Pendekar Pedang Somplak

Pendekar Pedang Somplak
Kuntilawati Jerocai


Setelah mendengar semua ceritanya, Ucup mengelus-elus dagu dan mengerutkan kening membayangkan semua yang terjadi di Danau Darah. 


Tatapannya tampak begitu serius seolah ia terus memikirkannya, namun seorang Ucup tidak sedang memikirkan cerita tentang Danau Darah, melainkan nama dari sang gadis yang terus dipikirkannya.


“Hem!” deham Ucup sambil mengangguk-anggukkan kepala.


“Dari semua ceritamu, aku lebih tertarik memberimu sebuah nama baru …,” kata Ucup mengungkapkan.


Sang gadis memiringkan kepala menatap heran pemuda di depannya. Ia lalu berkata, “Untuk apa? Kan aku sudah memiliki nama.”


“Ya, tapi namamu terlalu keren dan kurang cocok.” Ucup memperhatikan Alexandria dari atas sampai bawah.


“Mengapa melihatku seperti itu? Meski aku seorang iblis, tapi aku adalah gadis yang tak bisa disentuh oleh pria sembarangan.” Alexandria bersikap penuh waspada.


Ucup tak mengindahkannya, ia tiba-tiba saja meraba kepala si gadis dengan memutar telapak tangannya mencari sesuatu yang janggal, namun ia tidak menemukannya.


“Aman, tidak ada pakunya,” kata Ucup lalu memutar tubuh Alexandria.


“Tampak bagus dan tidak ada keanehan,” imbuhnya.


Alexandria semakin heran dengan tingkah Ucup. Meskipun begitu, ia membiarkan saja sang pemuda memperlakukannya seperti boneka dan tetap bersikap waspada.


“Mulai sekarang, namamu adalah Kuntilawati Jerocai. Bagaimana? Itu cocok untukmu.” Ucup tersenyum lebar.


 “Nama yang aneh,” gerutu Alexandria tidak menyukainya.


“Karena dirimu sudah menceritakan semuanya, maka aku akan kembali ke permukaan. Kuharap tidak ada lagi ritual-ritual aneh di danau ini. Jika suatu saat nanti aku mendengar kabar ritual terjadi lagi, dirimu akan kutusuk dengan adik monsterku,” kata Ucup mengancamnya.


“Apa maksudmu yang itu?” Alexandria menunjuk ke arah monster Ucup yang menyembul.


Ucup nyengir dan langsung naik ke permukaan. Ia kemudian menghampiri para bule yang masih terduduk menatap danau. Namun sayangnya, kehadiran Ucup tidak ditanggapi oleh semua bule, mereka tampak begitu bersedih. Bahkan, kesedihannya amatlah dalam. 


“Tidak ada yang bisa kalian ambil dari danau ini, pulanglah!” kata Ucup memintanya.


Tidak ada satu pun yang mau menanggapinya, Ucup tidak mempermasalahkan hal itu karena ia tahu apa yang sedang dirasakan oleh mereka semua. Mereka hanya ingin mengambil jasad keluarganya yang menjadi korban orang-orang sekte dan menguburkannya dengan layak. 


“Jangan menjadi beban orang-orang yang telah meninggalkan kalian. Hidup harus terus berlanjut,” ujarnya coba menenangkan hati mereka.


Namun, bukan ketenangan yang mereka dapatkan, melainkan tangisan histeris yang pecah di keheningan malam.


Melihat mereka menangis histeris di pinggiran danau, Ucup tiba-tiba saja tertawa keras. Suaranya membaur dengan tangisan … sehingga terdengar sangat kontras. Bahkan, semua orang yang menyaksikannya berpikir Ucup sudah gila dan tak memiliki empati lagi. 


Seorang pemuda tampan berwajah tegas dengan paksa menggosok matanya yang basah lalu berdiri membalikkan badan ke arah Ucup. Kedua tangannya terkepal erat dengan gigi geraham yang gemeretak menahan geram mendengar suara nyaring dari tawa Ucup.


“Kau, apa yang kau tertawakan?” tegur sang pemuda tidak menerimanya.


“Aku menangisi kematian keluargaku dan semua orang yang menjadi korban kebiadaban anggota sekte,” kata si pemuda dengan lugas.


“Ha-ha, benarkah itu? Bagaimana mungkin dirimu menangisi keluargamu dan juga orang lain, kalau dirimu saja tidak tahu bagaimana keadaan mereka sekarang? Yang jelas, mereka kini tak perlu lagi takut kepada orang-orang sekte yang kejam, tak perlu lagi merasakan bagaimana harus mati menjadi korban pertukaran sihir ataupun mati disiksa oleh bangsa iblis. Itukah yang kautangisi? Ataukah kau menangisi dirimu sendiri karena merasa ditinggalkan orang-orang yang kausayangi, merasa hidup tak berarti, dan tidak memiliki apa pun lagi? Begitukah? Katakan kepadaku!”


Si pemuda dan semua orang yang mendengarnya tertegun dalam diam sambil menundukkan kepala. Tidak ada satu pun yang bisa membantahnya. Ucup sendiri terus saja tertawa dan semakin keras saja suaranya. 


Kali ini, pemuda yang sama memberanikan diri bertanya, “Saudara Muda, mengapa dirimu terus tertawa? Apakah kami salah?”


“Ha-ha-ha! Tidak ada yang salah dengan kalian. Aku terus terbahak-bahak menertawakan kelucuan. Sungguh mengagumkan bagaimana manusia berada dalam dilema antara candaan dan tangisan, antara kebahagiaan dan duka. Mestinya, seorang pemuda seperti dirimu tidak pantas menangisinya; sebaliknya, kalian semua ikut tertawa sepertiku, menertawakan dunia beserta segala kepalsuannya. Sudahlah, jika kematian yang kalian tangisi, bukankah setiap yang bernyawa akan mati? Bahkan, pepohonan pun akan mati bila sudah tiba waktunya.


Mungkin benar yang dikatakan Ucup, namun setiap orang memiliki pandangannya sendiri dalam menyikapi. Begitu pun dengan seorang pria dewasa yang tidak ingin menelan mentah-mentah semua yang dikatakan oleh Ucup. Ia bangkit berdiri lalu mendekati Ucup. Mimik wajahnya menunjukkan ketidakpuasan dengan semua yang dikatakan oleh Ucup.


“Apakah pantas tertawa di atas penderitaan orang lain? Sementara setiap orang memiliki kebebasan emosi dan reaksi. Bukankah kita juga memiliki tanggung jawab moral untuk memahami dan merasakan dengan empati kondisi sesama manusia. Tepatkah menertawakan penderitaan yang mendalam dan menyakitkan? Hentikanlah tawamu itu, Anak Muda! Tumbuhkanlah solidaritas, tawarkan dukungan, atau bahkan berikan bantuan moral untuk orang-orang yang mengalami penderitaan. Tunjukkan kepada kami rasa simpati dan empati dengan sikap yang hormat dan penuh kasih,” ujar sang pria membalasnya.


Kali ini Ucup terdiam merenungkannya. Walau bagaimanapun, tidak ada yang salah dari maksud keduanya, baik Ucup ataupun pria tersebut. Meskipun dalam beberapa konteks tertawa mungkin bisa muncul sebagai bentuk rasa lega atau pelarian dari penderitaan, namun sangat penting untuk mempertimbangkan perspektif yang lebih mendalam menyikapi keadaan. 


“Yang dikatakan Paman Brad Pitt benar, maafkan kekurangsopananku, Paman! 


“Maaf, Anak Muda, namaku Edward Cullen bukan Brad Pitt yang kausebutkan. Lalu, siapa namamu?”


Ucup hampir saja melepaskan kembali tawanya, namun ia masih bisa menahannya. Ucup pun membalas, “Aku Ucup Rekber dari Benua Matahari. Aku di sini  dalam misi merekonstruksi alam dari kerusakan masa lalu.”


“Kami semua pernah mendengar kabar tentang turunnya sang penguasa semesta. Apakah itu dirimu, Saudara Ucup?”


“Itu hanya sebutan yang dilebih-lebihkan saja. Meskipun benar aku orangnya, seperti yang Paman lihat, aku hanyalah pemuda biasa. Tidak ada yang istimewa dariku.”


“Sungguh budi pekerti yang baik. Anda terlalu merendahkan hati, Saudara Ucup.”


Semua orang langsung berdiri melihat dekat sang pemuda yang ditakdirkan menjadi seorang penguasa semesta. Tiba-tiba saja seorang pria menjatuhkan diri berlutut di depan Ucup dengan kedua tangan terkepal memohon.


“Kalau benar Anda adalah seorang penguasa semesta, bantu kami membinasakan semua sekte kegelapan di seluruh wilayah Alexandria ini!” pintanya.


Beberapa pria lain ikut berlutut memohonnya. Ucup menjadi tidak nyaman melihatnya. Ia kemudian meminta semua  orang untuk berdiri.


“Aku bersedia membantu kalian, tapi dengan satu syarat ….” Ucup menatap serius semua orang.


“Katakan saja, kami bersedia memenuhinya,” balas pria yang terlihat paling tua di antara mereka.


“Alexandria adalah nama iblis penguasa danau ini. Aku telah mengganti namanya dengan nama yang lebih sesuai. Jadi, mulai sekarang, kalian akan menyebut wilayah ini dengan nama ‘Kuntilawati Jerocai’. Apakah kalian menerimanya?” 


Semua orang tampak heran mendengar nama yang begitu asing dan terkesan aneh, namun karena itu yang menjadi syarat dari Ucup untuk membinasakan semua sekte kegelapan, mereka pun menerimanya dengan rela hati tanpa mau memprotesnya.