
Suasana hutan tampak begitu tenang dalam kegelapan malam yang menyelimutinya. Bintang-bintang bersinar melalui pepohonan yang rimbun, menciptakan jajaran bayangan yang menakutkan namun menakjubkan. Ucup dan Berlian melangkah dengan hati-hati melalui hutan basah yang lebat.
“Kak Ucup, mengapa Kakak terlihat begitu bahagia di sepanjang perjalanan? Apakah karena ditemani aku?” tanya Berlian yang terus saja memperhatikan wajah tampan Ucup yang selalu berseri.
Ucup meliriknya dengan senyum yang terukir dari bibirnya, ia kemudian menjawab, “Salah satunya itu, namun yang paling membuatku bahagia adalah alam di sini dipenuhi dengan energi kehidupan.”
“Oh,” sahut Berlian singkat.
“Sepertinya ada gubuk di sana, ayo!” Ucup menggenggam jemari Berlian dan membawanya setengah berlari ke arah gubuk yang berbentuk bulat dengan lubang di tengahnya.
Namun, ketika Ucup dan Berlian hampir mencapai gubuk tersebut, mereka tiba-tiba mendapat serangan dadakan dari seekor rajawali bertubuh besar yang terusik oleh kehadiran keduanya. Burung besar itu muncul dari bayangan pepohonan dengan sayap yang terbentang luas, mengeluarkan raungan mengancam yang menggema di malam yang tenang. Mata rajawali berkilau dengan kemarahan, dan cakarnya yang tajam bersinar di bawah cahaya rembulan.
“Kak, awas!” pekik Berlian terkejut melihat rajawali menyerang keduanya dengan cepat.
Ucup dan Berlian berkelit menghindari serangan kejutan dari sang rajawali.
“Cari tempat yang aman! Aku akan mengatasinya,” kata Ucup memintanya, dan Berlian pun menyembunyikan dirinya di balik pohon.
Ucup berdiri dengan tegak menunggu serangan berikutnya dari rajawali yang menghilang di kegelapan.
“Kau terlalu lambat untuk bisa mengenaiku, ayo, serang lagi!” Ucup memindai sekitarnya mencari keberadaan sang rajawali yang masih tidak menampakkan diri.
Seketika, deru angin berembus kencang dari arah kiri Ucup. Sang rajawali kembali menampakkan dirinya dengan serangan yang lebih liar dan ganas, sayapnya yang kuat membentuk badai debu dan angin. Serangannya lebih cepat dan mematikan dari sebelumnya, mencoba melukai Ucup dengan cakar dan paruhnya.
Ucup dengan sigap menghindarinya dan tiba-tiba saja tangan kanannya mencengkram ekor rajawali lalu melemparkannya dengan keras.
Wuzz!
Tubuh rajawali berputar-putar dengan cepat hingga menabrak beberapa batang pohon lalu terjatuh dengan keras. Tak lama kemudian, sang rajawali kembali terbang menyerang Ucup. Terlihat dari sorot matanya yang tajam dipenuhi amarah, burung besar itu melesat bagaikan peluru yang dimuntahkan.
Pertarungan yang sengit antara Ucup dan rajawali dimulai dengan intensitas yang cepat. Keduanya memanfaatkan kecepatan untuk bertukar serangan, membentuk kepulan angin yang melesat di antara pepohonan.
Sang rajawali meluncurkan serangan berikutnya, dengan sayapnya yang kuat ia melayang tinggi di atas Ucup, cakarnya tajam membidik lawan dengan cermat, memfokuskan arah serangan. Namun amat disayangkan, lawan yang dihadapi adalah Ucup sang penguasa semesta. Ucup dengan mudahnya menghindari serangan sang rajawali hanya dengan menggeser sedikit tubuhnya, kemudian dengan kecepatannya Ucup melayangkan pukulan kilat ke tubuh rajawali.
Wuzz!
Pukulan Ucup hanya mengenai udara kosong.
“Wow, kau bisa menghindari pukulanku!” puji Ucup begitu kagum pada kecepatan gerak dari rajawali yang berhasil menghindarinya.
Pertempuran terus berlanjut dengan jual beli serangan. Kedua belah pihak saling berpindah-pindah dalam upaya untuk mendominasi pertarungan. Ucup menggunakan kecepatan dan ketangkasannya untuk menghindari cakar tajam yang terus mengarah padanya, sementara sang rajawali dengan gigih mencoba merobohkan lawannya dengan serangan-serangannya yang brutal.
“Kau lumayan juga, lumayan untuk kujadikan sate burung,” gurau Ucup seraya menikmati pertarungannya.
Sang rajawali tidak peduli dengan apa yang dikatakan Ucup, ia masih terus berusaha untuk menyerangnya dengan lebih masif. Meskipun tidak mudah, sang rajawali tampaknya tidak kenal kata menyerah.
Dengan napas yang tersengal-sengal, burung besar itu mulai memancarkan kekuatan magis dari dalam dirinya. Cahaya berkilat dan simbol-simbol aneh muncul di sekitarnya, menciptakan aura mistis yang mengelilinginya. Serangannya menjadi lebih kuat dan lebih mematikan, dengan serangan energi magis yang melesat menuju Ucup dengan kecepatan yang sulit dihindari.
Ucup tidak tinggal diam saat menghadapi serangan magis sang rajawali. Dengan kepiawaian dan kecerdikannya, Ucup mulai mengumpulkan energi elemen angin yang ada di sekitarnya. Angin berputar-putar di sekitar tubuhnya, menciptakan pusaran energi yang semakin membesar. Ucup merasakan kekuatan alam yang mengalir melalui dirinya.
Dengan satu gerakan tangan yang mantap, Ucup melepaskan serangan elemen angin yang kuat ke arah sang rajawali. Serangan itu seperti tornado yang mendebarkan, menghantam si burung besar dengan kekuatan yang mengerikan.
Duar!
Serangan yang dilayangkan Ucup bukan hanya berasal dari kekuatan elemen saja, tetapi juga mengandung energi semesta yang secara alami terpancar dari tubuh Ucup, meskipun inti energinya tersegel. Sang rajawali terkejut dan terhempas mundur oleh serangan ini, sementara Ucup melihat adanya celah terbuka untuk mengakhiri pertarungan.
Dengan seringainya yang dingin, Ucup bersiap untuk memberikan pukulan telak yang akan mengakhiri pertarungan. Ucup kemudian menghilang dari pandangan si rajawali yang terpaku menatap kosong area di hadapannya. Seketika, Ucup sudah berada di atas tubuh rajawali dengan mengepalkan kedua tangannya siap untuk memberikan pukulan telak.
Wuzz!
“Lord Ucup, jangan membunuhnya!” Suara menggema dari ucapan Pangeran Xiao Li Dan membuat Ucup menghentikan gerakannya.
“Ah, sialan!” rutuk Ucup membalasnya.
Dengan terpaksa Ucup menarik kembali tangannya yang hanya berjarak satu jari dari kepala sang rajawali. Ia lalu kembali ke tempatnya, menatap dingin sang rajawali yang tak jadi dihabisinya.
“Pasrah banget sampai menutup mata begitu,” kata Ucup menyinggungnya.
Sang rajawali membuka matanya menatap heran Ucup yang tidak jadi membunuhnya. Ia lalu membungkuk hormat di depan Ucup.
“Terima kasih, kau tidak membunuhku, Tuan Muda,” ucap sang rajawali.
“Panggil aku ‘Lord Ucup’,” balas Ucup yang tidak terima disebut seperti itu.
“Baik, Lord Ucup,” sahut sang rajawali.
“Karena Lord Ucup tidak membunuhku, itu artinya hidup dan matiku berada dalam genggaman Lord Ucup …, izinkan hamba menjadi pelayang setia Lord Ucup!” imbuhnya.
“Terima saja, ia mewakili satu unsur elemen dalam hukum semesta,” ujar Xiao Li Dan memintanya.
“Jadi itu alasanmu melarangku membunuhnya?” tanya Ucup.
“Betul … bukankah kamu sudah memiliki Long An yang mewakili unsur api dan Bing Shi yang mewakili unsur air? Sekarang ditambah dengan rajawali yang mewakili unsur udara, maka itu akan menjadi kesatuan elemen yang sangat baik,” kata Pangeran Xiao Li Dan menjelaskannya.
“Hem! Betul juga katamu, Brother. Mungkin sudah menjadi takdirku menyatukan semua unsur kekuatan dari para beasts monster.”
Ucup menatap sang rajawali dengan lekat dan berkata, “Aku tidak menerima dirimu menjadi pelayanku, tapi sebagai temanku. Bagaimana?”
Terharu sang rajawali mendengarnya, ia kemudian mengepak-ngepakkan sayap merayakannya.
“Eh, siapa namamu?” imbuh Ucup menanyakannya.
Sang rajawali menggelengkan kepalanya. Ucup pun mengelus-elus dagu memikirkan nama yang tepat untuk teman barunya.
“Feng Ying,” kata Pangeran Xiao Li Dan menyarankan.
“Bagus juga, terima kasih, Brother,” balas Ucup menyetujuinya.
Ucup kemudian mengatakan kepada sang rajawali nama yang disebutkan oleh Pangeran Xiao Li Dan. Kembali sang rajawali mengepakkan kedua sayapnya.
“Kak Ucup!” panggil Berlian dari arah belakang.
Ucup memutar tubuhnya ke arah belakang untuk melihat Berlian yang memanggilnya. Matanya tiba-tiba saja membelalak ketika ia melihat Berlian sedang mendekap tiga monster imut.
“Jangan kaget begitu, Kak Ucup! Mereka bertiga sudah bersamaku ketika Kak Ucup bertarung tadi,” ujar Berlian.
Ketiga monster itu melompat dari pangkuan Berlian dan langsung menghampiri Ucup dengan raut wajah memelas dan tatapan sayu yang ditunjukkan ketiganya. Ucup memahami maksud yang tersirat dari ketiganya. Ia kemudian duduk dan membelai lembut pucuk kepala ketiganya.
“Apa kalian bertiga juga ingin menjadi temanku?” tanya Ucup.
Ketiganya mengangguk senang. Tampak terlihat pancaran mata ketiganya yang berbinar penuh kebahagiaan. Setelah itu, ketiganya melesak ke langit menciptakan larik cahaya tiga warna yang menghiasi kegelapan dengan keindahannya.