Pendekar Pedang Somplak

Pendekar Pedang Somplak
Genit


Ucup berlari meninggalkan istana secepatnya. Namun ada perasaan aneh di dalam hatinya, bukan karena Berlian yang membuat jantungnya berdetak cepat, tetapi perasaan yang sulit dimengerti olehnya. Perasaan yang mengarah pada Bing Shi dan keluarganya. 


“Mengapa aku begitu mengkhawatirkannya?” gumam Ucup teringat pada beast monsternya. 


Ia menjadi khawatir akan keselamatan Bing Shi dan keluarganya, maka ia pun semakin mempercepat langkah kaki ke arah Kota Luyan, tepatnya ke Restoran Bunga Persik.


Begitu sampai di depan halaman restoran, Ucup terhenyak menyaksikan kematian dari orang-orang yang dikenalnya, mereka tak lain adalah para bangsawan dan keluarga Kekaisaran Zhao. Namun anehnya, tidak ada satu pun mayat dari orang-orang sekte, Ucup sulit memahaminya. Bola matanya terus mengedar ke berbagai arah di sekelilingnya. Ia memindai keberadaan Bing Shi yang ditugaskannya untuk menjaga keselamatan semua orang Kekaisaran Zhao.


“Bing Shi!” pekik Ucup berteriak memanggilnya.


Beberapa orang yang selamat langsung berlarian keluar dari dalam restoran. Salah satunya adalah Putri Zhao Ning yang berlari cepat ke arah Ucup, namun langkahnya terhenti ketika melihat orang di depannya bukanlah Ucup, melainkan gadis muda yang sangat cantik. Putri Zhao Ning seketika berbalik pergi secepatnya bersama dengan yang lainnya memasuki restoran dan langsung menutup pintu rapat-rapat.


Ucup terperangah melihat reaksi orang-orang yang ketakutan setelah melihatnya. 


“Mengapa mereka semua seperti itu melihatku?” gumam Ucup bertanya-tanya.


Dari kejauhan, beberapa orang Sekte Serigala Iblis sedang bersembunyi di balik pepohonan mengamati situasi di sekitar restoran.


“Siapa gadis itu, mengapa dia berdiri di sana?” tanya seorang pria berhidung pesek mengamati dengan serius.


“Entahlah, tapi apa kamu sadar gadis itu sangat cantik?” jawab pria bermata besar yang pandangannya tak lepas dari sosok Ucup.


“Cantik sih, tapi aku tidak berminat dengan tikus darat,” kata si hidung pesek.


“Apa maksudmu?” tanya pria mulut lebar yang berada di sampingnya penasaran.


“Stt, diamlah! Sebaiknya kita perhatikan saja apa yang akan gadis itu lakukan!” balas si hidung pesek.


“Dia bukan seorang cultivator, kita bisa langsung menangkapnya,” celetuk seorang pria berbadan kurus.


“Bagaimana dengan Singa Es? Dia pasti tidak akan membiarkan kita hidup setelah kematian anak dan istrinya,” ujar pria mulut lebar mengingatkan.


“Tenang saja, kondisinya sedang kritis. Aku tak yakin dia bisa pulih dengan cepat,” ucap si pria mata besar memperkirakan.


“Aku punya rencana,” cetus si pria hidung pesek.


“Katakanlah!” pinta si pria mata besar.


Pria hidung pesek menoel hidungnya yang tidak mancung dengan mata memicing memperhatikan Ucup dari kejauhan. Tak lama kemudian, ia berkata, “Kita tidak perlu menangkapnya dengan paksa, bagaimana kalau kita menghampirinya seolah kita sedang diburu?”


Pria mata besar melebarkan mata menimbang idenya si pria hidung pesek. Sedangkan dua pria lainnya tampak setuju saja.


“Bagus juga idemu, biar aku saja yang menghampirinya,” aju si pria mata besar menawarkan diri.


“Tidak bisa, aku yang memiliki rencana,” potong si pria hidung pesek menolaknya.


“Sudah, jangan ribut. Kita hampiri bersama.” Pria mulut lebar mencoba menengahi. 


Keempat pria keluar dari persembunyiannya di balik pepohonan dan berjalan sempoyongan seolah keempatnya baru saja terhindar dari kejaran. Ucup yang mendengar langkah keempatnya hanya menyeringai sinis, berdiri diam menunggunya.


“Nona, mengapa kau berada di sini sendirian? Lekaslah sembunyi! Jangan sampai tertangkap oleh para pemburu,” ujar seorang pria bermata besar begitu sampai dengan napas terengah-engah dibuatnya.


“Nona?” pikir Ucup merasa heran dirinya dipanggil dengan sebutan itu. Ia mengerutkan kening mengingat reaksi dari Putri Zhao Ning yang langsung berbalik pergi begitu dekat dengannya.


“Nona, mengapa diam saja? Ayo ikut bersama kami!” tegur pria hidung pesek mengajaknya.


Terlintas sebuah ide dalam benak Ucup untuk memanfaatkan semua itu. Ucup memandang para pria dengan tatapannya yang sayu, lalu mengangguk setuju mengikuti para pria.


“Brother Xiao, apa yang sebenarnya terjadi pada diriku?” tanya Ucup.


“Itu ulah adikmu, Berlian. Dia sangat pintar merias wajahmu hingga terlihat seperti gadis cantik,” sahut Pangeran Xiao Li Dan menjelaskan.


“Hem, aku paham sekarang. Lalu, apakah suaraku bisa kuubah?” kembali Ucup bertanya.


“Sangat mudah, cukup dengan mengingat suara seorang perempuan yang ingin kamu tiru. Cobalah!” 


“Satu lagi, Brother. Bagaimana aku menyembunyikan adik monsterku ini? Aku tidak ingin penyamaranku terungkap.”


“Gunakan elemen udara untuk menyamarkannya. Kamu juga bisa membuat dadamu mengembang, tetapi aku tidak ingin melihatnya, itu menggelikan.”


“Ha-ha, baiklah.”


Ucup teringat suara janda di samping rumahnya yang memiliki nada seperti orang sedang bercinta. Ia kemudian mengikuti petunjuk yang disampaikan oleh Pangeran Xiao Li Dan, merubah suaranya. Setelah itu, ia menggunakan elemen udara untuk menyamarkan adik monsternya dan mengembangkan bagian dada serta pinggulnya sehingga menonjol dan padat menyerupai seorang gadis yang sedang mekar.


Degh!


Mendengar suara Ucup yang menggairahkan membuat keempat pria langsung panas dingin dibuatnya hingga keringat dingin pun mengalir keluar dari pori-pori kulit mereka.


“Kami ingin membawa Nona ke tempat yang aman dari kejaran para pemburu,” jawab pria mata besar dengan cepat.


“Tak kenal maka tak sayang. Kalau boleh tahu, siapakah Nona cantik ini?” sambung pria bibir lebar menatapnya penuh keinginan.


“Aku malu mengatakannya, Tuan,” kata Ucup menutup mulutnya dengan tangan sambil tersipu.


“Kenapa harus malu mengatakannya? Hanya menyebut nama saja tidak akan membuat kami meminta bayaran, ha-ha-ha!” kekeh si pria mata besar.


“Na … namaku Onah binti Suneo, Tuan,” kata Ucup memperkenalkan diri.


“Nama yang cantik, persis seperti pemiliknya,” puji si pria hidung pesek yang sebenarnya tak peduli dengan nama asing yang disebutkan oleh Ucup.


Ucup mengedipkan mata sambil menggigit bibir bawah menatap keempat pria di dekatnya, lalu ia berkata, “Terima kasih, Tuan pemilik hidung imut. Akan tetapi, mengapa kalian semua berkeringat, bukankah cuaca sedang tidak panas, apakah kalian sedang sakit?”


Ucup menempelkan punggung tangannya di kening keempat pria secara bergantian. Tepat di hadapan pria keempat yang berhidung pesek, Ucup mencondongkan badannya lebih dekat seraya mencubit gemas hidung si pria pesek itu. Untungnya Ucup telah lebih dulu menyegel energi semestanya. Bisa dibayangkan jika dia sampai menghancurkan hidung pria itu.


“Hidung Tuan sangat imut, aku begitu gemas melihatnya.” Ucup mengedipkan sebelah matanya menggoda si pria hidung pesek yang langsung berbinar matanya dipuji oleh Ucup.


Melihat si pria hidung pesek diperlakukan seperti itu, ketiga pria lainnya langsung menyodorkan wajah ke hadapan Ucup, mereka berharap akan mendapatkan perlakukan serupa.


“Kalian kenapa? Aku bukan gadis nakal, jangan menatapku seperti itu!” Ucup berpura-pura tidak senang dengan perlakukan ketiga pria. Ia memalingkan wajah sambil mengibaskan lengannya.


Keempat pria itu tidak tahan lagi melihat Ucup yang terlihat begitu menggoda. Mereka pun langsung menubruk tubuh Ucup untuk melampiaskannya, namun Ucup dengan cepat menghindari keempatnya dan tiba-tiba saja dirinya sudah berada jauh dari posisi keempat pria.


“Tuan-Tuan, kalian terlihat seperti Teletubbies yang berpelukan. Apakah aku ini terlalu jelek hingga kalian semua tidak ada yang ingin memelukku‽” kata Ucup dari kejauhan dengan intonasi suara yang ditinggikan dan wajah yang menekuk dibuat-buatnya, seolah ia terlihat sedang cemburu.


Keempat pria sedikit terkejut melihat Ucup sudah berada jauh dari posisinya. Mereka saling melirik satu sama lain dengan keanehan itu. Namun, di antara mereka tidak ada yang memedulikan keanehan itu. Tak ingin kehilangan Ucup, mereka pun langsung berlarian mengejarnya.


“Siapa yang bisa menangkapku, maka aku akan jadi miliknya? Kejar dan tangkaplah aku!” teriak Ucup lalu membalikkan badan berlari dari kejaran para pria.


“Onah, tunggu!” teriak para pria dari kejauhan yang semakin cepat langkahnya.


Ucup sekilas menoleh ke belakang dengan senyumannya yang membuat para pria mabuk kepayang. Tak cukup hanya itu saja, Ucup menyingkap pakaian atasnya lalu bergoyang-goyang menampilkan sesuatu yang membusung indah, meskipun itu hanya tiruan semata. Namun aksinya itu membuat mata keempat pria melebar nyaris keluar dari tempatnya.


Langit berangsur gelap, namun tidak ada satu pun yang berhasil menangkap Ucup. Keempat pria itu mulai melambat dan satu per satu dari mereka berjatuhan tidak sanggup lagi mengejarnya. Hingga sampai pria keempat yang terjatuh, Ucup menghentikan larinya. Ia berbalik lalu menghampiri pria bermata besar yang tidak jauh darinya.


“Tuan pemilik mata indah bola basket, kau yang paling kuat di antara ketiga temanmu. Apakah kau menginginkan ini?” kata Ucup sambil melirik ke arah gundukan elemen angin yang menyerupai milik seorang wanita.


“Aku sangat menginginkannya, Nona, tetapi aku sudah tidak sanggup lagi untuk mengejarmu. Duduklah di sini sampai tenagaku pulih kembali,” balas pria mata besar memintanya.


“Aku tidak nyaman dengan ketiga temanmu itu, apa yang akan kaulakukan dengan ketiganya?” Ucup berpura-pura tidak menyukai ketiga pria yang tergeletak tidak jauh dari posisinya.


“Kamu milikku, Nona, jadi aku akan membunuh ketiganya,” jawab pria mata besar menjanjikannya.


“Betulkah itu, Tampan? Kalau memang benar, aku akan menjadi milikmu seutuhnya.” Ucup duduk di samping pria mata besar dengan menjulurkan kaki.


Tak lama kemudian, pria mata besar bangkit dari posisinya lalu menarik pedang dan berjalan ke arah ketiga pria yang tidak jauh darinya. 


“Mau apa kau, Bo Dong?” tanya pria hidung pesek yang masih kesulitan menggerakkan kakinya.


Sreet!


Ujung pedang terhunus tepat di jantung pria hidung pesek yang langsung mati dengan menatap dingin. Setelahnya, pria mata besar berjalan ke arah pria bibir lebar yang mulai merangkak untuk melarikan diri. Namun tanpa ampun, pria mata besar menebas lehernya hingga putus. Kini, tinggal tersisa si pria kurus yang duduk dengan tubuh menggigil menatap pria mata besar berjalan ke arahnya.


“Bo … Bo Dong, kita adalah te ….” 


Sret! Bugh!


kepala si pria kurus menggelinding di tanah tanpa bisa menyelesaikan kalimatnya. Pria bermata besar memasukkan kembali pedangnya lalu berbalik ke arah Ucup yang tersenyum lebar menatapnya.


“Sayang, janjiku telah kupenuhi, sekarang aku akan membawamu ke sekte dan mengumumkan pernikahan kita, jadi kau akan aman di sana,” ujar Bo Dong tersenyum penuh kemenangan.


“Apa kau dari Sekte Serigala Iblis?” tanya Ucup berpura-pura menunjukkan reaksi kejut.


Bo Dong mengangguk dan berkata, “kau tidak perlu khawatir, kau akan menjadi istriku. Percayalah!”


Ucup tersenyum lega mendengarnya, namun dalam hatinya ia memiliki rencana untuk membantai kembali sekte yang telah merenggut banyak nyawa dari keluarga kekaisaran.