
Pagi yang cerah pun tiba, dan sinar matahari mulai menyentuh permukaan laut. Ucup dengan penuh semangat mendekati perahunya yang sudah siap untuk memasuki air. Dia mendorong perahu itu ke dalam air dengan hati penuh harap dan keberanian, memastikan segala persiapannya telah selesai. Ombak yang lembut menyambutnya, seolah memberinya penghargaan untuk perjuangannya yang tak kenal lelah.
“Brother Xiao, ini pertama kalinya aku menavigasikan perahu layar. Tolong bantu aku!” kata Ucup yang merasa gugup menjalankan perahu yang dibuatnya sendiri.
“Tentu saja aku akan membantumu,” balas Pangeran Xiao Li Dan.
Dengan tangan yang kuat di kemudi perahu, Ucup memandang ke depan, siap untuk melintasi samudera yang misterius dan menghadapi setiap tantangan yang mungkin menantangnya di hari yang baru.
Setelah menempuh waktu berhari-hari di tengah lautan luas. Ucup mulai terbiasa mengemudikannya. Pandangannya terus tertuju ke depan. Dengan piawainya Ucup merasa dirinya seorang pelaut yang handal.
“Ucup si pelaut … tut … tut!” ucapnya.
“Kak Ucup, sudah lebih dari sepuluh hari kita berada di tengah lautan. Kapan kiranya kita akan sampai di daratan?” tanya Berlian yang begitu jenuh dengan pemandangan lautan yang tak pernah berubah.
“Aku tidak tahu. Biarkan saja angin membawa kita ke mana pun arahnya. Ha-ha!” jawab Ucup terkekeh.
“Kak Ucup,” panggil Xue Xie.
Ucup meliriknya dengan pandangan penuh tanya.
“Mengapa aku merasa kita tidak pernah bergerak?” tanya Xue Xie.
“Itu karena kita berada di tengah samudera. Jadi, wajar saja kamu merasa seperti itu. Sudahlah, jangan dipikirkan!” Ucup kembali fokus menatap lurus ke depan.
“Lord Ucup, sepertinya benar apa yang dikatakan Xue Xie. Coba minta Long An untuk memantau dari langit!” sambung Pangeran Xiao Li Dan membenarkan perkataan Xue Xie.
“Baiklah,” balas Ucup yang kemudian meminta Long An untuk keluar dari alam jiwa.
Sang naga merah itu pun langsung melesat ke langit. Pandangannya tertuju pada lautan yang kini terlihat adanya suatu kejanggalan. Tak lama kemudian, Long An turun kembali untuk melaporkannya.
“Yang Mulia, sepertinya ada sesuatu yang aneh dari kedalaman laut,” ujar Long An memberi tahu.
Ucup mengerutkan keningnya memperhatikan dengan seksama lautan di sekitarnya, lalu berkata, “Long An, jaga kedua gadis, aku akan memeriksanya!”
Setelah mengatakannya, Ucup menoleh ke arah Berlian dan Xue Xie di dekatnya dengan tersenyum. Ia lalu berjalan ke tepian dan langsung melompat.
Byur! Krak!
Terdengar suara retakan di dalam air laut. Ucup meraba lapisan yang menghalanginya memasuki kedalaman air.
“Kenapa ada lapisan array pelindung di sini?” gumam Ucup bertanya-tanya.
Ia kemudian memukul lapisan pelindung lalu menyelam jauh ke dasarnya. Dari penyelamannya, kembali Ucup merasakan keanehan di kedalaman air laut. Tidak ada satu ikan pun yang terlihat olehnya. Ucup terus melaju sejauh seratus tombak. Tiba-tiba saja mata semestanya aktif.
“Lah, apakah segel energiku terbuka?” gumam Ucup merasa heran.
“Tidak. Energi semesta masih tersegel, namun mata semesta merupakan bagian dari tubuhmu,” jelas Pangeran Xiao Li Dan.
“Ha-ha! Tahu begitu, aku tidak perlu repot di kegelapan,” timpal Ucup.
Ucup kembali fokus pada penjelajahannya. Kali ini Ucup bisa lebih mudah memindai area di sekitarnya.
“Lord Ucup, sepertinya kita memasuki dimensi ilusi. Berhati-hatilah!” ujar Pangeran Xiao Li Dan.
Tiba-tiba saja sebuah bayangan besar muncul dari kegelapan, dan sebelum Ucup bisa bereaksi, seekor beast hiu bertubuh besar menyerangnya dengan kecepatan yang menakutkan. Mulutnya yang besar dan tajam terbuka lebar, mencoba merobek Ucup yang terkejut. Ucup melompat menjauh, tetapi hiu tersebut berhasil menggigit ujung jubahnya sebelum menghilang ke dalam kedalaman laut lagi, meninggalkan Ucup dalam keadaan terkejut.
“Sialan, cepat sekali ikan itu menghilang!” kesal Ucup, ia memutar tubuhnya mencari keberadaan beast hiu yang menghilang dalam kegelapan.
Saat Ucup mencoba mencari keberadaan beast hiu yang tadi menghilang, tiba-tiba saja bayangan hitam besar melesat ke arahnya dengan kecepatan yang luar biasa. Hiu tersebut muncul dari dalam kedalaman laut, mulutnya yang menakutkan terbuka lebar, dan giginya yang tajam memancarkan kilatan cahaya. Dalam sekejap, beast hiu meluncur menuju Ucup, siap untuk serangan kedua yang lebih mematikan. Ucup yang dalam kewaspadaan tinggi langsung bereaksi menghindari serangan.
Ucup memutar tubuhnya dengan kecepatan kilat. Dengan tangan kosong, dia menantang beast hiu yang menghampirinya. Dalam serangan balik yang cepat dan tepat, Ucup mendaratkan pukulan telak di sisi kepala hiu, menghasilkan percikan air laut yang dramatis dan membuat beast hiu kelimpungan.
Boom!
Pukulan paling keras dilayangkan Ucup ke tubuh beast hiu yang langsung terpental jauh. Gelombang air semakin kacau tak beraturan. Beast hiu kembali bangkit dari posisinya. Tiba-tiba saja tubuhnya mengeluarkan ribuan bilah tajam seperti tombak pendek yang langsung meluncur cepat ke arah Ucup.
Wuzz!
Ucup tidak tinggal diam, ia memutar kedua tangannya membentuk perisai dari air yang berputar-putar di depannya.
Boom!
Ribuan bilah tajam dari beast hiu bertabrakan dengan perisai yang dibuat Ucup, menciptakan ledakan keras di kedalaman air laut. Nahas, Ucup tidak menyadari serangan dari beast hiu tersebut merupakan pengalihan dari serangan yang sebenarnya. Beast hiu yang secara mengejutkan sudah berada di belakang Ucup dengan rahang terbuka lebar langsung melahap tubuh Ucup dan menelannya dengan sekali telan.
Glek!
Ucup menemukan dirinya terperangkap di dalam perut monster laut yang gelap dan mengerikan. Ucup terjebak di dalam perut ikan yang penuh dengan tulang belulang dan remahan daging yang membungkusnya.
Dengan tenang, Ucup mulai meraba-raba lapisan dari perut hiu yang aromanya begitu menyengat dan sangat licin. Ia pun merobeknya dengan kasar hingga sang hiu bergulingan merasakan sakit di perutnya. Tak lama kemudian, beast hiu memuntahkan isi dalam perutnya.
Ucup terdorong bersamaan dengan bangkai-bangkai ikan yang keluar dari mulut beast hiu.
“Brengsek, kau berani memakanku!” Ucup terlihat begitu marah menatap tajam beast hiu di depannya.
Tubuh Ucup seketika memancarkan gelombang aura yang langsung menekan beast hiu sampai memuntahkan kembali semua isi dari dalam perutnya.
Ketakutan tiba-tiba merayap ke dalam hati beast hiu setelah dia menyadari dengan siapa dia berhadapan. Aura penguasa yang terpancar dari tubuh Ucup membuat monster laut itu akhirnya bisa memastikan bahwa pemuda yang dihadapinya adalah orang yang tengah ditunggunya selama ini.
“Lord Ucup, jangan dilepaskan segelnya!” Pangeran Xiao Li Dan memperingatinya.
“Sebentar saja, aku hanya ingin memberi pelajaran kepadanya,” balas Ucup.
“Ma … maafkan hamba, Yang Mulia,” kata beast hiu yang langsung memohon ampun kepada Ucup.
“Dih, kau bisa berbicara juga! kata Ucup lalu mendekatinya.
Beast hiu bergidik ngeri melihat Ucup yang mendekatinya dengan sorot mata mengerikan.
“Katakan siapa dirimu dan mengapa menyerangku?” tanya Ucup.
“Aku Xanti, penjaga samudera,” jawab beast hiu.
“Jelaskan padaku mengapa lautan ini dipasang perisai pelindung, lalu mengapa ada dimensi ilusi di sini?” tanya Ucup meminta penjelasan.
"Mari ikuti hamba, Yang Mulia. Yang Mulia bisa menemukan jawabannya setelah bertemu dengan Raja Samudera," jawab Xanti lalu memimpin jalan menuju Istana Samudera.