Pendekar Pedang Somplak

Pendekar Pedang Somplak
Misteri Danau Darah


Selesai bermeditasi untuk menstabilkan energi, Berlian membuka matanya, menatap lembut wajah tampan lelaki yang telah memberinya keindahan surgawi. Jemari lentiknya mengusap lembut kedua pipi mengikuti alur wajah tegas sang kekasih hati, merasakan sentuhan lembut dari makhluk yang telah menggenggam jiwanya.


Mata Ucup terbuka menatap sorotan dingin nan lembut dan bibir tipis nan mungil mengukir senyum dari gadis yang kini menjadi kekasihnya itu.


"Selamat, Adik Lian, ranah kultivasimu meningkat sangat tinggi hingga melampaui beberapa tingkatan. Meskipun begitu, kemampuan bertarungmu masih berada di tingkat terendah. Kamu seperti gerobak yang dipasangi mesin jet, tingkat kultivasimu sangat timpang," ujar Ucup menyayangkan.


Berlian terkekeh pelan mendengarnya, ia lalu berucap, "Apakah aku peduli dengan semua itu? Tidak sekalipun!"


"Untuk sekarang, kamu memang belum membutuhkannya." Ucup membelai lembut wajah cantik Berlian.


“Adik Lian, sepertinya kita harus membersihkan diri,” imbuh Ucup lalu memangkunya dan membawanya masuk ke dalam rumah.


Selesai membersihkan diri, keduanya tampak begitu berbeda dari sebelumnya. Berlian yang mengenakan hanfu berwarna putih tampak begitu anggun selayaknya seorang dewi kayangan dan Ucup pun terlihat lebih dewasa dan berwibawa dari sebelumnya.


“Kak, mengapa banyak debu di sini?” tanya Berlian keheranan, padahal baru saja keduanya membersihkan rumah sebelum meninggalkannya.


Ucup mengernyitkan wajah memperhatikan sekeliling rumah yang berdebu. Ia sama herannya dengan Berlian, lalu berkata, “Sepertinya meditasi kita memakan waktu cukup lama. Aku akan menanyakannya kepada Feng Ying.”


Baru saja Ucup membuka pintu, terdengar suara burung memekik dari langit. Feng Ying dan ketiga monster menukik turun menghampiri keduanya.


“Saudara Feng, berapa lama aku meninggalkan rumah?” tanya Ucup.


“Lord Ucup dan Nona telah keluar dari rumah selama tiga bulan,” jawab Feng Ying yang mendapat anggukan dari ketiga monster kecil.


Ucup dan Berlian saling melirik dengan kedua alis yang terangkat.


“Pantas saja seisi rumah kembali berdebu,” kata Ucup, “lalu, apa yang ingin kamu sampaikan, Saudara Feng?”


Ucup menebaknya dari sorot mata Feng Ying.


“Beberapa hari kemarin, kami melihat keberadaan tiga pemuda yang melintasi Danau Darah di belakang gunung. Mereka terlihat seperti sedang kebingungan ….” Feng Ying mengalihkan pandangannya ke arah gunung tertinggi.


“Apakah mereka masih berada di balik gunung itu?” tanya Ucup sambil menunjuk ke arah gunung yang diperhatikan oleh Feng Ying.


“Iya, mereka berada di sana selama ini. Akan tetapi, Danau Darah tempat yang dipenuhi aura mistis dan sangat mencekam. Hamba sendiri tidak berani mendekatinya,” kata Feng Ying.


Ucup menyeringai dingin lalu menarik tangan Berlian dan langsung menaiki punggung Feng Ying.


“Antar kami ke sana!” pinta Ucup.


“Ba … baik, Lord Ucup.” Feng Ying mengibaskan kedua sayapnya melaju terbang ke cakrawala.


“Alam di sini masih terjaga dengan baik tanpa adanya tanda-tanda bekas kehancuran alam,” kata Ucup yang pandangannya terus menyapu area hijau di bawahnya.


Feng Ying tidak memberikan komentar pada perkataan Ucup. Ia terus saja terbang memutari area gunung yang begitu megah. Sementara Berlian begitu menikmati pemandangan dengan menyandarkan punggungnya di dada Ucup.


“Saudara Feng, mengapa dirimu begitu gelisah?” Ucup menangkap kegelisahan yang terekam dari sorot mata sang rajawali.


“Danau Darah adalah saksi bisu dari banyaknya tragedi misterius di dalamnya. Tidak pernah terdengar jerit kesakitan ataupun suara kematian bagi semua yang mati, hanya ada keheningan yang menyelimutinya.” Feng Ying tampak begitu gusar mengatakannya.


Ucup menjadi semakin tertarik untuk mengetahui lebih jauh misteri di Danau Darah.


“Dari namanya saja sudah membuatku tertarik, dan sekarang kamu mengatakannya seolah danau itu merupakan gerbang kematian bagi siapa pun yang menghinggapinya,” balas Ucup.


“Aku tidak melihat ada keanehan di dalamnya,” kata Ucup yang langsung mengaktifkan mata semestanya memindai ke dasar danau.


“Lord Ucup, aku merasakan keberadaan beberapa orang tak jauh di sekitar danau,” kata Pangeran Xiao Li Dan mengabarinya.


“Sepertinya para pemuda itu,” balas Ucup lalu meminta Feng Ying terbang ke arah yang ditunjukkan oleh Pangeran Xiao Li Dan.


Begitu sampai di lokasi keberadaan para pemuda, Ucup membelalakkan mata melihatnya. Ia bahkan sampai harus menyipitkan mata untuk memastikan ketiga pemuda tersebut.


“Hah, di alam ini ada bule!” seru Ucup setelah memastikannya.


Berlian yang asing mendengarnya langsung menoleh meminta penjelasan. Ucup tersenyum lembut lalu berkata, “Di duniaku khususnya di negaraku yang mayoritas berasal dari Austronesia akan menyebut orang-orang yang berambut pirang, bermata biru, dan berkulit putih kemerahan dengan sebutan ‘orang bule’, padahal dari sejarah kami itu berasal dari sepasang manusia yang sama, dan ketiga pemuda itu terlihat seperti orang Nordik.”


Berlian langsung memijat keningnya setelah mendengar penjelasan Ucup yang membuat kepalanya pusing tujuh keliling tapi ini bukanlah tentang matematika.


“Lord Ucup, di arah depan ada belasan orang yang berlarian ke arah ketiga pemuda,” kata Pangeran Xiao Li Dan kembali mengabarkan.


Ucup langsung memusatkan pandangan ke arah yang ditunjuk Pangeran Xiao Li Dan. Tidak seperti sebelumnya yang terkejut melihat keberadaan bule di alam cultivator, kali ini ia melihatnya dengan perasaan heran melihat raut cemas dan penuh ketegangan yang terukir dari belasan orang yang berlarian sambil menggenggam batang bambu yang cukup panjang.


“Apa yang sebenarnya terjadi?” gumam Ucup penuh pertanyaan.


“Sepertinya ada sesuatu yang akan mereka lakukan. Apakah kita harus turun?” tanya Feng Ying.


“Kita sangat berbeda dengan mereka, lebih baik kita ikuti dan pantau dari atas,” balas Ucup memperhitungkannya.


Belasan orang yang didominasi oleh pria berusia sekitar 30-an tahun menghampiri ketiga pemuda dengan langkah cepat seperti para prajurit. Mereka pun berputar mengelilingi Danau Darah dengan menjulurkan batang bambu lalu mengetuk-ngetukkannya ke dalam air.


“Apa yang mereka lakukan?” Ucup semakin penasaran.


“Feng Ying, terbanglah lebih rendah dan jangan sampai terlihat oleh mereka!” imbuhnya.


“Baik, Lord Ucup,” sahut Feng Ying langsung menukik ke bawah dan menyembunyikan diri di antara pepohonan.


“Hong, Lan, dan Huang, kalian turunlah dengan senyap dan perhatikan mereka dari dekat!” Ucup kembali memberikan perintah.


Ketiganya mengangguk lalu turun merayap melalui batang pohon dengan penyamaran. Setelah itu, Ucup kembali memfokuskan pandangannya memperhatikan para bule yang terlihat seperti sedang melakukan ritual.


Tak lama kemudian, muncul puluhan mayat yang menyembul keluar dari dasar danau dengan kondisi tubuh yang mengembung. Tangkapan pertama dari mayat-mayat yang menyembul adalah mereka mati tenggelam ke dasar danau. 


Ucup terperangah melihatnya, namun keterkejutannya bukan pada banyaknya mayat yang menyembul setelah belasan orang menjulurkan batang bambu, melainkan dirinya yang memiliki mata semesta namun tidak mampu melihat keberadaan mayat yang terdampar di dasar danau.


Para bule menarik batang bambu lalu melompat terjun ke dalam air untuk menarik mayat-mayat keluar dari danau. Ucup yang memperhatikannya begitu haru dengan aksi para bule yang bahu membahu terus berenang ke tengah danau. 


Namun sayangnya, luas danau terlalu sulit untuk mereka jangkau. Hanya seperempatnya mereka sanggup berenang hingga akhirnya dengan keputusasaan, mereka memutuskan untuk kembali ke daratan. 


Perasaan traumatis menyelimuti mereka yang kebingungan untuk bisa menarik mayat-mayat yang masih mengambang di tengah danau.


“Sepertinya ada yang janggal,” pikir Ucup.


“Kak, kenapa mereka tidak membuat perahu dari bambu yang mereka gunakan untuk sampai ke tengah danau?” tanya Berlian yang keheranan melihatnya.


"Itulah yang aku pikirkan," balas Ucup.