Pendekar Pedang Somplak

Pendekar Pedang Somplak
Pesona Berlian


Mengetahui Pangeran Xiao Li Dan tidak berani menanggapinya, Ucup tertawa ringan merayakan kemenangan.  Setelahnya, ia langsung menarik Xue Xie keluar dari alam jiwa dan memintanya untuk memandikan Putri Xiao Lani.


“Sudah selesai, Tuan Muda,” kata Xue Xie menghampirinya.


“Sudah pakai gaun juga?” tanya Ucup.


“Tentu sudah, Tuan Muda. Aku tidak mungkin membiarkan Tuan Muda melihatnya dalam kondisi polos,” jawab Xue Xie terkekeh.


“Kalau kamu yang polos, bolehkah aku melihatnya?” Ucup mengedipkan mata dengan ekspresi penuh arti, menggodanya.


“Bukankah Tuan Muda sudah melihat semua milikku,” sindir Xue Xie, tersipu malu.


“Itu kan dulu, sekarang aku belum melihatnya lagi,” kata Ucup.


Tanpa disangka, Xue Xie mulai menyingkap gaun atasnya. Ucup yang melihatnya langsung menahan tangan Xue Xie seraya menggelengkan kepala.


“Aku hanya bercanda, jangan terlalu serius,” kata Ucup lalu berjalan ke arah pembaringan sang putri.


“Tuan Muda!” panggil Xue Xie.


Ucup menoleh dengan sudut alis yang mengerut dan bibir yang menyeringai. Xue Xie menggigit bibir bawahnya dengan tatapan yang sulit diartikan, seketika, ia berlari menghampiri dan melompat begitu saja. Kedua tangan dilingkarkan di leher Ucup dan kedua kakinya melingkar di pinggang. Ucup terkejut melihatnya, namun kedua tangannya begitu sigap menahan tubuh Xue Xie.


Xue Xie tersenyum dan berkata, “Aku merindukanmu.”


Setelah mengatakannya, Xue Xie langsung memagut bibir Ucup dengan lembut. Ucup pun membalasnya mengikuti gerakan Xue Xie yang mulai mempercepat ritme.


Merasa kurang nyaman, Ucup berjalan dan menyandarkan punggung Xue Xie ke dinding sambil terus berpagutan. Intensitas keduanya makin meningkat, bibir mereka menyatu dan lidah keduanya saling melilit dalam buaian kenikmatan. Keduanya tenggelam dalam pagutan itu, seolah dunia di sekitar mereka menghilang. 


Ucup bisa merasakan jantung Xie Xie berdebar semakin kencang. Dia juga bisa merasakan sesuatu yang membara dalam dirinya. Keduanya tidak ingin berakhir dalam pagutan, namun Ucup tidak ingin adik monsternya terbangun. Dengan sangat terpaksa, Ucup menarik kepala melepaskan pagutannya.


Meskipun begitu, tidak ada kekecewaan yang terlintas dari keduanya. Mereka saling menatap dengan mata yang berbinar.


“Terima kasih, Tuan Muda,” kata Xue Xie, bahagia.


“Ya,” balas Ucup, “itu … menyenangkan.”


Keduanya tersenyum, dan saling berpelukan. Ucup terus memangkunya untuk beberapa saat, menikmati kebersamaan mereka.


Setelahnya, Ucup memangku tubuh Putri Xiao Lani dan membawanya ke alam jiwa.


“Sebentar lagi dia akan siuman. Kamu jelaskan semuanya agar dia memahaminya,” kata Ucup.


Xue Xie mengangguk, namun kedua matanya tak terlepas sekalipun dari wajah pemuda di dekatnya.


“Kak Ucup!” teriak seseorang dari kejauhan.


Ucup meliriknya dengan raut wajah keheranan. Ia pun berdiri untuk melihatnya lebih jelas.


“Berlian,” ucapnya pelan.


Seorang gadis bergaun biru tampak melambai-lambaikan tangannya di atas punggung Long An, yang membawanya ke arah Ucup.


Ucup terpana melihat sang gadis yang kini telah remaja melompat dari punggung naga lalu berjalan mendekatinya.


“Kak Ucup,” Berlian kembali memanggilnya.


“Ba … bagaimana mungkin kamu bisa tumbuh dengan sangat cepat?” Ucup masih sulit memercayai tampilan gadis di depannya.


“Aku sengaja mengatur waktu yang sangat jauh dari waktu di luar. Berlian sudah berada di alam jiwa selama beberapa tahun, jadi sangat wajar kalau dia sekarang sudah besar,” ujar Pangeran Xiao Li Dan menjelaskan. 


Ucup memahaminya, namun ia masih sulit melihat Berlian yang begitu sempurna. 


“Kakak jahat, kenapa tidak pernah mengunjungiku selama ini?” keluh Berlian yang mengerucutkan bibirnya.


“Maafkan aku, Lian’er. Waktu di luar dengan di sini terpaut jauh. Aku jadi tidak bisa melihatmu tumbuh,” balas Ucup menjelaskannya.


“Kak, siapa gadis cantik itu?” tanya Berlian menunjuk ke arah gadis yang tertidur.


“Dia seorang putri dari Kekaisaran Xiao, namanya Xiao Lani. Dia akan menjadi keluarga kita di sini,” jelas Ucup.


“Cantik banget ya, Kak. Mirip dengan Kak Xie’er,” kata Berlian memuji.


“Aku bisa merias Kak Ucup menjadi cantik. Kakak mau aku rias?” tawar Berlian dengan tatapan penuh harap.


Bergetar tubuh Ucup mendengarnya. Ia menggelengkan kepala lalu menoleh ke arah Xue Xie yang langsung memalingkan wajah.


“Aku tidak memintamu mengajarinya merias,” tegur Ucup.


“Kata Tuan Muda, aku bisa mengajari semuanya kepada Lian’er,” kilah Xue Xie sekilas menatapnya lalu menundukan kepala.


Ucup tersenyum lalu mengangkat wajah Xue Xie yang tertunduk.


“Tidak masalah, merias juga diperlukan untuk membuatnya semakin cantik, tetapi apakah kamu juga sudah mengajarkannya bela diri?” 


“Sudah, Kak. Kakak mau lihat?” sambung Berlian yang langsung memasang kuda-kuda.


Ucup dan Xue Xie menoleh, meliriknya. Berlian mengepalkan tangan, lalu bersikap hormat di depan keduanya. Setelahnya, beberapa gerakan diperagakan Berlian dengan sangat baik. Tidak hanya itu saja yang diperlihatkan, Berlian melanjutkan gerakan dengan menggunakan pedang yang diambilnya dari cincin spasial. Pergerakannya sangat luwes dan penuh energi. Ucup yang memperhatikannya sangat senang. 


“Gerakannya sangat rumit, namun presisi. Apakah itu jurus pedang Sekte Teratai Langit?” tanya Ucup mengonfirmasi.


“Betul, Tuan Muda. Ini memang jurus pedang dari Sekte Teratai Langit,” jawab Xue Xie, “jurus ini menitikberatkan pada kecepatan tangan dalam memanuver posisi pedang yang dinamis, sehingga membuatnya terlihat sangat rumit, namun tidak mengurangi kekuatan di setiap ayunannya.”


“Bagus, aku sangat menyukainya.” Ucup tiba-tiba menarik tangan Xue Xie membawanya jauh dari posisi Berlian.


“Tuan Muda, mengapa membawaku ke sini?” tanya Xue Xie heran.


“Aku ingin menguji Berlian, jadi aku butuh menarik pedangku,” jawab Ucup dengan tatapan penuh arti.


Memahaminya, Xue Xie langsung menggenggam adik monster dan mengurutnya sampai terbangun dengan sendirinya. Tak lama kemudian, si monster terbangun, Ucup langsung menarik energi pedang dan berkelebat kembali ke posisi semula.


“Lian’er, aku ingin mengujimu,” kata Ucup menantangnya.


Berlian menghentikan gerakannya lalu tersenyum mengangguk. 


Degh!


Melihat Berlian yang tersenyum membuat jantung Ucup berdebar cepat. Biarpun begitu, Ucup mengabaikannya lalu berkelebat ke hadapan Berlian. 


Berada satu tombak di depan Berlian membuat Ucup tak berkedip melihatnya. Saat Berlian tersenyum, matanya menyipit dan pipinya memerah. Bibir merah muda melengkung ke atas, dan gigi putihnya berkilau. Rambut hitam panjang berkuncir kuda menambah pesona sang gadis. 


Sulit bagi Ucup mengalihkan pandangannya dari Berlian. Dia begitu cantik, dan Ucup sangat bahagia ketika gadis di depannya tersenyum. 


“Kak, kenapa Kakak bengong?” tegur Berlian.


Ucup mengerjap dan tersenyum kaku. Ditatapnya Berlian dengan tatapan sayu dan berkata, “Aku tidak pernah tahu kalau bidadari itu benar adanya, melihatmu tersenyum seakan dunia berhenti berputar, terpaku membisu dalam senyummu.”


“Kakak kenapa?” Berlian merasa heran melihatnya.


“Senyummu puisi indah tanpa suara dan suaramu adalah lantunan indah yang menggema,” kata Ucup lirih.


“Tuan Muda, kenapa?” Xue Xie menghampiri seraya menatapnya dengan ekspresi sama seperti Berlian yang keheranan.


Ucup hanyut dalam lamunannya. Xue Xie dan Berlian saling lirik dan mengangkat bahu. Tak lama kemudian, Berlian berbisik di telinga Xue Xie. Dalam bisikannya, ia merencanakan sesuatu. Xue Xie melebarkan mata dan mengangguk setuju.


Keduanya mulai melancarkan aksi mengubah Ucup menjadi seorang gadis cantik dengan sedemikian rupa meriasnya. Setelah selesai, Berlian dan Xue Xie menepukkan tangan di depan wajah Ucup.


Prok! Prok!


Ucup tersadar dari lamunannya. 


“Eh, kita tadi mau apa?” tanya Ucup berusaha mengingat kembali tujuannya.


“Kakak mau mengujiku bertarung,” jawab Berlian sambil menahan tawa.


“Lord Ucup, sepertinya orang-orang dari Sekte Serigala Iblis kembali datang membuat onar. Bergegaslah!” kata Pangeran Xiao Li Dan memberi tahu.


Ucup mengangguk pelan, lalu tersenyum lembut menatap Berlian.


“Maafkan aku, Lian’er, aku harus kembali ke luar,” kata Ucup langsung menghilang dari tempatnya.