Pendekar Pedang Somplak

Pendekar Pedang Somplak
Kekuatan Lain


Gumpalan cahaya itu merupakan perwujudan dari pertarungan Ucup dengan Jenderal Jieru. Mereka terus bertarung, menghasilkan serangkaian serangan dan blok yang sempurna, menciptakan tarian pedang yang menggetarkan.


Pertarungan keduanya tampak berimbang. Ucup terus mempertahankan kekuatan dan ketenangan dalam pertarungan pedang yang intens ini, mengejar tujuannya untuk mengalahkan sang jenderal iblis.


Ucup bertarung dengan keanggunan seorang pendekar pedang yang mahir. Sebagai murid satu-satunya dari sang legenda pedang, Ucup memperlihatkan keterampilannya yang luar biasa, terutama dari kecepatan dan efisiensi gerakan.


Dalam setiap gerakan, ia menggambarkan ketepatan dan kekuatan yang mendalam. Setiap kali ia menghunus pedangnya, ia melakukannya dengan teknik yang sempurna, dan dengan setiap serangan, ia menciptakan garis yang indah dan tajam di udara.


Terlihat dari setiap gerakannya, Ucup mengungkapkan diri sebagai seorang ahli pedang, nyaris setiap gerakannya begitu efektif dalam serangan maupun dalam posisi menghindari serangan lawan dengan gerakan yang tampaknya mudah, menggerakkan pedangnya dengan presisi yang membuat mata terbelalak.


Ketika ia menyerang, ia melakukannya dengan kekuatan yang mengesankan, memotong mengikuti hukum ruang dengan pemusatan yang fokus. Seluruh tubuhnya menari seolah mengikuti irama perang, dan setiap serangannya adalah ekspresi seni yang memukau.


“Teknik bertarung yang sangat baik, namun sayangnya kau terlalu cepat menunjukkannya.” Jenderal Jieru mulai melancarkan serangan psikologis.


Ucup tidak memedulikannya, ia terus fokus melayangkan ayunan pedang ke arah tubuh sang jenderal.  Akan tetapi, Ucup kali ini ceroboh, perkataan sang jenderal bukanlah omong kosong belaka. 


Dalam sekejap mata, Jenderal Jieru menampakkan keahlian bertarungnya dengan gemilang. Serangannya tiba begitu cepat sehingga mata manusia hampir tak mampu mengikuti gerakannya. Pedangnya bersinar tajam, menerjang ruang dengan kilatan sinar saat ia mengarahkan serangannya ke arah Ucup. Terdengar suara gemuruh ketika pedang sang jenderal menyatu dengan energi iblis yang mengitarinya, menciptakan ilusi hantu hitam yang menggigit di udara.


Saat pedang Jenderal Jieru menyentuh tubuh Ucup, dunia terasa berhenti sejenak. Dalam sekilat cahaya, Ucup terpental ke belakang, dadanya terasa seperti dipukul oleh raksasa tak terlihat. Tubuhnya meliuk begitu indah di udara sebelum jatuh keras ke tanah, menimbulkan awan debu di sekelilingnya. 


Bruk!


Di saat yang serba cepat ini, keberadaan Ucup terasa seperti debu yang tersapu oleh badai, tetapi dalam hatinya, bara semangatnya masih berkobar dengan lebih ganas. Kekalahan bukanlah opsi. Dia harus bangkit, karena di balik luka dan rasa sakit, masih ada keinginan yang kuat untuk melawan.


"Aku tak boleh kalah karena banyak gadis yang mengidolaiku. Jagoan harus menang!" gumam Ucup menyemangati diri.


Ucup merasakan sesak di dada, napasnya begitu berat dengan wajah yang pucat. Jenderal Jieru mendekati Ucup dengan mata yang memancarkan aura kegelapan yang mencekam. Wajahnya bagaikan angka-angka dalam sebuah teka-teki, tak terbaca dengan mudah. 


“Sepertinya memang benar katamu, aku terlalu berlebihan membawa banyak pasukan. Seandainya aku tahu dirimu selemah itu, sudah kuperintahkan beberapa prajurit untuk menangkapmu,” ejek sang jenderal yang berdiri tegak dengan pedang yang terjulur ke bawah.


“Meskipun demikian, aku tetap akan memberimu kesempatan untuk membalasku, ya …, walaupun tidak mungkin kau mampu melakukannya,” imbuh sang jenderal dengan nada datar.


Ucup mendengus sinis dengan seringainya yang tajam. Dalam kedua matanya tergambar tekad yang membara, seolah dia telah menemukan kekuatan dalam keheningan dan ketenangan batinnya.


Di antara keduanya, suasana menjadi tegang, seakan waktu telah melambat, memberi mereka cukup waktu untuk memahami perang sastra pedang yang akan segera dimulai.


Ucup berdiri dengan tegap, menarik napas panjang dan mengembuskannya secara perlahan. Kemudian ia tersenyum dengan wajah yang masih tenang dan sedikit mengangkat wajahnya menatap sang jenderal.


“Sejujurnya, pertarungan tadi hanyalah sekadar eksperimen dari jurus baru yang kuciptakan. Aku bahkan tidak serius menyerangmu. Dan sekarang … mari kita lanjutkan pertarungan ini. Bersiaplah, Nona!”


Ucup menggenggam pedangnya dengan erat, memposisikan tubuh dengan seimbang, siap untuk pertarungannya.


“Hiaat!”


Ucup melesat dalam posisi sedikit membungkuk dengan ujung pedang menggesek tanah. Ia kemudian mengangkat pedang secara diagonal tanpa keraguan. Pedangnya melintas melalui udara dengan suara desing yang memekik, membentuk kurva tajam sebelum mencapai sasaran.


Sang jenderal iblis berusaha menghindari serangan tersebut, kemudian dengan cepat mengangkat pedangnya untuk menahan laju pedang lawannya.


Tepat ketika pedang keduanya bertemu, terdengar deru keras yang menciptakan percikan cahaya. Ucup dengan cermat mengatur tekanan pada pedangnya, memberikan keseimbangan posisi bilah pedang hingga mendorongnya dengan kuat.


Jenderal Jieru terhuyung mundur mendapatkan tekanan yang tak mampu diimbanginya. 


“Lumayan, kau mengalami kemajuan yang sedikit,” ucap sang jenderal mulai menemukan kembali semangat bertarungnya.


Pertarungan berlanjut dengan serangkaian serangan kilat yang sulit untuk dilihat dengan pandangan biasa. Keduanya terlihat seperti gumpalan awan yang terus beradu di atas atap bangunan kota. 


Trang, trang!


Jenderal Jieru mulai kewalahan menghadapinya, ia kemudian memberikan gerakan isyarat kepada para pengikutnya.


Tak lama berselang, seluruh pasukan iblis merilis gelombang energi yang memenuhi area pertarungan. Ucup merasakan tekanan yang begitu besar menimpa dirinya, seolah-olah beban berat menindihnya, gerakannya menjadi lambat dan berat. Setiap gerakan yang dilayangkan terasa seperti berjuang melawan arus yang mengalir deras.


Trang! Trang!


Ucup merasakan ngilu hampir di semua otot-otot tubuhnya. Matanya terasa berat, napasnya memburu, dan keringat bercucuran di wajahnya. Ia terlihat begitu kepayahan.


“Brother, bolehkah aku membuka segel energiku?” tanya Ucup yang begitu kesulitan mengimbangi gerakan musuhnya.


“Bertahanlah! Tekanan energi akan membantumu memperoleh kekuatan baru,” sahut Pangeran Xiao Li Dan memintanya.


Duar!


Ucup terpelanting jatuh dan bergulingan di tanah. Belum sempat Ucup berdiri, energi pedang melesat ke arahnya dan membuat Ucup kembali terpelanting jauh.


“Sialan! Aku tidak boleh kalah darinya,” gerutu Ucup yang berusaha bangkit dengan susah payah, namun Jenderal Jieru tidak memberikan kesempatan untuknya bisa berdiri.


Duar! Duar!


Lagi dan lagi, Ucup terpelanting hingga tubuhnya menghancurkan bangunan dan terdorong masuk ke dalamnya. Jenderal Jieru melesat lalu melemparkan kembali energi pedang.


Duar!


Debu-debu reruntuhan beterbangan menutupi ruang dalam bangunan. Ucup tampak duduk setengah berlutut dengan menopang pada gagang pedang yang memancarkan cahaya merah. Ucup merasakan sesuatu yang lain terpancar dari dalam tubuhnya, namun sesuatunya itu bukanlah energi semesta yang masih disegelnya.


“Setelah berkali-kali kuhantam, tidak ada satu luka pun yang bersemayam di tubuhmu. Kau benar-benar seorang makhluk yang tercipta dari inti energi semesta. Kau adalah jalanku untuk bisa menantang sang penguasa iblis,” ucap sang jenderal, terus melangkah mendekati sang pemuda.


“Apa yang kaumaksud itu Tang Xie Jingga?” tanya Ucup sambil mendongakkan wajahnya menatap sang jenderal yang berjalan mendekatinya.


“Ya, karena dia satu-satunya makhluk yang tak tertandingi di semesta raya ini,” sahut sang jenderal dengan mantap.


“Tapi aku merasa kalau kau tidak akan pernah mewujudkannya.” 


Ucup tiba-tiba menghilang dari pandangan sang jenderal. Suasana di dalam bangunan menjadi hening seketika. Sang jenderal langsung memindai area di sekitarnya. Namun, tiba-tiba pula terdengar dentuman keras dari luar bangunan. Sang jenderal menyeringai dingin lalu berkelebat meninggalkan bangunan.


Udara dingin menusuk tulang dirasakan sang jenderal begitu keluar dari bangunan. Matanya terbelalak menyaksikan ribuan pasukannya dalam keadaan membeku di udara, namun bola matanya terus bergerak mencari keberadaan sang pemuda. 


“Kau mencariku, Nona!” Ucup berdiri di belakang sang jenderal.


Jenderal Jieru langsung membalikkan tubuhnya, namun Ucup sudah tidak ada di posisinya.


“Sialan, bagaimana bisa dia secepat itu?” rutuk sang jenderal mulai bersikap waspada, tapi sayangnya ia terlambat mewaspadainya.


“Aah!” pekik Jenderal Jieru begitu melihat ujung pedang keluar dari tubuhnya. 


Darah hitam mengucur keluar dari dada yang tertancap pedang. Sang jenderal meringis menahan pilu ketika ujung pedang tertarik pelan dari tubuhnya.


“Kau membangkitkan kekuatan lain yang bersemayam dalam diriku. Maka, sebagai ucapan terima kasih, aku tidak akan membinasakanmu hari ini, tetapi semua pengikutmu tidak akan ikut bersamamu,” kata Ucup seraya memutar tubuhnya dengan bilah pedang yang ditempelkannya di leher sang jenderal.


“Seperti yang kukatakan sebelumnya, aku akan mengurangi populasi bangsa iblis,” imbuhnya dengan seringainya yang tajam.


“Kau, bagaimana bisa?” Jenderal Jieru masih tidak memercayai semua yang terjadi.