
Memiliki kepandaian dalam menggunakan pedang adalah pencapaian tinggi bagi seorang petarung, begitu pun dengan seorang pemuda yang kini memilikinya, apalagi ia dilatih langsung oleh salah seorang petarung legenda di masanya. Ucup begitu sangat mensyukurinya.
Diam-diam, ia menghampiri gurunya, begitu ia memandang lurus ke dinding batu yang diamati oleh sang guru, Ucup menyipitkan mata ikut mengamatinya. Ia pun terperangah melihat sebuah lubang yang cukup dalam di tengah dinding batu tersebut.
“Guru …!” Ucup memanggilnya.
“Iya,” sahut Lin Fing seraya mengayunkan lengan dan lubang di depannya kini telah hilang dengan sendirinya.
“Mendekatlah!” pintanya lalu membalikkan badan.
Begitu Ucup mendekatinya, Lin Fing menjulurkan jari telunjuk ke kening sang murid.
“Rintangan dan kesulitan akan selalu mendatangimu secara bergantian, dan kau pun akan mendapatkan pemahaman tentang mimpimu selama ini,” ujar Lin Fing kemudian menarik kembali tangannya.
“Terima kasih, Guru, tetapi … bisakah Guru sedikit menjelaskan siapa orang itu sebenarnya?”
“Dia merupakan seorang dewa di atas para dewa, tetapi dia bukanlah dewa yang terikat dengan dewa lainnya.”
“Maksud Guru bagaimana?”
“Jangan bertanya lagi! Waktu sangat berharga,” tegas Lin Fing, “aku mengirim dua kitab yang aku rangkum dari pengalamanku ketika masih menjadi sang dewa pedang. Sungguhpun kedua kitab tidak bisa menandingi hukum semesta yang kau pelajari, tetapi keduanya bisa menjadi alternatif yang berguna untukmu di kemudian hari. Kau bisa mempelajarinya melalui pikiranmu, namun kau harus ingat … semua itu masih bisa dikembangkan dengan lebih baik lagi.”
Lin Fing mewariskan dua kitab tentang seni pedang dan seni memikat wanita. Ucup sekilas membuka isi dari keduanya melalui alam pikir. Ia tersenyum kecut ketika membaca seni memikat wanita.
“Guru, mengapa kitab seni memikat wanita begitu tebal?” tanya Ucup penasaran.
“Karena memahami hati wanita lebih sulit daripada memahami ilmu pedang,” jawab Lin Fing datar.
“Meskipun begitu, Guru berhasil memikat semuanya.” Ucup terkekeh mengatakannya.
“Aku akan mengembalikan dirimu ke tempat awal aku menarikmu,” ujar Lin Fing.
“Guru, bukankah aku berada sangat lama di tempat ini?”
“Tidak perlu khawatir, aku sudah mengatur waktu di tempat ini. Kau akan kembali seolah kau tidak pernah menghilang dari hutan.”
Setelah mengatakan itu, Lin Fing langsung mengirim muridnya ke tempat semula. Tiba-tiba saja, Ucup dalam posisi tertelungkup di bawah sebuah pohon.
Xue Xie yang telah bangkit langsung berkelebat menghampirinya.
“Tuan Muda, tidak apa-apa?” Xue Xie menarik tangan Ucup membangunkannya.
“Aku tidak apa-apa. Bagaimana denganmu?” kata Ucup bertanya balik.
Xue Xie tersenyum menjawabnya. Tatapannya terus mengitari area di sekitarnya, mencari penyebab yang membuat keduanya terpelanting. Sementara itu, Bing Shi dan keluarganya berputar-putar memberikan penjagaan kepada Ucup dan Xue Xie.
“Kalian tidak perlu khawatir, tadi itu hanya energi tak kasat mata yang kebetulan menimpa tubuh kita. Sebaiknya kita melanjutkan perjalan ke ibu kota. Ayo!” kata Ucup menenangkan Xue Xie dan Bing Shi.
Mereka pun kembali melanjutkan perjalanan keluar dari hutan menuju Kota Luyan yang merupakan ibu kota Kekaisaran Xiao.
Langit yang gelap berangsur terang. Lapisan larik cahaya mentari menembus celah dedaunan dari ujung hutan yang dilewati oleh kelimanya. Mereka memasuki area tanah kering yang melintang luas ke arah sebuah gerbang kayu yang masih berdiri tegak meskipun telah hangus terbakar.
Ratusan besi berkarat peninggalan perang tergeletak tak beraturan di sepanjang jalan menuju area gerbang. Tak hanya itu saja, bahkan tidak sedikit tulang belulang berserakan dengan sebagian besar tak lagi utuh sebagai sebuah kerangka.
Hidung sang gadis terus bergerak mencium bau yang menyengat di sekitarnya. Bola matanya tertuju pada ukiran gerbang kota yang masih terbaca dengan jelas.
“Luyan,” gumamnya pelan, membaca huruf yang masih utuh.
“Akhirnya kita sampai di ibu kota Kekaisaran Xiao!” kata Xue Xie dengan suara yang cukup nyaring terdengar.
Ucup terus melangkah memasuki jalanan ibu kota yang dipenuhi oleh puing-puing reruntuhan yang berserakan diikuti oleh Bing Shi dan keluarganya.
“Yang Mulia, aku merasakan ada dua tanda kehidupan tidak jauh dari sini. Kedua tanda kehidupan itu begitu lemah. Sebaiknya Yang Mulia segera menemukannya,” ungkap Long An memberi tahu.
“Terima kasih, Long An, aku juga merasakannya,” sahut Ucup menanggapi.
Ucup menghentikan langkah menoleh ke arah Bing Shi dan Xue Xie di belakangnya.
“Aku merasakan ada tanda kehidupan di arah sana, kuharap masih ada yang bisa kita selamatkan. Ayo!” kata Ucup tampak begitu bersemangat seraya menunjuk lokasi yang dirasakannya.
Bing Shi dan Xue Xie terlihat senang mengetahuinya. Mereka pun langsung berlari ke tempat yang ditunjuk oleh Ucup.
Ucup kembali menghentikan langkah di depan reruntuhan bangunan yang menggunung. Ia kemudian memindainya dan kembali merasakan adanya kehidupan yang tertutupi oleh puing-puing reruntuhan.
“Brother Xiao, bisakah hukum semesta merekonstruksi ulang reruntuhan bangunan?’ tanya Ucup.
“Tentu saja bisa. Itu sangat mudah dilakukan, cobalah!” jawab Pangeran Xiao Li Dan.
Ucup merentangkan kedua tangan sejajar ke samping.
“Kalian semua, mundurlah! Aku akan mencoba untuk mendirikan kembali reruntuhan bangunan ini,” kata Ucup memintanya.
Keempatnya lalu mundur beberapa langkah di belakang Ucup. Tampak, kedua tangan Ucup bergerak membentuk pola rumit dan mengayun ke arah puing-puing reruntuhan. Seketika, puing-puing berterbangan ke udara dan berputar membentuk beliung. Setelahnya, beliung yang terbentuk berubah menjadi sebuah kerangka bangunan dan tak lama kemudian, bangunan besar empat lantai berdiri kokoh kembali ke bentuk asalnya.
Xue Xie memandang takjub bangunan besar di depannya. “I-ini adalah restoran termegah di Kota Luyan, …, ini Restoran Bunga Persik,” ungkapnya dengan semangat.
Tanpa menunda, kelimanya melangkah memasuki restoran. Di dalamnya, Ucup merasakan embusan napas seseorang yang begitu berat di ujung tempatnya berdiri. Ia berjalan mendekati apa yang dirasakannya, keningnya mengernyit merasa heran dengan apa yang dirasakannya kini tidak menjadi jelas.
Tak ingin kehilangan jejak kehidupan yang dirasakannya, Ucup mengaktifkan mata semesta memindai area di sekitarnya. Senyum mengembang dengan apa yang dilihatnya, Ucup berjalan memasuki sebuah ruangan di samping kanannya.
“Lantai di ruangan ini berbeda dengan yang lain,” gumam Ucup memperhatikannya.
Ia kemudian menjentikkan jari melubangi lantai di depan kakinya. Sebuah lubang persegi dengan ukuran setengah tombak terbuka di depannya dengan anak tangga yang terlihat kecil hanya cukup untuk dimasuki satu orang.
Ucup meminta Bing Shi dan keluarganya menunggu, setelah itu Ucup melangkah menuruni anak tangga diikuti oleh Xue Xie di belakangnya.
Dengan kedalaman mencapai delapan belas tombak, Ucup merasa heran mengapa sebuah restoran membuat ruang bawah tanah yang begitu dalam. Tak ingin berspekulasi, Ucup menampikan apa yang dipikirkannya.
Merasakan embusan napas yang sekarang menjadi jelas, Ucup terus melangkah mengikuti apa yang dirasakannya. Tiba-tiba saja, perasaan aneh muncul di hatinya. Jantungnya berdetak lebih cepat dari sebelumnya tatkala ia makin dekat dengan apa yang dirasakannya.
“Perasaan apa ini? Bagaimana bisa seorang Ucup Rekber merasakan perasaan aneh seperti ini?” kata batinnya melenguh.
“Tuan Muda, mengapa wajahmu begitu merona?” tanya Xue Xie merasa heran melihatnya.