Pendekar Pedang Somplak

Pendekar Pedang Somplak
Serangan dari Bukit


“Maaf, Yang Mulia, bukankah perlakuan bangsa Iblis di Kampung Cerita Hati itu karena keterkaitan dengan keluarga sang penguasa iblis?”


“Itu betul, tetapi bukan itu yang aku maksudkan.”


Bing Shi mengerutkan kening menatap Ucup dengan pikiran yang masih memproses maksudnya, namun ia gagal memahaminya. Pemahamannya tidak sampai dengan maksud yang dikatakan oleh Ucup. Meskipun demikian, Ucup tidak menyalahkannya. Sebenarnya arah pembicaraan yang dimaksud oleh Ucup itu adalah perbedaan perlakuan ketika eksekusi dilakukan oleh bangsa Iblis dengan yang dilakukan oleh manusia yang bersekutu dengan iblis. 


Ucup kemudian mengalihkan topik pembicaraan ke hal lain. Keduanya berbincang hangat sampai matahari terbit di ufuk timur.


Di kamar, Jane terbangun. Kedua matanya menatap kosong langit-langit kamar di atasnya, termenung mengingat kembali kejadian yang menimpa keluarganya. Bersamaan dengan itu, pendengarannya menangkap suara dengkuran yang lembut dan beraturan di sampingnya. Ia kemudian menoleh memperhatikan sosok cantik yang tak lain adalah Berlian. Seseorang yang baru disadarinya memiliki kecantikan sempurna. Kecantikan yang akan membuat semua wanita iri melihatnya.


“Betapa cantiknya dirimu, Berlian,” puji Jane yang tak lepas memandangnya.


Berlian membuka matanya melirik gadis yang terus memandangnya dengan antusias dan penuh kekaguman. 


“Jane, kamu sudah bangun?” Berlian bangkit dan seketika duduk di tepian ranjang.


Jane terkesiap lalu memaksakan senyum dan beranjak duduk di samping Berlian.


“Aku baru saja bangun dan tersihir melihat kecantikanmu,” ujarnya.


“Kamu juga cantik …, dan aku baru tahu kalau rambutmu berwarna kuning keemasan. Cantik sekali!”


“Dan kamu gadis berambut putih yang sangat cantik.”


Keduanya saling melempar pujian dan senyuman.


“Aku ingin melihatmu memakai pakaian khas orang-orang Alexandria,” ungkap Jane.


“Seperti yang kamu kenakan itu?” tanya Berlian.


“Bukan.” 


Dengan begitu semangat Jane berjalan ke arah lemari kayu. Diambilnya sebuah gaun yang tergantung di dalamnya lalu berbalik menunjukkannya kepada Berlian. 


"Ini!" Jane menyerahkannya.


Tak kalah semangat, Berlian meloloskan pakaian dari tubuhnya lalu memakai gaun yang diberikan Jane. 


“Apa tidak sebaiknya kamu membersihkan diri sebelum memakainya?” 


“Tidak perlu,” sahut Berlian, “tanpa mandi pun aku tetap wangi dan cantik.”


Setelah itu, keduanya berjalan keluar rumah. Ucup terlihat masih duduk dengan kedua tangan yang mendekap lututnya.


“Selamat pagi, Kak,” sapa Berlian yang tidak sabar ingin memamerkan penampilan barunya. 


Ucup yang sedang duduk itu menoleh sambil tersenyum. Akan tetapi, senyumnya mendadak hilang dan berubah menjadi keterkejutan.


“Kamu mirip si Lela,” kata Ucup menyanjungnya.


“Si Lela …! Siapa itu, Kak?” tanya Berlian, heran.


“Seorang gadis yang terkenal dengan sepatu kacanya,” jawab Ucup.


Berlian mengerutkan kening, ia tidak pernah mendengar tentang itu. Ucup tersenyum melihatnya lalu bangkit dan mengecup kening Berlian.


“Kamu cantik memakainya,” imbuh Ucup yang kemudian melirik Jane dan mendekatinya.


“Nona Jane, menguburkan semua mayat penduduk akan memakan waktu lama. Izinkan aku melebur semuanya, termasuk desa ini,” ujarnya.


Jane tidak langsung menjawabnya. Ia berbalik memasuki rumah untuk melihat tubuh kedua orang tuanya. Tak lama kemudian ia kembali seraya menutup pintu rapat-rapat. 


“Kak Ucup, lakukan!” Jane mengizinkannya. 


Lalu mereka semua berjalan meninggalkan desa. Tepat di gerbang masuk desa, Ucup menggerakkan kedua tangannya membuat pola rumit. Seketika gelombang energi tak kasat mata menyeruak ke seluruh desa, menghancurkan setiap bangunan dan meratakannya. Setelah itu, Ucup menyebarkan ratusan serbuk kehidupan ke seluruh area desa.


Ucup tiba-tiba saja menyeringai mendengar desingan anak panah yang melesat ke arahnya.


Wuzz! Slash!


Ucup memiringkan tubuhnya menghindari lesatan anak panah yang langsung menancap di tanah.


“Hei, beraninya main belakang!” hardik Ucup setelah membalikkan badan.


Wuzz! Sret!


Puluhan anak panah kembali melesat ke arahnya. Ucup hanya melambaikan tangan untuk membalikkan anak panah kepada pelontarnya.


“Ah …!” jerit kesakitan terdengar dari arah pepohonan di atas bukit.


“Kak, mereka orang-orang sekte kegelapan! Mereka semua yang bertanggung jawab atas kematian penduduk desa.” tunjuk Jane ke arah bukit.


Ucup mengangguk paham. 


“Jane, Berlian! Kalian tidak perlu ikut bertarung denganku. Aku ingin sedikit meregangkan otot,” kata Ucup dengan tersenyum simpul.


“Baik, Kak,” sahut keduanya serentak.


Ucup lalu mengalihkan pandangannya ke arah Bing Shi dan ketiga monster imut yang berada di punggung singa es.


“Kalian jaga kedua gadis!”


“Siap, Yang Mulia,” sahut Bing Shi.


Ucup berjalan beberapa langkah menjauhi gerbang desa. Kedua tangannya direntangkan sejajar, memberi isyarat kepada lawannya untuk menyerang.


“Keluar dan hadapi aku!” pekik Ucup menggema di udara.


Lebih dari sepuluh bayangan hitam berkelebat menghampiri Ucup. Mereka semua memakai jubah hitam bertudung dan bermasker. Mereka pun membawa pedang panjang yang terjulur ke depan. Melihatnya, Ucup terkekeh sambil mengusap-usap dagunya yang tak berjanggut.


“Kalian terlihat seperti gerombolan pembunuh bayaran. Siapa yang membayar kalian? Apakah upah kalian sudah sesuai UMR Alexandria? Kalau belum, sebaiknya kalian demo di depan rumah ketua kalian sebelum istri-istri kalian mengamuk karena upah yang kalian berikan tidak cukup untuk membeli bedak,” tanya Ucup dengan serius, seolah-olah ia memedulikan kesejahteraan para pembunuh yang berdiri di depannya.


Tidak ada jawaban, mereka semua terdiam dengan kaki merenggang, pertanda siap bertempur. Ucup mendengus lirih sambil diam-diam mengamati kekuatan musuhnya.


“Kalau boleh aku menyarankan, sebaiknya kalian membentuk lingkaran. Dengan begitu kalian bisa menyerangku dari berbagai arah,” ujarnya menyarankan.


Saran dari Ucup tidak dibalas dengan kata, melainkan dengan ayunan pedang yang mengarah ke tubuhnya. Sialnya, serangan mereka hanya mengenai udara kosong. Ucup sudah menghilang dari tempatnya dan kini berdiri di tengah ilalang di belakang mereka.


Desir angin terasa semakin kencang berembus sampai menundukkan ilalang yang tak kuat menahannya.


Belasan orang berjubah hitam melangkahkan kaki membentuk lingkaran seperti yang telah disarankan oleh Ucup. Tampaknya mereka mulai mengakui kemampuan sang pemuda. Wajah mereka begitu kaku, dan kebengisannya seakan pudar. Untung saja mereka memakai masker, hal itu tersamarkan dari balik kain yang menutupi hampir seluruh wajahnya, menyisakan kedua mata yang mendelik memancarkan sinar kebencian dari hati mereka menatap sang pemuda.


Ucup sendiri seperti enggan untuk bersuara. Ia masih berdiri dengan tenang di tengah lingkaran, hanya kain hanfu yang dikenakannya terus melambai-lambai tertiup angin. 


Belasan pembunuh bayaran saling menatap satu sama lain tanpa sekalipun mengendurkan kewaspadaan mengamati pergerakan sang pemuda yang masih berdiam diri di tengah-tengah mereka. Dengan isyarat mata mereka saling berkomunikasi. 


Setelah itu mereka kembali memusatkan perhatian mengamati sang pemuda. Seorang di antara mereka mulai bergerak perlahan. Ucup sekilas melihatnya tanpa menoleh, ia menyeringai sinis, kedua tangannya disilangkan di dada. 


Orang yang bergerak itu mulai cemas, mukanya pucat dan terlihat keringat dingin keluar deras dari pori-pori kulit wajahnya. Dalam ketakutannya yang semakin besar, sang pria berjubah hitam mengikisnya dengan menguatkan tekad. Ia menggenggam pegangan pedang dengan kedua tangannya dan seketika ia berkelebat menyerang sang pemuda.


“Hiat!”


Pedangnya terayun horizontal menargetkan leher sang pemuda. Melihat adanya serangan, Ucup memutar badan lalu menjentikkan satu jari ke kepala lawannya.


Pletak!


Tiba-tiba saja darah menyembur keluar dari ubun-ubun pria berjubah hitam, terbawa angin kencang hingga tercecer membasahi rerumputan liar yang menjadi merah terkena darah. Si pria berjubah hitam itu berjalan sempoyongan lalu jatuh terpelanting. Tulang kepalanya hancur, otaknya terberai keluar bersama darah yang terus meleleh. Ia pun mati dengan sangat mengenaskan.