Pendekar Pedang Somplak

Pendekar Pedang Somplak
Kemunculan Dewa Tampan


Kembali belasan pembunuh bayaran berjubah hitam saling melirik satu dengan yang lainnya. Kali ini tidak ada keberanian yang terpancar dari sorot mata para pembunuh. Mereka semuanya mengalami goncangan batin setelah melihat salah satu dari teman mereka mati dengan mengenaskan. 


Sementara sang pemuda masih berdiri dengan tenang meskipun di dekatnya tergeletak satu tubuh yang masih meneteskan darah. Sambil menunggu serangan berikutnya, sang pemuda yang tak lain adalah Ucup memanfaatkan waktunya dengan memetik dua tangkai rumput liar dan memainkannya seperti aduan pedang.


Tak lama kemudian terdengar suara mendesing dari seorang pembunuh melesat secepat kilat menyerang sang pemuda dengan mengayunkan kedua pedang yang tergenggam erat di kedua tangannya. Ia mengayunkan pedang secara diagonal mengarah ke tubuh sang pemuda. 


Ucup memicingkan mata lalu melemparkan kedua tangkai rumput dengan menggunakan energi dari elemen angin. 


Wuzz! Sret!


Kecepatan laju tangkai rumput tak mampu terlihat oleh mata sang pembunuh yang melesat. Tiba-tiba saja gumpalan bayangan hitam dari si pembunuh berbalik melayang terbang ke udara seperti kapas yang tertiup angin kencang hingga membentur tebing bukit dengan begitu keras lalu terjatuh dengan keras pula. 


Krak!


Terdengar suara tulang yang hancur di kaki bukit. Tampaknya si pembunuh itu mati seketika dengan kondisi yang sama-sama mengenaskan dengan temannya yang pertama mati.


Desiran angin semakin kencang menerpa tubuh sang pemuda yang masih berdiri tenang di tengah-tengah ilalang setinggi lutut dan juga di antara ketiga belas pembunuh yang tersisa. Baju hanfu warna hitam yang dikenakannya melambai seperti kain bendera, bahkan sebagian rambutnya yang panjang menutupi wajah sang pemuda.


Semua mata para pembunuh mendelik kasar menatap sang pemuda yang masih bersikap tenang. Tak lama kemudian, enam orang pembunuh bergerak satu langkah ke depan. Rupanya keenam orang itu ingin menyerang sang pemuda secara berkelompok. Mereka kemudian membentuk sebuah formasi segitiga di mana seorang pembunuh bertubuh paling tinggi berada di posisi paling depan dengan dua orang yang berdiri sejajar di belakangnya; tiga orang lagi berdiri paling belakang.


“Hiat!” teriak pembunuh paling depan dengan mengangkat pedangnya tinggi-tinggi ke atas.


Tiga orang yang berdiri paling belakang berkelebat melancarkan serangan, disusul dengan dua orang lainnya yang langsung melancarkan serangan. Sementara si pembunuh bertubuh tinggi melakukan lompatan tinggi untuk mengayunkan pedangnya secara vertikal dari ketinggian.


Ucup menyeringai dingin melihat serangan berkelompok dari para pembunuh yang mengarah kepadanya. Seiring dengan pergerakan dari tiga orang yang berkelebat cepat, dua orang lainnya melancarkan serangan berbeda. Deru angin seperti mengikuti langkah para penyerang, membentuk bayangan hitam yang menderu bagaikan ombak besar yang siap menghancurkan karang.


Tiba-tiba suasana menjadi hening, tanpa angin dan tanpa waktu yang seolah berhenti bergerak. Sekejap saja, sekejap orang mengedipkan mata, lalu terlihat lima bayangan hitam beterbangan tertiup angin. Membentur tebing bukit dan terjatuh. Suaranya yang keras mengembalikan suasana pada kondisi semula. Angin kembali berembus kencang. 


Seorang pembunuh berbadan tinggi besar yang melayang terjatuh tanpa melanjutkan serangannya. Ia tercekam membisu dalam jarak lima tombak di sisi kanan sang pemuda. Badannya bergetar, pedangnya terjatuh bersamaan dengan kakinya yang tertekuk setengah berlutut.


Ucup memicingkan mata meliriknya dengan tajam. Bibirnya terangkat menyeringai sinis dan dalam sekejap, pria di dekatnya itu melambung tinggi ke atas awan lalu meluncur jatuh menghujam bumi dengan keras.


Bruk!


Suaranya terdengar pilu. Tubuh yang jatuh itu menggelepar seperti cacing kepanasan hingga tubuhnya tak lagi bergerak, mati. Seketika keadaan kembali tenang seperti semula. Dalam posisi setengah lingkaran, tersisa tujuh pembunuh berjubah hitam yang masih berdiri dengan tubuh menggigil bagaikan orang yang sedang meriang. Sementara sang pemuda masih bersikap tenang layaknya permukaan danau yang tak tersentuh terpaan angin.


“Matilah kau!” teriak si pembunuh yang langsung menabrakkan tubuhnya dengan si pemuda.


Wuzz! Duar!


Tampaknya orang itu sengaja mengerahkan semua energinya untuk meledakkan diri bersama sang pemuda, namun upayanya berakhir sia-sia. Ledakkan energi kegelapannya hanya dianggap petasan yang dimainkan anak-anak kecil. Tidak memiliki dampak apa pun selain suara ledakan yang menggema memenuhi ruang udara.


Kini tersisa enam pembunuh yang terhuyung mundur dengan langkah kaki yang begitu berat. Ucup menyipitkan mata menatap keenamnya dengan tatapan mengejek, membuat mereka yang melihatnya begitu kesal ingin mencabik-cabik tubuhnya. Namun apa daya, mereka sadar diri sedang berhadapan dengan seseorang yang bahkan menyentuhnya pun tidak bisa mereka lakukan. Maka dari itu, kegeraman mereka harus dikubur dalam-dalam.


Langit yang cerah mendadak gelap membuat semua orang menengadah menatap langit. Petir pun menggelegar saling bersahutan menciptakan suasana menjadi semakin mencekam. Tak lama kemudian, muncul tiga sosok makhluk dari balik awan gelap. Ketiganya terlihat bengis dan memancarkan aura dewa yang begitu mengintimidasi.


Pria yang berdiri paling kiri memiliki wajah kotak dan bermata satu (picek sebelah), rambutnya putih dan yang paling menonjol darinya yaitu perutnya yang buncit seperti sedang hamil sembilan bulan. Di sampingnya atau yang berdiri di tengah adalah si buaya buntung yang memiliki perawakan tinggi besar dan identik dengan bajunya yang berkilau, dan satu lagi adalah seorang wanita tikus darat. Wajahnya tak enak dipandang karena dipenuhi sisik seperti ikan. 


Ucup masih tenang saja melihatnya, ia bahkan mengusap-usap dagunya yang tak berjanggut.


“Bukankah orang itu si buaya yang menyebut dirinya “Dewa Tampan”?” gumam Ucup mengingatnya.


“Kukira benar seorang dewa, tahunya hanya cultivator alam dewa yang mengaku-aku sebagai dewa. Hem … dasar buaya!”


Dewa Tampan melirik sebentar ke arah keenam pria yang merasa lega akan kedatangannya. Mereka merasa terbebas dari belenggu kematian, namun sayangnya anggapan itu salah. Dewa Tampan mengayunkan tangan membentuk ratusan energi pedang lalu melemparkannya ke arah keenam pembunuh yang terbelalak kaget tidak menduganya. Mereka pun mati dengan mata melotot.


“Aku akui kalau kau memang hebat, Anak Muda. Namun kau terlalu bodoh menciptakan permusuhan denganku. Apakah engkau tahu siapa diriku ini? Aku adalah makhluk yang tak bisa disinggung oleh siapa pun. Paham!” ujar Dewa Tampan menyombongkan diri.


Mendengar perkataan yang dilontarkan oleh Dewa Tampan membuat Ucup teringat lagu dari "Petualangan Sherina". Ia lalu bernyanyi dalam hati.


~Dia pikir, dia yang paling hebat


Merasa paling jago dan paling dahsyat


Dia memang jago …. Dia memang dahsyat ~


Ucup dengan sikap yang tenang hanya memperhatikannya tanpa mau menjawabnya. Di bibirnya terlihat sedikit keanggunan yang menyerupai senyum, meskipun tak sepenuhnya ia tersenyum. Ia mengambil napas dalam-dalam, dan cahaya cerah di matanya tiba-tiba berubah menjadi kilat dingin dan kejam, dan sorot mata yang tajam dan dingin itu ia tujukan dengan sinis ke arah ketiga dewa palsu di atasnya.