Pendekar Pedang Somplak

Pendekar Pedang Somplak
Menyelamatkan Para Bangsawan


Tidak ada satu pun anggota sekte yang menduga akan menjadi korban pembantaian. Bahkan, keluarga kekaisaran pun dibuat melongo menyaksikan kematian yang berlangsung begitu cepat tanpa ada satu pun yang dapat melihat pembantainya.


Setelah menyelesaikan aksinya, Ucup menampakkan diri di tengah keluarga kekaisaran. Raut wajahnya tampak begitu puas dan berseri-seri, ia pun tersenyum dan berkata, “Semoga aku tidak terlambat menyelamatkan kalian semua.”


Semua orang tampak lega setelah mengetahui orang yang membantai anggota sekte. Kecemasan di hati mereka pun surut dengan sendirinya. Dari semua anggota keluarga kekaisaran, Ratu Luo Yun dan Putri Zhao Ning yang terlihat sangat gembira bisa melihat kembali pemuda yang telah menyelamatkannya. Keduanya berjalan cepat menghampiri Ucup.


“Tuan Muda, terima kasih,” ucap keduanya serentak.


Ucup mengangkat sebelah alisnya merasa heran dan lucu melihat tingkah keduanya, lalu ia pun berkata, “Kalian sangat kompak!”


Ratu Luo Yun dan Putri Zhao Ning tersipu mendengarnya. 


“Aku tidak melihat keberadaan para bangsawan, di mana mereka?” imbuh Ucup bertanya.


Seorang pria tua tak lain merupakan penasihat kaisar, yaitu Pang Xit berjalan mendekatinya. Ia kemudian berucap, “Tuan Muda, mereka semua dikurung di ruangan lainnya. Aku akan mengantar Tuan Muda.”


Ucup mengangguk lalu mengalihkan pandangan ke arah keluarga Kaisar Zhao Dang yang berkumpul.


“Kalian semua tunggu aku di sini!” pinta Ucup yang langsung berbalik mengikuti langkah Penasihat Pang Xit.


“Tuan Muda, bagaimana keadaan Putri Ling Xi sekarang?” tanya Pang Xit sambil terus melangkah.


“Dia baik-baik saja,” jawab Ucup.


“Syukurlah, aku senang mendengarnya,” timpal Pang Xit merasa lega, “Tuan Muda, di depan kita merupakan tempat para bangsawan dikurung, tapi maafkan aku, aku tidak mengetahui cara memasukinya.”


“Ha-ha! Tinggal dorong saja dindingnya lalu langkahkan kaki memasukinya.” Ucup tertawa geli mendengar ucapan dari sang penasihat kaisar itu.


“Ma … maksudku adalah dinding itu tidak terbuka dengan sendirinya. Tuan Muda harus menemukan pembukanya,” timpal Pang Xit menjelaskan.


“Bapak ini penasihat yang lucu, aku jadi ingin mentraktir Bapak es kelapa muda Mang …,” kata Ucup terhenti, “orang-orang sekte sangat kejam. Mereka sedang menyiksa para bangsawan dengan sangat brutal.”


Ucup menghentikan langkahnya di depan dinding dan meminta Pang Xit untuk kembali ke keluarga kekaisaran. Setelah kepergian Pang Xit, Ucup kembali merubah dirinya menjadi bayangan lalu menerobos memasuki dinding. Namun ia tidak bisa menembusnya.


“Sialan, kukira dengan menjadi bayangan, diriku bisa menerobosnya seperti makhluk halus,” rutuk Ucup terpaksa harus mencari pembuka dinding. 


Beruntung, ketika Ucup kesulitan menemukan sesuatu untuk membuka dinding, seorang anggota sekte keluar dari dalam. Dengan cepat Ucup berkelebat memasukinya.


Kedua mata Ucup terbelalak menyaksikan kejadian langsung di dalam ruangan. Ia melihat hampir semua wanita yang merupakan keluarga bangsawan tengah menjerit dan meronta-ronta dalam kungkungan anggota sekte. Sontak saja hal demikian itu membuat kemarahan Ucup mendidih seketika.


Terlihat olehnya seorang pria besar yang wajahnya dipenuhi bopeng baru saja menyelesaikan aksi biadabnya terhadap salah satu istri dari seorang bangsawan.


“Siapa yang mau bekasku? Nikmati semuanya sebelum mereka semua diserahkan kepada bangsa iblis!” ujar si pria bopeng menawarkan kepada anggota sekte lainnya.


Setelah mengatakannya, si bopeng memondong tubuh korbannya yang lemas tanpa daya setelah digagahi olehnya. Si bopeng berjalan ke arah kerumunan anggota sekte lalu melemparkannya seperti barang tak berharga. 


Beberapa anggota sekte berebut menangkapnya. Tidak ada yang dapat dilakukan oleh para bangsawan melihat kebiadaban anggota Sekte Serigala Iblis kepada wanitanya. Mereka pasrah dengan nasib tragis yang dialaminya.


Sementara anggota sekte itu bersorak menikmati pesta mereka. Pesta yang sangat liar karena selain memperkosa, mereka pun merayakannya dengan arak yang selalu tersedia di tengah-tengah mereka. 


Belum sempat Ucup mengeksekusi para bajingan itu, pintu tebal kembali terbuka. Kini, para anggota sekte masing-masing memanggul seorang gadis memasuki ruangan. Jerit histeris kembali terdengar dari semua bangsawan. Mereka memohon kepada anggota sekte untuk melepaskan gadis-gadis yang merupakan anak mereka.


“Pesta berlanjut!” teriak pria bopeng begitu semangat melihat banyak gadis yang meronta memasuki ruangan.


Sorak gembira kembali menggema di dalam ruangan. Semua anggota sekte berebut mendapatkan giliran untuk menggagahi para gadis, mereka pun melakukan undian dengan melemparkan koin. 


Melihatnya, tidak membuat Ucup langsung bergerak untuk mengeksekusinya. Ia harus sabar menunggu sampai bisa menarik pedangnya. Dengan begitu, Ucup harus kembali menyaksikan kebrutalan semua anggota sekte.


Pria bopeng menjadi orang yang menentukan siapa yang mendapatkan giliran untuk menyentuh para gadis yang berbaris dalam cengkraman para anggota sekte lainnya.


“Yang paling banyak mengeluarkan koin, dialah yang pertama mendapatkannya. Ayo, keluarkan semua koin kalian!” seru si pria bopeng sambil menenggak arak.


Seorang pria paruh baya yang matanya picek sebelah melemparkan ratusan koin emas ke depan si pria bopeng.


“Aku yang pertama memilih!” ucapnya penuh kesombongan.


“Ha-ha! Silakan dipilih yang kausukai!” sahut si bopeng.


Pria bermata picek itu pun menatap lekat-lekat setiap gadis satu per satu. Tampak, lidahnya menjulur dan salivanya menetes memperhatikan para gadis yang akan dipilihnya sampai ia berhenti pada gadis kelima yang diperhatikannya.


“Kau masih kecil dan imut, namun memiliki ukuran yang menggemaskan. Aku penasaran bentuknya,” ucap si pria mata picek lalu merobek paksa gaun atas si gadis.


“Wow, ini sungguh besar dan menggembirakan!” seru si pria picek melihat kedua bukit yang membusung indah di hadapannya.


Tak tahan melihatnya, si pria picek memajukan bibirnya untuk menikmati sesuatu yang terpampang di depannya itu. Namun, belum sampai bibirnya menyentuh bagian berharga milik si gadis. Separuh wajahnya telah lebih dulu terlepas jatuh ke tanah dan dia pun ambruk tanpa nyawa.


“Nona, punyamu membuat adik monsterku bereaksi cepat. Terima kasih dan maafkan aku,” kata Ucup yang kedua matanya tak luput dari pemandangan indah di depannya.


Sementara itu, si pria bopeng dan gerombolannya terdiam membisu melihat kematian mendadak si pria mata picek yang wajahnya terpapas. Saking terkejutnya, mereka bahkan tidak dapat berkata-kata dan tubuh mereka seolah terkunci tidak dapat bergerak.


Ucup mengerjapkan mata dan mengalihkan pandangan dari pemandangan indah di depannya. Tak ingin membuang waktu lagi, Ucup berkelebat cepat menebaskan pedangnya membantai semua anggota sekte yang berada di ruangan dengan sekali napas.


Bug, bug!


Satu per satu kepala anggota sekte terlepas dari tubuh dan menggelinding di tanah. Semua bangsawan yang melihatnya terbelalak tidak menduga hal itu terjadi dengan sendirinya. 


Berbeda pada waktu Ucup menyelamatkan keluarga kekaisaran, kali ini Ucup tidak menampakkan dirinya ke hadapan para bangsawan. Ia berkelebat meninggalkan ruangan untuk memburu semua anggota sekte yang tersisa di tempat lainnya. 


Berada di depan ruangan lainnya, Ucup melihat keberadaan anggota sekte yang berbaris rapi di depan seorang pria tua yang sedang berpidato. Ia pun ikut menyimak yang disampaikan si pria tua.


“Jadi, sekte ini memiliki berbagai divisi,” gumam Ucup sambil terus mendengarkan pidato si pria tua, “pantas saja mereka tampak berbeda satu dengan lainnya di setiap ruangan.”


Ucup manggut-manggut memahaminya. Ia terus menyimak perkataan dari pria tua yang merupakan seorang ketua divisi sekte hingga pidato sang ketua divisi itu berakhir.


“Ha-ha! Lebih baik aku menunjukkan diri untuk memberikan kejutan spesial di hari kematian mereka,” pikir Ucup dengan seringainya yang dingin.