Pendekar Pedang Somplak

Pendekar Pedang Somplak
Kepungan Bangsa Iblis


Gelombang energi mulai menyusut dengan sendirinya, sementara sang pemuda masih dalam posisi setengah berlutut, membisu dalam keheningan. Kepalanya tertunduk menatap sang monster yang masih berdiri tegak menantang langit. Ucup tersenyum sambil mengusap-usap lembut kepala sang monster yang berkedut seolah berbicara bahwa dirinya puas.


“Somplak, tidakkah kamu merasa kasihan kepadanya? Kamu memanjakannya dengan kesenangan lalu mengakhirinya dengan kematian. Kamu kejam, Somplak!” kata Ucup dilanjutkan dengan menjitak kepala si monster.


“Wadaw!” Ucup mengernyitkan wajah menahan sakit.


Setelah itu, Ucup menarik energi pedang dari adik monsternya lalu bangkit meninggalkan kamar. Dengan sebatang pedang yang tergenggam di tangannya, Ucup melangkah menuruni anak tangga. Tampak puluhan pasang mata menatapnya dengan sinis dan mendengus kasar.


“Hangatnya sinar mentari tak dapat kalian nikmati. Hem! Seharusnya kehidupan ini juga tidak perlu kalian nikmati …, maka bersiaplah untuk melepaskan diri dari kehidupan ini! ” Ucup mengangkat pedang dan menjulurkannya ke depan.


Kondisi mulai mencekam ketika semua orang yang berdiri di hadapan sang pemuda bereaksi dengan memancarkan aura kegelapan. Ucup menyeringai sinis merasakan terpaan aura yang mengintimidasinya.


“Bagus, dengan begini pertarunganku tidak akan membosankan,” kata Ucup masih pasif menunggu serangan.


Tiba-tiba saja seberkas energi melesat ke arah kepala Ucup. Dengan sedikit memiringkan kepala, Ucup menghindarinya. Ia kemudian memindai siapa orang yang telah melayangkan serangan energi tersebut, namun tidak terlihat satu pun dari orang-orang pucat yang disinyalir telah menyerangnya.


Terdengar kembali desing energi yang mengarah kepadanya, namun kali ini berasal dari samping atau tepatnya dari arah pintu masuk.  Ucup dengan refleks memundurkan kepalanya menghindari lesatan energi berbentuk pisau itu. Ia kemudian menoleh ke arah pintu, namun tidak terlihat adanya orang yang berdiri di dekat pintu. Bahkan pintunya pun masih tertutup rapat.


“Lord Ucup, ada kawanan iblis yang tidak menampakkan diri di ruangan ini. Aktifkan mata semesta untuk melihatnya dan bawa pertarungan ke luar. Energi iblis tidak akan berguna ketika matahari terbit, mereka akan memaksakan diri untuk menggunakan kekuatan jiwa,” ujar Pangeran Xiao Li Dan memintanya.


“Aku mengerti,” sahut Ucup lalu melangkah mendekati orang-orang pucat.


“Maaf, ternyata bukan kalian yang menjadi lawanku.” Ucup menghentakkan kaki dan langsung menghilang dari tempatnya.


Senapas kemudian, lebih dari dua puluh kepala jatuh menggelinding di lantai, bersamaan dengan ambruknya tubuh dari orang-orang pucat. Unik, tidak ada darah yang mengalir dari leher orang-orang pucat setelah kepalanya terpisah.


Senapas kemudian, Ucup sudah berdiri di posisi semula dengan pedang yang terjulur ke depan. Ia kemudian mengaktifkan mata semesta agar dapat melihat para iblis yang telah menyerangnya. Kini terlihat olehnya tiga iblis yang berdiri melayang di tiga arah berbeda. Ucup mengerutkan kening melihat bentuk tubuh dari ketiga iblis yang identik dengan sosok yang pernah dilihatnya.


“Kalian mengingatkanku pada sosok Gerandong,” kata Ucup setelah memperhatikannya.


Ketiga iblis itu memiliki ciri-ciri yang sama persis dengan sosok Gerandong. Bertubuh gempal dan kulit berwarna hijau tua. Perbedaannya hanya terletak pada dua tanduk kambing di atas kepala, dua taring panjang yang tersembul keluar, dan ekor panjang yang bergoyang-goyang di belakang tubuh ketiga iblis.


“Lord Ucup, sepertinya dirimu akan sibuk,” kata Pangeran Xiao Li Dan.


“Hanya tiga ekor kadal yang aku hadapi. Tidak akan memakan waktu lama,” sahut Ucup begitu enteng.


“Tiga ekor kadal hanya uji coba saja, ujian sesungguhnya ada di luar penginapan. Mereka terus berdatangan dari berbagai arah.”


“Betulkah? Berapa banyak yang akan aku hadapi?”


“Aku bahkan tidak bisa menghitungnya.”


“Pantas saja ketiga kadal ini tidak melanjutkan serangan. Ternyata mereka sedang menunggu gerombolannya.”


Teringat kedua gadis yang berada di kamar, Ucup menggunakan hukum ruang untuk kembali ke kamar.


“Adik Lian, Jane!” panggil Ucup yang membuat keduanya menoleh dengan tatapan berbinar.


“Iya, Kak,” sahut Jane melangkah mendekatinya.


“Kak Ucup, akhirnya Kakak kembali,” sambung Berlian yang langsung meluruh memeluknya.


Jane tampak canggung melihat keduanya yang begitu mesra.


“Kota ini tengah terkepung bangsa Iblis. Akan merepotkan kalau kalian berdua terlibat dalam pertarungan, jadi untuk sementara waktu, kalian berdua akan berada di alam jiwa,” kata Ucup sambil mengusap lembut punggung Berlian.


“Aku rindu Kak Xue Xie dan Kak Xiao Lani.” Berlian melepaskan pelukannya dan mengangguk senang mendengarnya.


Ucup kemudian menarik keduanya ke alam jiwa. Setelahnya, Ucup kembali menggunakan hukum ruang dan kini berada di posisinya semula. Namun dirinya tidak melihat keberadaan ketiga iblis, ia kemudian memutar mata mengedarkan pandangannya ke setiap sudut ruang.


“Mereka menunggumu di luar,” ucap Pangeran Xiao Li Dan memberi tahu.


“Bukankah itu bagus. Aku jadi bisa membantai mereka di bawah terik matahari,” sahut Ucup.


“Itu lebih bagus, aku jadi bisa mengukur kemampuanku.”


Setelah mengatakannya, Ucup melangkahkan kaki ke arah pintu keluar.


Krak!


Langit bergemuruh bising. Benar kata Pangeran Xiao Li Dan, para iblis menutupi langit dengan perisai pelindung, mengubah siang hari layaknya tengah malam. Cahaya merah yang bersinar dari ribuan pasang mata pasukan iblis menjadi pemandangan yang menakjubkan. Tampak seperti cahaya dari ribuan kunang-kunang yang menghiasinya.


Ucup berdiri tegak lima tombak di luar pintu penginapan. Mata semesta di keningnya bersinar kebiruan, dan bilah pedang yang digenggamnya pun memancarkan sinar merah berbentuk spiral.


Tak lama berselang, seorang iblis berpakaian zirah emas melayang turun menghampiri Ucup. Aura iblisnya begitu mengintimidasi dan membuat bangunan kota bergetar keras. Iblis itu pun menjejakkan kakinya dengan hening tanpa meninggalkan suara.


Ucup merasa takjub memandang sosoknya yang begitu agung dan sangat berwibawa, namun tak sekadar mengagumi perangainya saja, ia pun mengagumi kekuatan yang tersembunyi di balik pembawaannya.


“Wanita?” gumam Ucup setelah memperhatikannya dengan lekat.


“Ya, aku seorang wanita, dan aku adalah Jenderal Jieru pemilik wilayah ini,” ucap sang iblis menanggapi gumaman Ucup yang berdiri sepuluh tombak di hadapannya.


“Jadi kau yang dikatakan oleh mendiang Nyonya Bella,” timpal Ucup mengingatnya.


“Mendiang!” seru Jenderal Jieru, “Jadi, kau telah membunuhnya?”


Ucup tersenyum mengingat kembali kematian sang nyonya pemilik penginapan, ia lalu berkata, “Tidak sepenuhnya aku yang membunuhnya.”


Ia menggeleng-gelengkan kepalanya sambil menunduk lalu mengangkat kembali wajahnya.


“Kau datang dengan membawa begitu banyak pasukan. Bukankah itu terlalu berlebihan? Apa yang membuatmu melakukannya?” imbuh Ucup mempertanyakan.


“Tidak berlebihan ketika aku mengetahui siapa dirimu sebenarnya,” balas sang jenderal.


“Dari mana kau mengetahuinya?” tanya Ucup cepat.


Sang jenderal mengangkat satu jarinya, lalu muncul lima iblis bertubuh besar yang melayang turun dengan masing-masing membawa seekor monster yang terikat benang energi.


Ucup menyipitkan mata memperhatikan monster yang dibawa kelimanya. Alangkah terkejutnya Ucup ketika mengetahui kelima monster itu tak lain adalah Bing Shi, Feng Ying dan ketiga monster imut, Hong, Lan, dan Huang.


“Aku tidak akan menyebutkan nama kelimanya, karena kau pasti mengenalnya,” ucap sang jenderal membuyarkan keterkejutan sang pemuda.


“Mereka teman-temanku. Mengapa kalian menangkapnya?”


“Mereka berada di wilayahku, tentu kami harus menangkap dan mengintrogasinya. Itu sesuatu yang umum terjadi.”


“Jadi itu alasanmu membawa banyak pasukan.” Ucup mengelus-elus dagu memikirkannya.


“Menurutku membawa banyak pasukan hanya sekadar menghadapi diriku seorang merupakan keputusan yang keliru dan tergesa-gesa. Akan tetapi …, itu bagus untuk mengurangi populasi bangsa Iblis.” Ucup menyeringai sinis.


“Tidak sepenuhnya yang kaukatakan itu benar, namun tidak salah juga menganggapnya seperti itu. Sosokmu sangat mengejutkan bangsa kami dan mungkin juga bangsa para dewa. Maka dari itu kami membawa banyak pasukan yang bertujuan untuk mengantisipasi semua kemungkinan,” ujar Jenderal Jieru mengemukakan maksud.


“Jadi, apa tujuanmu sebenarnya?” tanya Ucup langsung ke intinya.


“Membawamu ke alam iblis,” jawab Jenderal Jieru.


“Sungguh membuang waktuku saja,” dengus Ucup.


Tiba-tiba saja Ucup menghilang dari tempatnya. Begitu pun dengan Jenderal Jieru yang menghilang.


Boom!


Terjadi dentuman keras di salah satu bangunan kota yang langsung hancur dipenuhi kepulan asap tebal. Sekilas terlihat dua gumpalan cahaya yang keluar dari dalam kepulan asap dan berpindah-pindah dengan sangat cepat ke sekeliling area kota.