
Bo Dong menjulurkan tangan dan tersenyum lembut kepada Onah yang langsung menyambut tangannya.
“Najis, sok romantis!” rutuk Ucup dalam hati.
Bo Dong tampak begitu bahagia bisa mendapatkan seorang gadis yang sangat cantik dan begitu memesona. Ia membawanya berjalan kaki melintasi hutan di tengah kegelapan malam yang bersinarkan rembulan.
Keduanya berjalan beriringan sambil mengobrol dan tertawa. Udara di hutan terasa sangat dingin dan begitu hening. Di sepanjang perjalanan, Ucup terus mengulik semua hal tentang sekte yang semuanya dijawab dengan lugas dan detail tanpa ada satu pun yang disembunyikan oleh Bo Dong. Itu karena Bo Dong merasa tidak perlu menyembunyikan apa pun kepada calon istrinya.
Suatu ketika, Onah terjatuh. Dia terpeleset di atas akar pohon dan kakinya keseleo. Bo Dong dengan sigap membopongnya dan membantunya berjalan.
“Kamu baik-baik saja?” tanya Bo Dong begitu cemas melihatnya.
“Bajingan, sok perhatian kau, Kadal!" kembali Ucup merutuknya dalam hati.
“Iya, aku baik-baik saja,” kata Onah, “hanya kakiku yang sepertinya keseleo.”
Melihat Onah yang kesulitan berjalan, Bo Dong memutuskan untuk menggendongnya, namun tidak seperti yang disangkakan oleh Onah yang menginginkan gendongan belakang, Bo Dong malah menggendongnya di depan seperti pengantin. Akibatnya, Onah pun tak bisa menghindari untuk melingkarkan salah satu tangannya di bahu Bo Dong.
“Sialan, bukannya digendong di punggung, si kadal ini malah menggendongku di depan, mana pipinya nempel terus!” Ucup benar-benar tersiksa.
“Romantisnya, kalian,” ejek Pangeran Xiao Li Dan.
“Diam kau, Brother!” balas Ucup.
Kondisi seperti ini membuat Ucup menjadi merah wajahnya karena kesal, namun Bo Dong menganggapnya sedang tersipu.
“Maaf,” kata Onah, “aku membuatmu repot.”
“Cih, muak betul aku mengatakannya!” kata Ucup dalam hati.
“Tidak apa-apa,” kata Bo Dong, “aku senang bisa membantumu.”
Bo Dong terlihat begitu pucat menahan beban dari tubuh Onah yang semakin berat seiring waktunya.
“Berat sekali dirimu, Nona. Kalau saja dirimu tidak cantik, tak akan sudi aku menggendongmu,” keluh Bo Dong dalam hati.
Ia begitu kewalahan berjalan sambil menggendong Onah yang beratnya lebih dari sepuluh pria dewasa dan terus bertambah.
Untung saja Bo Dong merupakan seorang cultivator yang mencapai ranah Warrior bintang perak, sehingga ia menggunakan energi spiritualnya untuk menahan beban Ucup yang diam-diam terus menekannya.
“Kamu tampak pucat, apakah kamu sakit?” tanya Onah dengan tatapannya yang sayu.
Bo Dong memaksakan senyum dan berkata, “Ini karena aku harus mengejarmu tadi, jadi energiku banyak terkuras, namun kamu tak perlu menghiraukannya.”
Bo Dong terus membawanya sampai mereka melihat sebuah sungai kecil. Bo Dong lalu menurunkan Onah di atas batu yang berada di pinggiran sungai.
“Kita istirahat dulu,” kata Bo Dong, “kamu harus meluruskan kaki.”
Onah mengangguk dan mengikutinya meluruskan kaki di atas batu. Keduanya berdiam sejenak, sambil menikmati suasana malam yang tenang dan damai bermandikan cahaya rembulan.
“Aku senang bisa memilikimu,” kata Bo Dong yang tak pernah berhenti tersenyum.
“Najis!” batin Ucup.
Onah tersenyum. “Aku pun demikian,” katanya.
Bo Dong menarik napas dalam-dalam, dan dia mulai membacakan puisi tentang cinta mereka berdua.
Kamu adalah keheningan yang mendamaikan
Ketika resah dan gelisah tak habis tergerus waktu
Kamu adalah satu bintang yang selalu kunantikan di setiap malam
Dan kamu adalah segalanya untukku, untuk masa depanku.
Onah menatapnya sendu, seolah dia terbuai dengan puisi receh yang diucapkan oleh Bo Dong.
“Bolehkah aku melanjutkan kata-katamu?” kata Onah memintanya.
Bo Dong mengangguk dan tak sabar untuk mendengarnya.
Kau adalah mentari yang bersinar di kegelapan malam
Kau pun rembulan yang menertawakan matahari
Isi adalah kosong, kosong adalah isi.
“Puisi yang sangat indah,” kata Bo Dong memujinya.
“Bego, aku hanya asal ngomong saja!” batin Ucup.
Bo Dong merangkul Onah dan mendekatkan wajahnya.
“Dikira gue kagak normal apa ya? Najis betul kalau gue harus ciuman sama lu, Kadal!” batin Ucup.
Onah menjauhkan wajahnya seraya menggeleng-gelengkan kepala.
“Pastikan kau menikahiku, maka tidak hanya bibir ini saja yang jadi milikmu, tapi ini juga.” Onah menunjuk ke arah dada besarnya.
Ia menarik kasar wajah Onah dan mulai mendaratkan ciumannya membasahi wajah Onah, namun Onah terus berontak melepaskan diri dari upaya Bo Dong yang tidak berhenti terus menciumnya dengan kasar.
“Hentikan atau aku akan bunuh diri!” Onah mengancamnya sambil terus berontak.
Bo Dong langsung melepaskan tangannya dari wajah Onah. Tampak ia begitu menyesalinya.
“Maafkan aku,” kata Bo Dong, “aku ingin memilikimu seutuhnya.”
Onah terdiam sejenak dengan wajah yang kini pucat dan basah. Dalam hatinya ia berkata, “Hilang sudah harga diriku direnggutnya.”
“Lord Ucup, bagaimana rasanya dicium pria?” tanya Pangeran Xiao Li Dan.
“Lebih mengerikan dari kematian,” balas Ucup yang terlihat sedang depresi.
Beberapa waktu kemudian, Onah memaksakan diri untuk tersenyum menatap Bo Dong. Senyum terakhir yang akan ia tunjukkan kepada pria yang telah menodai harga dirinya.
“Iya, aku memaafkanmu, tapi kamu harus berjanji untuk secepatnya menikahiku,” balas Onah.
Bo Dong tersenyum senang lalu dia pun berjanji akan secepatnya menikahi Onah.
“Lord Ucup, mengapa tidak dihabisi saja pria jelek tidak tahu diri ini?” kata Pangeran Xiao Li Dan tidak menyukainya.
“Tenang dulu, aku ingin membuat kekacauan di markas mereka!” jelas Ucup yang sudah memiliki rencana.
Esok harinya, Bo Dong dan Onah kembali melanjutkan perjalanan. Kali ini, Bo Dong terus berusaha untuk membuat Onah kembali tersenyum padanya. Sejak kejadian semalam, Onah tampak datar tidak lagi ceria seperti sebelumnya. Sampai keduanya memasuki Hutan Serigala, Onah masih saja berwajah datar tanpa ekspresi.
“Kita sudah sampai, namun seperti yang sudah aku ceritakan sebelumnya, suasana di markas sedang kacau, banyak tetua yang gugur dibunuh oleh pemuda jahanam itu. Akan tetapi, kamu tidak perlu khawatir dengan pernikahan kita,” ujar Bo Dong memastikan.
Onah mengangguk menanggapinya. Diam-diam, Onah terus memindai seluruh area hutan untuk memastikan kondisinya.
“Apakah semua anggota sekte yang sedang menjalankan misi telah sepenuhnya berada di markas?” tanya Onah.
“Iya, karena hari ini bertepatan dengan kedatangan para komandan iblis yang menagih korban dan memilih ketua baru. Oleh sebab itu, pernikahan kita tidak akan dilangsungkan hari ini,” kata Bo Dong menjelaskan.
“Jadi, kau harus menunggu lebih lama untuk menyentuhku.” Onah menyeringai mengejeknya.
“Ternyata dirimu yang tidak sabar, ha-ha!” kekeh Bo Dong begitu senang melihat Onah yang tidak lagi datar.
Onah mengalihkan pandangannya dari wajah Bo Dong yang terus menatapnya dengan pandangan penuh kasih.
Sesampainya di markas sekte, lebih dari 20 serigala berlarian dan berlompatan mengelilingi Onah dan Bo Dong. Serigala-serigala itu mendengus sambil membentuk formasi bersiap untuk menyerang. Bo Dong heran, biasanya para serigala tidak pernah berbuat demikian kepada dirinya.
“Mengapa serigala-serigala ini seperti memiliki dendam kepadaku? Ataukah jangan-jangan kepada calon istriku?” gumam Bo Dong menyelidik.
“Apakah mereka akan menyakitiku?” tanya Onah merapatkan tubuhnya di belakang Bo Dong.
“Tidak akan kubiarkan siapa pun menyakitimu,” jawab Bo Dong bertekad.
“Ha-ha-ha!” Terdengar suara tawa yang menggelegar dari seseorang yang melayang turun ke arah keduanya, orang itu lalu mengibaskan tangannya mengusir gerombolan serigala.
“Tetua Sein Ang,” kata Bo Dong, lalu menjura dengan mengepalkan kedua tangan.
Tetua Sein Ang tidak memedulikan gestur hormat dari Bo Dong, ia malah melirik sang gadis yang tersipu malu ditatapnya.
“Cantik,” puji Sein Ang, “aku akan menjadikannya istriku.”
Bergetar tubuh Bo Dong mendengarnya, ia lalu berkata, “Tetua, gadis ini adalah istriku.”
“Ha-ha! Sangat disayangkan gadis secantik dirinya hanya menjadi istri seorang bawahan,” sindir Sein Ang.
“Aku belum menikah dengannya,” kata Onah memperjelas.
“Kau!” Bo Dong terkejut mendengarnya.
“Ha-ha-ha! Kau dengar sendiri apa yang dikatakan gadis ini.” Sein Ang menarik tangan Onah lalu merangkulnya.
“Aku memang belum menikahinya, tapi besok kami akan menikah. Tolong Tetua untuk tidak merebutnya dariku!”
“Aku tidak merebutnya. Kau bisa melihatnya sendiri, gadis ini begitu nyaman berada di sampingku. Bukankah begitu, Nona?”
“Tu … Tuan, tolong lepaskan!” kata Onah tidak nyaman melihat jemari tangan Sein Ang meraba miliknya.
“Kurang ajar, kubunuh kau!” Bo Dong menarik pedang lalu mengayunkannya ke arah sang tetua.
Belum sampai bilah pedang mengenai sang tetua, di belakangnya, tiba-tiba muncul seorang pria yang dengan sigap menahan lengan Bo Dong.
“Para iblis sudah berada di dalam, aku tidak akan membiarkan keributan terjadi,” kata pria paruh baya yang terlihat berwibawa melerai keduanya.
“Dalam kondisi kacau seperti ini, tidak pantas seorang tetua sepertimu membuat keributan. Bukankah kau pun berkeinginan untuk menjadi ketua sekte yang baru?” imbuh sang pria paruh baya menyinggungnya.
“Ha-ha! Tentu saja aku menginginkannya, Tetua Sein Dat, tapi bagaimana mungkin aku membiarkan kekasihku direbut oleh pria rendahan sepertinya?” Tunjuk Sein Ang ke arah Bo Dong.
Bo Dong begitu geram mendengarnya, namun ia tidak bisa berbuat apa-apa untuk menghadapi kedua tetua sekte.
Tetua Sein Dat sendiri tidak langsung memercayainya, ia melirik Onah meminta penjelasan. Onah yang ditatap tajam oleh Tetua Sein Dat menggelengkan kepalanya dan berkata, “Maaf Tetua, aku bukanlah kekasih Tetua Sein Ang dan juga bukan kekasih Bo Dong. Sampai sekarang, aku masih gadis suci yang belum disentuh oleh siapa pun. Jika Tetua Sein Dat mengizinkan, bolehkah aku menjadi pelayan Tetua? Aku melihat Tetua orang yang sangat baik dan bijaksana.”