
Ucup manggut-manggut memahaminya. Tak lama kemudian, ia pun memutuskan untuk melanjutkan perjalanannya bersama Berlian dan juga Jane. Tidak ada sepatah kata pun yang keluar dari mulut ketiganya selama perjalanan. Hanya derap langkah dan deru napas yang terdengar jelas dari ketiganya.
Keadaan di hutan sangat sepi dan sunyi, tidak terdengar satu pun suara hewan yang biasanya menempati hutan itu, seolah-olah ketiganya melangkah di dalam dunia tanpa penghuni. Sangat ironis berada di tempat yang seharusnya menjadi surga para hewan maupun beast monster yang menempatinya namun tidak terlihat sekalipun penghuninya.
Cukup lama ketiganya berjalan di atas akar-akar yang merambat menutupi tanah. Beberapa waktu kemudian, langkah Ucup terhenti. Matanya mengedar memperhatikan sekelilingnya, namun tidak ditemukan suatu hal yang mencurigakan. Akan tetapi, nalurinya sangat kuat mengendus kejanggalan di dalam hutan.
“Ada apa, Kak? Kak Ucup terlihat begitu gelisah,” usik Berlian ingin tahu.
Ucup meliriknya lalu perlahan-lahan menggeleng dan berkata, “Tidak ada apa-apa.”
Berlian menatapnya penuh selidik. Ia melihat adanya sesuatu yang disembunyikan Ucup, tentu saja bukan ikan monster kesukaannya, namun ia diam saja tidak ingin mengetahuinya lebih jauh. Beberapa langkah berikutnya terdengar suara rintihan dari arah depan yang semakin jelas terdengar. Ucup, Berlian, dan Jane langsung bergegas mendekatinya. Alangkah terkejutnya mereka begitu sampai dan melihat pemandangan yang mengerikan terjadi di depan mereka. Tiga orang yang mereka kenal kini menyisakan potongan tubuh yang tercecer di mana-mana.
“Kita terlambat,” dengus Ucup, lirih.
“Kasian,” ucap Berlian menatap pilu ketiga korban yang tewas.
Sementara Jane bersikap sebaliknya. Ia terlihat begitu puas melihat ketiga pria yang telah menghabisi nyawa keluarganya tewas dengan begitu mengenaskan.
“Kak Ucup, lihat di sana!” Berlian menunjuk ke arah kuda-kuda yang berada di balik semak-semak.
Ucup dan Jane melirik ke arah yang ditunjuk Berlian. Tampak senyum merekah dari bibir keduanya.
“Ayo, ini akan menghemat waktu kita!” ajak Ucup yang kemudian berlari ke arah kuda-kuda berada, diikuti oleh kedua gadis.
Ucup menunggangi kuda hitam milik si brewok, sedangkan Berlian dan Jane masing-masing menunggangi kuda coklat. Tak ingin menunda waktu lagi, ketiganya langsung menarik tali kekang dan ketiga kuda itu pun berlari cepat menembus kegelapan hutan.
Derap langkah kaki kuda terdengar beraturan di antara bayang-bayang yang tampak bergerak di antara pepohonan, dan sentuhan dingin yang merayap di sekitarnya membuat ketiganya memacu lebih cepat.
Jauh berlari semakin dalam di hutan yang tak pernah memberikan ketenangan, ketiga insan mulai merasakan kecemasan yang merayap perlahan di sanubari. Embusan angin berbisik dengan suara mengusik kalbu, seolah-olah mencoba memberikan peringatan tentang bahaya yang mengintai di antara pepohonan.
“Lord Ucup, berhati-hatilah!” ujar Pangeran Xiao Li Dan yang melihat keberadaan beberapa orang yang mengintai di balik pohon-pohon besar.
“Terima kasih, Brother,” kata Ucup dengan seringainya yang dingin.
Suasana hutan menjadi semakin mencekam, dan ancaman yang mengintai semakin terasa nyata. Beberapa orang yang mengintai berkelebat di tengah pepohonan rapat, tak terlihat tetapi begitu dekat. Mata mereka berkilat dengan niat jahat, dan tiap langkah yang mereka ambil menghasilkan desisan yang merayap di dalam hutan yang terdiam.
“Kak Ucup, apa Kakak merasakannya?” ucap Berlian yang merapatkan kudanya di sebelah kanan kuda yang ditunggangi Ucup.
“Ya, ada beberapa tamu tak diundang yang membuntuti kita. Tetaplah tenang dan waspada!” tutur Ucup mengungkapkan.
Berlian kemudian mendekati Jane dan mengingatkannya untuk waspada. Jane mengangguk paham dan langsung meningkatkan kewaspadaannya.
Bola api besar tiba-tiba menyambar ke arah Ucup dari arah sisi kanan. Ucup kemudian mengibaskan tangannya untuk menghalau bola api tanpa menoleh sekalipun ke arah pelemparnya.
Duar!
Sebatang pohon langsung tumbang terbakar api.
“Adik Lian, tutuplah wajahmu dengan kain! Aku tidak ingin pertarungan teralihkan oleh kecantikanmu,” pinta Ucup.
“Baik, Kak,” sahut Berlian yang langsung menutup wajahnya dengan secarik kain.
“Nikmatilah pertarunganmu, Adik Lian!” Ucup memutar kudanya meninggalkan Berlian yang akan menghadapi para pengintai.
Berlian kemudian mendekati Jane yang terlihat kebingungan.
“Apa kamu mau ikut bertarung bersamaku atau menungguku menyelesaikan pertarungan?” tanya Berlian memberikan pilihan.
“Baiklah kalau kamu sudah menentukan pilihan …. Bersiaplah!” desis Berlian yang sekarang penampilannya seperti seorang pendekar bercadar.
Tak lama setelah itu, sebuah bola api besar melesat ke arah Jane. Sebelum sempat diperingatkan oleh Berlian, Jane sendiri sudah menangkap desir panas yang menderu ke arahnya. Seketika, ia melompat dari punggung kuda dan mendarat bergulingan di tanah. Sementara kudanya meringkik keras lalu mati seketika setelah terkena bola api yang tanpa ampun membakar habis tubuhnya.
“Sialan!” kesalnya.
Tak jauh dari posisi Jane, Berlian bersiaga dengan mengambil pedang dari cincin spasialnya. Kedua matanya tampak begitu fokus mengamati pergerakan dari orang-orang sekte yang masih belum menampakkan diri.
“Keluar kalian semua! Perlihatkan diri kalian dan jangan jadi pengecut yang bersembunyi di balik pohon!” bentak Jane keras.
“Ha-ha-ha!”
Terdengar satu suara tawa yang sangat keras, sampai mengembuskan udara panas yang menerpa kedua gadis.
“Diam-diam kau telah membunuh ketiga kawan kami. Luar biasa!” puji seseorang yang suaranya begitu menggema.
“Mereka pantas mati, tapi bukan aku yang membunuhnya,” dengus Jane membalasnya.
“Ha-ha-ha!”
Kembali suara tawa terdengar menggema di udara. Akan tetapi, belum juga gema tawa itu lenyap, terdengar suara bernada keras di udara, lalu muncul satu sosok tubuh tinggi besar yang melenting dari balik sebuah pohon.
Kedua gadis itu pun semakin meningkatkan kewaspadaan, menatap satu sosok tinggi besar berpakaian hitam berkilauan seperti kain satin. Wajah sosok itu sangat menyeramkan. Rambutnya ikal acak-acakan, dengan hidung pesek namun besar kedua lubangnya. Telinganya runcing seperti telinga kelelawar. Dan yang paling mengerikan, dari sekujur tubuhnya memancarkan hawa panas yang begitu menyengat.
“Dih, jelek sekali dirimu!” ejek Jane mengomentari penampilan si pria menyeramkan.
“Siapa dirimu, hah?!” tanyanya bernada penuh amarah.
Kemarahannya memuncak tatkala ia teringat kembali akan kematian keluarganya dari orang-orang sekte kegelapan.
Sosok mengerikan itu kembali terbahak-bahak, menertawai si gadis yang dianggapnya hanya mainan kecil. Ia kemudian menolehkan pandangan ke arah gadis bergaun putih yang wajahnya tertutupi kain yang menerawang.
“Kau terlihat seperti orang dari Benua Matahari. Setahuku, gadis-gadis dari sana memiliki kecantikan seperti dewi kayangan, berkulit putih kemerahan, dan pastinya sangat menggairahkan, namun …,” ujarnya dengan pandangan mesum, “terlalu berisik ketika bercinta.”
Berlian mendengus sinis, namun ia tidak menunjukkannya. Dari arah kejauhan, Ucup tampak begitu tenang menyaksikan upaya si pria menyeramkan yang tengah menakut-nakuti kedua gadis.
“Lord Ucup, pria itu cultivator alam dewa. Dia berada di ranah Immortal Kristal,” ujar Pangeran Xiao Li Dan setelah memindainya.
“Itu bagus untuk meningkatkan kemampuan bertarung Berlian,” tutur Ucup tampak bersemangat mengetahuinya.
“Bukankah itu terlalu sulit untuknya?” Pangeran Xiao Li Dan meragukan kemampuan Berlian.
“Bukankah ada aku di sini yang akan menolongnya jika terdesak?” balik tanya Ucup.
Kembali ke posisi Jane yang mulai khawatir dengan sosok pria yang akan dihadapinya. Namun ia berusaha untuk tetap tenang menghadapinya.
“Dua lubang buaya yang akan menghiburku setiap saat,” ujar sang pria dengan seringainya yang menjijikan.
Mengerut kening kedua gadis mendengarnya. Mereka sadar kalau diri merekalah yang dimaksudkan oleh si pria menyeramkan itu. Dan secara bersamaan, kegusaran keduanya menjadi naik. Jane lekas mencabut pedang pendeknya yang terselip di pinggang.
“Berhentilah mengoceh, Buaya Buntung!” dengus Jane yang tidak terima dilecehkan secara verbal.
“Maka dari itu, kusebut kalian ‘lubang buaya’. Aku buaya dan kalian berdua lubangnya,” ejek si pria sambil nyengir.
“Kau!” kesal kedua gadis berbarengan.