
Ucup berdiri di belakang si pengintai yang tengah telungkup sambil mengamati pertarungan dengan serius. Ia mengusap dagunya dengan penuh pemikiran, mencoba mencari tahu bagaimana caranya membunuh dengan elegan. Namun, saat Ucup merasa kesal karena tak kunjung menemukan ide brilian, ia tiba-tiba mendapatkan "inspirasi" yang tidak terduga.
Dengan senyum nakal, Ucup berjongkok di belakang kaki si pengintai yang terjulur. Dengan lembut, ia mulai memijat lembut betis kaki si pengintai. Si pengintai yang awalnya serius seketika terkejut, lalu memalingkan wajahnya dengan rasa heran.
“Kau! Mau apa kau?” kaget si pengintai yang langsung mundur dua tombak menjauhi Ucup. Ia kemudian menarik pedang dari sarungnya dan bersikap waspada.
“Aku Ucup si tukang pijat yang sudah terdaftar di RT setempat dan memiliki rating lima di Mainstore .... Apakah pijatanku enak, Om?” jawab Ucup seraya meminta pendapat.
“E …,” ucap si pengintai terputus.
“E-nya tiga ya, Om. Duh, aku tidak menyangka kalau Om penggemar Sis-K e-nya tiga. Apa Om juga penggemar Miyabi?” Ucup terkekeh malu-malu mengatakannya.
“Kau bicara apa, Anak Muda? Maksudku pijatanmu enak. Kau malah menyela ucapanku tadi,” desis si pengintai tampak kesal.
“Kirain, Om. Kalau Om suka pijatanku, silakan Om kembali telungkup. Biar kaki Om aku pijat. Dijamin, Om pasti merasa lebih ringan setelahnya.”
“Hem.” Si pengintai langsung merebahkan tubuhnya dalam posisi telungkup.
Ucup tersenyum penuh kejahilan. Ia memulai aksinya dengan membasahi telapak tangan dengan salivanya sebagai pelumas yang diaplikasikan pada kulit betis si pengintai.
"Cuih, cuih."
"Ada dahaknya dikit. He-he!" kekeh Ucup sambil mengusapi kedua telapak tangannya yang lengket.
Aksinya kemudian dilanjutkan dengan gerakan mengusap dan menekan secara bertahap dan teratur.
“Kau sangat pintar, Anak Muda. Pijatanmu membuatku nyaman,” puji si pengintai begitu menikmatinya.
Tak lama kemudian, tiga orang pengintai lainnya sudah berdiri di belakang Ucup. Mereka terkejut melihat seorang teman mereka sedang dipijat oleh pemuda yang menjadi targetnya.
“Ketua Eric!” panggil salah seorang pengintai yang keheranan melihatnya.
Eric langsung menoleh melihatnya dan berkata, “Kalian tidak perlu terkejut melihatku. Pijatan anak muda ini sangat enak. Cobalah! Kita nikmati waktu kita sampai Dewa Tampan menyelesaikan pertarungannya.”
Ketiga pengintai saling melirik dengan rasa penasaran pada kemampuan si pemuda yang masih sibuk memijat kaki ketuanya. Mereka lalu mengangguk dan merebahkan tubuh di samping sang ketua, berderet seperti ikan asin di warung Bi Ijah. Namun salah satu di antara mereka merupakan seorang wanita yang mendekati usia paruh baya. Masih tergolong cantik di usianya yang tidak lagi muda. Meskipun ragu untuk merasakan pijatan sang pemuda, pada akhirnya ia ikut juga merebahkan badannya. Mengingat kondisi fisiknya yang begitu lelah setelah melakukan pengintaian yang memakan waktu cukup lama di kedalaman hutan.
“Anak Muda, jangan terlalu lama memijat ketua kami! Waktu kami di sini sangat terbatas,” pinta seorang pria berusia sekitar 40-an tahun sedikit tidak sabar.
“Tenang saja, Om. Sebentar lagi aku selesai,” sahut Ucup sambil tersenyum.
Beberapa helaan napas berikutnya, Ucup menyelesaikan pijatannya. Sang ketua pengintai pun terlelap tidur. Ia kemudian melanjutkan pijatannya di kaki si pria tambun yang tadi tidak sabar.
“Om terlalu banyak berlari hingga jaringan otot kaki Om menjadi tegang. Untungnya tidak sampai kram,” ujar Ucup setelah menyapu sepertiga bagian kaki yang akan dipijatnya.
“Kau rupanya sangat piawai memahami kondisi tubuhku,” puji sang pria tambun.
"Karena pengalaman saja, Om. Bahkan aku juga pernah memijat dinosaurus."
"Apa itu? Aku baru mendengarnya."
"Masa Om tidak tahu ..., itu loh yang badannya gemuk mirip Om."
"Kodok!"
Ucup mendengus dan berkata dalam hati, "Ini orang tidak pernah makan bangku sekolah rupaya. Bodoh!"
Gerakan demi gerakan menekan terus dilakukan Ucup hingga sang pria tambun begitu menikmatinya dan tak lama kemudian, ia pun terlelap menyusul sang ketua yang lebih dulu tertidur. Ucup melanjutkan dengan pria kurus yang belum juga dipijat tapi sudah tertidur. Mungkin faktor kelelahan dalam menjalankan pengintaian yang membuatnya tertidur atau habis begadang menghitung jumlah daun di hutan.
Ucup melirik ke arah wanita yang menjadi klien terakhirnya. Akan tetapi, sang wanita begitu gugup. Tampak bulir-bulir keringat membasahi wajahnya yang sedikit pucat.
"Bukannya bergosip ria sama emak-emak komplek, malah ikut jadi pengintai di hutan yang gelap ini. Nggak kasian apa sama keluarga di rumah yang nungguin ocehanmu, Nyonya," cibir Ucup dalam hati.
“Nyonya harus santai jika ingin dipijat, karena aku tidak bisa memijat otot yang tegang,” ujar Ucup menjelaskan seraya tersenyum lembut.
“Ba … baiklah,” sahut sang nyonya mengiyakan. Ia kemudian menarik napas dalam-dalam lalu mengembuskannya secara perlahan untuk meredakan ketegangan.
“Silakan, Anak Muda!” imbuhnya mengizinkan.
“Maaf Nyonya kalau aku tidak sopan. Bisakah Nyonya membuka sepatu dan menyingkap gaun bawah? Aku tidak bisa memijat kaki yang masih tertutup.”
“Bisakah kamu membantuku membukanya?”
“Baik, Nyonya.”
Dengan begitu cekatan, Ucup membuka sepatu yang terbuat dari kulit satu per satu dan dilanjutkan dengan menyingkap kain yang menutupi kaki si nyonya.
“Sepatu Nyonya bagus, tapi sayang …,” kata Ucup menggelengkan kepalanya pelan.
“Sayang kenapa?” tanya si nyonya sambil mengerutkan kening.
“Bukan itu maksudku! Aku wanita yang setia kepada suamiku,” sungut si nyonya mulai kesal.
"Setia kok ninggalin."
"Ngomong sekali lagi, kucincang kau!"
Ngeri juga Ucup mendengar ancaman yang terlontar dari mulut si nyonya.
“Ma … maaf, Nyonya. Sayangnya sepatu Nyonya tak bermerek,” jelas Ucup memberanikan diri.
“Apa itu merek?” lanjut tanya si nyonya tidak memahaminya.
“Merek itu nama diri pembuat. Tentunya sepatu Nyonya juga ada yang membuatnya. Bukan begitu, Nyonya?”
“Entahlah, aku membelinya di toko Adilas.”
“Wanjir, di dunia ini ada toko Adidas?”
“Adilas bukan Adidas.”
“He-he!”
“Makhluk aneh!”
Ucup terkekeh seraya terus aktif menggerakkan tangannya di betis kaki si nyonya yang sekarang sudah rileks dan menikmati pijatan Ucup.
“Ini cewek, betisnya mirip kaki gajah. Gede betul,” cibir Ucup membandingkannya dengan gajah.
Ucup terus memijat betis kaki si nyonya sambil termenung. Namun, tiada angin tiada hujan, tiba-tiba saja Ucup merasa bersalah telah mengejek tubuh si Nyonya. Ia pun meminta maaf di dalam hatinya.
“Maafkan aku yang telah body language kepadamu, Nyonya,” gumam batin Ucup menyesalinya.
“Eh, maksudku body samping,” imbuhnya mengoreksi.
"Bukan itu, tapi oli samping. Eh, bukan! Ya ampun aku lupa istilahnya."
Beberapa saat kemudian, si nyonya tertidur pulas.
"Bobo yang nyenyak ya, Om-Om dan Nyonya. Nanti kalian bangun sudah ada yang menyambut kalian di neraka atau di warung Bu Ela," kata Ucup sekenanya.
Selesai juga Ucup menidurkan keempat pengintai, Ucup kemudian menggerakkan jarinya membentuk gumpalan elemen es yang sangat dingin, lalu mengalirkannya ke tubuh keempat pengintai yang seketika membeku dengan sendirinya. Setelah itu, ia melanjutkannya dengan menjentikkan jari dan ….
Krak!
Tubuh keempat pengintai langsung hancur menjadi kabut es yang menguap ke udara.
"Kak Ucup! Kak Ucup!"
Tiba-tiba terdengar suara teriakan dari Jane yang memanggil namanya berulang kali.
“Sepertinya ada sesuatu yang buruk,” gumam Ucup merasa was-was, ia lalu secepatnya kembali.
Suasana begitu hening tanpa terdengar lagi pertarungan yang berlangsung antara Berlian dan Dewa Tampan. Pandangannya langsung tertuju ke arah Jane yang sedang memangku tubuh Berlian yang tergolek lemah penuh luka di sekujur tubuhnya. Ucup menghampirinya dan berjongkok.
“Adik Lian,” panggil Ucup, lirih.
“Dia pingsan setelah berhasil membunuh Buaya Buntung,” kata Jane setengah berbisik.
“Buayanya belum mati. Dia berhasil melarikan diri,” timpal Ucup yang tidak menemukan tubuh si dewa tampan.
Ucup mengambil alih tubuh Berlian dari pangkuan Jane. Ia kemudian memasukkan sebutir pil penyembuh ke mulut Berlian. Tak lama berselang, luka-luka di tubuh Berlian kembali pulih menyisakan noda darah yang mulai mengering. Setelahnya, Berlian membuka mata dan menatap Ucup dengan senyuman lembut yang terukir dari bibirnya yang semerah ceri. Jane Bussarakham terjelengar melihat keajaiban dari pil yang diberikan oleh Ucup kepada Berlian.
“Hanya menelan sebuah pil, luka-luka parah di tubuh Berlian langsung sembuh secepat itu!” decak Jane dengan tatapan membeliak dan kepalanya menyengguk.
Suara ringkikan kuda membuyarkan keheranan Jane yang masih tercenung dalam diam.
“Eh, kalian sudah berada di atas kuda!” Jane menggaruk-garuk kepalanya sambil tersipu.
“Masih ada satu kuda yang bisa kamu tunggangi …, ayo cepat, kita harus secepatnya keluar dari hutan ini!” kata Ucup yang tak mau terlalu lama berada di hutan yang begitu gelap.
Jane mengangguk lalu berjalan cepat ke arah kuda dan menaikinya.
“Ayo!” Jane menarik tali kekang kuda dan langsung melaju cepat memimpin jalan.
Dalam kegelapan total hutan yang tak tersentuh oleh cahaya apa pun di atasnya, Ucup dan Jane melajukan kudanya dengan hati yang lega setelah berhasil mengalahkan para pengintai yang mengancam. Suara daun-daun yang bergoyang dan desiran angin menjadi satu-satunya teman setia yang mengiringi perjalanan di dalam keheningan yang mencekam.
Hutan itu seperti tempat yang tak ada akhirnya, dengan pohon-pohon raksasa yang menjulang tinggi dan rimbunnya dedaunan yang tak menyisakan celah untuk cahaya dapat menerobosnya. Biarpun begitu adanya, Ucup merasa teguh dalam tekadnya untuk melanjutkan perjalanannya ke wilayah utara yang menanti di luar kegelapan hutan.