Pendekar Pedang Somplak

Pendekar Pedang Somplak
Nikmat yang Disesali


Ucup merasakan sesuatu yang aneh menjalari tubuhnya. Sesuatu yang basah dan hangat menenggelamkan dirinya pada sensasi peraduan kedua jenis yang berbeda, menciptakan sensasi kenikmatan yang tiada tara. Sementara sang gadis iblis terus sibuk memacu dirinya semakin tenggelam dalam buih kenikmatan, seperti seorang matador profesional, tubuhnya berguncang keras di atas banteng tunggangannya.


“Gelo, ieu ngeunah pisan!” seru Ucup yang begitu larut dalam sensasi.


“Sing gancang, ulah kendor! Go … go … go!"


Plak!


Tamparan keras dilayangkan sang gadis yang terganggu dengan racauan Ucup. Ia juga langsung menangkupkan telapak tangannya menutup mulut Ucup agar tidak berisik.


Ucup terkejut dan terdiam membisu setelah mendapatkan tamparan keras yang mendarat di mulutnya. Namun Ucup tidak lagi menutup mata, ia menatap dingin gadis iblis yang tengah mendongak ke belakang menikmati sensasi seorang matador. 


Ketika ritme menurun, sang gadis menatap sayu Ucup yang menatapnya dingin.


“Apa kau akan diam saja atau menggantikan posisiku?” ucap sang gadis lalu menggigit bibirnya.


Tertantang akan ucapan sang gadis, Ucup langsung membalikkan posisi. Kali ini dirinya berada di atas tunggangan ayam panggang dengan seringainya yang tajam menatap sang gadis di bawah kendalinya.


“Are you ready, Baby …? Go …!” Ucup memacu diri dengan intensitas yang tinggi dan ritme cepat.


Gadis iblis begitu terperangah dengan aksi Ucup yang begitu buas mengendalikannya. Oleh karena itu, ia pun tak kuasa menahan merasakan monster bajingan menyerangnya dengan begitu brutal dan memenuhi dirinya.


Racauan dan lenguhan keras terdengar memenuhi udara. Ucup begitu beringas memberikan serangan kejut bertubi-tubi hingga akhirnya sang monster memasuki tahap puncak serangan dan bersiap untuk menyemburkan ledakan.


“Nona, bersiaplah!” kata Ucup semakin cepat memacunya.


Ucup dan sang gadis meracau semakin keras lalu sesuatu datang dari mulut monster menyeruak dengan cepat dan ….


Boom!


Tubuh sang gadis hancur menjadi kabut darah begitu mulut sang monster memuntahkan lahar energi ke dalam tubuh sang gadis. Ucup terbelalak melihatnya, energi yang dimuntahkan sang monster begitu besar hingga membuat tubuh sang gadis langsung hancur seketika.


“Gila, rasanya seperti menembakkan bazooka!” kaget Ucup setelah melihat kehancuran tubuh sang gadis iblis.


Tidak sampai di situ, gelombang kejut dari muntahan energi menyeruak menghancurkan alam di sekitarnya dan kembali membuat ledakan keras yang menghancurkan seluruh dimensi sihir di tempat keberadaan Ucup.


Suasana berubah total ketika alam kembali terlihat indah tanpa adanya sihir yang membelenggu. Ucup berdiri merasakan embusan angin dingin yang menerpanya.


“Lord Ucup, tadi itu sangat mengerikan,” kata Pangeran Xiao Li Dan yang menyaksikannya.


Ucup terdiam tidak menanggapinya. Seutas penyesalan tampak terlihat di raut wajahnya. Pangeran Xiao Li Dan tidak memahami suasana hati Ucup yang berubah tiba-tiba. Ia lalu berkata, “Lord Ucup, ada apa? Mengapa kamu terlihat begitu menyesal?”


“Aku belum pernah melakukan ini seumur hidupku, itu berarti aku telah menyerahkan keperjakaanku kepada gadis iblis. Huaa!” balas Ucup langsung menggigil tubuhnya.


“Aneh, kamu terlihat seperti terbiasa melakukannya. Bagaimana bisa aku memercayaimu, Lord Ucup?” timpal Pangeran Xiao Li Dan menolak untuk percaya.


“Itu karena aku terbiasa menonton film dewasa,” jelas Ucup, “sudahlah, lupakan masalah itu!”


Ucup melanjutkan perjalanannya menuju wilayah pesisir pantai Kekaisaran Zhao, di mana lautan biru menjulang luas ke kejauhan. Di sepanjang garis pantai yang terhampar, pasir putih bersih bertemu dengan ombak yang berdansa dengan gemulai.


Pohon-pohon kelapa berjajar rapi di tepi pantai, sementara angin sepoi-sepoi laut membawa aroma garam yang menyegarkan. Namun, di balik keindahan yang tenang ini, ada misteri yang terasa menggelayut dalam udara.


Gemerisik ombak yang tenang dan hembusan angin yang lembut menciptakan suasana yang memikat, tetapi juga memperlihatkan bahwa di balik kecantikan alam semesta, masih ada rahasia dan petualangan yang menunggu untuk diungkap oleh Ucup dalam perjalanannya yang penuh tantangan.


Ucup menemukan momen ketenangan di tepi pesisir pantai menjelang senja. Dengan kaki yang merendah ke air, ia membiarkan ombak yang perlahan menghampirinya mencuci perasaannya yang tegang dari pertempuran sebelumnya. 


Senja merona dengan warna-warni yang mempesona di langit, menciptakan lukisan alam yang tak terlupakan. Suara deburan ombak dan hembusan angin yang lembut mengisi telinganya, menciptakan suasana yang mendalam dan menenangkan. 


Di saat ini, di tepi dunia yang luas ini, Ucup merasa kedamaian yang jarang ditemukan dalam petualangannya, meskipun ia tahu bahwa tantangan berikutnya mungkin sudah menantinya di balik cakrawala yang indah ini. 


Namun ada satu hal yang baru disadarinya, yaitu tidak ada kerusakan yang terlihat seperti umumnya tempat yang dilaluinya dalam misi merekonstruksi alam. Meskipun begitu, Ucup sangat mensyukurinya. Hal ini membuat dirinya tidak perlu melakukan upaya lebih untuk memperbaiki alam.


“Brother Xiao, mengapa di tempat ini tidak ada kerusakan?” tanya Ucup.


“Karena tidak semua tempat terdampak perang, dan di tempat kita berada hanya pantai biasa yang jauh dari dermaga tempat kapal-kapal besar berlabuh,” jawab Pangeran Xiao Li Dan menjelaskan.


Ucup mengangguk paham, lalu berkata, “Lalu, apakah kita akan berjalan sampai pelabuhan atau menyeberang dari sini?”


“Aku paham, Brother, tapi aku ingin menikmati keindahan alam sehari ini. Besok pagi aku akan membuatnya dan kita seberangi lautan ke benua lainnya. Boleh, kan?”


“Tentu saja boleh, dan itu ide yang sangat baik untuk dirimu setelah melalui pertarungan sulit.”


“Aku tidak ingin menikmatinya sendiri, aku akan menarik Xue Xie dan Berlian untuk menemaniku.”


Setelah mengatakannya, Ucup langsung menarik keduanya keluar dari alam jiwa.


“Wah, pantai yang indah!” seru Xue Xie begitu melihat lautan yang terhampar di depannya.


Sementara Berlian hanya terdiam menatap takjub keindahan alam yang tak pernah dilihatnya.


“Lian’er, duduklah sini!” pinta Ucup, “kita nikmati keindahan senja.”


Berlian mengangguk, lalu duduk di sampingnya sambil menyandarkan kepala di bahu Ucup. Sedangkan Xue Xie berlarian ke sana kemari menikmati ombak.


“Dalam hidup ini kita tidak akan pernah tahu apa yang akan terjadi ke depannya. Maka dari itu, ketika kita berada pada waktu yang menyenangkan, kita tidak boleh menyia-nyiakannya,” ujar Ucup seraya mengusap rambut Berlian.


Di ufuk barat, matahari meredup perlahan,


Menyapa senja dengan rona emas gemilang.


Langit terbakar dalam nuansa merah membara,


Senja datang dengan pesona yang tak tergantikan.


Ombak pantai berbisik, menghapus jejak siang,


Bintang-bintang mulai bersinar di kegelapan.


Di balik awan, bulan tersembunyi tersenyum,


Senja adalah pelukan waktu yang menyentuh jiwa.


Dalam senja, dunia tertidur dalam damai,


Hening malam mengalir dengan nyanyian bintang.


Momen magis yang singkat, begitu berharga,


Senja, kau adalah lukisan keindahan yang abadi.


Berlian begitu terpesona mendengar Ucup melantunkan puisi senja. Ia kemudian melingkarkan tangannya di pinggang Ucup, menikmati indahnya senja bersama orang yang dicintainya.


“Lian’er, apakah kamu tahu apa yang kurang dari kita saat ini?” tanya Ucup.


Berlian menggelengkan kepala tidak mengetahuinya. Ucup tersenyum simpul lalu berkata, “Tidak ada penjual bakso.”


Berlian mengerutkan kening tidak memahami yang dikatakan oleh Ucup. Ia lalu tersenyum lembut membalasnya. Sementara itu, Xue Xie berlari ke arah keduanya dengan kebahagiaan yang terpancar dari sorot matanya. Ia pun duduk di samping Ucup lalu menyandarkan kepalanya. Kini, Ucup terapit oleh kedua gadis yang begitu disayanginya.


“Lord Ucup, betapa beruntungnya dirimu,” ucap Pangeran Xiao Li Dan ikut bahagia melihat ketiganya.


“Aing tea!” kata Ucup membalasnya.


Pangeran Xiao Li Dan mendengus tidak memahaminya. 


Catatan kaki:


“Gelo, ieu ngeunah pisan!” (Gila, ini begitu nikmat!)


“Sing gancang, ulah kendor! Go … go … go!” (Lebih cepat, jangan kendur! Ayo … ayo … ayo!)


“Are you ready, Baby …? Go …!” (Apa kamu siap, Sayang …? Ayo …!)


“Aing tea!” (Aku gitu!)