
Setelah mendapatkan hukuman yang menyakitkan, Ucup kini seperti seorang anak kecil yang habis dimarahi ibunya karena belum mengerjakan tugas dari sekolah. Kepalanya terus menunduk, namun bukan karena takut dihukum, melainkan takut melihat kecantikan sang dewi yang membuatnya sangat tergila-gila melebihi ketika dirinya melihat Berlian yang tumbuh dewasa.
“Lord Ucup, cantiknya Dewi Kehidupan masih belum seberapa jika dibandingkan dengan istri dari sang penguasa iblis yang cantiknya paling sempurna di alam semesta ini. Jadi, kamu tidak perlu bersikap begitu, apalagi kamu ditakdirkan untuk memiliki banyak istri,” ujar Pangeran Xiao Li Dan menyemangatinya.
“Ha-ha! Betul juga katamu, Brother,” balas Ucup kembali semangat.
Dewi Kehidupan kembali mengulang proses pembuatan pil. Ucup tampak serius mengamati sang dewi dengan penuh perhatian, bahkan ia tidak melewatkan pada hal-hal kecil yang dilakukan oleh sang dewi dalam proses mengolah sumber daya hingga akhirnya menjadi sebuah pil berkualitas.
“Aku tidak akan mengulanginya lagi. Ayo kerjakan dengan apa yang telah aku tunjukkan padamu!” kata Dewi Kehidupan memintanya.
“Baik, Nona,” sahut Ucup tampak yakin.
Ucup mulai meracik bahan yang tersedia di hadapannya. Cara dia mengambil, mengumpulkan, dan meramunya sangat mirip dengan Dewi Kehidupan. Bahkan sang dewi pun melebarkan mata melihatnya, terkagum.
“Anak ini, bahkan dia meniru gayaku dalam meracik bahan,” gumam sang dewi mengaguminya.
Semua yang dilakukan Ucup sangat baik, namun ketika bahan sudah siap untuk diolah, Ucup terdiam menatap sang dewi.
“Gunakan saja energi semesta, tak perlu kamu menyegelnya selama berada di alam jiwa,” ujar sang dewi memahaminya.
Ucup mengangguk lalu melepas segelnya. Setelahnya, ia kemudian menciptakan api dari jarinya dan melanjutkan pengolahan obat.
Selang beberapa waktu kemudian, Ucup berhasil menciptakan pil pertamanya. Ia tampak begitu puas melihat hasilnya. Begitu pun dengan sang dewi yang semakin kagum melihatnya.
Setelah itu, Dewi Kehidupan melanjutkan pelajarannya membuat serbuk untuk menyuburkan tanaman. Kembali sang dewi dibuat takjub melihat Ucup yang sangat cepat memahami semua yang diajarkannya. Saking bahagianya sang dewi pada kecerdasan Ucup, ia bahkan tidak segan lagi mengajarkan semua pengetahuan yang dimilikinya kepada Ucup. Tidak hanya pengolahan sumber daya, bahkan berbagai teknik pengobatan pun diajarkannya.
Sampai akhirnya tidak ada lagi yang bisa diajarkannya tentang pengolahan sumber daya dan pengobatan. Kini, tibalah pada bagian terakhir dari pelajarannya, yaitu menguasai lima elemen tanpa menggunakan energi semesta.
“Pelajaran yang terakhir tidak bisa dilakukan di alam jiwa. Kita akan keluar untuk mempelajarinya,” ujar sang dewi.
Ucup mengangguk saja mengikuti ucapan sang dewi, lalu keduanya keluar dari alam jiwa.
“Aku akan membawamu ke tempat yang cocok untuk berlatih.” Dewi Kehidupan menggenggam tangan Ucup dan membawanya terbang ke suatu tempat.
Sampai tiba di tempat yang dituju, Dewi Kehidupan melayang rendah di atas sebuah lembah yang tampak mengalami kerusakan bekas dari perang.
“Sebarkan semua serbuk kehidupan,” pinta sang dewi, “aku akan menciptakan hujan untuk mempercepat proses pertumbuhan tanaman.”
Ucup langsung melemparkan serbuk kehidupan mengikuti gerakan sang dewi yang berputar-putar di sekitar lembah. Setelah itu, hujan pun turun menyirami lembah dan membasahi keduanya yang melayang berputar-putar.
Siapa sangka, hal itu membuat hati sang dewi begitu bahagia. Bahkan ia tidak dapat menyembunyikan wajahnya yang merona.
“Mengapa aku sebahagia ini?” batin sang dewi.
Setelah hujan reda, berbagai tanaman mulai tumbuh di sekitar lembah dan sangat cepat pertumbuhannya. Uniknya, lembah itu didominasi oleh berbagai bunga yang menghiasi sepertiga wilayah lembah. Bagai taman surgawi, sang dewi begitu terpesona pada keindahannya. Ia lalu turun ke taman bunga dan langsung merentangkan kedua tangannya menyentuh bunga-bunga yang bermekaran.
Sementara Ucup hanya berdiri diam memperhatikan sosoknya.
“Jadi ingin menyanyikan lagu India,” kata Ucup melihat suasana di sekitarnya.
~Tum pas aaye, yoon muskuraaye
Tumne na jane kya, sapne dikaaye
Tum pas aaye, yoon muskuraaye
Tumne na jane kya, sapne dikaaye
Abh to mera dil, jage na sota hai
Kya karon hai, kuch kuch hota hai.~
Ucup menyanyikan lagu India sambil menggoyang-goyangkan pinggulnya. Dewi Kehidupan yang mendengarnya langsung mendekati, meski tidak memahami nyanyian yang dibawakan oleh Ucup, ia ikut menikmatinya. Senyuman terus terukir dari bibir merahnya yang tipis.
Ucup yang melihatnya kembali hanyut dalam senyuman sang dewi. Seperti aktor Shah Rukh Khan, Ucup menggenggam jemari tangan sang dewi dan membawanya berlarian di tengah taman bunga sambil terus bernyanyi.
Hingga suatu ketika, sang dewi tersandung batu dan dengan cepat Ucup menarik tubuh sang dewi ke dalam pelukannya. Keduanya pun terjatuh bergulingan di hamparan bunga-bunga yang bermekaran.
Ucup tersenyum melihatnya lalu menciumnya dengan lembut. Keduanya saling berpagutan menyelami kenikmatan surgawi yang begitu anggun. Romantisme kedua insan dalam memadu kasih membuat kesenangan berlanjut ke tahap yang lebih menantang adrenalin. Tangan Ucup bergerilya menjelajahi bukit, berputar-putar hingga ke puncaknya.
Sesekali ia menekan tombol mencari saluran radio yang memutar lagu India. Deru napas yang memburu dan suara indah dari bibir sang dewi menciptakan irama dangdut yang mendayu-dayu. Ucup semakin bersemangat dalam kesenangannya dan tangan satunya bergerilya menuruni lembah yang begitu lembap hingga menetap di dalamnya.
Namun sayangnya, semua itu hanyalah khayalan dari imajinasinya yang liar hingga sang dewi menggeleng-gelengkan kepala melihat Ucup yang melamun sambil meneteskan saliva.
“Ucup, apa yang kamu lamunkan?” tegur sang dewi yang melihatnya tersenyum-senyum sendiri.
Ucup terkesiap sadar dari lamunannya. Ia cengengesan sambil menggaruk kepalanya dan berkata, “Suasana di sini mengingatkanku pada waktu kecil, aku berlarian mengejar kupu-kupu di taman bunga dengan begitu riang.
“Betulkah?” tanya sang dewi tidak memercayainya.
“Iya, sungguh aku memikirkannya,” jawab Ucup begitu yakin.
“Apa menangkap kupu-kupu akan membuat saliva menetes keluar dan monstermu terbangun?”
Degh!
Ucup langsung menunduk melihat adik monsternya yang berdiri tegak menantang langit. Ia kemudian membalikkan badannya dengan perasaan malu seraya membersihkan dagunya yang basah.
“Maaf Nona,” kata Ucup lirih.
“Sudah, itu normal untuk pemuda sepertimu. Namun kamu harus ingat hukuman apa yang pernah kuberikan padamu,” timpal sang dewi dengan seringainya yang dingin.
“Setelah monstermu tertidur, temui aku di pohon sana!” imbuh sang dewi menunjuk ke arah sebuah pohon besar yang rimbun.
“Ba-baik, Nona,” balas Ucup.
Dewi Kehidupan langsung pergi meninggalkannya dengan seutas senyum yang disembunyikan. Walau bagaimanapun, sebagai seorang wanita tentunya sang dewi menginginkannya, namun kedudukannya sebagai seorang pilar semesta membuatnya harus menahan diri dari keinginannya itu.
Setelah sang monster kembali tertidur, Ucup berlari ke arah pohon tempat sang dewi menunggunya.
Pelatihan dimulai. Sang dewi mengajarinya cara memanfaatkan energi alam untuk mengolah lima elemen, yaitu udara, air, api, tanah, dan kayu. Seperti biasanya Ucup mengikuti semua pelajaran dengan sangat baik. Meskipun tidak sehebat ketika dirinya menggunakan energi semesta, namun hasilnya tidak berbeda jauh. Bahkan teknik menggunakannya sangat bervariasi.
Lebih dari sebulan waktu yang ditempuh dalam pelatihan, waktu yang lumayan cukup lama untuk mempelajarinya. Hal itu karena sang dewi ingin memastikan muridnya bisa menguasai apa yang diajarkannya.
“Ucup,” panggil sang dewi.
Ucup yang masih berlatih mempraktikkan kepandaiannya langsung berhenti dan menolehnya.
“Iya, Nona,” sahut Ucup kemudian mendekatinya.
“Tidak ada lagi yang bisa kuajarkan kepadamu. Maka dari itu, aku akan kembali ke ruang hampa. Teruslah berlatih dan semoga misimu selesai!” ujar sang dewi.
“Terima kasih, Guru,” balas Ucup yang sekarang baru memanggilnya dengan sebutan guru.
“Tidak perlu memanggilku guru, aku senang kamu memanggilku dengan sebutan nona,” kata sang dewi menolaknya.
“Baik, Nona,” balas Ucup.
“Nona,” panggil Ucup.
“Ya, katakanlah!” sahut sang dewi.
“Selama ini aku belum tahu namamu, Nona,” kata Ucup, “bolehkah aku mengetahuinya?”
Dewi Kehidupan tersenyum lembut menanggapinya dan berkata, “Namaku Nura.”
Ucup akhirnya merasa lega bisa mengetahui nama gurunya tersebut. Sang dewi mengepalkan kedua tangan menjura.
“Semoga takdir mempertemukan kita kembali. Sampai jumpa muridku yang tampan,” imbuh sang dewi dan seketika langsung menghilang dari pandangan Ucup.
Ucup tersenyum lebar mendengarnya. Kekagumannya pada sang dewi membuatnya bertekad untuk tidak mengecewakannya dalam menjalankan misi. Ia pun melanjutkan perjalanan meninggalkan Lembah Bunga Nura. Sebuah nama yang dibuat Ucup untuk mengingat wanita cantik yang telah mengajarkan banyak hal kepadanya.