Mother

Mother
94 Rumah Yang Bukan Rumah


Malam ini Rei diantar pulang oleh dokter Agam. Dokter itu memang terlihat bersahaja, dan selalu ramah dengan siapa pun. Rei yang paling tahu itu, karena saat dulu neneknya dirawat di rumah sakit, dokter Agam sudah menunjukkan kebaikannya.


Tidak dibuat-buat dan memang tulus. Dulu juga mereka kembali bertemu saat Rei berhasil kabur dari rumah keluarga Arthuro, ketika dokter Agam sedang berkunjung ke rumah pasiennya yang ada di lingkungan kumuh.


"Kita memang harus ramah pada siapa lun, apalagi sama pasien. Biar mereka yang berobat juga tidak stres. Nanti bukannya sembuh, malah tambah sakit."


"Iya, kamu benar. Aku ingat dulu saat membawa nenek berobat, mereka banyak yang galak. Mungkin karena tahu aku orang miskin."


Rei tersenyum mengingat kejadian dulu. Sedih memang, tapi dia sudah banyak belajar, bahwa pekerjaan mulia tidak berarti orangnya juga berhati mulia.


Rei sudah berjanji dengan dirinya sendiri untuk bersikap baik pada pasien-pasiennya. Seperti apa yang dulu dokter Agam lakukan padanya dan neneknya. Memang dulu bukan dokter Agam yang mengobati neneknya, tapi kepedulian dokter tampan itu sangat membekas di hati Rei sampai sekarang, bahkan sampai kapan pun.


☘️☘️☘️


Hari ini adalah acara peresmian klinik yang diberi nama, D'LIMA itu.


Banyak yang datang, termasuk keluarga Zanuar, Abraham dan Arthuro.


"Kamu mengundang mereka?"


"Oh, harus dong. Aku kan harus pamer pada mereka."


"Pamer?"


"Iya, pamer. Sudah, jangan banyak tanya."


Acara dimulai, para pengusaha, pemilik rumah sakit besar yang lain, sudah duduk di posisi masing-masing.


"Selanjutnya, saya serahkan kepada direktur D'LIMA ... Reinata Kirei."


Rei maju ke depan, melihat sahabat-sahabatnya yang memberikan dukungan dan semangat.


"Selamat malam semuanya. Saya, Reinata Kirei, sangat berterima kasih pada para tamu yang sudah bersedia menyempatkan diri ke acara ini."


"Jujur saja, menjadi dokter bukanlah cita-cita saya. Dulu, saya sangat ingin menjadi seorang arsitek. Membuat rumah yang kayak untuk saya dan nenek. Saat saya tidak punya uang untuk biaya rumah sakit, sedikit terlintas di benak saya untuk menjadi seorang dokter. Saat itu saya berpikir, andai saja saya punya uang, andai saja saya dokter ... andai dan andai saja yang saya pikirkan saat itu. Lalu, ada seseorang yang membantu saya."


Keluarga Arthuro menunduk, tahu siapa yang Rei maksud.


"Sayangnya, nenek tidak berhasil di selamatkan. Mungkin nenek malu memiliki cucu seperti saya, yang sudah melakukan kesalahan."


"Saya merenung dan berpikir banyak saat pemakaman nenek. Apa gunanya menjadi arsitek dan memiliki rumah yang bagus tanpa keluarga. Pulang, tapi seperti tidak memiliki tempat untuk pulang."


"Saat itu juga, saya berjanji untuk menjadi dokter. Mengubah keputusan yang akan mengubah masa depan saya. Tidak ingin dipandang sebelah mata dan diremehkan. Saya tutup buku-buku arsitek saya. Mulai belajar buku kedokteran."


"Tentu saja tidak mudah saat memulainya dari awal. Tapi saya menyakinkan diri bahwa saya mampu menjadi seorang dokter."


"Saya, ingin berterima kasih. Terima kasih yang sebesar-besarnya pada Freya, yang bagi saya menjadi orang pertama yang sudi membantu saya tanpa pamrih, tanpa mengharapkan imbalan, yang tidak memandang rendah saya. Orang pertama yang benar-benar tulus."


Marva menahan sesak di dadanya, sedangkan Frans, Carles dan Delia hanya menatap Rei.


Perempuan itu mengusap sudut matanya yang basah.