
Melihat reaksi dari kedua gadis, si pria menyeramkan itu terkekeh.
“Kalian cocok menjadi mainanku! Cantik, pintar, jenaka, dan sangat menggairahkan!” Kembali si pria menyeramkan itu tertawa-tawa, bahkan lebih keras dari sebelumnya.
“Kalian akan menjadi ibu dari anak-anakku kelak. Anak-anak dari benih sang pria tampan dan pemberani. Siapa lagi kalau bukan aku, Dewa Tampan,” imbuhnya begitu percaya diri.
“Hah, tampan!” seru kedua gadis berbarengan.
Berlian dan Jane saling melirik dengan pandangan pangar. Dewa Tampan? Tampan dari mananya? Keduanya masih tak habis pikir mendengar pengakuan dari pria terjelek sejagat raya mengaku dirinya tampan. Begitu pun dengan Ucup yang menatap malas si pria jelek itu. Ia mendengus lirih dan bergumam, “Dia ngomong dirinya tampan, terus aku sendiri harus disebut apa? Maha tampan, begitu? ”
“Sebaiknya Tuan pergi saja dari sini, sebelum Tuan menjadi gila karena banyak berkhayal!” ketus Jane sambil mengayun-ayunkan pedang, mengusirnya.
“Aku tidak berkhayal, Cantik. Ketampananku adalah fakta yang tak terbantahkan!” sahut Dewa Tampan, penuh percaya diri.
“Kucincang juga kau!” geram Jane, berasa mual mendengarnya.
“Ingin sekali kurasakan kelembutan dari pedangmu itu. Kemarilah, Sayang!”
“Hiaat …!”
Sebagai jawabannya, Jane langsung menerjang dengan kemarahan yang memuncak. Pedangnya siap menyambar tubuh Dewa Tampan yang berdiri tak jauh darinya terus tertawa-tawa sampai memegangi perutnya.
Melihat si tampan hanya diam saja di tempatnya, Jane mengerahkan energi spiritual pada serangannya. Namun, sesuatu yang tak diduganya terjadi. Sebab, sebelum pedangnya berhasil menebas batang leher Dewa Tampan, tiba-tiba saja ia merasakan sakit di tangan kanannya yang menggenggam pedang.
“Aah!”
Pedang yang digenggamnya terlepas dan jatuh lalu hancur berkeping-keping. Diam-diam, Dewa Tampan mengerahkan energi tak kasat mata dalam menahan bilah pedang yang meluncur ke arahnya.
“Ha-ha-ha!” si tampan terbahak-bahak menertawakannya.
“Hanya itu saja kemampuanmu, Cantik!” ejeknya, pongah.
Berlian yang berniat membantunya pun menyurutkan niatnya. Diperhatikannya pedang Jane dengan mata menyelingar. Bisa dibayangkan bagaimana seandainya tubuh Jane yang terkena serangan kejut si Dewa Tampan? Sudah dipastikan kalau tubuhnya akan hancur berkeping-keping. Mengerikan. Maka, Berlian turun dari punggung kuda lalu bergegas mendekati Jane.
“Sebaiknya kamu mundur dan tunggu aku selesai menghadapinya!” usul Berlian membisikkannya.
Berlian menduga, apabila Jane tetap kukuh menghadapi Dewa Tampan bersamanya, maka tak ayal konsentrasinya terbagi, karena dia juga harus melindungi Jane dari serangan sang dewa. Meskipun terlihat keinginan teguh Jane untuk ikut bertarung, tetapi akal sehatnya masih bisa dipergunakan untuk menyetujui usul Berlian.
Akan tetapi, sebelum Jane melangkah mundur, Dewa Tampan sudah mengibaskan kedua tangannya.
Wuzz!
Seberkas energi tak kasat mata berkelebat ke arah kedua gadis, membuat keduanya terpental bergulingan hingga menabrak batang pohon. Keduanya kemudian memuntahkan seteguk darah.
“Sebaiknya kalian berdua memikirkan tawaranku, menjadi ibu dari anak-anakku …, dan kalian berdua akan kuperlakukan dengan baik!” ujar Dewa Tampan mencoba memberi keduanya kesempatan.
“Cih, bahkan kambing pun tak sudi menjadi istrimu!” ketus Jane.
Mendengar kata-kata Jane yang mengejeknya, Dewa Tampan justru tertawa keras. Bahkan, tiba-tiba saja dari mulutnya yang terbuka keluar angin berwarna hitam yang menderu kencang memekatkan gelapnya hutan. Jane dan Berlian sampai terbatuk-batuk menghirup angin itu.
“Tidakkah kalian berpikir kalau aku masih memberikan kalian kesempatan?” Dewa Tampan terus membujuk.
“Hentikan khayalanmu itu, Buaya!” Jane begitu muak terus saja mendengar ocehan sang dewa.
Ingin rasanya ia mencabik-cabik mulut Dewa Tampan. Namun apa daya, kemampuannya masih begitu rendah. Tak mungkin baginya bisa mengimbangi apalagi mengalahkannya.
“Jane … aku yakin …, si buaya ini hanya bermain-main dengan kita,” bisik Berlian.
“Apa maksudmu, Berlian?” Jane tampak bingung.
“Aku akan menyerangnya tanpa mau mendengar ocehannya. Sementara aku bertarung dengannya, cepatlah kamu berlari ke tempat Kak Ucup berada.”
“Baik, tapi kamu harus berhati-hati menghadapinya.”
Wuzz!
“Matilah kau, Buaya!”
Ujung pedang diayunkan secara vertikal ke kepala Dewa Tampan yang langsung menahannya dengan kedua jari. Mencoba mengapitnya.
Wuzz!
Dewa Tampan gagal mengapitnya. Tiba-tiba saja ujung pedang bermanuver ke samping dengan posisi tubuh Berlian miring dan ….
Sret!
Ujung pedang terhunus tepat di ulu hati sang dewa yang tak menduganya sekalipun. Satu tangan berlian memukul ujung pegangan pedang untuk menusukkan batang pedang menembus punggung sang dewa, seluruhnya.
“Kau!” Dewa Tampan terlongo-longo melihat ujung gagang pedang yang tertancap di tubuhnya.
Sret!
“Aah!” jerit kesakitan menggema di kegelapan hutan begitu Berlian menarik kembali pedangnya dan melangkah mundur dengan pandangan nanap melihat bilah pedang yang penuh darah.
“Kau membuatku marah!” geram Dewa Tampan merasa dilecehkan oleh kemampuan Berlian.
Setelah mengatakannya, Dewa Tampan langsung menderu menyerang Berlian dengan kepalan tangan yang berisi energi spiritual berhawa panas yang sangat menyengat. Di kepalan tangannya terpancar kobaran api yang menyala. Namun sebelum kepalan tangan berapi itu menyentuh tubuh Berlian, tiba-tiba saja gelombang energi es terpancar keluar dari tubuh Berlian dan mampu mementalkan tubuh sang dewa.
“Kau, ternyata kau seorang dewi!” Dewa Tampan mulai sedikit merasa terintimidasi oleh kekuatan sang gadis.
“Apa kau sekarang takut kepadaku?” ejek Berlian.
“Sudah dua kali kau kesakitan … aku masih belum puas mendengar teriakanmu, Buaya!” imbuhnya.
Semakin geram Dewa Tampan mendengar hinaan dari sang gadis. Selama di alam fana, tidak ada satu pun yang berani merendahkan dirinya. Ia kemudian bangkit dengan pancaran aura dewa dari tubuhnya.
“Aku tidak akan bermain-main denganmu lagi. Kau harus mati!” ucapnya mengancam.
Wuzz!
Gumpalan api melesat cepat ke arah Berlian seperti roket yang ditembakkan. Berlian mengangkat pedang dan menggenggamnya dengan erat bersiap untuk menahan laju serangan yang datang ke arahnya.
Boom!
Ledakan keras terdengar di tengah hutan, menciptakan partikel api yang beterbangan di udara. Kali ini Berlian terpelanting menabrak beberapa batang pohon dan memuntahkan seteguk darah. Jane bergidik ngeri melihat ledakan itu, sementara Ucup masih bersikap tenang. Ia yakin dengan keadaan seperti itu akan mengeluarkan potensi Berlian yang tersembunyi selama ini.
Ucup tersenyum lalu mengalihkan pandangannya ke arah persembunyian para pengintai di beberapa tempat. Ia tak lagi memperhatikan pertarungan Berlian, ia kini lebih fokus untuk mengamati gerakan dari para pengintai yang terus mengamati pertarungan di balik pepohonan.
“Brother Xiao, aura para pengintai berbeda dengan pria jelek itu. Bisakah kamu memberikan informasi lebih kepadaku?” pinta Ucup.
“Mereka merupakan cultivator jalur iblis. Tingkat kultivasinya berada di ranah Warrior Emas. Namun dalam kegelapan, menjadikan kekuatan mereka setara dengan yang berada di ranah Emperor Perak. Selain hal itu, tidak ada lagi yang bisa aku sampaikan,” beber Pangeran Xiao Li Dan menginformasikan.
“Sangat menarik, tapi aku tidak ingin bermain-main dengan mereka. Aku akan mengujinya dengan sekali serang!” timpal Ucup dengan seringainya yang dingin.
“Nona Jane, tunggu aku sebentar! Aku ingin buang angin,” kata Ucup sambil terkekeh pelan.
“Kalau hanya buang angin, di sini saja, Kak Ucup. Mengapa harus pergi? Aku tidak akan mempermasalahkannya, kok!” Jane tersipu mengatakannya.
Ucup cengengesan mendengarnya lalu berkata, “Mau disimpan di mana wajah tak tampanku ini?”
Setelah itu, Ucup menghilang dari tempatnya. Jane terkejut melihat kemampuan Ucup dalam menghilang. Ia lalu menggaruk-garuk kepalanya dan kembali mengalihkan pandangannya ke arah pertarungan Berlian berlangsung. Kedua matanya kembali dibuat mencelang, Berlian tampak begitu memesona dengan pancaran aura es di sekujur tubuhnya dan membuat tubuhnya bercahaya memenuhi area hutan.
“A … apakah mereka berdua adalah dewa?” decak Jane penuh tanya di dalam pikirannya.