, muncul satu sosok yang tak terduga. Seorang gadis berwajah pucat dan cantik, memegang pedang merah yang bersinar dengan kekuatan sihir yang memesona. Cahaya dari pedang itu memantul di permukaan air, menciptakan kilauan yang menakutkan.
Tidak ada perkataan yang keluar dari bibir pucat sang gadis. Hanya tatapan menyayat hati yang terlihat dari sorot mata gadis itu menatap dingin Ucup di depannya.
Pertarungan pun pecah, dan aksi yang memukau serta penuh ketegangan mengisi seluruh ruang di dalam kegelapan air danau. Gadis itu meluncur menuju Ucup dengan gerakan yang cepat dan lincah, pedangnya berputar dengan kecepatan kilat.
Dengan seringainya yang dingin, Ucup meladeni pertarungan dari sang gadis pucat. Ia menggunakan keterampilannya untuk menghindari serangan tajam gadis itu, dan dalam sekejap, pertarungan berlangsung dengan intensitas tinggi.
Arwah-arwah lainnya bergabung dalam pertempuran ini, menciptakan pusaran energi sihir yang begitu besar dan sangat menekan.
Ucup merasakan tekanan yang tak terhindarkan di sekitarnya, tetapi ia tak punya pilihan selain berjuang melawan arwah gentayangan yang begitu sengit terus mengurungnya.
Ucup mulai panik dan merasa kesulitan menghadapi pertarungan di dalam air yang penuh tekanan. Gerakannya terhambat oleh beratnya air, dan serangan brutal sang gadis membuatnya semakin terpojok. Pedang merahnya bergerak dengan cepat, mengiris udara dengan kejam, dan Ucup berjuang mati-matian untuk menghindarinya.
Gadis itu dengan brutalnya terus menyerang, pedang merahnya memotong udara dengan kecepatan kilat, sementara Ucup berusaha menghindari setiap serangan dengan susah payah. Percikan air danau dan gemuruh dari benturan mereka menciptakan atmosfer yang penuh ketegangan.
“Sial, aku tidak bisa terus berada dalam kondisi tertekan seperti ini!” geram Ucup yang begitu kewalahan menghadapi serangan brutal dari sang gadis.
Dengan gerakan cepat dan penuh energi, Ucup melancarkan serangan balik yang menggetarkan air di sekitarnya. Pedang merah sang gadis bersentuhan dengan kepalan tangan Ucup, menciptakan kilatan cahaya yang memotong kegelapan di dalam air danau.
Pada satu momen yang menguntungkan, Ucup berhasil melayangkan pukulan keras yang menghantam kepala sang gadis dengan begitu telak, membuat sang gadis langsung melayang tak sadarkan diri dengan tubuh yang mengejang di dalam kegelapan air danau.
Namun, ketika Ucup berada di ambang kemenangan dan bersiap untuk menghancurkan tubuh sang gadis, ia merasakan suatu keanehan. Pancaran energi kegelapan tiba-tiba memancar dari tubuh gadis itu lalu terserap ke dalam tubuh Ucup. Ucup pun mengurungkan niatnya untuk menghancurkan tubuh sang gadis. Ia menatap lekat wajah gadis pucat itu dan menyentuhnya lalu mengalirkan energi semestanya.
Tak lama kemudian, kedua mata sang gadis terbuka. Ditatapnya Ucup dengan tatapan yang terasa aneh tanpa adanya ekspresi.
“Kau seorang iblis, apa yang kau lakukan di sini? Lalu, siapa kau sebenarnya?” tanya Ucup mengintrogasinya.
“A … aku Alexandria, aku seorang iblis penguasa Danau Darah. Tugasku di sini untuk memberikan kekuatan sihir kepada semua orang yang mengorbankan jiwa dari manusia alam fana,” ungkap sang gadis.
Ucup terkekeh keras. Ia heran sendiri mendengar nama dari sang gadis iblis yang terkesan kebaratan.
“Keren sekali namamu, Nona! Apakah kau ini iblis dari Eropa?”
Sang gadis terdiam tidak memahami perkataan yang terlontar dari mulut Ucup.
“Ha-ha-ha! Sungguh keren!” seru Ucup yang kemudian menatap dingin sang gadis.
“Nona, ceritakan semua hal tentang danau ini padaku!” pinta Ucup.
“Baik,” sahut Alexandria lalu menceritakannya.
Dalam kisahnya, Danau Darah adalah tempat yang mengerikan dan menyeramkan yang digunakan sebagai tempat ritual penukaran kekuatan sihir dengan nyawa manusia.
Ketika malam tiba, danau ini berada dalam kegelapan yang dalam, hanya diterangi oleh cahaya samar bulan dan bintang-bintang yang berpendar di langit. Permukaan air yang gelap dan tenang seperti kaca menciptakan pantulan yang misterius.
Di sekitar danau, tumbuh pepohonan tua yang menjulang tinggi, mengeluarkan bayangan yang menakutkan dan memberikan kesan bahwa hutan ini adalah tempat yang terlupakan oleh waktu. Pepohonan ini seolah-olah menyimpan rahasia kuno yang telah berlangsung selama berabad-abad.
Air di Danau Darah ini memiliki warna merah gelap yang mengingatkan pada darah, memberikan kesan bahwa danau ini telah menjadi saksi dari sekian banyak pengorbanan nyawa sepanjang sejarahnya. Suasana angker dan penuh tekanan terasa di udara, dan aura kegelapan melingkupi tempat ini.
Ini adalah tempat di mana kekuatan sihir dan kegelapan bertemu dalam ritual yang mengerikan. Danau Darah adalah tempat yang menyimpan rahasia dan kekuatan yang gelap, dan kehadiran orang-orang sekte kegelapan di malam yang misterius menambahkan aura mencekam di tempat ini.
Pada malam terjadinya ritual persembahan, orang-orang dari sekte kegelapan berkumpul di tepi danau. Mereka membentuk lingkaran sihir dengan tanda-tanda kuno yang menerangi malam. Dalam atmosfer yang menyeramkan, para penyihir dan pengikut iblis berkumpul untuk sebuah upacara yang sangat berbahaya.
Tawar-menawar dengan iblis dimulai. Orang-orang yang haus akan kekuatan sihir menawarkan sesuatu yang sangat berharga sebagai imbalan, dan iblis yang haus akan jiwa persembahan yang akan menentukan sebesar apa kekuatan sihir yang diberikan sebagai balasan. Tergantung dari tingkatan ranah kultivasi ataupun kekuatan spiritual dari manusia yang dikorbankan.
Setiap korban akan ditarik ke tengah lingkaran sihir. Saat ritual penukaran dimulai, energi sihir yang kuat mengalir melalui lingkaran, menciptakan cahaya yang memenuhi malam. Energi ini mengalir dari korban yang diserap oleh iblis.
Setelah tukar-menukar nyawa dengan kekuatan sihir selesai, semua anggota sekte kegelapan menyusun kontrak sihir yang mengikat mereka dengan iblis. Kontrak ini berisi persyaratan yang harus dipenuhi oleh semua orang yang telah mendapatkan kekuatan sihir, dan juga konsekuensi mengerikan jika mereka melanggarnya.
Semua ini adalah rahasia yang sangat terpelihara dengan ketat oleh sekte-sekte kegelapan. Mereka tahu bahwa praktik-praktik semacam ini sangat dilarang dalam dunia sihir yang lebih luas, dan mereka melakukan segala yang mereka bisa demi menjadi cultivator yang disegani.
Danau itu sendiri menjadi saksi bisu dari upacara-upacara semacam ini, terus memancarkan aura kegelapan dan kematian yang telah berlangsung hingga saat ini.