Pendekar Pedang Somplak

Pendekar Pedang Somplak
Hong, Lan, dan Huang


Ucup menggunakan hukum ruang ketika pergi meninggalkan Kerajaan Samudera, sehingga dirinya bisa secepat kilat kembali ke kapalnya. Suasana yang berbeda menjadi sambutan dari kedatangannya, namun matanya langsung menyipit ketika dirinya menyadari bahwa kapal sudah menepi di pesisir pantai.


Seketika ia sadar pada kedua adiknya dan berbalik melihat ruang dalam kapal, namun tidak ditemukan keberadaan Xue Xie dan Berlian yang sebelumnya diminta untuk tetap berada di dalam kapal.


“Ke mana Susi dan Berlian pergi? Padahal sudah kubilang untuk tetap berada di dalam kapal,” dengus Ucup merasa kesal.


Ucup kemudian duduk di lantai kapal sambil menatap langit senja yang begitu indah, namun pikirannya tak seindah suasana alam yang dilihatnya, ia khawatir akan keselamatan kedua adiknya. Seketika terlihat olehnya siluet cahaya berwarna merah melesat menembus awan dengan kecepatan tinggi lalu menghilang begitu saja.


“Apakah itu meteor yang jatuh?” Ucup terus memperhatikannya.


Boom!


Terdengar suara ledakan yang menggema dari kejauhan tatkala siluet merah dengan cepatnya jatuh ke tanah, menyebabkan tanah berguncang keras selama beberapa hela napas. Tak lama berselang, muncul lagi siluet merah yang melesak ke langit dan beberapa siluet lainnya berwarna biru dan kuning yang mengekornya dari belakang. Ledakan demi ledakan terdengar di balik awan dengan gemuruh yang memekakkan telinga, saling bersahutan.


Beberapa kilatan cahaya terlihat kembali jatuh hingga menciptakan kobaran api yang membakar pepohonan di tengah hutan.


“Long An, keluarlah dan lihat apa yang terjadi di ujung sana?!” Ucup terus mengamati pertarungan di atas langit.


Seketika, Long An sudah berada di hadapan Ucup.


“Yang Mulia, mereka merupakan beast monster alam dewa, aku akan menghampirinya,” ujar Long An lalu melesak terbang menghampiri pertarungan para beasts monster.


Kedatangan Long An membuat pertarungan terhenti sementara. Mereka mewaspadai kehadiran sang naga merah yang memancarkan gelombang aura penuh intimidasi.


Pekikan nyaring terdengar dari para beasts monster merasakan tekanan yang terpancar dari tubuh sang naga bertubuh besar. Oleh sebab mereka tidak dapat menahan aura yang menekan tersebut, mereka pun berkelebat memasuki kedalaman hutan untuk menghindari sang naga.


Wuzz!


Long An memuntahkan apinya menyerang beasts monster yang berkelebat ke area hutan, menyebabkan pepohonan hangus terbakar olehnya. Melihatnya, Ucup sedikit tidak nyaman dan ia pun berteriak, “Long An, jangan merusak hutan!” 


“Baik, Yang Mulia,” sahut Long An.


“Biarkan aku yang mengejar mereka, kamu cari kedua adikku!” Ucup lalu berkelebat ke dalam hutan mengejar para beast monster yang berlarian. 


Beberapa langkah kemudian, Ucup berhenti ketika ia tidak merasakan keberadaan para beasts monster yang menghilang secara tiba-tiba.


“Ke mana mereka? Aku tidak dapat merasakan keberadaannya.” Ucup memutar tubuhnya namun yang ditemukannya hanya kubangan besar penuh dengan asap bekas pertarungan.


Ucup mengaktifkan mata semestanya memindai keberadaan para beasts monster di sekitarnya dengan jangkauan yang lebih luas. Tak lama kemudian, seringai dingin terukir dari wajahnya ketika melihat keberadaan tiga beast monster seukuran ayam sedang berkamuflase di balik tumpukan batu dan tanah dengan melingkarkan tubuh membentuk gumpalan bebatuan.


“Keluarlah atau aku akan memusnahkan kalian!” ancam Ucup dengan sorot mata yang tajam.


Melihat tatapan tajam Ucup membuat tiga beasts monster keluar dari persembunyiannya dengan mimik wajah yang menggemaskan. Ucup begitu terpesona melihat wujud ketiganya. Secara fisik ketiganya terlihat seperti musang, namun memiliki sayap dan berbulu seperti unggas pada umumnya. 


“Lucunya kalian!” seru Ucup yang begitu gemas melihat ketiganya.


Ucup melangkahkan kaki mendekati ketiganya, namun ketiga beasts monster malah mundur malu-malu melihat sang pemuda yang menghampirinya.


“Eh, jangan takut! Aku tidak akan menggigit kalian,” kata Ucup yang terus melangkah mendekatinya.


Ketiga beasts monster itu terlihat sangat unik dan memiliki karakternya sendiri. Yang paling besar berwarna merah cerah dengan bulu yang lebat dan bola matanya yang bulat berkilauan seperti permata. Yang kedua berwarna biru laut dengan sayap yang lebar. Matanya berwarna biru zamrud yang terlihat begitu elegan, sedangkan yang terlihat paling imut berwarna kuning cerah. Tatapan matanya terlihat seperti anak kecil yang manja. 


“Hei, apakah kalian bisa berbicara denganku?” tanya Ucup.


Seakan mengerti perkataan Ucup, ketiga beasts monster mencicit nyaring bersahutan. Ucup terkesima dengan suara ketiganya yang lebih mirip dengan kicauan burung daripada suara musang yang mendesis nyaring.


“Lord Ucup, gunakan hukum semesta untuk memahami ketiganya!” ujar Pangeran Xiao Li Dan menyarankan.


Beast monster merah dengan suaranya yang serak-serak kecil terus mengoceh seakan dia adalah seorang pemimpin, si monster biru  tak kalah semangat membalas celotehan si merah, sedangkan si kuning yang terlihat ceria tak ingin kalah dari keduanya. Ketiganya saling membalas dalam celotehan yang membuat hutan menjadi berisik.


“Kalian bertiga sangat cerewet!” tegur Ucup yang membuat ketiganya langsung diam tak bersuara.


“Apakah kerusakan hutan ini disebabkan oleh kalian?” tanya Ucup ingin mengetahuinya.


Ketiga monster imut saling melirik satu sama lain lalu ketiganya mengangguk membenarkannya. Ucup mendengus lirih dan berkata, “Masih kecil sudah bisa merusak alam. Aku harus membinasakan kalian bertiga agar tidak kembali merusaknya.”


Cicitan nyaring kembali terdengar dari ketiga monster yang ketakutan akan dibinasakan oleh Ucup.


“Aku hanya bercanda,” imbuh Ucup terkekeh.


Ketiga monster imut menatap Ucup dengan tatapan yang kesal dan membuat ketiganya tidak lagi bersuara. Ucup tersenyum lembut melihat reaksi ketiganya yang semakin imut dan menggemaskan. Ia kemudian membelai pucuk kepala ketiga monster imut itu dengan penuh kasih sayang.


“Karena kalian bertiga tidak memiliki nama, bagaimana kalau aku berikan nama kepada kalian?” 


Ketiganya mengangguk senang.


“Kamu si merah bernama Hong, kamu yang biru bernama Lan, dan kamu yang paling cerewet kunamai dengan panggilan Huang. Bagaimana? Apa kalian menyukainya?”


Ketiganya kembali mengangguk dengan sorot mata yang bahagia. 


“Kak Ucup!” teriak lantang Berlian yang memanggil dari kejauhan.


Ucup mengalihkan pandangannya ke arah suara. Terlihat olehnya, Berlian dan Xue Xie berlarian ke arahnya.


“Kak Ucup, apa Kakak sudah berhasil menangkap tiga monster yang imut itu?” tanya Berlian.


Ucup mengangguk lalu berbalik ke arah ketiga beasts monster, namun ketiganya sudah menghilang dari tempatnya.


“Eh, ke mana mereka?” tanya Ucup heran.


“Kenapa Kak Ucup tidak mengikat ketiganya?” tegur Berlian yang tampak begitu kecewa.


“Mereka baik dan begitu imut, mana tega aku mengikatnya …,” kata Ucup, “jadi kalian pergi meninggalkan kapal untuk mengejar mereka?”


“Betul, Kak. Ketika kapal menepi, kami berdua melihat ketiganya sedang berkelahi. Tadinya kami biarkan mereka terus berkelahi, namun setelah diperhatikan, mereka sangat lucu dan begitu menggemaskan, jadi kami mengejarnya. Namun sayangnya, ketiga monster itu sangat cepat dan bisa terbang juga,” ujar Berlian menjelaskannya.


“Sudahlah, nanti kalau ketemu mereka lagi, kita akan menangkapnya,” kata Ucup.


Ucup lalu melirik Xue Xie yang sedari tadi terus terdiam tak bersuara. 


“Susi, apa yang kamu pikirkan?” tanya Ucup.


“Aku teringat Xiao Lani … bolehkah aku kembali ke alam jiwa?” jawab Xue Xie disertai permintaan.


“Tentu boleh,” balas Ucup yang kemudian menarik Xue Xie memasuki alam jiwa.


Ucup kembali melirik Berlian dan bertanya, “Kamu mau masuk juga atau menemaniku?”


“Aku ikut Kak Ucup,” jawab Berlian dengan semangat.


Perjalanan kembali dilanjutkan dengan menelusuri kedalaman hutan. Ucup terlihat begitu senang karena tidak susah untuk memperbaiki alam yang masih terjaga dengan baik. Hanya sedikit saja yang ia perbaiki dari bekas pertarungan ketiga monster imut.