
Seperti kilauan bintang di tengah malam yang mengintip dari balik awan, cahaya samar-samar muncul di ujung hutan, memberi isyarat bahwa perjalanan melewati hutan yang gelap seperti malam telah mencapai puncaknya.
Ucup dan Jane, seperti dua elang bebas yang terbang tinggi di langit, semakin mempercepat laju kudanya, menghujam melalui hutan seperti angin yang menerpa pepohonan. Wajah mereka bersinar terang seperti matahari terbit, dipenuhi kebahagiaan dan kepastian bahwa rintangan yang lalu telah usai dan tantangan berikutnya akan segera tiba.
Tali kendali ditarik keras ketika laju kuda telah mencapai ujung hutan. Ucup dan Jane tercengang melihat tebing yang begitu curam, nyaris mengantarkan maut jika saja keduanya terlambat menghentikan laju kuda.
“Jane, apa sebelumnya kamu melewati tebing ini?” tanya Ucup meliriknya.
Jane terlihat kebingungan. Ia terus saja mengerutkan kening tidak memercayai dengan semua yang dilihatnya sekarang.
“Aku tidak tahu kalau kita salah arah,” jawab Jane terlihat bingung.
“Sudahlah, hal seperti ini sudah biasa terjadi,” kata Ucup menenangkannya. Ia kemudian meminta ketiga monster kecilnya, Hong, Lan, dan Huang untuk mencari jalan lain dengan menyusuri jalur tebing.
“Kita tunggu saja sambil menikmati senja!” usulnya.
Jane mengangguk setuju meskipun dalam hatinya ia masih bergelut dengan kebingungannya. Sepengetahuannya, tidak ada tebing yang memisahkan hutan dengan area di luarnya.
Di ujung tebing yang menjulang tinggi itu, Ucup dan Jane saling merapatkan kuda, mata mereka terpaku pada panorama senja yang indah. Langit bertransformasi menjadi kanvas yang dipenuhi warna-warni keemasan, menciptakan lukisan alam yang memesona. Angin sepoi-sepoi senja membelai wajah mereka, membawa aroma bunga liar dan aroma segar dari rumput hijau di bawah tebing.
Sementara Berlian masih terlelap tidur dengan menyandarkan tubuhnya di punggung Ucup; melingkarkan kedua tangannya di perut Ucup. Beberapa waktu kemudian, kedua mata Ucup menyipit, wajahnya mengernyit merasakan suatu kejanggalan dari semesta yang sedang dinikmatinya.
“Mengapa posisi matahari tidak berubah sedikit pun?” gumam Ucup yang baru menyadarinya.
“Lord Ucup, gunakan mata semesta untuk memastikannya!” kata Pangeran Xiao Li Dan.
Ucup kemudian mengaktifkan mata semestanya memindai semua yang ada di depannya. Alangkah terkejutnya Ucup melihat panorama di depannya hanyalah sebuah ilusi. Ia tersentak mengingat ketiga monsternya yang sedang mencari jalan lain.
“Celaka!” Ucup memutar kepala mencari keberadaan ketiga monsternya.
“Kak Ucup, apa yang terjadi?” tanya Jane penasaran melihat raut wajah Ucup yang begitu panik.
“Aku harus mencari ketiga monsterku,” jawab Ucup yang langsung menarik kendali kuda dengan sangat kencang sehingga sang kuda meringkik keras dan mengangkat kaki depannya. Tak ayal, Berlian yang sedang tertidur langsung terbangun dengan tatapannya yang membeliak. Ia semakin mengencangkan pegangannya agar tidak jatuh dari punggung kuda.
“Tunggu, Kak! Aku ikut,” teriak Jane yang langsung memacu kudanya mengejar Ucup.
Ucup terus memindai area di sekitarnya sambil memacu kuda mencari keberadaan Hong, Lan, dan Huang.
“Di mana mereka?” Ucup mulai cemas pada ketiganya.
“Hong! Lan! Huang!” teriak Ucup begitu keras.
Tidak terdengar sahutan dari ketiganya yang biasanya saling mendecit memenuhi ruang udara. Sayangnya yang terdengar hanyalah desir angin yang bertiup menerpanya. Ucup memutar kepala ke sana-kemari berusaha menemukan jejak yang ditinggalkan oleh ketiganya. Namun Ucup bukanlah seorang pemburu yang pandai mencari jejak.
“Lord Ucup, mengapa tidak meminta Bing Shi untuk membantumu?” ujar Pangeran Xiao Li Dan menyarankan.
“Betul juga, aku sampai lupa memiliki monster pemburu,” sahut Ucup yang langsung menghentikan laju kudanya.
Ia lalu menarik Bing Shi keluar dari alam jiwa. Begitu Bing Shi keluar, kuda yang ditunggangi Ucup mendadak terkejut hingga bulu kudanya meremang. Saking takutnya kuda besar itu pun menjatuhkan diri ke tanah sambil menekuk kepala. Ucup dan Berlian terpaksa melompat dari punggung kuda.
“Bing Shi, bantu aku mencari ketiga monster imut,” pinta Ucup tanpa basa-basi.
Buk!
Tiba-tiba terdengar suara jatuh di belakang Ucup. Sontak saja Ucup dan Berlian langsung membalikkan badan melihatnya. Terlihat oleh keduanya seorang gadis yang meringis kesakitan di bawah pohon dengan wajah yang begitu kotor. Melihat itu, Berlian langsung berlari menolongnya.
“Kamu tidak apa-apa, Jane?” Berlian mengulurkan tangan membantunya berdiri.
“Kuda sialan! Tiba-tiba saja ia mengguncang tubuhnya hingga melemparkanku seperti ini,” keluh Jane sambil berusaha berdiri menggapai tangan Berlian.
Ia berjalan tergopoh-gopoh dengan hati yang dongkol. Begitu melihat kuda di depannya, Jane yang sedang dipenuhi kekesalan melampiaskannya dengan menendang kuda yang sedang telungkup. Sontak saja si kuda terperanjat bangun lalu kabur melarikan diri. Ucup dan Berlian menggelengkan kepala melihatnya dan ketiganya menaiki punggung Bing Shi.
Bing Shi adalah monster singa es bertubuh besar, bahkan ukuran tubuhnya sanggup ditumpangi oleh empat pria dewasa. Ia juga memiliki bulu-bulu yang lembut, namun ketika dalam mode bertarung, bulu-bulunya berubah menjadi duri yang tajam dan bersuhu sangat dingin hingga mampu membekukan darah siapa pun yang terkena durinya.
Bing Shi berjalan cepat sambil mengendus jejak yang ditinggalkan oleh ketiga monster imut. Sungguhpun begitu, kemampuannya berburu tidak terpaku pada penciumannya, melainkan pada nalurinya yang sangat tajam.
“Yang Mulia, aku mengendus bau hewan penyihir,” ujar Bing Shi memberi tahu.
“Hewan penyihir! Maksudnya?” Ucup bertanya-tanya.
“Siluman,” Pangeran Xiao Li Dan menjawabnya.
“Oh!” Ucup menimpali.
“Bagaimana, apa kamu sudah menemukan ketiga monster imut?” Ucup bertanya kepada Bing Shi.
“Ya. Mereka berjarak 300 tombak dari sini,” jawab Bing Shi dengan yakin.
Setelah menjawabnya, Bing Shi berlari secepat kilat ke arah ketiga monster yang berada di area datar yang dipenuhi semak-semak yang tingginya sebatas lutut orang dewasa. Mata Ucup menyipit memandang arah jauh. Tampak ketiga monsternya, Hong, Lan, dan Huang sedang bertarung sengit melawan seekor rubah emas berekor sembilan.
“Tahan, Bing Shi! Kita biarkan saja Hong, Lan, dan Huang menyelesaikan pertarungannya,” pinta Ucup yang pandangannya begitu fokus melihat pertarungan ketiga monsternya.
Di tengah sengitnya pertarungan, Ucup dan yang lainnya disuguhkan oleh kekompakan ketiga monster dalam pertarungan. Hong menyerang dengan taringnya yang tajam, Lan mengamuk dengan sayapnya yang memesona, dan Huang menghujam dengan cakarnya yang mematikan. Potongan rumput liar dan serpihan energi beterbangan di sekitar mereka, menciptakan pemandangan dramatis yang mencerminkan ketegangan dan keberanian dalam pertarungan yang begitu sengit.
Rubah emas berekor sembilan tak ingin kalah. Dalam pertarungan melawan ketiga monster yang kuat, ia memperlihatkan keahliannya yang luar biasa. Dengan gerakan yang lincah dan refleks yang tajam, rubah emas tersebut menghindari setiap serangan yang dilancarkan oleh Hong, Lan, dan Huang. Dengan ekornya yang panjang dan indah, ia meluncur melalui udara seperti kilat, mengelabui lawannya dengan kecepatan yang sulit dipercaya. Sementara ketiga monster itu berusaha keras menyerangnya, rubah emas berekor sembilan dengan cerdik memanfaatkan kekuatan dan kecepatannya untuk melindungi diri dan membalas serangan-serangan mereka dengan lincah.
Rubah emas berekor sembilan terus berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat lain dalam menghindari dan mengelabui ketiga monster yang menyerangnya. Namun, begitu dirinya melihat keberadaan singa es dan ketiga orang yang menungganginya. Rubah emas tampak begitu panik. Ia kemudian berputar cepat membentuk beliung dan ….
Boom!
Ledakan keras terdengar memenuhi udara. Hong, Lan, dan Huang terpental jauh terkena gelombang kejut yang tercipta dari ledakan.
Suasana menjadi hening setelahnya. Siluman rubah emas berekor sembilan menghilang dari pandangan semua yang menyaksikannya. Begitu pun dengan ketiga monster, Hong, Lan, dan Huang yang kebingungan setelah terpental dari ledakan. Kekecewaan terlihat dari sorot mata ketiganya yang masih ingin melanjutkan pertarungan.
Tak lama berselang, terdengar retakan dari dinding tak kasat mata yang menutupi bagian hutan. Sebuah perisai ilusi yang menutupi bagian luar hutan akhirnya pecah dan memperlihatkan area luas di sekitarnya.
“Syukurlah, akhirnya kita benar-benar keluar dari hutan ini,” kata Ucup merasa lega melihatnya.
Perjalanan pun dilanjutkan dengan melintasi semak belukar menuju kota yang berada di utara Alexandria.