Pendekar Pedang Somplak

Pendekar Pedang Somplak
Dewi Kehidupan


Ucup tersenyum mendengarnya, lalu mengambil pakaian dari cincin spasial dan memakainya. Setelahnya, ia keluar dari dalam sungai untuk menantang kelima makhluk aneh yang menatapnya tanpa ekspresi.


“Halo, Alien!” Ucup tersenyum lembut menyapa kelimanya.


Tidak ada sahutan dari kelima makhluk aneh itu, Ucup pun menyilangkan kedua tangan menunggu reaksi kelimanya. Namun tiba-tiba saja, Ucup sudah berada dalam cengkeraman salah satu makhluk aneh tersebut. Tubuh Ucup diremas dan ditarik-tarik seperti adonan kue.


Kesal diperlakukan seperti itu, Ucup berontak dengan mengeluarkan aura penguasanya dan berhasil melepaskan diri dari cengkeraman makhluk aneh. 


“Sialan, kalian kira aku ini adonan kue nastar?!” kesal Ucup.


Berbinar sorot mata kelima makhluk asing itu setelah merasakan aura penguasa dari pemuda yang menjadi incarannya. Kelimanya lalu membuat jaring energi dan melemparkannya ke tubuh Ucup. Mirip seperti menangkap ikan, Ucup terjerat ke dalam jaring energi lalu dibawa terbang oleh kelima makhluk asing.


Akan tetapi, baru saja kelimanya melesak terbang ke langit, puluhan berkas cahaya melesak cepat menyerang kelimanya.


Duar! Duar! Duar!


Tubuh kelima makhluk asing terpelanting jatuh ke tanah. Di langit, muncul lima orang yang tubuhnya bercahaya tengah berbaris. Kelimanya tampak bersiap untuk menyerang lima makhluk asing yang kembali bangkit berdiri. Tak lama kemudian, lima orang bercahaya melesak turun ke arah kelima makhluk asing.


Pertarungan sengit pun terjadi, Ucup yang masih terkurung di dalam jaring energi hanya bisa melihat pertarungan dengan tatapan takjub. Pertarungan yang tak pernah dibayangkannya terjadi di depan kepalanya berlangsung dengan sangat menegangkan dan penuh dengan peraduan energi.


“Guru!” kata Ucup mengenali salah satu orang bercahaya tak lain adalah Lin Fing.


“Siapa makhluk-makhluk aneh ini sehingga harus dihadapi langsung oleh kelima pilar semeta?” Ucup terus memikirkannya.


Cukup lama pertarungan berlangsung, hingga kelima pilar semesta berhasil memusnahkan kelima makhluk asing tersebut. 


Duar!


Jaring energi yang mengurung Ucup telah hancur, kelima pilar semesta datang menghampiri Ucup yang masih tidak percaya melihatnya.


“Guru,” kata Ucup berlutut dengan mengepalkan kedua tangan menyambutnya.


“Bangunlah, muridku!” pinta Lin Fing.


“Guru, sebenarnya siapa mereka? Apa yang mereka cari di alam ini?” tanya Ucup penasaran.


“Biar aku yang menjelaskannya,” potong Dewa Hampa.


Ucup mengalihkan pandangannya ke Dewa Hampa yang terlihat begitu serius menatapnya.


“Mereka adalah pemburu lintas galaksi, …, mereka mengingingkan mutiara inti semesta untuk membangun pondasi di Sanbuqu Tujuh,” ujar Dewa Hampa.


“Lalu apa yang akan terjadi jika mereka mendapatkannya?” tanya Ucup.


“Pastinya alam ini akan hancur. Jadi, dalam lanjutan misimu, kamu harus menyegel energi semesta selama berada di luar alam jiwa. Apa pun yang terjadi, kamu tidak boleh melepaskannya. Mengerti!” imbuh Dewa Hampa.


“Lalu, bagaimana caraku merekonstruksi alam ini tanpa menggunakan energi semesta?” 


“Dewi Kehidupan akan membantumu membuat serbuk untuk menyuburkan tanah dan berbagai pil. Selain itu, kamu juga akan dilatih menguasai lima elemen tanpa menggunakan energi semesta.”


“Baik, aku memahaminya,” kata Ucup, “tapi, kedatangan para pemburu pasti berimbas pada kerusakan alam. Apa yang harus aku lakukan untuk mengatasinya?”


“Mereka tidak akan datang dalam waktu setahun ini,” jawab Dewa Hampa meyakinkannya.


“Kami berempat akan berkunjung ke Sanbuqu Lima untuk mencari Penguasa Iblis,” imbuh Lin Fing.


“Untuk apa kalian mencarinya?” sambung Ucup penasaran.


“Kita akan membutuhkan sosoknya untuk mempertahankan keberadaan alam ini dari kepunahan.”


“Jadi, akan ada perang lebih besar dari perang terdahulu?”


“Iya, kemungkinan hal itu terjadi. Sementara kami akan terus mengumpulkan kekuatan, kamu fokus saja pada misimu merekonstruksi alam. Pastikan kamu menyelesaikannya dengan baik.”


Wajah Dewi Kehidupan seputih salju dan secerah matahari. Bibirnya semerah mawar, matanya bening sejernih air galon. Rambutnya sehitam malam dan sehalus sutra, tampak baru dikeramas.


Ucup merasa seperti sedang melihat bidadari turun dari surga. Sedetik pun ia tidak bisa mengalihkan pandangannya dari sang dewi.


Dewi Kehidupan tersenyum lembut menanggapi reaksi Ucup yang terpesona oleh kecantikannya. Akan tetapi, senyum sang dewi malah membuat hati dan jiwa ucup begitu larut melihatnya.


Ucup tidak bisa berkata apa-apa. Ia hanya bisa berdiri diam menatap sosok indah berdiri di depannya.


Sang dewi kembali tersenyum dan bertanya, “Apa kamu akan berdiri terus atau kita bisa masuk ke alam jiwa untuk memulai pelatihan?”


Ucup balik tersenyum dan berkata,”Kulihat banyak bunga bermekaran di raut pesonamu, mengukir eloknya parasmu. Sungguh, kuingin bertandang di hatimu, Nona.” 


“Hentikan ucapan gombalmu itu dan bukalah portal alam jiwa! Waktu kita tidak banyak,” tegur sang dewi.


“Aku merasa waktu sedang berhenti ketika menatapmu, Nona,” balas Ucup.


Kesal juga hati sang dewi mendengarnya, namun ia tidak ingin menurunkan harga dirinya di depan sang murid. Ia masih berusaha untuk tetap dingin menanggapinya. Ditatapnya Ucup dengan tatapan lembut dan senyuman yang kembali terukir dari bibir merahnya.


“Ayo kita percepat usaha kita!” kata Dewi Kehidupan memintanya.


Ucup memahaminya lalu membawa sang dewi memasuki alam jiwanya. Tanpa basa-basi lagi, Dewi Kehidupan langsung mengajari Ucup cara membuat pil dari berbagai sumber daya. Tungku besar dikeluarkan sang dewi yang kemudian memilih berbagai bahan dari penyimpanannya dan dilanjutkan dengan mengolahnya.


Dewi Kehidupan tampak serius menjabarkan seluruh prosesnya, dari mulai memilih sumber daya, menentukan jenis api yang dipakai, dan juga teknik mengolahnya hingga menghasilkan sebuah pil yang siap digunakan. 


Namun sayangnya, Ucup tidak tertarik akan proses pengolahan pil. Matanya hanya tertuju pada wajah cantik sang dewi yang mimiknya terus berubah-ubah dalam proses pengolahan ramuan. 


Ketika beberapa butir pil telah selesai dibuatnya, Dewi Kehidupan menatap tajam Ucup lalu berkata, “Praktikkan semua yang telah kuajarkan kepadamu. Aku ingin hasilnya mendekati kata sama dengan apa yang telah kubuat!”


Degh!


Ucup tercengang mendengarnya, tidak sekalipun ia serius memperhatikan sang dewi mengolah pil.


“Bo … bolehkah sekali lagi aku melihatnya? Banyak yang belum aku pahami,” kata Ucup berkilah.


“Aku sudah begitu detail menjelaskannya. Mengapa dirimu tidak bisa memahaminya?” ujar sang dewi dengan sorot mata yang tajam menatap Ucup.


“Salahmu sendiri, mengapa wajahmu mengalihkan perhatianku?”kata Ucup sejujurnya.


“Hem!” Dewi Kehidupan begitu geram mendengarnya.


“Aku akan menghukummu!” Dewi Kehidupan mengeluarkan senjatanya yang menyeramkan.


Sebuah cambuk berwarna keperakan yang bagian ujungnya terdapat sebuah bola baja seukuran bola tenis dan memiliki duri-duri tajam di sekelilingnya.


Ucup yang melihatnya langsung bergidik ngeri dan terlihat wajahnya begitu pucat. 


“Nona, bisakah dirimu tenang?” kata Ucup mulai panik, “aku akan memasakkan untukmu makanan spesial dari duniaku. Did you know a food called “Seblak”? You will definitely like it.”  


Tar-tar-tar! 


Cambuk keperakan itu berputar-putar dengan cepat dan menimbulkan suara yang menggelegar. 


“Anak nakal, terimalah hukuman dariku!” 


Setelah mengatakannya, Dewi Kehidupan mengayunkan pecutnya ke tubuh Ucup hingga teriakan kesakitan menggema di udara saat ujung pecut berduri mengenai dada Ucup dengan cepat dan kuat, melemparkannya jauh ke belakang hingga jatuh tersungkur sambil meringis kesakitan.


“Aduh, mengapa sesakit ini rasanya?” kata Ucup, ia kembali berdiri seraya menahan sakit.


“Lemah!” cibir sang dewi yang sudah berada di dekatnya dengan mengayunkan kembali pecutnya.


“Ma-maafkan aku, Nona.” Ucup mengernyitkan wajah tidak ingin kembali mendapatkan lecutan dari sang dewi.